Demi membebaskan Ayahnya yang dijebak ke penjara, Kanaya terpaksa setuju dijadikan jaminan perusahaan dan menikah dengan Arkananta, CEO angkuh dari kalangan terpandang.
Hidup Kanaya hancur seketika. Di saat ia harus menghadapi pernikahan kontrak yang dingin, ia justru mendapati kekasihnya berselingkuh. Penderitaannya memuncak saat ia dinyatakan hamil, namun di saat yang sama ia mengetahui fakta pahit. Arkan-lah pria yang telah menjebak ayahnya demi bisa memilikinya.
"Kita cerai! Aku bukan barang yang bisa kamu beli!"
Kanaya memilih pergi membawa kandungannya. Namun, sang CEO tidak tinggal diam. Ia akan melakukan apa pun untuk menyeret kembali wanita yang dianggap sebagai miliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gendis Pitaloka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiamat Di Hari Selasa
Kanaya tidak pernah menyangka bahwa satu panggilan telepon bisa menghentikan detak jantungnya. Ia berdiri di depan jeruji besi yang dingin, menatap sosok pria paruh baya yang biasanya selalu rapi dengan kemeja kerjanya, kini duduk lesu dengan rompi oren yang menyilaukan mata.
"Ayah nggak melakukannya, Naya. Sumpah demi Tuhan, Ayah nggak pernah menyentuh uang itu." Baskara memegang jeruji besi, suaranya parau dan bergetar.
Kanaya menggenggam tangan ayahnya yang keriput. "Naya tahu, Yah. Naya tahu Ayah dijebak. Tapi siapa? Siapa yang tega melakukan ini?"
"Semua bukti digital mengarah ke akun Ayah. Mereka bilang ada aliran dana lima miliar rupiah. Ayah bahkan nggak tahu cara mengakses sistem itu!" Baskara mulai terisak, pundaknya terguncang hebat.
"Naya akan cari cara, Yah. Naya akan cari pengacara terbaik. Ayah harus kuat di sini." Kanaya mencoba bicara dengan tegas.
Seorang petugas polisi mengetuk pintu sel dengan kasar menggunakan tongkatnya. "Waktu kunjungan habis. Silakan keluar."
Kanaya terpaksa melepaskan genggaman tangan ayahnya. Ia berjalan keluar dari kantor polisi dengan kepala yang berdenyut kencang. Lima miliar rupiah? Dari mana ia bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk jaminan atau membayar pengacara papan atas? Hanya satu nama yang melintas di pikirannya. Vandiko. Tunangannya itu berasal dari keluarga berada dan punya jaringan luas di dunia hukum.
Ia merogoh ponsel dari tasnya, mencoba menghubungi Vandiko. Satu kali, dua kali, hingga sepuluh kali, tidak ada jawaban.
"Van, please... jangan sekarang," gumam Kanaya sambil terus berjalan cepat menyusuri trotoar.
Ia memutuskan untuk langsung mendatangi V-Lounge, klub eksklusif tempat Vandiko dan teman-temannya sering berkumpul. Kanaya tidak peduli dengan pakaiannya yang hanya berupa kemeja flanel dan celana jeans kusut.
Begitu sampai di depan gedung klub, satpam sempat menahannya. "Mbak, maaf, ini area privat."
"Saya tunangan Vandiko Alister! Lepaskan!" Kanaya menyentakkan tangannya dan memaksa masuk. Amarah dan rasa takut membuatnya punya tenaga ekstra.
Di sebuah sofa melingkar di sudut paling gelap, ia melihat punggung tegap yang sangat ia kenali. Vandiko sedang duduk di sana, tertawa lebar sambil memegang gelas kristal. Namun, pemandangan berikutnya membuat langkah Kanaya mendadak mati.
Seorang wanita bergaun satin merah dengan potongan dada rendah sedang bergelayut manja di bahu Vandiko. Tangan Vandiko dengan santai mengusap paha wanita itu, lalu membisikkan sesuatu yang membuat si wanita tertawa cekikikan.
"Vandiko?" Suara Kanaya terdengar lirih di tengah dentum musik yang pelan.
Pria itu menoleh. Senyumnya hilang, tapi tidak ada rasa bersalah di matanya. Ia hanya tampak terganggu. "Naya? Ngapain kamu ke sini?"
Wanita di sampingnya, yang Kanaya tahu bernama Clarita seorang sosialita manja menatap Kanaya dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Ini tunangan kamu yang honorer itu, Van? Duh, baunya bau matahari banget ya."
Kanaya mengabaikan sindiran itu. Ia berjalan mendekat. "Ayah ditangkap, Van. Beliau difitnah menggelapkan dana. Aku butuh bantuan kamu. Aku butuh koneksi ayah kamu untuk....."
"Berhenti, Nay." Vandiko mengangkat tangan, memotong kalimat Kanaya. "Aku sudah dengar beritanya. Ayahmu koruptor, kan? Malu-maluin banget."
"Koruptor? Kamu tahu ayahku orang jujur, Van! Dia dijebak!"
"Dijebak atau nggak, itu nggak penting buat aku. Keluargaku nggak bisa berurusan dengan anak narapidana. Reputasi bisnis Alister Group bisa hancur kalau aku tetap sama kamu."
"Maksud kamu apa?" Suara Kanaya mulai meninggi.
"Kita putus. Anggap saja pertunangan kita nggak pernah ada," ucap Vandiko datar. "Dan ini, Clarita. Dia pacar baruku. Lebih cocok denganku daripada kamu yang cuma jadi beban."
Plak!
"Itu untuk pengkhianatanmu," desis Kanaya. Matanya memerah, tapi ia menolak mengeluarkan air mata di depan pria sampah ini.
"Brengsek kamu, Naya!" Vandiko hendak berdiri, tapi Clarita menahannya sambil tertawa mengejek.
"Sudahlah, Van. Biarkan saja gelandangan ini pergi. Dia kan harus jualan apa saja buat tebus ayahnya yang maling itu," sahut Clarita pedas.
Kanaya membalikkan badan, berjalan keluar dengan langkah tegap meski hatinya hancur berantakan. Dalam satu hari, ia kehilangan segalanya. Ayahnya, martabatnya, dan pria yang ia pikir akan melindunginya.
Kanaya membuka ponselnya, mencari berita tentang penangkapan ayahnya. Di sana tertulis jelas: Baskara (55), Kepala Akuntansi PT. Arkan Internasional, diduga melarikan dana operasional perusahaan.
Arkan.
Ia tahu siapa pemilik perusahaan itu. Arkan Dirgantara, CEO muda yang dikenal kejam.
"Kalau Ayah dijebak, berarti ada seseorang di perusahaan itu yang melakukannya," gumam Kanaya.
Ia teringat kata-kata ayahnya tadi pagi sebelum ditangkap. Ayah bilang dia baru saja menemukan keanehan di laporan keuangan tingkat atas. Beberapa jam kemudian, polisi datang. Ini bukan kebetulan. Ini adalah upaya pembungkaman.
Kanaya menyeka sisa air mata di pipinya. Ia berdiri, merapikan kemejanya yang kusut. Rasa sedihnya kini berganti menjadi kemarahan yang dingin. Ia tidak bisa mengandalkan hukum yang sudah dibeli, dan ia tidak punya uang untuk melawan. Hanya ada satu cara.
Ia harus menemui iblisnya secara langsung.
"Kalau kamu mau menghancurkan hidup ayahku, Arkan, maka kamu juga harus berurusan denganku," bisik Kanaya pada dirinya sendiri.
Ia mulai berjalan menuju halte bus terdekat. Tujuannya hanya satu yaitu Gedung Arkan Tower. Ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan di sana, tapi ia tidak punya pilihan lain. Ia akan menyerahkan dirinya ke sarang singa jika itu satu-satunya cara untuk membebaskan ayahnya.
Jika Vandiko menganggapnya sampah karena ia miskin, maka ia akan membuktikan bahwa sampah pun bisa menjadi duri yang mematikan.
Napasnya memburu saat bus berhenti tepat di depan gedung pencakar langit dengan logo 'A' emas yang besar. Gedung itu tampak seperti monster yang siap menelannya bulat-bulat. Kanaya melangkah masuk ke lobi yang luas dan mewah, mengabaikan tatapan aneh dari para karyawan yang baru saja pulang kantor.
"Saya ingin bertemu dengan Arkan Dirgantara," ucap Kanaya tegas kepada resepsionis di meja depan.
Wanita resepsionis itu menatap Kanaya dengan alis bertaut. "Sudah ada janji, Mbak?"
"Katakan padanya, anak dari Baskara yang dia jebak ke penjara ada di sini. Dan saya tidak akan pergi sebelum dia menemui saya."
Kanaya mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia tahu tindakannya ini gila. Tapi bagi wanita yang sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, kegilaan adalah satu-satunya senjata.