My bad story
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaLebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4
Denting jam dinding antik di ruang kerja Hartono seolah terdengar lebih keras dari biasanya, memecah kesunyian yang tegang. Hartono Jayawardhana, pria 65 tahun dengan postur tegap dan uban yang mempertegas wibawanya, berdiri di depan jendela panoramanya. Namun, ketenangan itu palsu. Pundaknya yang biasanya tegak, sedikit membungkuk, menahan amarah yang baru saja meledak.
"Bodoh! Ceroboh!" hardiknya, suaranya yang dalam dan berwibawa menggema di ruangan yang dipenuhi kayu mahoni dan buku-buku tua itu. Dia menatap Renzi yang berdiri di hadapannya dengan pandangan penuh kekecewaan. "kamu pikir ini main-main? Kehilangan Karmel bukan cuma kehilangan sekretaris! Dia adalah kehilangan aset terbaik yang kita punya!"
Renzi berdiri dengan wajah masam, tangan terkepal di saku celananya. Dia seperti anak kecil yang dihukum, tapi di matanya tetap ada bara pemberontakan.
"Dia gadis penurut, cerdas, dan punya integritas yang kamu sendiri nggak punya!" lanjut Hartono, jarinya menunjuk ke arah Renzi. "kamu? Kamu jenius, tapi kepalamu panas dan tindakanmu nggak bisa ditebak! Kamu pikir papa nggak tahu kelakuanmu? Papa cuma tutup mata karena kamu masih bisa mengontrol kerusakanmu. Tapi kali ini? Kamu keterlaluan!"
Renzi memalingkan muka, menatap lukisan kapal tua di dinding. Setiap kata ayahnya adalah pukulan telak baginya, bukan karena rasa bersalah, tapi karena itu semua benar. Karmel adalah aset. Dan dia yang telah menyia-nyiakannya.
"Keluar dari sini!" gerutu Hartono akhirnya, kehabisan napas. "Dan jangan kembali sebelum kamu bisa membawa Karmel kembali!"
Matahari siang menyinari interior industrial kafe mewah di Sudirman. Renzi menyeruput kopi hitamnya, wajahnya masih berawan. Asap rokoknya menari-nari di udara sebelum akhirnya menghilang. Herry duduk di seberangnya, mengamati sahabatnya dengan cemas.
"Jadi lo belum tau kenapa Karmel tiba-tiba resign?" tanya Herry, memecah kesunyian.
Renzi hanya menggeleng, matanya menerawang keluar jendela, melihat orang-orang lalu lalang dengan hidup mereka yang tampak sederhana. Jari-jarinya yang panjang mengetuk-ngetuk gelas kopinya dengan ritme gugup.
"Tapi dia tau lo selingkuh?" Herry mencoba menyelami lebih dalam.
Renzi mengangguk pelan, tatapannya masih kosong. "Baru ketauan kayaknya," gumamnya, suaranya serak.
Herry menghela napas. "Nggak mungkin baru ketauan sekali dia sampai kabur begini," katanya, mencoba merasionalisasi situasi. "Pasti ada yang lain."
"Goblok emang si Fano itu!" seru Renzi tiba-tiba, suaranya meninggi sehingga beberapa pengunjung menoleh. Amarah yang dipendamnya sejak dari kantor ayahnya akhirnya meledak. Baru dua hari lalu Fano mengaku dengan ketakutan bahwa Karmel mengancam akan membongkar perselingkuhannya jika tidak memberitahu keberadaan Renzi saat kencan dengan Mira.
"Rugi banget sih lo sampe kehilangan Karmel," ucap Herry sambil menggeleng-geleng. "Menurut gue, dia bukan sekadar sekretaris. Dia itu kayak sebuah 'machine learning' berjalan. Bisa belajar, beradaptasi, menganalisis... dia partner yang lo butuhkan."
Renzi terdiam. Dalam hatinya, ia mengakui kebenaran perkataan Herry. Karmel adalah satu-satunya wanita yang tidak hanya membuatnya tertarik secara fisik, tetapi juga secara intelektual. Di dekatnya, Renzi yang jenius itu merasa ada yang seimbang, ada yang bisa menantang pikirannya. Dia bukan sekadar wanita yang singgah, tapi sebuah kekuatan yang diam-diam telah menjadi bagian dari ekosistemnya.
"Lo udah cari dia?" tanya Herry lagi, mencoba mencari celah solusi.
"Nggak ketemu," jawab Renzi frustasi. Matanya yang biasanya tajam dan penuh perhitungan, kini tampak lesu. "Kayak ditelan bumi." Selama sebulan ini, segala sumber dayanya ia kerahkan. Penyedia jasa, kontak-kontak bawah tanah, bahkan melacak rekening bank—semuanya mentok. Karmel menghilang dengan sangat sempurna.
"Padahal lo sama Karmel itu ibarat pasangan sempurna," Herry melanjutkan, mencoba menghibur meski tahu itu sulit. "Lo jenius dan Karmel juga cerdas. Kalian bisa sampai di puncak dengan mudah."
lanjut Thor plissssss🙏🙏🙏