THE LAST SUNRISE
Echoes of Light: Before the Sky Turns Red
Di dunia di mana kenangan bisa dihapus dan realitas perlahan terurai menjadi data, satu foto adalah bukti terakhir bahwa kita pernah ada.
Raka bukan pahlawan dalam arti tradisional. Dia hanyalah seorang arsiparis biasa di era di mana langit mulai retak. Namun, tubuhnya menyimpan rahasia mematikan: dia terinfeksi Glitch, virus digital yang perlahan mengubah daging dan darahnya menjadi partikel cahaya emas yang beterbangan. Setiap kali dia menggunakan kekuatannya untuk menambal realitas yang rusak, sebagian dari dirinya hilang selamanya.
Saat badai merah darah—fenomena misterius yang menghapus sejarah umat manusia—mulai menyapu cakrawala, Raka menemukan sebuah kamera instan tua di reruntuhan kota. Bersama Lena, satu-satunya orang yang masih mengingat wajahnya dengan jelas, Raka memulai perjalanan putus asa menuju "Titik Nol". Misi mereka sederhana namun mustahil: mencetak satu foto terakhir yang sempurna sebelum Raka sepenuhn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Kurniawan Wawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4: LATIHAN GABUNGAN YANG BERANTAKAN
Pagi harinya, langit Neo-Solara disetel pada warna biru cerah yang agak terlalu optimis, seolah-olah sistem pusat tahu bahwa hari ini adalah hari Latihan Gabungan Angkatan 42 dan ingin menyemangati mereka dengan cahaya matahari buatan dosis tinggi.
"Ingat," kata Elara sambil memeriksa tali pengaman di pinggang Raka untuk ketiga kalinya. "Ini simulasi perang tim. Musuh kita adalah skuadron lain yang sudah latihan selama enam bulan. Mereka cepat, mereka taktis, dan mereka nggak bakal kasih ampun."
"Siap, Kapten!" seru Bimo, kali ini helmnya sudah terpasang dengan benar (walaupun sedikit miring). "Kita bakal hajar mereka!"
"Teori bagus, Bim," sahut Kai sambil mengetuk-ngetuk tabletnya. "Tapi secara statistik, peluang kita menang cuma 12,5% kalau kita nggak punya rencana cadangan."
"Rencana cadangannya apa?" tanya Raka santai, sambil meregangkan leher.
"Lari," jawab Kai datar. "Atau sembunyi sampai mereka pulang."
Elara menghela napas. "Kita nggak akan lari atau sembunyi. Kita akan bertarung sebagai satu tim. Raka, kamu jadi penyerang utama. Bimo, kamu tameng. Kai, kamu dukung dari belakang dengan drone dan peretasan sistem pertahanan arena. Aku akan koordinasi serangan."
Mereka mengangguk serempak. Terdengar seperti rencana yang solid. Sangat solid. Sayang sekali, realitas jarang sekali berjalan sesuai rencana, apalagi ketika tim tersebut terdiri dari seorang pemalas jenius, raksasa ceroboh, kutu buku panikan, dan perfeksionis yang terlalu serius.
Gerbang arena terbuka. Di hadapan mereka terbentang lapangan simulasi seluas tiga lapangan sepak bola, lengkap dengan rintangan beton, terowongan pipa, dan menara pengawas. Di seberang sana, Skuadron Cobra sudah menunggu dengan pose siap tempur yang mengintimidasi. Seragam mereka hitam legam, wajah mereka tertutup masker taktis, dan gerakan mereka sinkron sempurna.
"Misi hari ini sederhana," suara Komandan Varen bergema dari speaker seluruh arena. "Tim yang berhasil merebut bendera di markas lawan dalam waktu 30 menit dinyatakan menang. Jika semua anggota tim satu sisi 'tereliminasi' (tertangkap sensor laser), permainan berakhir. Mulai!"
Peluit berbunyi nyaring.
"Serbu!" teriak Elara.
Dan kekacauan pun dimulai.
Raka berlari maju, lincah menghindari rintangan pertama. "Bimo, tutupi kiri! Kai, cari celah di sistem pertahanan mereka!"
"Siap!" Bimo menerjang ke kiri, tapi karena terlalu semangat, dia malah menabrak tiang beton yang ternyata rapuh. Krak! Tiang itu roboh, bukan menghalangi musuh, malah menutupi jalan mundur tim mereka sendiri.
"Bimo! Itu jalan pulang kita!" teriak Kai panik.
"Eh... maaf! Kirain itu pohon!" bela Bimo sambil mencoba mengangkat tiang itu, tapi malah membuatnya makin tersangkut.
Di sisi lain, Kai mencoba meluncurkan drone kecil untuk memindai posisi musuh. "Drone aktif... eh, tunggu. Sinyal terganggu!"
Ternyata, Bimo yang tadi menabrak tiang juga tidak sengaja menendang generator sinyal portabel milik Kai. Layar tablet Kai berkedip-kedip lalu mati total.
"Tanpa drone, aku buta!" keluh Kai. "Aku nggak bisa lihat musuh di mana!"
Skuadron Cobra memanfaatkan kekacauan itu dengan cepat. Tiga anggota musuh muncul dari balik reruntuhan, mengarahkan senjata laser simulasi mereka.
Pyar! Pyar! Pyar!
Sinar merah mengenai dada Bimo. "Eliminasi!" teriak sistem. Bimo terduduk lemas, wajahnya bingung. "Lho? Aku udah kena? Cepet banget?"
"Bimo jatuh! Mundur!" perintah Elara, menarik lengan Kai yang masih bengong. Raka berusaha menahan laju musuh, menembakkan peluru cat (simulasi) ke arah mereka, tapi karena fokusnya terbagi antara menyelamatkan Bimo dan menghindari tembakan, tembakannya meleset jauh, malah mengenai sensor teman sendiri yang ada di bahu Kai.
Pyar!
"Kai eliminasi!"
"Hei! Raka! Itu aku!" teriak Kai frustrasi sambil duduk di samping Bimo. "Lo nembak temen sendiri!"
"Sial! Maaf, Kai!" Raka mundur cepat, sekarang hanya tinggal dia dan Elara melawan enam anggota Skuadron Cobra yang semakin mendekat.
"Mundur ke menara pengawas!" seru Elara. Mereka berlari naik tangga besi menuju posisi tinggi. Tapi sial, tangga itu licin karena sistem simulasi hujan yang tiba-tiba diaktifkan oleh operator arena (mungkin karena mereka kasihan melihat kekacauan di bawah).
Slip!
Kaki Elara tergelincir. "Awas!" Raka reflek menangkap tangan Elara, tapi momentum mereka terlalu besar. Mereka berdua terpeleset, jatuh berguling-guling menuruni tangga, dan akhirnya mendarat dengan gaya tidak elegan di tumpukan jaring pengaman yang memang disiapkan untuk kasus begini.
Masalahnya, jaring itu sensitif. Begitu tubuh mereka menyentuhnya, sensor langsung aktif.
Pyar! Pyar!
"Elara eliminasi! Raka eliminasi!"
Hening.
Enam anggota Skuadron Cobra berdiri mengelilingi tumpukan jaring tempat Raka dan Elara terjerat seperti dua ulat bulu yang malang. Bimo dan Kai duduk di pojokan lapangan, masih terlihat bingung.
Pertandingan berakhir dalam waktu kurang dari lima menit. Skor: 0-4. Kekalahan telak.
Komandan Varen turun ke lapangan, wajahnya sulit ditebak. Dia melihat Bimo yang masih memeluk tiang roboh, Kai yang sedang mencoba menyalakan ulang tabletnya yang rusak, serta Raka dan Elara yang masih berjuang melepaskan diri dari jaring.
"Ada yang bisa jelaskan," tanya Varen pelan, suaranya tenang tapi menusuk, "apa yang baru saja terjadi?"
Bimo angkat tangan. "Saya, Pak! Saya kira tiang itu pohon!"
Kai tambahin, "Dan saya kehilangan sinyal karena tiang itu ditabrak!"
Elara, yang akhirnya berhasil keluar dari jaring dengan wajah merah padam (entah karena malu atau marah), mencoba membela diri. "Kami... kami kurang koordinasi, Pak. Kami belum terbiasa bekerja sama dalam tekanan."
Varen menatap mereka satu per satu. Lalu, tiba-tiba, sudut bibirnya berkedut.
"Kurang koordinasi?" ulangnya. "Itu understatement terbesar yang pernah saya dengar. Kalian bukan kurang koordinasi. Kalian adalah bencana alam berjalan."
Raka, yang masih setengah terjerat jaring, hanya bisa tersenyum kecut. "Maaf, Pak. Mungkin lain kali kami coba lagi?"
Varen menghela napas panjang, tapi kemudian tertawa kecil. Tawa yang jarang terdengar dari pria besi itu.
"Tapi tahu nggak? Justru itulah poinnya."
Semua orang terdiam, menatap Komandan dengan bingung.
"Musuh kalian nanti bukan akan menyerang dengan pola yang rapi. Mereka akan kacau. Mereka akan unpredictable. Dan untuk menghadapi kekacauan, kalian butuh tim yang bisa tetap solid meski semuanya berantakan di sekitar kalian."
Varen berjalan mendekati Raka dan membantu melepaskan sisa jaring yang melilit kaki pemuda itu.
"Hari ini kalian gagal total. Bimo merusak jalur, Kai kehilangan data, Raka nembak teman sendiri, dan Elara... yah, kalian berdua jatuh dengan gaya yang sangat tidak heroik."
Beberapa anggota Skuadron Cobra yang mendengarkan ikut tertawa kecil. Wajah Elara semakin merah.
"Tapi," lanjut Varen, suaranya menjadi serius. "Saat Bimo jatuh, dia nggak panik. Saat Kai kehilangan sinyal, dia tetap diam di tempat menunggu instruksi. Dan saat Raka melihat Elara jatuh, dia nggak mikir dua kali buat nyelamatin, bahkan kalau itu berarti ikut jatuh bersamanya. Itu yang disebut kepercayaan. Itu yang disebut tim."
Varna menepuk bahu Raka kuat-kuat.
"Kalian kalah hari ini. Tapi kalian belajar lebih banyak tentang satu sama lain dalam lima menit kekacauan ini daripada skuadron lain dalam sebulan latihan sempurna. Besok kita ulangi. Dan saya harap kalian bisa bertahan setidaknya sepuluh menit sebelum semuanya hancur."
"Siap, Pak!" seru mereka serempak, kali ini dengan semangat yang berbeda. Bukan semangat kemenangan, tapi semangat untuk memperbaiki kesalahan.
Sore harinya, mereka duduk di tepi arena, minum minuman energi sambil memandang langit yang mulai berubah oranye.
"Jadi," kata Kai memecah keheningan. "Kita benar-benar buruk ya?"
"Buruk banget," sahut Bimo sambil tertawa. "Tapi setidaknya kita buruk bareng-bareng."
"Iya," tambah Elara, tersenyum tipis sambil menatap Raka. "Setidaknya kita saling jaga. Walaupun caranya... agak konyol."
Raka menatap teman-temannya. Wajah Bimo yang penuh debu, rambut Kai yang acak-acakan, dan seragam Elara yang sedikit robek di bagian siku. Mereka terlihat berantakan. Tapi di mata Raka, mereka terlihat sempurna.
"Besok kita pasti bisa lebih baik," kata Raka yakin. "Kita bakal bikin strategi baru. Strategi anti-berantakan."
"Atau strategi berantakan yang lebih terorganisir," goda Kai.
Mereka tertawa lagi. Tawa yang lepas, menghilangkan rasa malu akibat kekalahan tadi. Raka merasakan kehangatan yang sama seperti malam sebelumnya di dapur. Rasa memiliki. Rasa bahwa dia tidak sendirian.
Tapi saat ia mengepalkan tangannya di saku, ia kembali merasakan getaran halus itu. Partikel emas yang beterbangan dari ujung jarinya kali ini sedikit lebih banyak, membentuk awan kecil yang cepat hilang tertiup angin sore.
Makin cepat, batinnya miris. Waktuku makin sedikit.
Dia menatap teman-temannya yang sedang berdebat soal siapa yang paling bersalah atas kekalahan tadi (Bimo bersikeras itu salah tiangnya, Kai bilang salah sinyalnya). Raka tersenyum, menyimpan momen ini dalam-ingatannya sedalam-dalamnya.
Biarlah hari ini kita berantakan, pikirnya. Asal kita masih bersama.
"Ayo pulang," ajak Elara berdiri, mengulurkan tangan pada Raka. "Bimo janji mau masak mie goreng buat makan malam. Katanya biar kita punya tenaga buat latihan besok."
"Mie goreng Bimo?" mata Raka berbinar. "Kalau gitu ayo! Kita harus cepetan sebelum dia kehabisan telur lagi!"
Mereka berjalan berdampingan meninggalkan arena, meninggalkan jejak kaki berdebu di lantai logam. Di belakang mereka, matahari buatan mulai terbenam, mengganti langit biru dengan gradasi ungu dan merah muda yang indah.
Mereka tidak tahu bahwa di layar monitor pusat kontrol, grafik energi merah yang tadi hanya berkedip pelan, kini mulai naik perlahan. Satu garis kecil yang menanjak,预示着 sesuatu yang besar akan segera datang.
Tapi untuk saat ini, yang penting adalah mie goreng Bimo dan tawa teman-teman. Dan bagi Raka, itu sudah lebih dari cukup.
Bersambung...