NovelToon NovelToon
Queen Of Bataviarch

Queen Of Bataviarch

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mafia / Dark Romance
Popularitas:514
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

“Lepas gaunmu sekarang juga! Tunjukkan ke mereka, apa saja yang akan mereka bawa pulang nanti!”

“Aku gak bakal ngelakuin hal itu, paham!” seru Rosella dari atas meja.

“Aku gak minta persetujuan kamu, Rosella.” Nada bicara dan pandangan Ayahnya pun berubah menjadi sangat dingin.

“Baimm,” suara Dio memotong niat buruknya. “Aku rasa kamu gak perlu menyuruh anakmu melakukan hal menjijikkan itu.”


Anak perempuan tertua dari pemimpin Bataviarch akan dilelang malam ini. Rosella Rachmandi telah lama bersiap menghadapi hari itu. Sebenarnya, rencananya sederhana, ia ingin mendapatkan suami yang bodoh dan lemah, sehingga dapat dikendalikannya, lalu merebut seluruh kekuasaan ayahnya yang kejam demi menyelamatkan nasib ketiga adiknya.

Ia yakin segala sesuatunya akan berjalan lancar, hingga Dio Walisang, pria yang tiba-tiba hadir di acara pelelangan itu, mengubah dan meruntuhkan seluruh rencananya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Salah Ucap

Rosella terus mempercepat gerakannya, sesekali menggigit pelan bagian ujungnya.

“Ya Tuhan … iyahhhh,” desah Dio dengan suara berat.

Jelas sekali pria itu menyukai sentuhan yang lebih intens. Rosella memberikannya segala hal itu tanpa ragu sedikit pun. Ia terus mengisap dan menggigit pelan, sementara Dio tak henti mengerang. Suara pria itu justru membuat Rosella sendiri semakin terangsang dan penasaran.

“Aku nggak tahan lagi.”

Rosella paham bahwa itu adalah peringatan.

Kurang dari sepuluh detik, Dio pun telah mencapai klimaks. Suara erangan yang terdengar sangat liar, persis seperti binatang buas. Rosella tidak akan berbohong jika dikatakan bahwa rasanya cukup nikmat di mulut. Segera setelah selesai, ia meludahkan segala isinya ke atas karpet.

Ia bangkit berdiri lalu mengambil gaunnya, sementara Dio masih duduk di sofa dengan kepala mendongak dan napas yang belum teratur. Meskipun kegiatan itu telah usai, ukuran batang pria itu masih terlihat besar. Perhiasan yang terpasang di sana berkilau samar. Rosella sempat bertanya-tanya mengapa Dio bersedia memasangnya dan apakah itu terasa sakit atau tidak?

Ia berjalan menuju kulkas kecil, mengambil sebotol vodka ukuran kecil, berkumur, lalu meludahkannya ke arah tanaman hias yang berada di dekat jendela.

“Kamu bakal jadi tukang kebun yang payah, tahu,” kata Dio sambil tersenyum menggoda.

Dan sialnya, Rosella justru sangat menyukai senyum santai dan malas itu. “Aku mau minum air putih dulu.”

Wajah Dio langsung berubah menjadi sangat serius. “Kamu mau pergi? Denger ya, aku belum selesai sama kamu,”

“Anggap aja tadi itu uang muka. Pembayaran penuhnya baru dikasih saat kita udah resmi menikah.”

 Rosella tidak mungkin melupakan ucapan pria itu yang menyatakan bahwa wanita dapat dibeli. Jika Dio menganggap pernikahan ini sebagai transaksi dagang, Rosella pun akan bermain menggunakan aturan yang sama.

“Apa sih sebenernya yang kamu omongin itu?” tanya Dio sambil berdiri, membereskan pakaiannya, lalu berjalan mengikuti Rosella hingga ke depan pintu lift.

Rosella menekan tombol panggil lift dan merasa lega karena tidak memerlukan kartu akses untuk menggunakannya.

“Kamu sendiri yang bilang lho. Kalau aku mau pernikahan yang tenang, berarti tubuhku juga jadi bagian dari kesepakatan itu. Tapi ingat satu hal ya, aku nggak bakal kasih semuanya sebelum kita sah jadi suami istri. Oh iya, makasih banget deh ucapan kamu tadi. Mulut kamu emang nggak ada remnya, ya?”

Rosella dapat melihat dengan sangat jelas bahwa emosi Dio meledak seketika dalam hitungan detik. Untunglah pintu lift terbuka tepat saat itu juga, sehingga ia segera masuk ke dalam.

“Jadi ini yang kamu mau?” tanya Dio.

Nadanya jelas terdengar sekadar basa-basi, sehingga Rosella tidak ingin membuang energinya untuk menjawab.

“Oke deh. Kalau gitu, beli aja gaun termahal dan kosongin jadwal kamu hari Sabtu dua minggu lagi.”

“Buat apaan?”

“Kita nikah hari itu.”

“Aku nggak bisa—”

Rosella baru saja hendak membantah bahwa ia tidak dapat diatur semudah itu, namun Dio sudah menekan tombol lantai dari luar lift, lalu mundur kembali sambil menatap tajam. Saat pintu lift mulai tertutup, pria itu mengatakan, “Jangan lupa bawa koper besar ya. Kamu bakal butuh itu buat angkut semua gaun gaunmu!"

...***...

Dio mengambil vas bunga setinggi setengah meter yang terletak di dekat pintu lift, lalu melemparkannya ke dinding. Ia kemudian merobek-robek benda-benda di sekitar, termasuk kursi dan lukisan yang menempel pada dinding hingga terlepas dari tempatnya.

Ketika pintu lift terbuka kembali, sepupunya sudah berdiri menunggu di sana. Hampir tidak ada satu pun benda yang masih utuh di ruangan itu.

“Saran aja ya, Bro. Kalau nanti kamu berhenti kerja, jangan coba jadi dekorator deh. Semua tata ruang di sini jelek banget. Pecahan kaca itu nggak cocok sama sekali sama bunga yang sobek di sebelah sana,” kata Hans.

Tatapan tajam yang dilontarkan Dio membuat Hans segera mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah. Meskipun demikian, senyum mengejek yang terlihat di wajah Hans membuat Dio merasa sangat ingin memukulnya saat itu juga.

Dio hampir saja melayangkan pukulan jika Hans tidak segera menghindar. Hans berlari menuju sofa, lalu naik berdiri di atas sandarannya.

“Turun sekarang juga!” seru Dio dengan marah.

Hans berdiri tepat di tempat yang sebelumnya diduduki atau digunakan untuk berbaring oleh Rosella. Hal itu membuat kepala Dio semakin pening dan emosinya semakin meluap, meskipun ia sendiri tidak ingin mencari tahu alasan di balik perasaannya itu.

Hans menatap Dio dengan kebingungan, lalu melirik ke bawah ke arah sofa yang berada tepat di kakinya.

“Yah, dasar mesum. Jadi kalian habis bercinta di sini ya,” celetuk Hans dengan santai.

Tanpa berpikir panjang lagi, Dio segera mengambil pistol yang tergeletak di atas meja, lalu menembakkan peluru ke arah Hans.

Ia sengaja menggeser arah tembakan beberapa milimeter dari kepala Hans, sehingga peluru itu hanya meleset sedikit saja. Saat itu, Dio benar-benar memiliki keinginan kuat untuk membunuh sepupunya tersebut, meskipun ia sadar bahwa nantinya pasti akan menyesali perbuatannya.

“Ada yang mau jelasin apa yang sebenarnya terjadi di sini?” tanya Hans sambil melompat turun, lalu duduk dengan santai di kursi terdekat.

Ketika Hans bersikap rileks, penampilannya terlihat jauh lebih muda daripada usia aslinya. Dio menyukai sisi itu, karena hal itu menunjukkan bahwa sepupunya masih memiliki sifat polos, meskipun telah melewati berbagai peristiwa berat bersama-sama.

“Aku bikin kesalahan ke Rosella,” ucap Dio dengan nada datar.

“Kenapa? Dia kecewa karena punyamu ternyata kecil ya?” tanya Hans dengan wajah serius.

Dio segera mengarahkan kembali jari telunjuknya ke pelatuk pistol, hampir saja menembak Hans untuk kedua kalinya.

“Terus aja ngomong begitu. Kali ini aku nggak bakal meleset lagi, ingat aja itu,” ancam Dio dengan tegas.

Hans justru tertawa terbahak-bahak, lalu melemparkan sebuah bantal ke arah wajah Dio. Dio membalas dengan melempar bantal yang lain, seraya menjatuhkan tubuhnya persis di tempat yang tadi diduduki oleh Rosella.

“Oke, oke. Sekarang ceritain semuanya dari awal sampai selesai, ya,” kata Hans.

Dio hanya memutar matanya, lalu menggelengkan kepala.

“Kami lagi ngobrol biasa. Terus aku ngomong sesuatu yang seharusnya nggak perlu diucapin sama sekali,” jelasnya secara singkat.

“Ngomong apaan?” tanya Hans.

Dio akhirnya menceritakan seluruh kejadian yang baru saja berlalu. Hans mendengarkannya dengan tenang dan serius.

“Jadi gini ya. Setelah kamu puasin dia, kamu malah ngomong kalau kamu biasa beli perempuan, dan nggak peduli siapa saja asal mau tidur bareng kamu,” simpul Hans.

“Aku nggak ngomong begitu, tolol!” bantah Dio dengan kesal.

“Itu inti kata-katamu, Broo! Coba pikir lagi pelan-pelan, bener kan?” kata Hans untuk meyakinkannya kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!