Kalian pasti pernah kan, seenggaknya sekali seumur hidup, rebahan di kamar sambil menatap langit-langit terus ngehayal: "Coba aja tidur doang bisa dapet duit, pasti gue udah jadi orang terkaya di dunia." Nah, hayalan konyol yang sering kita impikan pas lagi capek-capeknya hidup itu, mendadak jadi kenyataan buat Abdul. Pemuda miskin korban PHK ini doanya dikabulkan secara ajaib. Sekali merem, saldo banknya bertambah 10 juta. Makin nyenyak dia ngorok, makin triliunan uang yang masuk ke rekeningnya secara legal! Tapi ternyata, dapet duit cuma modal tidur itu gak sesantai kedengarannya. Karena gak pernah keluar rumah tapi mendadak kaya raya, Abdul langsung dicurigai satu kampung pelihara babi ngepet, digerebek warga pas lagi enak tidur, dikejar-kejar orang pajak, sampai didatangi mantan pacar yang dulu ninggalin pas lagi sayang-sayangnya, Ups!.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 GOSIP DI TUKANG SAYUR
Suasana pagi di Gang Seng selalu dimulai dengan suara bising yang khas. Sekitar pukul enam subuh, gerobak motor milik Kang Toto, tukang sayur keliling langganan warga, sudah parkir di depan pos ronda. Dalam hitungan menit, tempat itu langsung dipenuhi oleh ibu-ibu kompleks yang siap berburu sayuran segar, lengkap dengan bumbu gosip hangat yang tidak kalah segar dari sayuran hijau di dalam gerobak.
Bu RT berdiri paling depan, tangannya sibuk memilah-milah ikatan kangkung sambil matanya melirik ke arah kanan dan kiri. Di sebelahnya, ada Bu Tejo yang sedang menimbang beberapa butir tomat dengan wajah cemberut seperti biasanya.
"Eh, Jeng Tejo, sudah dengar kabar belum soal kontrakan nomor 4B?" Bu RT membuka obrolan dengan nada suara yang sengaja agak ditekan, memancing rasa penasaran ibu-ibu lain.
Bu Tejo langsung menoleh, matanya berbinar. "Soal Yanti sama anaknya si Abdul itu ya, Bu RT? Ada apa memangnya? Kemarin sore si Yanti padahal masih mau utang obat ke warung saya, tapi langsung saya tolak. Ya lagian, bon yang bulan lalu aja belum lunas, masa mau nambah lagi."
"Nah, justru itu!" Bu RT menaruh kembali kangkungnya, lalu mendekatkan wajahnya ke arah Bu Tejo. "Kemarin siang, saya lihat sendiri dengan mata kepala saya, ada tukang becak nganterin barang belanjaan banyak banget ke rumah mereka. Ada beras karungan yang karungnya putih bersih itu, kan beras mahal yang per kilonya belasan ribu! Terus ada telur satu krat, minyak goreng botolan, sampai daging ayam segar!"
"Ah, seriusan Bu RT?" sahut Bu Jono, warga gang sebelah yang ikut nimbrung sambil memegang tempe. "Bukannya suaminya si Yanti lagi sakit karena stroke ya? Si Abdul juga baru di-PHK dari pabrik garmen sebulan lalu. Dari mana mereka punya duit buat belanja mewah begitu?"
"Makanya, itu dia yang bikin saya curiga dari kemarin," lanjut Bu RT sambil tersenyum puas karena berhasil memimpin forum gosip subuh itu. "Si Abdul itu kan kerjanya cuma luntang-lantung. Berhari-hari jalan kaki katanya nyari kerjaan tapi gak dapet-dapet. Tapi kemarin siang, pas pulang, gayanya sudah kayak orang kaya baru. Jalannya tegak, mukanya gak kelihatan susah lagi. Jangan-jangan..."
"Jangan-jangan apa, Bu RT? Jangan setengah-setengah dong kalau cerita, bikin penasaran aja?" desak Bu Tejo tidak sabar.
"Jangan-jangan mereka pakai pesugihan, atau si Abdul itu melihara babi ngepet!" bisik Bu RT pelan namun berparau mistis. "Zaman sekarang kan lagi ramai itu di media sosial, orang gak kerja, rebahan doang di kamar, tapi duitnya ngalir terus. Coba pikir pakai logika, kalau bukan melihara tuyul atau babi ngepet, mana bisa si Abdul tiba-tiba bisa belanja barang banyak kayak gitu"
Ibu-ibu di sekitar gerobak sayur itu langsung kasak-kusuk. Ada yang mengangguk-angguk percaya, ada juga yang ketakutan sendiri ngebayangin ada babi ngepet berkeliaran di gang sempit mereka pada malam hari.
***
Sementara di dalam rumah kontrakan nomor 4B, suasana justru jauh lebih tenang dan damai dibandingkan pagi-pagi sebelumnya. Di kamar belakang, Pak Rohman duduk bersandar di bantal yang ditumpuk. Napasnya sudah tidak lagi memburu dan bunyi mengi di dadanya sudah hilang setelah menghabiskan obat pengencer darah dosis tinggi yang dibeli Abdul kemarin siang.
Ibu Yanti sedang menyuapi suaminya itu dengan bubur ayam hangat yang dicampur dengan suwiran daging ayam segar. Senyum tipis yang sudah berbulan-bulan hilang kini kembali menghiasi wajah wanita tua itu.
"Gimana rasanya, Pak? Masih sesak dada?" tanya Ibu Yanti lembut sambil menyeka sisa bubur di sudut bibir suaminya.
Pak Rohman menggeleng perlahan. Gerakan tubuh sebelah kirinya sudah lebih luwes, meski tangan dan kaki kanannya masih kaku akibat stroke. "Udah mendingan banget, Bu. Napas rasanya plong. Ini obatnya beda ya dari yang biasanya?"
"Iya, Pak. Ini obat yang paling bagus kata Orang Apotiknya. Kemarin si Abdul yang belikan ke apotik besar di depan jalan raya," jawab Ibu Yanti penuh rasa syukur, walau di dalam hatinya masih tersimpan ganjalan besar tentang asal-usul uang tersebut.
Di kamar depan, Abdul baru saja menyelesaikan sarapan paginya dengan nasi putih, telur dadar, dan beberapa potong ayam goreng buatan ibunya. Perutnya yang biasa diisi dengan mi instan setengah matang kini terasa sangat penuh dan nyaman. Sambil menyandar di dinding kamar, ia merogoh HP jadul dari saku celananya.
Ia menekan tombol navigasi untuk melihat kembali SMS dari BANK SUKA yang masuk kemarin siang. Angka enam puluh juta rupiah itu masih tertera dengan jelas di layar ponselnya. Abdul menghela napas panjang, mencoba memikirkan langkah selanjutnya. Uang tunai di sakunya tinggal dua ratus ribu rupiah setelah dipakai belanja sembako dan obat kemarin. Ia tahu, ia harus kembali mengambil uang di ATM jika ingin membawa Bapak ke rumah sakit besar untuk menjalani terapi stroke secara rutin.
Hal itu mendadak buyar saat pintu depan kontrakan mereka diketok dengan kasar dari luar.
Tok! Tok! Tok!
"Yanti! Abdul! Di dalam gak?" suara cempreng Bu RT terdengar berteriak dari balik pintu kayu.
Abdul tersentak. Ia buru-buru memasukkan ponselnya ke saku lalu melangkah keluar kamar. Ibu Yanti juga keluar dari kamar belakang dengan wajah yang mendadak tegang. Mereka berdua tahu, jika Bu RT sudah datang sepagi ini dengan ketokan sekasar itu, biasanya bukan membawa berita baik.
Abdul membuka selot pintu depan. Begitu pintu terbuka, wajah Bu RT yang mengenakan daster motif bunga-bunga dan lipstik merah menyala langsung menyembul di depan wajahnya. Di belakang Bu RT, tampak beberapa ibu-ibu tetangga yang berpura-pura sedang menyapu jalanan padahal telinga mereka dipasang tajam ke arah rumah Abdul.
"Eh, Bu RT. Ada apa ya pagi-pagi begini?" tanya Abdul berusaha seramah mungkin, meski hatinya merasa jengkel.
Bu RT tidak langsung menjawab. Matanya melotot, lancang melongok ke dalam ruang tengah kontrakan Abdul. Pandangannya langsung tertuju pada karung beras ukuran sepuluh kilo yang diletakkan di dekat dapur, serta meja makan yang kini terisi penuh dengan sisa makanan enak.
"Oalah, jadi benar ya gosip orang-orang di tukang sayur tadi," ujar Bu RT dengan nada menyindir yang sangat kental. Ia melipat kedua tangannya di depan daster. "Pantesan kemarin rumahnya bau ayam goreng sampai ke gang depan. Ternyata yang katanya gak punya duit buat bayar iuran kebersihan lingkungan tiga bulan, sekarang makannya sudah mewah begini."
Ibu Yanti yang mendengar hal itu langsung merasa tidak enak hati. Ia mendekat dengan tubuh agak membungkuk tanda menghormati sang istri kepala RT. "Maaf, Bu RT. Soal iuran kebersihan itu, rencana siang ini mau saya bayar ke rumah Bu RT. Kemarin anak saya kebetulan dapat rezeki sedikit dari temannya."
"Halah, rezeki dari teman atau rezeki dari piaraan, Yanti?" samber Bu RT cepat, matanya menyipit penuh selidik ke arah Abdul. "Jangan bohongi saya ya. Suami kamu itu lumpuh, kamu cuma ibu rumah tangga, dan si Abdul ini pengangguran korban PHK yang kerjaannya cuma tidur-tiduran di kamar dari pagi sampai malam. Teman mana yang baik banget mau kasih uang jutaan rupiah buat belanja mewah begini ke orang miskin kayak kalian?"
Mendengar kata-kata itu, rahang Abdul mendadak mengeras. Tangannya mengepal di balik saku celananya. Rasa gengsi dan harga dirinya yang diinjak-injak membuat darahnya berdesir panas.
Namun, ia berusaha menahan diri karena sadar posisi uang di rekeningnya masih berstatus misterius dan ia tidak ingin membuat kegaduhan yang bisa memicu perhatian pihak berwajib.
"Bu RT kalau bicara tolong dijaga ya," ujar Abdul dengan suara rendah dan dingin, matanya menatap lurus ke arah Bu RT tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Uang itu halal. Teman SMK saya sukses punya usaha konveksi di Jakarta, dan dia meminjamkan uang ini secara ikhlas, karena tahu kondisi bapak saya lagi sakit. Gak ada urusannya sama hal-hal aneh yang Bu RT pikirin."
Bu RT agak tersentak melihat tatapan mata Abdul yang mendadak berani, sangat berbeda dengan sosok Abdul yang biasanya selalu menunduk pasrah jika dihina. Untuk menutupi rasa salah tingkahnya, Bu RT mendengus kencang.
"Ya sudah! Kalau memang halal, awas aja kalau siang ini iuran sampah gak dibayar! Totalnya sembilan puluh ribu buat tiga bulan. Gak pake kurang, gak pake ngutang lagi!" ketus Bu RT. "Ingat ya Abdul, warga di sini itu lagi resah karena marak isu babi ngepet di daerah sebelah. Kalau sampai saya lihat ada yang aneh-aneh lagi dari rumah ini, jangan salah kan saya kalau warga saya geruduk buat pembuktian!"
Setelah melemparkan ancaman itu, Bu RT berbalik dengan hentakan kaki yang keras, disusul oleh ibu-ibu tetangga yang langsung membubarkan diri sambil berbisik-bisik.
Abdul langsung menutup pintu kontrakannya dengan keras lalu menguncinya dari dalam. Ia bersandar di pintu sambil mengembuskan napas panjang. Di dalam ruang tengah, Ibu Yanti menatap anaknya dengan mata berkaca-caca, penuh rasa khawatir yang mendalam.
"Dul... Ibu takut. Benar kata Bu RT, tetangga kita itu mulutnya tajam semua. Kalau mereka sampai mikir yang gak-gak soal kita, gimana?" tanya ibunya cemas.
Abdul mendekati ibunya, memegang kedua pundak wanita tua itu dengan lembut. "Ibu gak usah dengerin omongan orang-orang sirik kayak gitu. Yang penting Bapak sekarang sudah sehat dan bisa makan enak. Siang ini Abdul mau keluar lagi untuk bayar iuran ke Bu RT sekalian mau cari informasi tentang tempat terapi pengobatan stroke yang bagus buat Bapak."
Ibu Yanti hanya bisa mengangguk pasrah, mempercayai perkataan anak tunggalnya itu meskipun firasatnya mengatakan bahwa kehidupan tenang mereka di Gang Seng tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini.
Abdul kembali masuk ke kamarnya yang sempit. Ia duduk di tepi kasur sambil merenungkan kata-kata Bu RT tadi tentang 'orang yang kerjaannya cuma tidur-tiduran tapi punya banyak duit'. Kalimat itu membuat Abdul sadar bahwa ia tidak bisa terus-menerus mengambil uang tunai dalam jumlah besar tanpa memiliki alasan pekerjaan yang jelas di mata warga sekitar. Jika ia terus memamerkan kekayaan tanpa ada kejelasan sumber penghasilan, isu babi ngepet yang dilemparkan Bu RT bisa benar-benar memicu penggerebekan massal dari warga kampung yang mudah diprovokasi.
Abdul harus mulai memikirkan sebuah strategi atau alibi pekerjaan palsu untuk menutupi keajaiban saldo BANK SUKA-nya sebelum keadaan menjadi semakin tidak terkendali. Namun, sebelum memikirkan itu semua, ia harus memastikan saldo puluhan juta di rekeningnya bisa dicairkan lagi dengan aman siang ini untuk membayar seluruh utang-utang keluarganya di kampung tersebut.