Deskripsi Novel: Janji yang Terkubur
Lira Anindita terpaksa kembali ke rumah masa kecilnya yang penuh kenangan pahit, setelah menerima kabar ayahnya terbaring sakit keras. Lima tahun lalu, ia pergi dengan hati hancur—di hari yang sama ibunya meninggal secara mendadak, Lira menemukan kenyataan bahwa seluruh kehidupan keluarganya hanyalah tumpukan kebohongan. Ia diusir, dipisahkan dari orang yang paling ia cintai, dan dipaksa hidup sendirian menanggung rasa sakit serta fitnah yang menghancurkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19: Tiga Tahap Rindu Tanpa Tujuan
Episode 19: Tiga Tahap Rindu Tanpa Tujuan
Tiga tahun berlalu. Tiga tahun yang terasa lebih panjang dari tiga abad bagi Raga.
Hidupnya berubah total, berubah menjadi sesuatu yang tidak lagi memiliki warna, tidak lagi memiliki kebahagiaan, tidak lagi memiliki tujuan selain satu hal: Mencari Lira.
Ia menyerahkan seluruh pengelolaan rumah besar dan perkebunan kepada Bu Sumi dan Dimas, mempercayai mereka sepenuhnya. Ia menjual sebagian besar harta dan tanah miliknya, mengubahnya menjadi uang tunai yang selalu ia bawa di tas perjalanannya, lalu ia berangkat pergi, mengembara ke seluruh penjuru negeri. Ia pergi dari kota ke kota, dari pulau ke pulau, dari desa terpencil sampai kota besar yang ramai, tidak ada tempat yang tidak ia datangi. Di mana pun ia berada, ia selalu membawa foto Lira yang dicetak besar, menunjukkannya kepada setiap orang yang ia temui, bertanya dengan nada penuh harapan: “Apakah kamu pernah melihat wanita ini? Apakah kamu tahu di mana dia tinggal?”
Ia tidak peduli lelah, tidak peduli lapar, tidak peduli panas terik atau hujan deras, tidak peduli tidur di mana saja, makan apa saja. Ia berjalan terus, terus berjalan, seolah kakinya tidak pernah tahu rasa lelah, seolah tubuhnya terbuat dari besi yang tidak bisa sakit. Padahal hatinya, hatinya sudah hancur berkali-kali, sudah lelah menanggung rasa rindu yang tak bertuan, rasa sakit yang tak ada obatnya, rasa kesepian yang menyesakkan dada setiap detik.
Raga yang dulu tampan, cerah, dan berwibawa, kini berubah menjadi pria yang tampak jauh lebih tua dari umurnya. Wajahnya kurus, kulitnya terbakar matahari, matanya selalu tampak lelah dan cekung, ada bayangan gelap yang tebal di bawah matanya, rambutnya mulai tumbuh uban di usia yang masih muda, senyumnya sudah lama hilang dari wajahnya. Ia menjadi pendiam, dingin, dan tertutup. Ia tidak lagi tertawa, tidak lagi bercanda, tidak lagi menikmati apa pun yang indah di dunia ini. Baginya, keindahan dunia sudah lenyap bersamaan dengan hilangnya Lira dari sisinya.
Di sisi lain, Lira yang kini hidup dengan nama baru: Maya, hidup di sebuah kota sedang yang jauh ratusan kilometer dari tempat asalnya, di kota yang tidak ada satu pun orang yang mengenalnya atau mengenal keluarga Ardiansyah.
Orang-orang yang membawanya pergi ternyata bukan orang jahat yang akan menyakiti dia. Mereka adalah orang yang disewa oleh seseorang yang tahu betapa berbahayanya Lingkaran Emas, dan sengaja membawa Lira pergi jauh demi melindunginya, supaya dia tidak menjadi sasaran dendam dan bahaya lagi. Mereka memberinya identitas baru, rumah kecil yang nyaman, pekerjaan yang layak sebagai penjahit baju, dan kehidupan yang tenang, damai, dan jauh dari semua masa lalu yang menyakitkan.
Namun meskipun hidupnya damai, aman, dan cukup, hati Lira—atau Maya—selalu merasa ada kekosongan besar yang menganga di tengah dadanya. Ada sesuatu yang hilang, ada bagian dari dirinya yang belum lengkap, ada rasa rindu yang samar-samar selalu ada di hatinya, rindu pada sesuatu yang tidak ia kenal, rindu pada seseorang yang wajahnya tidak bisa ia ingat. Setiap kali ia melihat pasangan suami istri yang berjalan bergandengan tangan dengan bahagia, setiap kali ia mendengar kata “cinta” atau “suami”, dadanya selalu terasa sakit dan perih sekali, persis ada luka lama yang terbuka kembali, meskipun ia tidak tahu dari mana rasa sakit itu berasal.
Ia sering bermimpi buruk. Di dalam mimpinya, selalu ada sosok pria yang wajahnya kabur tertutup kabut, yang memanggil-manggil namanya dengan suara yang terdengar sangat sedih dan penuh rindu, suara yang membuat hatinya menangis meskipun ia tidak tahu siapa pria itu. Ia selalu terbangun dari mimpi itu dengan mata basah penuh air mata, jantungnya berdebar kencang, dan rasa rindu yang luar biasa memenuhi dadanya, rindu pada pria asing di dalam mimpinya itu.
“Siapa kamu… Kenapa rasanya aku sangat mengenalimu… Kenapa rasanya aku sangat merindukanmu… Tapi kenapa aku tidak bisa melihat wajahmu… Kenapa aku tidak bisa mengingatmu…” bisik Lira setiap kali terbangun dari mimpi itu, bingung, sedih, dan kesepian.
Ia tidak tahu, bahwa sosok pria di dalam mimpinya itu adalah Raga. Ia tidak tahu, bahwa pria itu sedang berjalan ribuan kilometer, menanggung ribuan rasa sakit, hanya untuk mencari dirinya. Ia tidak tahu, bahwa cinta yang dulu mereka miliki, masih hidup dan tumbuh kuat di dalam lubuk hati terdalamnya, meskipun ingatannya sudah terhapus bersih.
Dan di sanalah, di kota tempat tinggal Lira sekarang, takdir mulai memainkan peran yang paling menyayat hati, yang paling membuat orang menangis sampai dadanya sakit: Mereka akan sering bertemu, berpapasan, berada di tempat yang sama, berada berjarak satu langkah saja… tapi tidak akan pernah saling mengenal.