Aku terbangun di tubuh anak perempuan yang beusia 5 tahun, merupakan anak kandung Lucas Alexandro yang mengalami hidup yang teragis sebagai anak yang tidak di inginkan. Sang ayah memilih anak angkat untuk di jadikan putri dan aku malah di bunuh dengan tangan ayah ku sendiri karena hasutan sang pembantu anak angkatnya.
Bagaimana kelanjutan cerita ku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere Lumiere, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencoba Melarikan Diri
Shopia mencoba menghalau kemoceng yang tiap kala mengenai tubuhnya dengan bertubi-tubi. Dia mencari celah agar bisa melarikan diri dari Linda.
Hingga beberapa saat kemudian, dia mendapatkan kesempatan dan mendorong tubuh Linda meski dengan tenaga yang lemah. Dia berharap bisa lepas.
Untungnya, Linda sedikit terhuyung. Shopia menyunggingkan senyum tipis lalu melarikan diri dari sana secepat mungkin.
"Tunggu kau, anak sialan!" pekik Linda.
Sembari memegang kakinya yang terasa nyeri, Linda segera tegak berdiri saat melihat Shopia berlari ke arah luar villa.
"Hey! Mau ke mana kau?!"
Linda terus mengikuti Shopia. Gadis kecil itu sesekali menoleh ke belakang dengan perasaan was-was, seakan darahnya membeku seketika. Namun, tubuhnya terus berlari seolah ini adalah sisa adrenalin terakhirnya untuk bisa bebas dari cengkraman Linda.
Hingga akhirnya, Shopia jatuh tersungkur di depan taman yang selalu dilewati Lucas. Taman sunyi yang dulu sangat dirawat oleh ibu Shopia semasa hidupnya.
Shopia melirik ke belakang dengan wajah penuh ketakutan, menyeret kakinya menjauh saat melihat Linda mendekat dengan mata yang menyala-nyala, seolah ingin menghabisinya detik itu juga.
"Hahaha, akhirnya aku mendapatkan kau juga, anak nakal!" pekik wanita itu dengan seringai yang menakutkan.
"Ampun!" ujar Shopia sambil menutupi wajahnya melihat Linda makin dekat.
Di sisi lain, Lucas nampak sedang mengamati tanaman yang dulu dirawat oleh istrinya dengan wajah sendu. Meskipun wajahnya tanpa ekspresi dan terlihat dingin—terlihat jelas dari jemarinya yang dimasukkan ke dalam saku celana—hawa ketenangan yang terpancar menunjukkan betapa dia amat merindukan sosok wanita yang dulu menemaninya.
Lucas terkejut dan refleks menoleh ke arah suara keras seseorang jatuh dan percakapan yang menusuk telinga.
"Ternyata anak itu lagi!" gumam Lucas dalam hati. Terlihat raut geram di wajahnya, seolah tak suka dengan gangguan tersebut.
Awalnya Lucas hanya memandang tanpa niat untuk menolong. Namun, semakin lama dia melihatnya, semakin dia merasa anak yang ketakutan itu memiliki kesamaan dengan masa lalunya sendiri.
Dia teringat masa lalu yang membuatnya menjadi pribadi sedingin sekarang. Lucas hanyalah anak yang tidak diinginkan oleh kedua orang tuanya dan selalu dianiaya oleh saudara-saudaranya.
Karena itulah, dulunya Lucas merasa harus menyingkirkan anak-anaknya agar mereka tidak mengalami nasib sama seperti dirinya yang hanya mengenal rasa sakit. Namun, sang istri tidak pernah ingin menyingkirkan mereka bahkan sebelum mereka lahir.
Hingga akhirnya, Lucas hanya bisa mengikuti wasiat terakhir istrinya untuk tidak menghilangkan nyawa mereka, melainkan mengabaikan mereka seolah-olah anak-anak itu tidak pernah ada.
Lucas menghela nafas kasar, lalu mendatangi Shopia dan Linda untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Bayangan masa lalunya terus berputar di kepalanya saat ini.
Para bodyguard pribadi Lucas membantu Shopia untuk berdiri. Sementara itu, Linda sudah gemetar ketakutan dan ingin kabur, namun dia tak bisa ke mana-mana karena para bodyguard sudah menghadang jalan keluarnya.
"Apa yang kau lakukan padanya?!" tanya Lucas dengan nada dingin.
Shopia menggelengkan kepala meski wajahnya penuh ketakutan, "Tidak ada... ini hanya permainan. Aku bermain dengan Mama ku," ucapnya terbata-bata.
Mata Shopia sempat melirik tajam ke arah Lucas. Dia tahu pria itu tidak akan pernah peduli padanya. Lagipula, sebentar lagi Lucas akan mengambil anak angkat, dan saat itu mungkin Shopia akan mati kelaparan atau bahkan dihabisi olehnya.
"Mama?!" Lucas melirik tajam, terutama kepada Linda.
Linda menunduk dalam, tak berani menatap tuannya. Dia ingin melawan, tapi dia tahu itu sama saja dengan mencari mati.
"Apakah itu yang kau ajarkan padanya?!" geram Lucas sambil menatap nyalang pada Linda.
Lucas memang tidak menyukai anak-anak, tapi dia sangat benci jika anak-anaknya memanggil orang lain sebagai 'Mama'. Baginya, hanya mendiang istrinya lah yang pantas dipanggil Ibu oleh mereka.
"Ampun Tuan! Bukan seperti itu, dia memang suka berbohong, Tuan!" terang Linda.
Linda kemudian menunjuk Shopia dengan kasar, menuduh gadis kecil itulah yang berbohong pada Lucas.
"Tuan, saya sudah mengaudit keuangan villa Nona, dan sekretaris menunjukkan bahwa banyak keuangan yang bolong dan tidak sesuai pada tempatnya, Tuan," ujar Bima tiba-tiba berbicara dari samping sambil sedikit menunduk hormat.
Lucas menoleh pada Bima dengan kening berkerut, seolah mempertanyakan sejak kapan asistennya ini ikut campur urusan Shopia. Walaupun sebenarnya, dulunya Lucas-lah yang meminta hal itu karena penasaran sesaat pada anaknya.
Wajah Linda pucat pasi. Dia merasa semua perbuatannya kini terbongkar. Namun, dia masih berharap Lucas akan memihaknya karena pria itu jelas-jelas tidak menyukai anak kandungnya sendiri.
"Tuan, uang-uang Nona digunakan untuk membiayai anaknya, Bagas Saputra, agar bisa menjadi abdi negara, serta menghidupi gaya hidup hedon anaknya dan kesenangan sendiri untuk berjudi," jelas Bima sambil menatap tajam pada Linda.
Baginya, meskipun Shopia bukan anak yang disayang tuannya, tetap saja tidak baik mengambil hak anak kecil. Hal itu sangat tidak manusiawi.
Lucas makin geram. Rahangnya mengeras, jari-jarinya mencengkram kuat seolah ingin menghabisi Linda saat itu juga.
"Saya tidak seperti itu! Kenapa Anda tiba-tiba begitu peduli dengan anak ini? Anda kan sudah tidak mau melihatnya, bahkan membiarkannya begitu saja. Bukankah wajar kalau saya melakukan sesuai keinginan saya?" ujar Linda mencoba membenarkan perbuatannya.
"Ya, tapi aku tidak membayar mu tiap bulan untuk hal menjengkelkan seperti ini," gigi Lucas terdengar gemeretak menahan amarah.
"Bawa dia kesini!" titah Bima pada para bodyguard lain.
Para bodyguard mengangguk singkat, lalu membawa seorang pemuda berkisar umur sembilan belas tahun menghadap Lucas dan Linda.
"Ibu!" pekik Bagas.
Pemuda itu menatap ibunya dengan ketakutan karena kedua tangannya digenggam erat oleh bodyguard.
Bima mendekati Bagas, lalu menarik dagunya dengan kasar sebelum akhirnya menamparnya keras.
"Kau tahu apa yang dilakukan anakmu ini, Linda? Dia mabuk-mabukan, main perempuan, serta berjudi. Mau jadi apa negara ini kalau abdinya saja melakukan hal yang merugikan negara?" hardik Bima.
"Anakku! Lepaskan anakku! Kalian juga suka berbuat keji dan bermain kotor!" teriak Linda berusaha melepaskan diri, bahkan ingin menyerang wajah datar Lucas yang sedingin tembok itu.
"Ya, tapi kami tidak berpura-pura baik seperti anakmu itu," ketus Bima yang mulai terpancing emosi.
"Diam kau! Hanya anak jalanan yang tidak punya orang tua!" ujar Linda seolah ingin meludah di hadapan Bima.
Mendengar itu, Bima semakin geram. Dia tidak suka masa lalunya diungkit. Dengan Cepat dia mengeluarkan pistol yang selalu disimpan di saku—untuk berjaga-jaga jika ada keadaan bahaya—lalu menodongkannya tepat ke telinga Linda. Seandainya wanita itu berkata demikian lagi, habislah nyawanya saat itu juga. Namun, Lucas menahannya dengan mengangkat tangan, isyarat agar Bima tidak perlu repot-repot dan mengotori tangannya untuk hal yang tidak penting.