Menceritakan tentang Novita gadis berumur 27 tahun yang bekerja di sebuah perusahaan besar PT Kencana samudra jaya. perusahaan yang sangat bagus untuk memperbaiki kehidupannya. Namun semuanya tidak berjalan sesuai keinginannya saat mantannya dulu muncul sebagai direktur di perusahaan. Andra yang dulu dia kenal sebagai Arya muncul kembali. Dia berusaha keras menghindar dari masa lalunya namun masa lalunya justru datang kepadanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Sore itu Andra bersiap pulang dari kantor. Ia sudah merapikan berkas di mejanya dan mematikan layar komputer, tetapi pikirannya justru tidak bisa tenang. Bayangan kejadian siang tadi terus berputar di kepalanya.
Ia masih ingat jelas bagaimana ia memanggil Novita ke ruangannya dengan nada dingin dan penuh kecurigaan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya terasa begitu kasar bahkan bagi dirinya sendiri. Saat itu ia menuduh Novita sebagai wanita panggilan tanpa memberi kesempatan gadis itu menjelaskan apa pun.
Andra menghembuskan napas panjang.
Ia tidak pernah melihat Novita menangis sebelumnya. Namun siang tadi, ketika gadis itu berdiri di depannya dengan mata yang mulai memerah, Andra sempat melihat air mata yang akhirnya jatuh meski Novita berusaha menahannya.
Perasaan tidak enak mulai mengganggu hatinya.
"Apa aku keterlaluan?" gumamnya pelan.
Ia ingin meminta maaf. Setidaknya menjelaskan bahwa ucapannya lahir dari kesalahpahaman. Namun Andra juga tahu hal itu tidak akan mudah. Setelah kejadian tadi, sangat mungkin Novita akan menjaga jarak darinya. Bahkan mungkin mengabaikannya sama sekali.
Andra mengambil tas kerjanya dan berjalan keluar ruangan.
Lorong kantor mulai sepi karena sebagian besar karyawan sudah pulang. Lampu-lampu putih di langit-langit memantulkan bayangan langkahnya di lantai yang mengilap.
Saat mendekati lift, Andra tanpa sadar melirik ke arah kantor administrasi.
Pintu ruangan itu masih terbuka.
Di dalamnya terlihat beberapa pegawai yang masih berbincang santai sebelum pulang. Di antara mereka, Andra melihat Novita duduk bersama dua temannya. Gadis itu tampak tersenyum kecil sambil mendengarkan sesuatu yang dikatakan temannya.
Melihat itu, Andra justru merasa sedikit lega.
Setidaknya Novita masih bisa tersenyum.
Ia sempat khawatir kata-katanya siang tadi benar-benar menghancurkan perasaan gadis itu.
"Syukurlah..." bisiknya.
Namun Andra tidak masuk ke ruangan itu. Ia hanya berdiri beberapa detik sebelum akhirnya menekan tombol lift.
Pintu lift terbuka dengan suara lembut dan Andra masuk ke dalamnya.
Beberapa menit kemudian ia sudah berada di parkiran basement dan berjalan menuju mobilnya.
Ia baru saja menyalakan mesin ketika ponselnya berdering.
Nama yang muncul di layar membuat Andra sedikit terkejut.
"Ibu."
Ia segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, Bu," sapa Andra dengan nada santai.
Namun yang ia dengar di seberang telepon justru suara ibunya yang terdengar dingin.
"Andra, kamu sekarang di mana?"
Andra sedikit mengernyit.
"Baru mau pulang dari kantor, Bu. Ada apa?"
Ibunya tidak langsung menjawab.
Beberapa detik hanya diisi oleh keheningan sebelum akhirnya wanita itu berkata dengan nada tegas.
"Datang ke rumah sekarang. Rumah di Thamrin."
Andra semakin heran.
"Ada acara keluarga?"
"Tidak. Ibu hanya ingin bicara."
Nada suara ibunya terdengar singkat dan tidak seperti biasanya.
"Baik, Bu. Aku ke sana sekarang," jawab Andra akhirnya.
Telepon pun terputus.
Andra menatap layar ponselnya beberapa detik sebelum meletakkannya kembali.
Ia sedikit kaget.
Ibunya biasanya selalu berbicara hangat kepadanya. Bahkan sekadar menanyakan apakah ia sudah makan atau belum. Namun kali ini nada suaranya terasa berbeda. Dingin. Bahkan sedikit kaku.
"Ada apa sebenarnya?" pikir Andra.
Ia akhirnya memutar setir mobilnya, mengubah jalur yang seharusnya menuju apartemennya menjadi ke arah rumah orang tuanya di kawasan Thamrin.
Perjalanan sore itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Sekitar empat puluh menit kemudian mobil Andra berhenti di depan gerbang rumah besar milik keluarganya.
Seorang satpam yang berjaga segera mengenali mobil itu.
Ia bergegas membuka gerbang dan memberi salam.
"Selamat sore, Pak Andra."
Andra menurunkan sedikit kaca mobilnya.
"Sore," jawabnya singkat.
Mobil itu kemudian melaju masuk ke halaman luas yang dipenuhi pepohonan dan taman rapi.
Andra memarkirkan mobilnya dan turun.
Begitu berjalan melewati teras belakang rumah, ia melihat sosok ibunya duduk di kursi taman di dekat kolam kecil.
Wanita itu memegang cangkir teh dan menatap air kolam dengan wajah murung.
Pemandangan itu membuat langkah Andra sedikit melambat.
Ibunya jarang terlihat seperti itu.
Biasanya wanita itu selalu tampak tenang dan hangat.
Andra mendekat.
"Ibu," ucapnya pelan.
Ia segera menunduk dan menyalami tangan ibunya dengan hormat.
Namun ibunya tidak langsung tersenyum seperti biasanya.
Wanita itu justru menatap Andra dengan pandangan yang sulit ditebak.
Seolah sedang mencoba memahami sesuatu.
Andra duduk di kursi seberang ibunya.
"Ibu memanggilku tiba-tiba. Ada apa?" tanyanya.
Ibunya tidak langsung menjawab. Ia meletakkan cangkir tehnya perlahan di atas meja kecil.
"Andra," katanya akhirnya.
Nada suaranya tenang, tetapi terasa berat.
"Ibu ingin bertanya sesuatu padamu."
Andra mengangguk.
"Apa?"
Wanita itu menatap langsung ke mata putranya.
"Kenapa kamu menuduh seorang pegawai administrasi di kantor sebagai wanita panggilan?"
Pertanyaan itu membuat Andra terdiam.
Dadanya terasa seperti ditarik tiba-tiba.
"Ibu sudah dengar semuanya," lanjut wanita itu.
"Bu Rika menelepon Ibu siang tadi."
Nama itu membuat Andra semakin tidak bisa berkata-kata.
Bu Rika adalah staf HRD di perusahaannya.
Ibunya melanjutkan dengan nada yang lebih tegas.
"Ibu tidak menyangka kamu bisa melakukan hal seperti itu."
Andra menunduk.
Ia tidak membantah.
Karena apa yang dikatakan ibunya memang benar.
"Namanya Novita, kan?" tanya ibunya lagi.
Andra mengangguk pelan.
"Iya..."
Ibunya menghela napas panjang.
"Andra, gadis itu bukan wanita yang buruk. Dia anak yang sangat baik."
Andra sedikit terkejut.
"Ibu mengenalnya?"
"Ibu mendengar semuanya dari Rika" jawab wanita itu.
"Bu Rika adalah sahabat lama Ibu. Dan Novita adalah anak yang sangat dijaga olehnya."
Andra semakin merasa bersalah.
Ia teringat kembali wajah Novita yang menahan tangis siang tadi.
Ibunya melanjutkan dengan suara yang kini lebih dingin.
"Bu Rika sangat marah ketika mendengar apa yang kamu katakan tentang anak itu."
Andra tetap menunduk.
Ia tidak tahu harus menjelaskan apa.
Karena bahkan dirinya sendiri masih belum yakin apakah tuduhan itu benar atau hanya kesalahpahaman.
"Andra," kata ibunya lagi.
"Ibu tidak peduli apa alasanmu. Tapi Ibu ingin kamu menjauhi gadis itu."
Andra mengangkat kepalanya.
"Menjauh?"
"Ya," jawab ibunya tegas.
"Ibu tidak ingin persahabatan Ibu dengan Bu Rika rusak hanya karena sikapmu."
Keheningan jatuh di antara mereka.
Suara air kolam yang mengalir pelan menjadi satu-satunya suara di taman itu.
Andra menatap permukaan air dengan pikiran yang kacau.
Di satu sisi, ia tahu ibunya marah dan memiliki alasan yang kuat.
Namun di sisi lain, bayangan wajah Novita kembali muncul di benaknya.
Wajah gadis yang mencoba tetap tegar meski air matanya akhirnya jatuh.
Perasaan bersalah itu kembali menekan dadanya.
Sementara ibunya masih menatapnya dengan serius, menunggu jawaban dari putranya.
Sore itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Andra merasa benar-benar bingung dengan apa yang harus ia lakukan.