NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

28. TGD.28

Perjalanan menuju Jakarta kali ini terasa sangat berbeda bagi Shelly dan Arkan. Jika dulu Shelly berangkat ke Jakarta dengan rasa minder sebagai anak desa, dan Arkan pulang ke Jakarta dengan rasa bosan terhadap kemacetan, kini mereka datang sebagai sebuah unit tempur yang solid: sepasang profesional sukses dengan tiga balita yang penuh energi.

Arkan mengendarai mobil SUV-nya sendiri. Di kursi tengah, Bumi, Aksara, dan Padi duduk berjajar di *car seat* masing-masing. Bagasi mobil penuh sesak, mulai dari koper pakaian, botol-botol susu, hingga beberapa karung kecil "Beras Anindya" kualitas super sebagai buah tangan untuk kerabat di kota.

---

Begitu mobil memasuki gerbang tol dalam kota, mata ketiga si kembar mulai melekat ke jendela.

"Ibu! Kenapa rumahnya tumpuk-tumpuk sampai ke langit?" tanya Aksara dengan mata membelalak menatap deretan apartemen di daerah Slipi.

"Itu namanya apartemen, Nak. Karena tanah di sini sempit, jadi orang bangun rumahnya ke atas, bukan melebar seperti sawah kita," jawab Shelly sembari memberikan potongan buah untuk meredam rasa bosan mereka.

"Kasihan ya, Bu. Mereka nggak bisa main bola di galengan," sahut Padi dengan nada prihatin yang tulus, membuat Arkan tertawa di kursi kemudi.

"Tenang, Padi. Nanti di rumah Nenek, ada taman kecil kok meskipun nggak seluas sawah Pak Kardi," timpal Arkan.

---

Keesokan harinya, Arkan harus mengisi kuliah tamu di almamaternya. Namun, ia tidak datang sendirian. Shelly, yang juga diundang oleh fakultas pertanian untuk sesi berbagi pengalaman, hadir bersama si kembar tiga.

Suasana fakultas teknik yang biasanya kaku mendadak cair. Arkan berdiri di podium aula besar, di hadapan ratusan mahasiswa arsitektur yang ambisius. Di barisan paling depan, Shelly duduk memangku Padi, sementara Bumi dan Aksara duduk tenang (setidaknya untuk lima menit pertama) di sampingnya.

"Teman-teman mahasiswa," Arkan memulai presentasinya. Di layar besar, ia tidak menampilkan gedung pencakar langit, melainkan foto "Omah Tandur" dan desain sistem irigasi digital desa mereka. "Arsitektur bukan soal estetika yang memanjakan mata orang kaya. Arsitektur adalah solusi bagi perut yang lapar. Lihat anak-anak saya di depan ini. Mereka tumbuh di sebuah bangunan yang mungkin tidak masuk majalah desain internasional, tapi bangunan itu memberi mereka kesehatan, udara bersih, dan masa depan."

Seorang mahasiswa mengangkat tangan. "Mas Arkan, apa Mas nggak merasa sayang meninggalkan proyek-proyek besar di Jakarta demi membangun gudang beras di desa?"

Arkan tersenyum, melirik Shelly yang sedang menenangkan Padi. "Dulu saya pikir begitu. Tapi setelah melihat bagaimana desain saya bisa meningkatkan efisiensi panen sebuah desa, saya sadar: membangun satu gudang di desa jauh lebih memuaskan daripada membangun seribu ruko di kota. Di desa, setiap garis yang saya gambar berdampak langsung pada kehidupan manusia."

---

Sementara itu, di fakultas pertanian, Shelly diundang dalam diskusi panel dengan para profesor senior. Ia membawa tabletnya, menunjukkan data *real-time* koperasinya.

"Shelly, hasil produksimu per hektar melampaui rata-rata nasional. Apa rahasianya?" tanya seorang profesor tua yang dulu pernah mengajar Shelly.

"Rahasianya adalah integrasi, Prof," jawab Shelly mantap. "Kami menggabungkan data sensor dari Mas Arkan dengan kearifan lokal para petani. Tapi yang lebih penting dari teknologi adalah **kepercayaan**. Petani desa tidak butuh instruksi, mereka butuh rekan kerja yang mau ikut kotor bersama mereka."

Saat Shelly bicara, Aksara tiba-tiba berlari ke panggung, menarik-narik ujung kebaya Shelly. "Ibu, Aksara lapar! Mau makan nasi sawah!"

Seluruh ruangan tertawa. Shelly dengan tenang menggendong Aksara tanpa kehilangan wibawanya. "Inilah realitas pertanian masa depan, Prof. Kita harus membangun sistem yang cukup ramah bagi generasi berikutnya agar mereka tetap mau tinggal di sawah."

---

Malam harinya, mereka berkumpul di rumah mewah keluarga Arkan di Menteng. Bu Ratna sudah menyiapkan segala macam makanan, namun ia sempat panik saat melihat si kembar tiga mulai mengeksplorasi ruang tamunya yang penuh dengan barang antik.

"Aduh, Bumi! Jangan ditarik taplaknya, itu kristal dari Ceko!" teriak Bu Ratna cemas.

Arkan segera bertindak. "Ma, tenang. Anak-anak ini biasa main dengan mesin drone dan cangkul. Kristal Mama aman kok."

Shelly mendekati mertuanya, memberikan tas berisi beras organik. "Ibu, ini beras hasil panen blok utara bulan lalu. Paling pulen. Cocok untuk kesehatan Papa."

Bu Ratna menatap Shelly, lalu menatap ketiga cucunya yang kini duduk rapi di karpet karena ditegur dengan satu tatapan tajam dari Shelly. "Shelly... tante—eh, Mama—masih nggak habis pikir. Kamu bisa tetap terlihat tenang padahal anakmu tiga dan koperasimu sebesar itu. Apa rahasianya?"

"Sabar dan ikhlas, Ma," jawab Shelly sambil tersenyum. "Di desa, alam mengajarkan kami kalau segala sesuatu ada musimnya. Ada musim tanam yang melelahkan, tapi pasti ada musim panen yang membahagiakan."

Pak Baskoro, ayah Arkan, yang sedang memangku Bumi, menimpali. "Arkan, Papa bangga sama kamu. Kamu nggak cuma jadi arsitek, tapi kamu jadi pemimpin keluarga yang sesungguhnya. Papa lihat kamu jauh lebih 'berisi' sekarang daripada saat kamu masih jadi budak korporat di sini."

---

Malam terakhir di Jakarta, Arkan mengajak Shelly ke sebuah *rooftop bar* di salah satu hotel tertinggi, meninggalkan anak-anak dalam penjagaan kakek-neneknya yang mulai kewalahan namun bahagia.

Mereka berdiri di pinggir balkon kaca, menatap hamparan lampu kota yang tak berujung dan kepulan asap kendaraan.

"Gimana, Shel? Masih pengen tinggal di sini?" tanya Arkan sambil merangkul pinggang istrinya.

Shelly menghirup udara Jakarta yang terasa berat, lalu menggeleng. "Indah sih, Mas. Tapi ini bukan 'rumah'. Jakarta itu tempat untuk pamer keberhasilan, tapi desa kita adalah tempat untuk menanam keberhasilan."

Arkan mengangguk setuju. "Besok pagi kita pulang subuh ya. Aku kangen bau tanah sawah kita. Dan kayaknya Pak Kardi sudah kirim pesan WhatsApp sepuluh kali nanya kapan 'Bos Kecil' pulang karena dia sudah rindu."

Shelly tertawa kecil. "Iya, Mas. Aku juga rindu. Aku pengen segera ganti sepatu hak tinggi ini dengan bot karet lagi."

Jakarta dengan segala kemegahannya tidak lagi mampu menggoyahkan Shelly dan Arkan. Perjalanan ke kota ini justru mempertegas posisi mereka. Mereka bukan lagi orang desa yang "menumpang" di kota, atau orang kota yang "mengasingkan diri" ke desa. Mereka adalah jembatan. Mereka membawa kecerdasan kota untuk memakmurkan tanah, dan membawa kejujuran desa untuk menginspirasi kota.

Besok, saat matahari terbit, SUV putih itu akan kembali membelah tol, menuju tempat di mana hati mereka benar-benar berada: di antara hijaunya padi dan tawa riuh Bumi, Aksara, serta Padi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!