NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Reinkarnasi Ratu Iblis Alexia

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Reinkarnasi / Akademi Sihir / Dunia Masa Depan / Fantasi Wanita / Fantasi Isekai
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Watashi Monarch

Genre : Action, Adventure, Fantasi, Reinkarnasi
Status : Season 1 — Ongoing

Kekacauan besar melanda seluruh benua selatan hingga menyebabkan peperangan. Semua ras yang ada di dunia bersatu teguh demi melawan iblis yang ingin menguasai dunia ini. Oleh karena itu, terjadilah perang yang panjang.

Pertarungan antara Ratu Iblis dan Pahlawan pun terjadi dan tidak dapat dihindari. Pertarungan mereka bertahan selama tujuh jam hingga Pahlawan berhasil dikalahkan.

Meski berhasil dikalahkan, namun tetap pahlawan yang menggenggam kemenangan. Itu karena Ratu Iblis telah mengalami hal yang sangat buruk, yaitu pengkhianatan.

Ratu Iblis mati dibunuh oleh bawahannya sendiri, apalagi dia adalah salah satu dari 4 Order yang dia percayai. Dia mati dan meninggalkan penyesalan yang dalam. Namun, kematian itu ternyata bukanlah akhir dari perjalanannya.

Dia bereinkarnasi ke masa depan dan menjadi manusia!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Watashi Monarch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 - Racun Mana Blocking

Beberapa hari kemudian...

Setelah mencari informasi selama beberapa hari melalui para pelayannya, Alexia akhirnya tahu di mana ia berada.

Dia sekarang berada di kerajaan Eldant, tepatnya di kota Rossvale yang secara tidak langsung berbatasan dengan pegunungan Meru dan tempat paling barat dari ibukota.

Dan untuk identitasnya adalah putri kedua dari keluarga Swan, Alexia Iris Swan. Sebuah keluarga yang memiliki sejarah panjang dan merupakan keluarga pahlawan yang berhasil membunuh Raja Iblis lima ratus tahun yang lalu.

Alexia duduk di ranjang sambil menatap ke luar jendela.

'Ini sungguh situasi yang tidak masuk akal.' batin Alexia sambil menghela napas panjang. 'Aku bereinkarnasi ke masa depan menjadi keturunan pahlawan Luna. Apakah ini karma, atau takdir yang sedang mempermainkanku?'

Dia yang dulu adalah Ratu dari para Iblis, sekarang telah berubah menjadi manusia biasa, apalagi dari keturunan pahlawan. Alexia tidak tahu harus berbuat apa mengenai reinkarnasi ini, tapi ia harus berpikir tentang masa depan.

Alexia memegang dadanya dan merasakan rasa sakit di sekitar jantung, yang rasanya seperti sedang digerogoti.

"Bagaimana bisa racun yang langka ini masuk ke dalam tubuhku? Apalagi racun ini mencegah penyebaran Mana, dan dosis yang diberikan padaku hampir melebihi batas."

Racun «Mana Blocking» adalah racun paling mematikan yang membuat jalur Mana seseorang tersumbat. Dalam prosesnya, seseorang akan terus memuntahkan banyak darah hingga menguras energi kehidupannya dan tewas.

Bagian menakutkan dari racun Mana Blocking ini adalah waktu penyebarannya yang lambat. Racun merambat di sekitar jantung dan memakannya secara perlahan-lahan.

Jika menilai dari rasa sakit yang dirasakan Alexia, racun yang mengendap dalam tubuhnya sudah ada sejak lama.

'Di tubuhku tidak ada bekas luka yang bisa menyebabkan racun ini makin menyebar.' batin Alexia dan mengalihkan pandangannya pada piring yang ada di atas meja. 'Kalau begitu, hanya ada satu cara agar racun yang mematikan ini bekerja dengan baik. Aku tidak tahu apakah itu benar.'

"Kuharap ini hanya perasaanku saja." kata Alexia, gelisah.

Tok tok tok

Tak lama kemudian, suara pintu kamar diketuk terdengar.

"Nona Alexia, ini sudah waktunya anda minum obat."

Pintu kamar dibuka dan seorang pelayan masuk sambil mendorong troli makanan. Dia mengambil piring kosong di atas meja dan menyediakan makanan baru untuknya.

"Silahkan diminum, nona Alexia. Ini obat untuk anda hari ini." kata pelayan itu sambil menyuguhkan secangkir teh beraroma barley padanya dan tersenyum dengan ramah.

Melihatnya bersikap ramah dengan tatapan yang merasa iba seperti itu membuat Alexia menjadi yakin. Pelayan di hadapannya saat ini ada hubungannya dengan racun itu.

"Ya, taruh saja dulu di atas meja. Aku akan meminumnya nanti setelah makan." balas Alexia, pura-pura bodoh dan tidak tahu. Namun, itu justru membuatnya makin curiga.

"Tidak boleh seperti itu, nona Alexia." pelayan itu tiba-tiba menyanggah Alexia. "Obat ini harus segera anda minum di hadapan saya. Jika anda tidak minum sekarang, saya yang akan disalahkan oleh kepala pelayan dan pendeta."

Semakin pelayan itu memaksa, semakin Alexia yakin jika di dalam minuman itu terdapat racun. Selain itu, tatapan matanya menunjukkan kebencian sesaat daripada sinis.

'Dalam kondisi lemahku, aku tak bisa melakukan apapun selain meminumnya. Kalau aku menolak, aku tidak tahu apa yang akan dia lakukan padaku nanti.' pikir Alexia dan mengambil cangkir yang baru saja disuguhkan olehnya.

Alexia memandang teh tersebut dengan rasa cemas dan khawatir. Tubuhnya lemah dan sakit-sakitan, jadi jika dia minum racun sekali lagi, entah apa yang terjadi padanya.

Saat ia hendak meminumnya dengan terpaksa, tiba-tiba pintu kamar dibuka. Seorang gadis dengan rambut emas masuk sembari membawa tas kecil berisi biskuit buatan.

"Alexia, aku membuat camilan untukmu. Apa kamu ingin makan beberapa dan memberikan komentarmu pada ...?"

Dia berhenti bicara saat melihat seorang pelayan berdiri di dekat Alexia. Aroma wangi teh tercium dan beberapa roti yang dilapisi selai buah apel juga sudah di atas meja.

'Waktu yang pas!' pikir Alexia dan menjauhkan teh itu.

"Kakak, bisakah aku makan beberapa camilan itu?"

Aurora tersenyum lebar dan mendekat. "Ya, makanlah—"

Padahal baru berjalan beberapa langkah, Aurora tiba-tiba saja dihentikan oleh pelayan itu. "Tunggu sebentar, nona Aurora. Nona Alexia sekarang sedang minum obat, jadi bisakah anda menunggu sampai ia meminum obatnya?"

Aurora yang tiba-tiba dihentikan pun menjadi kesal.

"Bukankah lebih baik jika dia makan sesuatu yang ringan dulu sebelum minum obat?" kata Aurora dan mendorong pelayan itu untuk menjauh dari hadapannya. "Biarkan dia melakukan apa yang dia mau. Ini bukan waktunya untuk seorang pelayan sepertimu ikut campur urusan tuanmu."

"Tapi nona Aurora, kesehatan nona Alexia sedang—"

"Kubilang berhenti ikut campur! Kenapa kau memaksa?"

Pelayan itu tersentak dan terdiam. Tekanan yang Aurora berikan membuatnya tak dapat membalas perkataannya.

"Jika kau sudah selesai di sini, pergilah." kata Aurora dan berbalik. "Jangan buat aku mengulangi perkataanku lagi."

"B-baik, saya mengerti." pelayan itu menyerah dan pergi.

Amarah yang ditunjukkan untuk membelanya membuat Alexia senang. Ini adalah pertama kalinya dia merasakan kehangatan seperti itu. Alexia tiba-tiba tersenyum kecut setelah mengingat masa lalunya yang suram dan kelam.

"Alexia, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Aurora, khawatir.

"Aku tidak apa-apa, terima kasih kakak." balasnya sambil tersenyum tipis hingga membuat Aurora merona merah.

Aurora membalas senyuman Alexia yang hangat itu dan mengulurkan tas kecil yang dia pegang. "Aku membuat sedikit biskuit dengan bantuan koki untuk kamu makan di waktu luang, aku harap ini sesuai dengan seleramu."

Aroma biskuit yang manis tercium sampai hidung meski penutupnya masih belum dibuka. Alexia belum makan apapun sejak pagi, jadi perutnya berbunyi beberapa kali.

"Terima kasih untuk semua ini, kakak." kata Alexia sambil menaruh cangkir teh di atas meja dan mengambil satu biskuit berbentuk hati. Dia memandangnya untuk sesaat dan menggigitnya. Rasa yang luar biasa meledak dalam mulut dan membuat lidahnya terasa aneh dan mati rasa.

"Bagaimana rasanya?"

'I-ini biskuit, kan?' batin Alexia sambil mengunyah biskuit yang tersisa di mulutnya. 'Tapi kenapa ada rasa asin dan pedas? Apakah indera perasaku mulai bermasalah akibat racunnya? Tidak, seharusnya tidak ada efek samping itu.'

Belum selesai mengunyah biskuit, Alexia langsung jatuh terbaring di kasur. Kesadarannya perlahan memudar dan rasa sakit di perutnya kini bergejolak seperti api. Aurora pun panik setelah dia melihat mata Alexia tak bercahaya.

"Alexia? Alexia!" Aurora pun mengguncang tubuhnya.

Alexia merasa sangat mual dan ingin muntah.

"B-berhenti mengguncangku." kata Alexia seraya bangun dengan mata yang lesu. "Aku akan mati jika kakak terus melakukan itu. B-bisakah kakak ambilkan aku air putih?"

'Apakah aku tadi pingsan gara-gara biskuit ini?' batinnya sambil menelan ludah. 'Sebaiknya aku lebih berhati-hati ke depannya. Meskipun dia tidak punya niat jahat, tapi biskuit buatannya terasa seperti racun yang mematikan.'

"Air?" Aurora pun menoleh ke arah meja di dekatnya. "Itu masih ada obatmu, kenapa kamu tidak minum itu saja?"

Alexia mengikuti pandangan Aurora dan menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak ingin minum teh untuk saat ini. B-bisakah aku meminta tolong kakak mengambil air?"

Aurora memandang cangkir teh itu lagi dengan curiga.

"Ya, aku tidak keberatan." kata Aurora dan bangkit setelah menaruh biskuit di atas meja. Dia berjalan ke arah pintu kamar dan keluar, meninggalkan Alexia sendiri di kamar.

"Akhirnya dia pergi." kata Alexia sambil menghela napas.

Setelah semua orang pergi, Alexia mengambil secangkir teh yang pelayan bilang adalah obat dan membuangnya ke pot tanaman di dekat jendela. Setelah beberapa saat, tanaman itu perlahan kehilangan nutrisi dan makin layu.

"Sudah kuduga, teh ini memang beracun." katanya.

'Aku tidak tahu siapa yang mencoba membunuhku, tapi aku pastikan orang itu akan menyesali perbuatannya ini!'

Alexia bertekad sambil menatap dirinya di cermin.

"Untuk sekarang, lebih baik aku mencari tahu cara efektif menyingkirkan racun Mana Blocking ini dan memperoleh pencerahan. Setidaknya aku harus membuka Mana Hall."

1
PORREN46R
spirit seperti roh gitu kan kak?
Cheonma: Sebenarnya sama aja sih,
total 1 replies
anggita
ikut ng👍like, iklan saja.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!