NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Pagi itu berjalan seperti biasanya, setidaknya jika dilihat dari luar. Rumah keluarga Halstrom tetap tampak sempurna dengan segala keteraturan yang selalu dijaga bertahun-tahun. Pelayan bergerak tenang di sepanjang koridor, vas bunga segar sudah terganti sejak subuh, sementara aroma kopi hitam bercampur teh hangat perlahan memenuhi udara dari arah ruang makan.

Tidak ada yang tampak berubah.

Namun bagi Seraphina, sesuatu memang sudah berubah.

Dan kali ini, perubahan itu bukan sekadar perasaan.

Ia duduk sendiri di ruang kerja pribadinya sejak pagi, ruangan luas dengan rak buku tinggi dan jendela besar yang menghadap taman belakang. Cahaya matahari masuk samar melalui tirai tipis, jatuh tepat di atas meja kayu tempat berbagai dokumen sudah tersusun rapi sejak satu jam lalu. Secangkir teh yang dibuat pelayan masih berada di samping tangan kirinya, namun nyaris tidak disentuh hingga uapnya perlahan menghilang.

Tatapan Seraphina bergerak tenang dari satu halaman ke halaman lain. Jemarinya membalik dokumen perlahan, tidak terburu-buru, seolah sedang membaca sesuatu yang sangat biasa. Padahal di dalam kepalanya, setiap angka dan catatan kecil kini memiliki arti yang berbeda.

Dulu, ia tidak pernah benar-benar memeriksa semua ini.

Bukan karena tidak mampu.

Melainkan karena terlalu percaya.

Jika Darius membutuhkan tambahan dana, ia menyetujuinya. Jika Kael meminta akses investasi, ia akan menganggap itu bagian dari proses belajar. Jika Lysandra ingin sesuatu, Seraphina hampir selalu mencari cara agar permintaan itu terpenuhi tanpa banyak pertanyaan.

Karena menurutnya, keluarga memang seperti itu.

Saling mendukung.

Saling membantu.

Dan seorang ibu seharusnya tidak terlalu berhitung pada anak-anaknya sendiri.

Namun sekarang, pemikiran itu terasa begitu jauh.

Seraphina menurunkan pandangannya pada satu map tipis berwarna krem di atas meja. Di bagian kanan atas terdapat nama yang sangat familiar.

Lysandra Halstrom.

Pengajuan biaya acara gala.

Ia membukanya perlahan, lalu mulai membaca lebih detail daripada sebelumnya. Matanya bergerak dari satu rincian ke rincian lain tanpa perubahan ekspresi. Semuanya terlihat mewah, bahkan berlebihan untuk acara sosial yang hanya berlangsung beberapa jam.

Gaun rancangan khusus.

Akses ruang VIP tambahan.

Tim rias pribadi.

Perhiasan sewaan dari brand eksklusif.

Biaya kendaraan premium.

Serta satu catatan pembayaran yang membuat jemarinya berhenti sebentar.

Ditagihkan langsung pada rekening utama keluarga.

Tentu saja.

Lysandra bahkan tidak merasa perlu mempertimbangkan hal itu lagi.

Seraphina masih ingat bagaimana dulu putrinya hanya perlu mengeluh sedikit agar semua keinginannya dipenuhi. Kadang bahkan sebelum diminta, Seraphina sudah lebih dulu menyiapkan semuanya. Ia ingin Lysandra bahagia. Ingin putrinya merasa dicintai tanpa batas.

Namun sekarang saat melihat rincian angka itu, yang muncul bukan rasa ingin membantu.

Melainkan pertanyaan sederhana.

Kenapa harus selalu aku?

Ia mengambil pena hitam di samping dokumen, lalu menulis sesuatu dengan tulisan rapi dan kecil.

Gunakan anggaran pribadi yang sudah tersedia.

Tidak ada kata ditolak.

Tidak ada kesan keras.

Tidak emosional.

Hanya keputusan yang masuk akal dan sulit diperdebatkan.

Seraphina menutup map itu perlahan, lalu meletakkannya ke sisi kanan meja bersama beberapa dokumen lain yang sudah selesai diperiksa. Wajahnya tetap tenang, seolah apa yang baru saja ia lakukan hanyalah rutinitas biasa.

Ketukan kecil terdengar di pintu.

“Masuk,” ucapnya pelan.

Pintu terbuka, dan Lysandra masuk tanpa banyak ragu. Hari itu gadis itu terlihat sangat cerah, mengenakan pakaian mahal dengan rambut yang ditata rapi. Senyum kecil masih terlihat di wajahnya, seolah ia sudah yakin semuanya akan berjalan sesuai keinginannya.

“Ibu,” panggilnya ringan sambil duduk di kursi depan meja tanpa diminta. “Aku cuma mau pastikan pembayaran gala minggu depan. Soalnya beberapa vendor mulai minta konfirmasi.”

Nada suaranya santai, hampir terlalu santai. Seperti seseorang yang tidak mempertimbangkan kemungkinan ditolak.

Seraphina mengangkat pandangan perlahan.

“Aku sudah lihat dokumennya.”

“Bagus.” Senyum Lysandra melebar sedikit. “Jadi tinggal diproses, kan?”

Beberapa hari lalu, Seraphina mungkin sudah mengangguk sambil bertanya soal desain gaun atau warna tema acara. Ia mungkin akan ikut antusias membantu memilih perhiasan, bahkan meminta asistennya mengatur semua kebutuhan tambahan.

Namun hari ini berbeda.

Seraphina menutup map di depannya lalu berkata dengan suara tenang, “Gunakan dana pribadimu.”

Lysandra terdiam.

Senyumnya berhenti begitu saja.

“Hah?”

“Kamu masih punya anggaran bulanan.” Nada bicara Seraphina tetap lembut, nyaris tanpa emosi. “Jumlahnya cukup besar.”

“Tapi itu beda, Ibu.” Lysandra langsung duduk lebih tegak. “Acara ini penting.”

“Kalau penting, kamu bisa mengatur pengeluaranmu sendiri.”

Jawaban itu terlalu rapi.

Tidak ada ruang untuk diperdebatkan.

Lysandra mengerutkan alis kecil. “Biasanya Ibu tidak pernah masalah soal beginian.”

Seraphina tersenyum samar.

“Mungkin sekarang aku lebih memperhatikan pengeluaran.”

Nada bicaranya tetap lembut, bahkan terdengar masuk akal. Namun justru itu yang membuat Lysandra kesal. Tidak ada kemarahan yang bisa ia gunakan untuk membalas. Tidak ada konflik besar yang bisa ia jadikan alasan.

Yang ada hanya batasan kecil yang terasa mengganggu.

“Terserah,” gumamnya sambil berdiri cepat. “Akhir-akhir ini semuanya jadi ribet.”

Seraphina tidak menjawab.

Ia hanya membuka dokumen berikutnya seolah percakapan tadi sudah selesai.

Lysandra berdiri beberapa detik lebih lama, menunggu respons tambahan yang tidak kunjung datang. Biasanya ibunya akan mengejar, menjelaskan, atau setidaknya mencoba melunakkan suasana.

Hari ini tidak.

Akhirnya, gadis itu keluar dengan langkah sedikit lebih keras dari biasanya.

Begitu pintu tertutup, ruang kerja kembali sunyi.

Seraphina menatap dokumen berikutnya.

Kael Halstrom.

Permintaan akses tambahan dana investasi.

Ia membuka halaman pertama perlahan. Proposal itu terlihat profesional, rapi, dan jauh lebih terstruktur dibanding permintaan Lysandra. Namun bukan berarti ia tidak memahami arah sebenarnya.

Kael ingin akses lebih besar.

Lebih fleksibel.

Dan jika ia mengingat kehidupan sebelumnya, semuanya memang dimulai dari langkah-langkah kecil seperti ini.

Permintaan yang terdengar masuk akal.

Kepercayaan yang diberikan perlahan.

Lalu kendali yang berpindah tanpa disadari.

Sudut bibir Seraphina bergerak sedikit.

Hampir tidak terlihat.

Kali ini tidak akan semudah itu.

---

Siang hari terasa lebih tenang dibanding pagi tadi. Cahaya matahari jatuh lebih terang ke dalam ruangan saat Kael datang sendiri ke ruang kerja ibunya. Seperti biasa, langkahnya tenang, ekspresinya sulit dibaca, dan cara bicaranya selalu langsung menuju inti.

“Aku lihat permintaan akses tambahan belum diproses,” katanya setelah pintu tertutup.

Seraphina tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan tanda tangan pada dokumen terakhir sebelum mengangkat kepala perlahan.

“Aku masih mempertimbangkannya.”

Kael sedikit mengernyit.

“Biasanya itu tidak butuh waktu lama.”

“Sekarang butuh.”

Jawaban singkat itu membuat ruangan terasa sedikit lebih hening.

Kael berdiri beberapa detik tanpa bicara, memperhatikan wanita di depannya lebih saksama. Ada sesuatu yang berubah sejak beberapa hari terakhir, dan ia mulai menyadarinya semakin jelas.

Ibunya masih berbicara lembut.

Masih terlihat elegan.

Namun rasanya berbeda.

Lebih tertutup.

Lebih berhati-hati.

“Ada alasan tertentu?” tanyanya akhirnya.

“Terlalu banyak dana keluar akhir-akhir ini.”

Kael terdiam sesaat.

“Bukankah investasi memang butuh pergerakan?”

“Tergantung investasinya.”

Nada suara Seraphina tetap tenang, tidak terdengar menuduh atau curiga. Namun jawaban itu cukup membuat Kael berpikir lebih lama.

“Aku cuma butuh fleksibilitas lebih,” ujarnya lagi.

Seraphina mengangguk kecil.

“Aku akan pikirkan.”

Bukan ya.

Namun juga bukan tidak.

Sengaja dibiarkan menggantung.

Dan Kael menyadari itu.

“Sejak kapan Ibu jadi sangat berhitung?” tanyanya pelan.

Seraphina menatap putranya beberapa detik.

“Seharusnya sejak dulu.”

Jawaban itu sederhana, tetapi cukup membuat Kael terdiam. Ada sesuatu dalam kalimat itu yang terasa aneh, seolah mengandung makna lain yang belum bisa ia pahami.

Akhirnya, ia mengangguk kecil.

“Baik.”

Namun sebelum keluar, Kael sempat menoleh sekali lagi.

Tatapan matanya bertahan sedikit lebih lama dari biasanya.

Mengamati.

Mencoba membaca sesuatu yang mulai terasa asing.

---

Malam datang seperti biasa.

Ruang makan kembali dipenuhi suasana keluarga sempurna yang selama ini selalu terlihat baik dari luar. Lampu kristal menyala hangat di atas meja panjang, makanan tersusun rapi, dan percakapan ringan mulai mengisi ruangan.

Darius berbicara soal proyek baru.

Lysandra tampak masih sedikit kesal.

Kael lebih banyak diam.

Sementara Seraphina…

Tetap memainkan perannya dengan sempurna.

Ia menjawab seperlunya, tersenyum ketika dibutuhkan, dan tidak menunjukkan perubahan terlalu jelas. Tidak terlalu hangat, tetapi juga tidak dingin hingga mencurigakan.

Pas.

Cukup agar semuanya terlihat normal.

“By the way,” kata Lysandra tiba-tiba sambil memainkan garpunya, “aku tetap tidak paham kenapa pengeluaran gala harus dibatasi.”

Darius melirik sekilas.

“Kamu menolak?”

Seraphina mengangguk ringan. “Hanya mengatur prioritas.”

“Bukannya itu acara penting?” tanya Darius lagi.

“Penting tidak selalu berarti harus berlebihan.”

Nada suaranya lembut, sangat tenang.

Sulit diperdebatkan.

Darius terlihat sedikit heran, tetapi tidak cukup tertarik untuk membahas lebih jauh.

“Kalau memang perlu nanti dibicarakan lagi.”

“Tentu,” jawab Seraphina sambil tersenyum kecil.

Kael diam sejak tadi.

Namun matanya beberapa kali bergerak ke arah ibunya.

Mengamati.

Ada sesuatu yang berubah.

Ia belum tahu apa.

Namun instingnya mulai terasa tidak nyaman.

Sementara itu, Seraphina hanya mengangkat cangkir tehnya perlahan. Tatapannya bergerak satu per satu pada orang-orang di hadapannya.

Darius.

Lysandra.

Kael.

Mereka masih berpikir semuanya baik-baik saja. Masih percaya bahwa wanita di depan mereka akan terus mengalah seperti dulu. Akan terus memenuhi kebutuhan mereka tanpa banyak bertanya.

Seraphina menundukkan pandangannya sebentar.

Lalu sudut bibirnya bergerak tipis.

Kecil.

Tenang.

Namun penuh arti.

Karena permainan itu akhirnya dimulai.

Dan kali ini…

Ia tidak berniat kalah lagi.

1
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!