Bagi Raka Aditya, menyendiri adalah cara terbaik untuk bertahan hidup dari tekanan dunia yang melelahkan. Ia merasa asing dan tak dimengerti, hingga akhirnya beberapa orang datang menawarkan persahabatan yang tulus. Perlahan, cara pandang Raka mulai berubah. Ia pun belajar bahwa untuk menemukan tempatnya di dunia, ia harus lebih dulu belajar menerima dirinya sendiri dan orang lain apa adanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RS Star, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 3
Dalam hati aku benar – benar bingung, siapa yang memanggil dan menarikku seperti itu? aku ini murid baru kan? Siapa yang mengenalku di hari pertama aku masuk sekolah? Terlebih yang bikin aku kaget adalah sosok yang di hadapanku saat ini, dia adalah...
“Tunggu... kau...” aku terbata untuk mengatakan apa yang ada dikepalaku ketika menatapnya, terlebih aku ditatap dengan ekspresi haru seperti itu seolah kami adalah teman yang sudah lama tidak pernah bertemu.
“Ternyata benar, kamu.... kamu masih ingat aku kan?!” tanyanya dengan sedikit suara serak yang terdengar
“Maya... kan...?” jawabku dengan ragu, aku ragu bukan karena sosoknya tapi karena ini tidak pernah terjadi di kehidupanku sebelumnya...
“Benar... ini aku Maya Ayu... Raka Aditya...” jawabnya dan tubuhnya seketika terlihat bergetar hebat, sepertinya dia sedang menahan untuk tidak menangis.
Tapi percuma, air matanya terlihat begitu deras keluar dari kedua mata. Dia terlihat sangat sedih dan juga terlihat sangat lega, aku tidak tahu kenapa dia seperti ini. Seingatku, aku tidak pernah bertemu dengan Maya di MPLS, tapi kenapa tiba – tiba hal seperti ini terjadi? Apa ini yang namanya improvisasi dari setiap perkembanganku?
“Kamu.... kamu masih hidup... syukurlah... syukurlah kamu masih hidup... aku bersyukur kamu masih ada di dunia ini...” ucapnya terdengar tidak begitu jelas, aku tidak bisa berkata apa pun mendengar apa yang dia ucapkan.
Maya mengucurkan air mata begitu deras di depanku, kalau diingat – ingat... dia juga mengucurkan air mata begitu deras ketika insiden itu terjadi, seolah dia kehilangan seseorang yang penting dalam hidupnya. Kenapa tiba – tiba aku jadi teringat kenangan mengerikan itu? Aku... bingung...
Kami tidak bisa terus seperti ini di dekat kelas yang terisi penuh oleh siswa – siswi, jadi aku mengajaknya untuk pindah tempat di mana akan hanya ada aku dan Maya. Aku memilih atap sekolah karena di sana tidak akan banyak orang dan juga kalau ada yang menguping maka kami bisa segera memergokinya. Maya setuju dengan ideku lalu kami berjalan bersama menuju atap sekolah, di rooftop aku dan Maya berdiri saling berhadapan namun aku tahu Maya masih kesulitan untuk berbicara karena dia sesenggukan.
“A... aku minta maaf karena aku ceroboh waktu itu...” celetuknya memecah keheningan
“Ee... eeh yah tidak apa, aku bisa mengerti. Jadi... kamu juga datang dari tiga tahun lalu?” timpalku, perlahan Maya mengangkat kepalanya untuk menatapku.
"Raka ternyata masih menyimpan ingatan dari tiga tahun lalu ya...” jawabnya sambil menggenggam kedua tanganku, aku terkejut ketika Maya dengan mudahnya menyentuhku seperti itu.
Bagiku ini adalah kejadian yang sangat langka, tangan cewek!!! Itu tangan cewek yang menyentuh kedua tanganku!! Begitu ramping, mulus dan lembut!! Ini sungguhan, kan? Aku kayaknya akan mati tertabrak truk lagi sepulang sekolah, sepertinya aku harus membeli jimat anti tertabrak di jalan raya!!
“Terima kasih...” ucapnya, aku kembali menatap wajahnya.
“Aku pasti sudah mati kalau bukan karena kamu... terima kasih banyak...” ucap Maya melanjutkan kalimatnya, aku masih tidak mengerti dan aku hanya bisa terdiam terus menatap wajahnya.
Begitu mendengarnya berbicara... aku merasa hangat pada hatiku... tapi aku harus jujur padanya, aku tidak ingin ada kesalahpahaman di antara kami. Aku melepaskan genggaman kedua tangan Maya lalu menggaruk kepalaku, aku tidak ingin dia salah paham kalau aku tidak suka dengan tindakannya yang menggenggam kedua tanganku.
“Aku tidak bermaksud menolongmu... tapi tak apa, yah.. kamu harus tahu apa yang sebenarnya terjadi...” timpalku, aku melihat Maya terkejut mendengar ucapanku.
“Maksudmu?” tanyanya
“Bukan apa – apa” jawabku sambil tertawa kecil
Ini bukan hal yang bisa aku katakan keras – keras kepadanya, ini cuma tentang trauma pribadiku saja ketika melihatnya menangis begitu pilu dan juga berlinang air mata seperti itu. Aku tidak ingin dia terus – menerus merasa bersalah dengan apa yang sudah terjadi, setidaknya, aku sudah mendengar ucapan ‘Terima kasih’ dari Maya selain kata ‘Maaf’ dan itu sudah lebih dari cukup.
“Pokoknya aku bahagia karena Raka baik – baik aja, usahaku gak percuma” celetuknya, seketika aku menyadari kembali siapa aku dan Maya di dunia ini.
“Jadi kamu yang membuat situasi ini terjadi?” tanyaku sedikit menekannya
“Iya... ceritanya agak panjang, apa kamu bersedia mendengarnya?” timpal Maya dengan senyumnya, aku mengangguk merespons pertanyaannya.
Sebenarnya, bolehkah aku mengatakan jika aku sudah menduganya? Setelah kecelakaan itu aku yakin aku sudah meninggal dunia dan Maya ingin sang penyelamatnya kembali dari kematian, tapi kematian itu adalah hal yang pasti. Satu – satunya yang bisa dia lakukan adalah berdoa pada Tuhan, dia mengatakan juga kalau keluarganya adalah orang yang sangat percaya pada sebuah harapan dan doa.
Meskipun dia sangat yakin kalau dia tidak bisa melakukan apa pun, dia terus berdoa siang malam dan setelah itu keajaiban terjadi. Maya terbangun ketika kami harus mengikuti MPLS, dia langsung sadar kalau dirinya telah ditarik kembali ke masa tiga tahun lalu meski awalnya Maya juga sama terkejutnya seperti aku. Lalu untuk memastikannya, dia mencariku sampai ke kelas.
“Kurasa begitu ringkasnya, tidak apa kalau kamu tidak percaya. Aku saja belum sepenuhnya meyakini apa yang sudah terjadi, aku cuma tidak menyangka ini akan benar – benar terjadi” ucapnya mengakhiri cerita
Setelah mendengar semua perkataannya, sebenarnya banyak hal yang ingin aku keluhkan darinya. Tapi yang paling menggangguku saat ini adalah...
“Seorang gadis yang percaya pada harapan dan doa lalu semua terkabulkan dan kita ditarik ke tiga tahun yang lalu? Sebenarnya ini anime, manga atau sebuah novel?” tanyaku heran
“Jangan tanya aku lah” jawabnya
“Iya juga sih” timpalku
Mendadak aku merasa ada hal konyol yang sedang terjadi, sejenak jika aku ingat detik – detik kematianku, ketika itu aku berharap direinkarnasi menuju alam dunia lain dengan sihir dan kekuatan serta kerajaan – kerajaan. Tapi jika dipikir lagi, yang menimpaku ini malah terasa lebih masuk akal dibandingkan yang aku harapkan. yap meski aku yakin aku akan kembali mendapatkan masalah setelah ini, tapi setidaknya aku harus ucapkan...
“Uum... hei... yah mau gimana lagi, tapi makasi ya...” ucapku pada Maya, dia pun terkejut mendengar perkataanku.
“Sa... sama – sama...” timpalnya lalu kami terdiam kembali saling tatap, tapi itu tidak berlangsung lama karena kami tiba – tiba merasa malu dan saling melempar pandang.
Aku menyelamatkan nyawa Maya lalu Maya menyelamatkan nyawaku, aku rasa sekarang kita impas meski aku merasa agak geli kalau mengingat apa yang terjadi.
“Ngomong – ngomong, kenapa harus tiga tahun lalu? Kalau kamu gak ingin aku mati, kenapa gak sehari atau seminggu sebelum kejadian aja?” tanyaku memecah keheningan di antara kami, dia pun mendadak menampakkan raut wajah kesal menatapku.
“Emangnya aku tau? Tanya aja sana sama Tuhan” jawabnya terdengar kesal, jujur saja aku tidak akan sebingung ini kalau dapat jawaban yang sesederhana itu meski aku memahami apa yang coba Maya sampaikan padaku.
“Aah iya, gimana kalau kita kembali ke tempat kamu berdoa lalu meminta agar kita dikembalikan ke tiga tahun ke depan?” aku pun memberi ideku agar kita tidak perlu mengulang apa yang sudah pernah kita lalui, seketika tatapan mata Maya ke mana – mana dan tidak fokus.
“Eeh...” gumamnya
“Kamu berdoa di mana emang? Mungkin kita bisa kembali kalau kita berdoa dengan tulus” tanyaku
“Aaa... ha ha ha... itu... yaah.... kurasa ada benarnya, tapi emang Tuhan mau kabulkan harapan yang sama berulang – ulang? Menurutku, kita tidak bisa meminta sesuatu berulang – ulang seperti itu sih...” jawabnya terbata, dia terlihat seperti sedang berbohong.
“Kok kamu seperti tahu jawaban Tuhan?” tanyaku dengan sindiran, suasana ini menjadi agak aneh.
“Apa kamu akan mengalami kesulitan kalau kita kembali ke masa tiga tahun mendatang? Tapi pokoknya, gimana kalau kita datangi dulu tempat kamu berdoa lalu berdoa di sana” ucapku lagi dengan sedikit memaksa, lalu Maya terlihat sangat keberatan sambil melipat kedua tangannya.
“Ya terserah deh” dengan helaan nafas Maya mengatakannya, setelahnya kami berpisah sementara karena dia harus mengambil tas miliknya yang ditinggal dalam kelas.
Aku sendiri berjalan menuju gerbang sekolah sambil terus berpikir kenapa Maya seolah keberatan untuk kembali ke masa tiga tahun mendatang...
Tidak lama menunggu, setelahnya kami bersama – sama menuju ke sebuah tempat ibadah. Di sana Maya mengajakku masuk lalu kami berhenti di sebuah makam yang entah makam siapa itu, aku merasa takut ketika mengetahui kami akan sampai di sebuah makam.
“Seriusan...?” tanyaku ragu
“Yaa begitulah...” jawabnya lalu dia berjongkok di depan makam itu
“Looh katanya mau ikutan berdoa...” sindirnya kepadaku
“Eeh.. ooh... begitu... lalu aku harus apa?” tanyaku bingung
“Aku sih cuma duduk di depannya sambil mengucapkan apa yang aku harapkan” jawabnya lalu Maya terlihat begitu serius meminta permohonan di depan makam itu
Aku tidak punya pilihan lain selain mengikutinya dan ini benar – benar agak membingungkan bagiku, dalam hati aku berkata ‘Kumohon kembalikan aku ke tiga tahun mendatang dan juga akan lebih bagus kalau aku diberi bakat menulis novel’ begitu yang aku pinta dan aku ulang – ulang terus dalam hati.
Satu jam berlalu....
“Uuugghh... lututku sakit!! Kakiku rasanya mati rasa” keluhku pada Maya setelah satu jam penuh aku berjongkok seperti ini, di saat bersamaan aku mendengar Maya pun merintih kesakitan.
“Kan sudah aku bilang, Tuhan gak bakal kabulkan permohonan yang sama berulang tahu~” keluhnya sambil berusaha meluruskan kaki, aku pun berusaha keras meluruskan kakiku.
“Ya tapi setidaknya kita tahu kalau berdoa itu tidak mempan” ucapku padanya dan akhirnya aku berhasil berdiri, begitu juga dengan Maya.
“Tuh kan aku bilang juga apa, aku yakin Tuhan hanya mau melakukannya sekali itu aja. Kamu keras kepala sih~” timpalnya, aku bingung harus menanggapi apa karena bagiku ini sangat tidak masuk akal.
“Apa lagi kamu yakin kalau berhasil kembali ke tiga tahun ke depan kamu akan selamat?” tanya Maya padaku, aku bingung dengan pertanyaannya.
“Maksudmu?” tanyaku heran
“Bukannya kamu mati ke tabrak truk? Bisa jadi kamu dikembalikan dua detik sebelum kecelakaan itu terjadi kan, lalu kamu mati sekali lagi dan aku gak bisa meminta Tuhan untuk mengembalikanmu” jawab Maya dengan tenang seolah itu bukanlah hal yang berat untuk diucapkan, aku sampai terdiam beberapa saat menatap wajah polosnya ketika mengucapkan hal mengerikan itu.
“Ya sudah aku menyerah, maka mulai saat ini aku Raka Aditya akan sekali lagi menuntaskan masa SMA walau menyebalkan!” seruku penuh semangat sambil menatap langit cerah sore itu, namun Maya malah menatapku seolah dia menatap sesuatu yang menjijikkan.
“Tapi jujur aja aku jadi merasa gak enak hati mengingat kamu harus ikut terseret bareng aku ke masa ini” ucapku sambil kembali menatap wajahnya, namun sebuah senyum manis yang aku dapati darinya.
“Gak usah dipikirkan, semua orang pasti ingin menyelamatkan orang yang rela mati untuk mereka. Sungguh, aku tidak menyesalinya” begitu tulus Maya ketika mengatakannya, aku sampai terpesona akan ketulusannya.
“Su...sungguh baik sekali hatimu...” pujiku padanya
“Yaah... bukan cuma itu sih alasannya...” agak bergumam Maya mengatakannya lalu dia berbalik dan berjalan hendak meninggalkan tempat itu
“Ayo” ajaknya, aku pun mengikuti Maya berjalan di sebelahnya.
“Ngomong – ngomong, ini pertama kali kita ngobrol secara normal ya” ucap Maya memecah keheningan, aku pun mengingat kembali kenangan yang pernah aku lewati.
Yup Maya benar, ini adalah pertama kali kami mengobrol bahkan di kehidupan masa SMA ku dulu selama dua tahun sekelas bersamanya. Rasanya aneh.... aku sampai berhenti berjalan ketika memikirkannya, sampai Maya meninggalkanku beberapa langkah.
“Buat sekarang sampai di sini dulu aja” celetuknya lalu dia berbalik untuk menatapku
“Kamu dan aku masih punya banyak hal yang harus dibiasakan setelah kita kembali ke masa tiga tahun yang lalu, pokoknya kita berpencar dulu” ucap Maya meneruskan kalimatnya, aku menghela nafas sejenak.
“Baiklah, kamu juga sudah banyak membantu sejauh ini” timpalku, Maya pun tersenyum begitu manis yang menambah daya tariknya sebagai siswi terpopuler satu sekolah.
Aku berharap dia tidak seperti itu, hati dari serigala penyendiri tidak kuat untuk menahan pesona itu. Aku takut salah paham mengartikan senyuman manis itu, kalau sudah begitu bagaimana coba?
“Yaa karena kita partner yang kembali dari tiga tahun lalu, gimana kalau kita saling berteman di WA?” pinta Maya sambil memberikan aku ponsel miliknya, aku terdiam sejenak menatap matanya yang begitu serius ingin berbagi akun WA bersamaku.
Dalam benak aku berkata ‘Ooh begini cara orang normal saling bertukar akun WA’ aku bahkan tidak tahu cara menambah teman dalam akun WA ku, jadi aku minta Maya untuk mengajariku cara menambahkan teman. Maya tertawa geli mendengar aku tidak pernah menambahkan siapa pun ke akun WA ku. Meski begitu, dia begitu semangat untuk mengajariku cara menambahkan teman sampai akhirnya kita menjadi teman di media sosial itu.