NovelToon NovelToon
Lelaki Yang Terbuang

Lelaki Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:254
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Cun

namanya Mahesa Kalandra, seorang duda yang bangkrut hingga istrinya membuangnya dengar seorang anak gadis yang masih berumur lima tahun, istrinya lari dengan boss nya dan lebih nelangsanya lagi ketika orang tuanya menfitnah dengan meminjam uang di suatu pinjaman online dengan mengatas namakan identitasnya, kini dia lari di kejar rentenir hingga hidupnya nyaris berakhir, mampukah dia bangun dari keterpurukan ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Cun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ya Allah apalagi ini

Mahendra benar benar kebingungan, tak tahu langkah apa lagi yang harus di tempuh, terpuruk,terperosok kedalam jurang yang amat dalam, Mahendra sungguh merasa berdosa pada gadis kecil kesayangannya ini, mbak Imah datang untuk mengantarkan sarapan yang hampir siang, wanita tengah baya itu juga sedih melihat apa yang terjadi, rumah berantakan ,penghuninya berantakan anak kecilnya juga berantakan.

"mas, sampean sarapan dulu, nduk Checil aku mandikan dan ganti baju, jangan kwatir nanti aku suapin dia sekalian kalau mas Hendra izinkan biarkan dia bersamaku ntar sore sekalian aku anter dia ngaji". Izin mbak Imah.

"Terimakasih lho mbak, sungguh selama Checil lahir hingga dia besar mbak Imah yang selalu membantu". Hendra yang sebenarnya sangat sungkan pada tetangganya yang baik hati ini, semenjak SMA Hendra sudah kenal dengan mbak Imah, seorang janda yang di tinggal mati suaminya dengan dua anaknya, dari anak anak mbak Imah masih kecil Hendra tahu dan sering membantu mengajari dan ketika Hendra membuka kursus di rumahnya dulu waktu masih lajang Hendra selalu menggratiskan keduanya , mungkin saja itu yang membuat mbak Imah selalu ingin balas Budi pada Hendra.

"nggak papa mas Hendra, namanya juga tetangga harus saling bantu". Jawab Mbak Imah yang meski berumur hampir 50 tahun tapi wajahnya masih tetap segar karena dia memang tak bisa berdiam diri, terus bergerak mencari hal yang positif dengan membuka warung sembako dan jual sayuran segar, begitu juga masih sempat membawa Checill bersamanya untuk diasuh.

Hendra sungguh berterimakasih pada wanita tengah baya itu, apapun kondisinya dia pun berusaha untuk mengisi perutnya yang tadi pagi setelah subuh hanya berisi segelas air putih dan sebungkus mie instan mentah.

Sayur sederhana dan sepiring nasi itu dimakan Hendra meski tanpa selera, dia habiskan juga siapa tahu ketika perutnya kenyang dia bisa berfikir jernih, dan bisa mencari jalan keluar untuk kelangsungan hidup bersama putrinya, saking penatnya dia berfikir diapun tertidur, terasa nyenyak sekali tidurnya hingga ketika mbak Imah datang dengan menggendong Checill dengan Checill yang membawa tas kecil di punggung nya, kelihatannya dia juga baru pulang dari mengaji, memang cerdas sekali gadis ini semenjak enam bulan yang lalu dia mulai belajar mengaji di masjid dekat rumah, dia sudah lancar baca iqro dan hafal semua doa doa pendek, mbak Imah sangat bangga dengan kecerdasan anak tetangganya itu, sampai ada gossip miring dari para tetangga janda tua mendekati duda berondong, dan mbak Imah tak perduli itu saking sayangnya pada putrinya Mahendra.

"ayah bangun, Checill udah pulang". Suara ceria sang putri membangunkannya, ketika mbak Imah menurunkan gadis kecil itu Mahendra masih tertidur dengan dengkuran halusnya, mbak Imah yang curiga dan takut terjadi apa apa dengan tetangga dudanya ini memberanikan diri dengan menggoyangkan lengan Mahendra, dengan perlahan Mahendra membuka mata, tetapi sulit matanya terbuka hanya sebelah kanan yang kiri tetap tertutup, dan dua berusaha bangun tapi tangan kirinya kebas, dengan sekuat tenaga dia berusaha duduk tapi tak mampu, mbak Imah yang tahu itu dengan sungkan membantu Mahendra untuk duduk, dan ya Tuhan bibir Mahendra jadi miring sebelah dengan mata yang tak bisa terbuka sementara tangan kirinya tak bisa di gerakkan.

"ya Allah cobaan apalagi ini". Batin Mahendra.

"mas Hendra kenapa?" tanya Mbak Imah, sementara Hendra hanya menggeleng pelan.

"akuu akuu akuu tak bisa bergerak mbakk" jawab Mahendra terbata bata karena mulutnya tak bisa bicara dengan lancar.

Mbak Imah yang kebingungan dan kwatir lalu memanggil tetangga sebelah dan pak RT sementara dirinya berlari ke rumah seorang mantri yang kebetulan tetangganya sendiri dan jam lima sore tentunya sudah pulang dari dinas nya di puskesmas.

Rumah Hendra jadi penuh orang, maklum hidup di perkampungan dengan para tetangga yang masih perduli dan tolong menolong nya masih kental, hidup di kampung jika kita terkena musibah maka para tetangga dengan suka rela membantu tapi jika kita berbuat kesalahan sedikit saja maka akan jadi bahan berita dan gossip ke seantero kampung, para tetangga yang melihat penderitaan Mahendra yang tentunya jadi berita heboh Minggu ini di kampung mereka jadi merasa prihatin.

"kayaknya mas Hendra terkena stroke ringan pak RT, kita sama sama bantu dia ya semoga lekas kembali sembuh, bisa kan satu persatu dari bapak bapak mengawasi mas Hendra bergantian?" diskusi antara warga dan pak mantri itu membuahkan solusi, pengobatan Hendra di tanggung oleh fihak desa karena statusnya yang kini benar-benar dalam keadaan miskin dengan hutang milyaran di bank yang sebenarnya bukan dia yang pinjam.

Setelah Hendra di periksa dan minum obat, kini Hendra berbaring di dipan nya yang hampir lapuk di makan ulat kayu.

Dia tidak tidur matanya terpejam tapi fikirannya mengembara dengan ketidak berdaya nya, bahkan ketika dia berusaha mencoba mengangkat tangan kirinya dengan mengambil air minum dalam gelas atom nya, gelasnya terguling dengan air yang membasahi bantalnya, Hendra merasa frustasi, benar benar gagal menjadi manusia di usianya yang masih ke dua puluh sembilan tahun, Hendra sungguh menangis pilu tanpa suara dengan air mata yang benar-benar membasahi bantal yang tadi sebagian sudah basah oleh air minum.

"ya Allah lebih baik engkau cabut nyawa ku saat ini juga, aku tak tahan menerima takdir ini ya Allah, bahkan ketika aku terpuruk orang tuaku pun tak ada yang perduli ", tangis Hendra kembali pecah, dan saat itu mbak Imah mengembalikan Checill yang ternyata selalu mencari ayahnya, gadis kecil itu seperti tahu apa yang di derita sang ayah, maka tengah malam dia minta pulang, sebenarnya dengan pintu yang tidak terkunci mbak Imah bisa saja langsung masuk tapi demi kesopanan dia mengetuk pintu membangunkan Hendra setelah Hendra mengusap air matanya hingga kering dia menjawab salam dari mbak Imah..

"waalaikumsalam salam silahkan masuk mbak". Jawab Hendra dari dalam.

"Maaf mas, nduk Checill nya nangis nggak mau tidur, padahal tadi sudah tidur nyenyak tapi dia nglilir dan nyari ayahnya ". mbak Imah lalu mendekati ranjang Hendra dan menurunkan Checill di sisi Hendra kemudian Hendra memeluk putrinya dengan tangan kanannya.

"ayah, ayah masih sakit? Checill mau tidur sama ayah, nanti kalau ayah sakit siapa yang merawat?" anak sekecil itu sudah faham dan tahu tentang penderitaan sang ayah.

"Iya kita tidur bersama ya, dan mbak Imah makasih banyak ya, sekarang sudah malam aku tak ingin ada gossip nyleneh lagi, silahkan Mbak Imah pulang dulu, besuk kalau Checill udah bangun biarkan dia kerumah mbak!" ucap Hendra dan mbak Imah pun mengangguk sambil beranjak keluar.

"nggak usah di jemput mas, besuk pagi aku kesini jemput Checil sambil anter sarapan buat mas Hendra ". Ucapnya sambil berlalu.

Hendra yang merasa sangat sungkan itu tak mampu menjawab perkataan Mbak Imah, dia hanya mengangguk lemah sambil tidur miring menghadap pintu kamar sambil memeluk putrinya, yang dalam sekian detik sudah tertidur pulas.

☺️☺️☺️☺️

1
Kristiana Subekti
ayo Karina,,,, selidiki tuh si Ririn sm suami mu sewa detektif sekalian 😁
Mbak Cun: tunggu aja kejutan selanjutnya BESTie, terimakasih telah mampir
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!