Cinta romantis, dua kata yang tidak semua orang mendapatkannya dengan mudah.
Hari itu Alena Mahira menolak Alex dan menegaskan akan tetap memilih suaminya, Mahendra. Tak ingin terus meratapi kesedihan, hari itu Alex Melangkah pergi meninggalkan kota yang punya sejuta kenangan, berharap takdir baik menjumpai.
8 tahun berlalu...
"Mama, tadi pagi Ziya jatuh, terus ada Om ganteng yang bantu Ziya. Dia bilang, wajah Ziya nggak asing." ujar Ziya, anak semata wayang Alena dengan Ahen.
"Apa Ziya sempat kenalan?" tanya Alena yang ikut penasaran, Ziya menggeleng pelan sembari menunjukkan mata indahnya.
"Tapi dia bilang, Mama Ziya pasti cantik."
*******
Dibawah rintik air hujan, sepasang mata tak sengaja bertemu, tak ada tegur sapa melalui suara, hanya tatapan mata yang saling menyapa.
Dukung aku supaya lebih semangat update!! Happy Reading🥰🌹
No Boom like🩴
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Digital, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KTML004~Digendong Om Alex
Alena menatap lurus ke arah jalan, ia bingung harus menjawab apa.
"Om tadi ngapain ya ke kuburan? Apa keluarganya juga ada yang meninggal?" tanya Ziya lagi.
"Mama, jawab dong."
Alena menghela napas pelan.
"Mama kenal sama Om tadi," jawab Alena.
"Sungguh? Pantesan dia baik sama Ziya, ternyata kenal sama Mama ya?"
Alena asal mengangguk saja.
"Om tadi kayaknya punya anak cowok, Ma. Mama berarti kenal ya sama anaknya?"
Alena kembali menghela napas pelan.
"Mama nggak tau, Ziya. Soalnya Om itu kerja di luar kota lama banget. Mama baru hari ini ketemu sama Om itu." jelas Alena, Ziya hanya ber-Oh-ria saja.
"Ohhhh."
Ziya menatap lurus ke depan sembari memangku wajahnya.
"Nama Om itu siapa, Ma? Ziya nggak nanya soalnya."
"Om Alex, itu namanya." jawab Alena.
"Ohh... Temennya Mama ya?"
Alena kembali mengangguk.
"Ohhh... Berarti kenal sama Papa juga dong ya?"
Alena mengelus dada dengan lembut.
"Iya, kenal."
"Temennya Papa juga ya?"
"Astagaaaaa! Sabar, Alena." Batin Alena.
"Iya. Ziya tidur aja ya, nanti nyampek rumah Mama bangunin."
"Mama nggak seru ih, dikit-dikit nyuruh tidur."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di rumah, Alena langsung mandi bersama Ziya. Setelah ritual mandi, benar saja Ziya langsung mengantuk, terlebih cuaca hujan seperti ini memang sangat mendukung untuk rebahan dan tidur.
Melihat Ziya yang sudah terlelap, Alena mengambil HP-nya dan membuka aplikasi chat, ia mencari kontak Pak Alex, ternyata nomornya masih diblokir oleh Pak Alex.
Alena teringat perkataan Ziya yang mengatakan Pak Alex memiliki seorang anak laki-laki, sedetik kemudian ia tersenyum.
"Akhirnya dia bisa bangkit dan bisa menata kembali hidupnya, syukurlah."
Alena duduk disebelah Ziya, diusapnya wajah lembut Ziya dengan perlahan agar tidak mengganggu tidur nyenyaknya.
"Aku kehilangan Papa ketika aku remaja, kehilangan Mama ketika udah umur 30-an, hatiku hancur banget, berasa nggak ada sandaran lagi. Sekarang anakku harus kehilangan Papanya ketika umur dua tahun, bahumu akan lebih kuat dari Mama, Nak."
Alena menitikkan air mata, ia mengira dirinya kehilangan orang tua merupakan hal yang sangat memilukan hati, namun ia tidak menyangka, melihat anaknya yang hidup tanpa Ayah juga tidak kalah mengiris hati.
Hal yang selalu terselip didalam doa salah satunya adalah harapan agar Ziya tidak pernah berada dalam lingkungan yang membully-nya karena tidak memiliki Ayah.
Alena menyeka air matanya, hatinya merasa sakit setiap terbayang Ziya mendapat ejekan yang berhubungan dengan orang tuanya.
"Tuhanku... Cukupkan lah penderitaan hidup hanya padaku, jangan anakku." lirihnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Besoknya, tiba saatnya tahun ajaran baru dimulai, pagi ini Ziya bangun dengan semangat sebab hari ini adalah hari pertamanya menempuh pendidikan di tingkat Sekolah Dasar.
Semenjak Ziya lahir, Alena memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai guru, ia fokus mengelola keuangan dari hasil kebun yang kini berkembang, selain memperluas kebun, Alena berhasil membangun usaha lainnya yakni rumah kontrakan dan juga Kost-Kostan dengan lokasi strategis di dekat kampus yang tinggi peminat.
Usai sarapan, Alena segera berangkat mengantar Ziya, disepanjang perjalanan Ziya selalu tersenyum, ia sudah tidak sabar untuk masuk ke lingkungan baru, sudah terbayang ia akan bermain dengan teman yang lebih banyak pastinya.
"Ziya harus inget pesen Mama, ya."
"Iya, Mama. Ziya nggak akan nakal, nggak akan jajan sembarangan dan nggak akan malas."
Alena mencubit pelan pipi Ziya.
"Anak Mama emang pinter deh, kayak Mama."
Ziya tertawa kecil, tidak berselang lama mereka akhienya tiba di sekolah baru. mereka turun dari mobil, mata Ziya berbinar saat melihat gedung sekolahnya sangat besar.
"Sekolahnya besar banget, Ma."
"Ziya suka?" tanya Alena, Ziya spontan mengangguk.
"Mama, liat itu, banyak yang bawa orang tuanya." kata Ziya sambil menunjuk beberapa orang siswa seumuran dengan dirinya yang digandeng ayahnya masing-masing.
"Syukurlah kalau Ziya bakal betah disini, Mama jadi ikut seneng."
Ziya menarik tangan Alena, ia sudah tidak sabar masuk ke dalam kelasnya. Saat anak-anak lainnya malu-malu, Ziya justru berbeda, baginya gedung sekolah memiliki daya tarik yang kuat.
"Mama, itu kelas Ziya kan?" tanya Ziya sambil menunjuk kelas paling pojok.
"Iya, Ziya masuk kelas A."
"Wah! Kelas Ziya bagus!"
Mereka masuk ke dalam kelas, Ziya segera mencari tempat duduk yang sesuai keinginannya.
"Ziya mau duduk paling depan, Ma. Biar Ziya bisa belajar serius." ucap Ziya saat memasuki ruangan, Alena terharu melihat anaknya begitu antusias.
Mata Ziya menyisir seisi ruangan, ia melihat ada satu bangku di barisan pertama dan persis di depan guru, bangku tersebut sepertinya sepi peminat, Ziya merasa inilah lokasi strategis baginya.
"Mama, liat. Itu bangkunya kosong, Ziya mau disitu."
"Yakin? Dekat sama Guru loh."
"Yakin, Ma."
Mereka menghampiri bangku tersebut, baru saja tangan Ziya menyentuh sandaran kursinya, sebuah tangan tiba-tiba ikut memegang kursi itu, Ziya menoleh dan mendapati Axan yang memegang kursinya.
"Ini kursi aku!" kata Ziya.
"Ini tempatku!" Axan tidak mau kalah.
Alena menghela napas, sebenarnya tidak ingin ikut ribut, terlebih tangan mereka berdua menyentuh kursi tersebut secara bersamaan, jadi tidak ada yang namanya "Lebih dulu".
"Ziya, cari bangku yang lain aja yuk." bujuk Alena.
"Nggak! Ini tempat Ziya, Ma."
"Enak saja, ini tempatku!" sela Axan.
"Heh, kamu anaknya Om ganteng itu ya? Orang jelek nggak boleh gitu!"
Alena ternganga.
"Ziya, nggak boleh bilang gitu sama orang. Ayo, cari yang lain."
"Nggak mau! Ini tempat Ziyaaaa! Huuwaaaa!"
"Sayang, disebelah sana lebih enak, yuk." bujuk Alena.
Axan yang melihat Ziya menangis histeris sembari melepas kursinya, ia pun memilih mengalah.
"Hump! Ambil ini, kamu berisik kalau nangis!" kata Axan sambil melepaskan tangannya dari kursi.
Pak Alex tiba dengan napas yang masih terengah-engah, ia menghampiri mereka bertiga.
"Xan," panggil Pak Alex.
Axan menghela napas, ia mengerti Ayahnya sedang meminta penjelasan.
"Kursinya sudah Xan beri padanya, Pa. Tapi dia tetap saja menangis." kata Axan.
Alena menarik Ziya dan menggendongnya.
"Maaf, Kak. Bangku ini untuk anak Kak Alex aja," ucap Alena.
Terlihat Ziya masih menangis sesenggukan, Pak Alex langsung menggenggam tangan mungil Ziya, seketika tangis Ziya mereda, ia menatap Paka Alex dengan mata yang masih basah.
"Masih sedih?" tanya Pak Alex, Ziya mengangguk pelan.
"Mau gendong Om?"
Ziya mengangguk, ia langsung melepas kedua tangannya dari Alena, Pak Alex kini mengambil alih Ziya.
"Masih sedih?" tanya Pak Alex lagi.
Ziya bersandar pada dada bidang Pak Alex, ia menanggapi pertanyaan Pak Alex dengan gelengan kepala.
"Anak pintar." puji Pak Alex sembari membetulkan poni Ziya yang sedikit berantakan. Axan menatap malas pemandangan didepannya.
aku baca dulu
lex kak
jadi pinisirin