Kisah seorang istri yang selalu direndahkan dan dimanfaatkan oleh keluarga suami nya hanya karena dia bukan berasal dari keluarga terpandang yang kaya.....Nasibnya begitu miris bahkan selalu dibandingkan dengan istri adik suaminya sendiri yang dianggap dari keluarga terhormat oleh sang mertua.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hafit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terus menyindir
Setelah sampai di kamar, Raka membersihkan dirinya terlebih dahulu, karena dia sudah tidak tahan badan nya terasa lengket oleh keringat setelah seharian beraktivitas diluar.
Raka mengelola sebuah pabrik gula milik almarhum ayah nya, setelah ayah nya tiada Raka lah yang mengambil alih semua pekerjaan yang ada di pabrik itu.
Sedangkan Davin adik nya sama sekali tidak mau ikut bersama Raka untuk mengurus pabrik itu. Davin setiap hari nya lebih memilih keluyuran gak jelas, dia hanya mau menerima beres nya saja.
Walaupun pabrik itu belum terlalu besar dan maju, tapi dari situ lah satu-satunya penghasilan yang selama ini menghidupi satu keluarga itu.
Sedangkan Dinda, dia sama sekali tidak tau menahu masalah pabrik itu, dia serahkan semua nya pada Raka.
Bisa dibilang Raka lah tulang punggung keluarga, dia yang menanggung semua biaya untuk keluarganya.
"Dek, kok melamun sih? Kenapa? Coba cerita sama Mas ada apa." Raka merangkul istrinya yang terduduk lesu di depan meja rias.
"Mas, Tania jelek ya?" Tanya Tania, dia merasa terganggu dengan kata-kata Sindi tadi, dia takut kalau Raka suatu saat nanti berpaling dari dia.
Karena Tania sudah tidak punya siapapun lagi di dunia ini.
Ayah dan ibu nya sudah meninggal sejak Tania kecil. Dulu, sebelum bertemu Raka. Tania tinggal sama nenek nya di sebuah rumah kecil di desa.
"Sayang, kamu ngomong apa sih, Kamu cantik kok Dimata Mas. Bahkan, di seluruh dunia ini, hanya istri Mas seorang yang paling cantik." Puji Raka dengan mencolek hidung mungil Tania.
"Mas, Tania serius..." Muka Tania langsung memerah mendengar pujian suami nya.
"Loh, memang nya Mas tidak serius? Mas serius dek. Walau secantik apapun wanita lain diluar sana, Hanya kamu yang mampu membuat hati Mas nyaman. Yang Mas lihat bukan hanya tentang fisik saja sayang, kamu itu berbeda. Kamu baik, kamu lembut, kamu tau cara menyenangkan hati suami, pokok nya kamu sempurna di mata Mas." Puji Raka menatap lekat manik mata ber iris coklat milik istri nya yang sudah mulai berkaca-kaca.
Tania bisa merasakan kejujuran dari setiap kata yang di ucapkan suaminya, dia bisa melihat ketulusan Dimata suami nya saat menatap dirinya.
"Mas, makasih ya,"
"Untuk...." Raka tersenyum hangat menatap istrinya.
"Untuk semua nya Mas, terimakasih Mas sudah selalu ada buat Tania, selalu mengerti Tania. Sudah mau menerima Tania dengan baik, bahkan di saat semua orang tidak mau menerima Tania, Mas Raka mau menggandeng tangan Tania dan memperlakukan Tania dengan baik tanpa memandang siapa Tania, makasih ya Mas." Ucap Tania dengan air mata yang sudah tidak terbendung lagi, dia benar-benar terharu dan merasa di sayangi oleh suaminya sendiri.
Walau badai sebesar apapun akan ia lalui dan hadapi, bahkan kalau seisi dunia menghina, menghujat ataupun memaki dirinya, bagi Tania itu bukan apa-apa. Asalkan Raka masih terus berdiri disampingnya dan mendukung diri nya.
Raka meraih tubuh Tania kedalam pelukan hangat nya.
"Mas ini suami kamu sayang, sudah sepantasnya nya seorang suami melindungi dan menyayangi istri nya sepenuh hati. Kamu masa depan Mas, Mas harap kamu kuat ya dengan segala cobaan yang kita lalui ini. Mas janji, kalau nanti ada rezeki lebih kita pindah dari sini." Janji Raka, membuat perasaan Tania sedikit lega mendengarnya.
Raka tau kalau istrinya merasa kurang nyaman tinggal di tengah-tengah keluarga nya, Karena Raka tau betul bagaimana tidak suka nya ibu serta adik nya sama Tania.
Tania mengangguk dengan perasaan lega, rasanya semua kejadian yang membuat hati nya sakit terbayarkan dengan dukungan dan kehadiran dari suami nya saat ini.
Seketika beban yang tadi nya terasa berat kini mulai berkurang, wajah Tania jadi sedikit lebih cerah dari sebelum nya.
"Ya udah, yuk kita keluar, sarapan dulu. Kamu pasti lapar kan?" Ajak Raka, Tania mengangguk dan mengikuti langkah suaminya.
Di meja makan sudah ada Dinda, Sindi, dan Farah sedangkan Davin tidak terlihat sama sekali, Mereka sedang mengobrol dengan sesekali terdengar suara tawa mereka.
Tania semakin merekatkan tangan nya pada lengan suaminya, dia tau, sebentar lagi pasti akan ada drama lagi yang akan menyudutkan dirinya.
"Duduk sayang." Raka menarik kursi untuk Tania, seketika semua mata tertuju kearah mereka berdua.
"Lagi ngomongin apa? kayak nya serius sekali." Tanya Raka basa basi mencairkan suasana yang tiba-tiba semua mendadak diam saat mereka datang.
"Ini Lo Mas, Mbak Farah cerita lucu masalah dikantor nya tadi. Masak ini ya, kata Mbak Farah dikantor nya ada satu cewek dek*l, pokok nya jel*k deh, baju nya juga norak gitu. Terus kata Mbak Farah cewek itu kayak mau deketin bos nya gitu dikantor, gak tau diri banget kan, mana mau coba bos nya Mbak Farah sama cewek kayak gitu. Katanya juga cewek itu yatim piatu lagi, mungkin dia mau mengincar harta si bos itu kali ya. Mau numpang hidup Mungkin." Celetuk Sindi sembari tertawa.
deg
Mendengar kata yatim piatu, dada Tania sedikit nyeri. Dia tau ada niat lain dibalik kata-kata dari adik iparnya itu.
"Mana mungkin mau lah si bos nya itu, masak si buruk rupa mau disanding sama si pangeran....hhhhh." Sambung Dinda lagi, disambut tawa oleh Sindi dan Farah
Raka melirik kearah istri nya sebentar, tau kalau istri nya mulai tidak nyaman mendengar perkataan adik dan ibu nya.
"Dek, kamu makan yang banyak ya, biar sehat. Pasti seharian ini kamu capek kan?" Raka mengalihkan pembicaraan ibu dan adik nya, ia menyendok nasi keatas piring Tania serta mengambil beberapa lauk untuk Tania.
"Capek apanya? Pengangguran yang hobi nya dirumah terus masak ngeluh capek. Kayak Mbak Farah tuh yang___
Brak....
Deg
Sindi dan Farah serta Dinda ter lonjak kaget saat Raka yang tiba-tiba menyentak meja dengan kasar.
Tatapan tajam Raka membuat suasana berubah tegang, tidak ada yang berani bersuara lagi. Termasuk Dinda.
Hanya suara dentingan sendok yang terdengar nyaring ditengah suasana yang tiba-tiba menjadi senyap.
Setelah selesai makan, Dinda dan yang lain bergegas meninggalkan meja makan dengan piring bekas makan yang terlihat masih berantakan.
Raka hanya bisa menghela nafas dengan kasar melihat kelakuan keluarga nya.
"Bi-biar Tania yang bereskan." Menyadari raut wajah suaminya yang terlihat berbeda, Tania buru-buru berdiri dan tangan nya dengan lincah mulai memilah satu persatu piring kotor.
"Dek, maafkan Mas ya. Mas belum bisa membuat hati ibu luluh, maaf juga atas kelakuan keluarga Mas yang sudah benar-benar keterlaluan sama kamu. Mas merasa tidak berguna sebagai suami." Ucap Raka merasa bersalah menatap Tania pias.
Tania tersenyum tipis mendengar ucapan suami nya. Ia meraih tangan suaminya dengan lembut lalu menggenggam nya erat.
"Mas gak perlu meminta maaf, Mas nggak salah.....Dan untuk keluarga Mas, aku akan menunggu dan terus berdoa agar hati ibu bisa luluh dan bisa menerima aku sebagai menantu nya suatu saat nanti." Balas Tania dengan senyum lembut diwajahnya.
"Makasih sayang, kamu sudah mau mengerti." Raka merasa sangat beruntung memiliki istri yang hati nya begitu luas dan sabar seperti Tania.
Tapi sayang keluarga nya tidak bisa melihat betapa tulus nya Tania.