NovelToon NovelToon
The Emerald And Her Four Mates

The Emerald And Her Four Mates

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:943
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

Hidup Evelyn hancur sejak kepergian ayahnya. Diasingkan ke Kota Vespera yang kumuh dan divonis mati dalam hitungan bulan, ia memutuskan untuk mengakhiri penderitaannya. Tapi seutas tali tambang yang lapuk justru menggagalkan niatnya, menyeretnya masuk ke dalam dunia supranatural yang selama ini tersembunyi.

Darah Evelyn membawa rahasia besar. Ia adalah seorang Multi-Mate yang terikat pada empat penguasa ras immortal terkuat: Naga, Demon, Elf, dan Mermaid.

Di tengah sisa umurnya yang kian menipis, Evelyn terjebak dalam perebutan takdir cinta, perebutan kekuasaan antar-ras, dan konspirasi masa lalu yang perlahan terkuak. Ikuti kisah megah sekuel ketiga dari semesta Alan the Pegasus dan Mnemosyne: The Lost Memory dalam: The Emerald and Her Four Mates.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Gengsi Dua Penguasa dan Detik-Detik Batas Waktu

Apa aku sudah mati? batin Evelyn heran saat tidak merasakan rasa sakit sedikit pun.

Ia memberanikan diri membuka mata yang semula terpejam rapat. Detik berikutnya, ia langsung dihadapkan oleh pemandangan dua pasang tangan pria yang terulur padanya dari kedua sisi.

Evelyn mendongak, menatap kedua wajah familier itu dengan sisa kepanikannya.

"Siapa kau?" tanya Evelyn kebingungan pada Damian, sebelum matanya beralih ke sisi lain. "Dan kau... kenapa bisa ada di sini, Tuan Cerewet?" cecarnya pada Benjamin.

Mendengar suara Evelyn, Benjamin dan Damian sontak terlonjak. Mereka menatap melewati kepala Evelyn dan saling melempar pandang. Udara di sekitar mereka mendadak terasa lebih dingin dan menekan.

"Kau... kenapa ada di sini, Mage?" tanya Damian tajam, mengabaikan pertanyaan Evelyn karena fokusnya kini terkunci pada sosok Benjamin yang memancarkan aura sihir tandingan.

"A-ku... aku hanya sedang bertugas di kota ini, dan kebetulan ada seseorang yang butuh pertolonganku," jawab Benjamin, mencoba menguasai kegugupannya sembari menatap balik mata Damian dengan berani.

Benjamin menarik napas pendek, lalu melanjutkan dengan nada suara yang sengaja ditekankan. "Kau tahu sendiri, kan, Raja Damian? Sudah menjadi sumpah bagi seorang Mage sepertiku untuk bertugas melindungi para makhluk immortal yang terluka, lemah, dan berada dalam bahaya. Itulah alasan mutlak mengapa aku ada di sini."

Benjamin menyipitkan matanya, melempar balik tatapan mengintimidasi kepada pria di seberangnya. "Pertanyaannya, kau sendiri... kenapa ada di sini?"

Atmosfer di tengah jalan raya yang membeku itu kian mencekam. Dua aura sihir yang berbeda saling berbenturan di udara, sementara Evelyn hanya bisa mengerjapkan mata di posisi terduduknya. Kepalanya semakin pening bukan main, bukan hanya karena penyakitnya, melainkan juga karena kebingungan mutlak mendengar percakapan absurd kedua pria asing ini.

Raja Damian? Makhluk immortal? Perlindungan Mage? batin Evelyn linglung. Sebenarnya... mereka ini membicarakan apa?

"Aku hanya sedang berjalan-jalan. Aku bosan melihat pemandangan Vespera yang hanya itu-itu saja. Setidaknya di sini aku bisa melihat keindahan laut," ucap Damian penuh percaya diri, menyusun kebohongannya dengan ekspresi datar yang sempurna.

Damian menatap mobil boks yang membeku di depan mereka, lalu melanjutkan, "Kebetulan, aku ingin menikmati detik ini sedikit lebih lama dan mengaguminya sendirian. Jadi, kau pasti mengerti sekarang mengapa aku juga melepaskan sihir penghenti waktu ini."

Benjamin sontak terkekeh sinis mendengarnya. "Alasan yang luar biasa, Raja Damian. Aku sungguh tidak percaya seorang Demon King sepertimu rela meninggalkan teritorimu di Vespera, lalu datang jauh-jauh ke sini—ke teritori bangsa lain—hanya demi alasan sekonyol itu."

Benjamin hafal betul tabiat Damian. Pria itu selalu gengsi untuk mengakui maksud aslinya dan gemar menyimpan sejuta rahasia di dalam kepalanya. Hubungan mereka memang rumit.

Dulu, mereka sempat berseteru hebat. Tepatnya saat jiwa, raga, dan pikiran Damian dimanipulasi secara kejam oleh raja terdahulu yang tak lain adalah ayahnya sendiri, Aslan Dexter, untuk menjadi sosok iblis tanpa belas kasih. Namun, Damian telah terlepas dari belenggu gelap itu sejak empat belas tahun yang lalu.

Mereka yang dulunya musuh bebuyutan kini telah bergeser menjadi sedikit lebih dekat, hampir seperti keluarga. Meski begitu, ego kedua laki-laki ini sama tingginya. Benjamin yang ketus dan cerewet namun sebenarnya penuh perhatian, berhadapan dengan Damian yang angkuh dan tegas, meski terkadang menyimpan sisi rapuh yang lembut.

"Memangnya apa masalahmu?" sahut Damian sengit, melipat kedua tangan di dada. "Aku adalah seorang raja. Aku bebas pergi ke mana saja. Mau ke Blue Waves atau ke bulan sekalipun, itu bukan urusanmu!"

"Oh, jadi begitu? Aku pun sama. Dan kau tidak usah ikut campur, apalagi banyak bertanya!" jawab Benjamin tidak kalah ketus, melempar pandangan tajam yang dipenuhi harga diri.

Keduanya mendadak sibuk dengan ego masing-masing, sampai-sampai melupakan tujuan utama mereka berdiri di tengah jalan raya ini: menyelamatkan Evelyn Moonshade.

Sementara itu, Evelyn yang masih terduduk di atas aspal dingin hanya bisa menatap kedua pria itu bergantian dengan pandangan kosong. Rasa pening di kepalanya perlahan mulai berkurang, digantikan oleh rasa heran yang luar biasa. Di hadapannya, dua sosok yang memancarkan aura luar biasa justru terlihat seperti dua anak kecil yang sedang berebut wilayah.

Tik... Tok...

Suara gaib detak jarum jam mendadak bergema di dalam kesadaran Benjamin dan Damian. Itu adalah sinyal peringatan. Energi sihir penghenti waktu milik mereka berdua telah mencapai batasnya.

Cipratan air yang tadinya menggantung kaku di udara mulai bergetar pelan. Lampu sorot mobil boks di depan Evelyn pun tampak berkedip, bersiap merenggut kembali kecepatannya yang sempat tertunda. Jika mereka tidak segera bertindak dalam hitungan detik, waktu akan kembali berputar normal dan mobil raksasa itu akan langsung menggilas apa saja yang ada di depannya.

Benjamin dan Damian seketika tersentak. Sadar bahwa maut kembali mengintai gadis di bawah mereka, ego kedua pria itu langsung runtuh dan tergantikan oleh kepanikan instan.

"Sial, waktunya habis!" umpat Damian pelan.

Rahang tegasnya mengeras saat melihat roda mobil boks di depannya mulai berputar lambat, memecah kebeningan kristal es air yang semula menggantung kaku di udara.

Tanpa memedulikan gengsi lagi, Benjamin dan Damian bergerak dalam fraksi detik yang sama. Keduanya membungkuk serentak, berniat menyambar tubuh Evelyn dari atas aspal.

Bzzzt!

Tepat saat telapak tangan Benjamin mencengkeram lengan kiri Evelyn dan tangan Damian mendekap bahu kanannya, sebuah gelombang kejut tak kasat mata meledak di antara ketiganya. Aliran listrik supranatural berwarna hijau zamrud memancar hebat, menyengat telapak tangan kedua pria itu hingga mereka mengerang tertahan. Ikatan mate yang agung baru saja terkunci mutlak. Namun, sirine kematian di depan mereka tidak memberi waktu untuk tertegun.

WUUUSH!

Waktu pecah. Sihir penghenti waktu runtuh sepenuhnya. Klakson mobil boks berbunyi memekakkan telinga bersamaan dengan raungan ban yang selip di atas aspal basah.

Menggunakan sisa kecepatan sihir anginnya, Benjamin menarik tubuh Evelyn ke belakang, sementara Damian menggunakan kekuatan fisiknya yang luar biasa untuk melompat mundur, menjadikan tubuh tegapnya sendiri sebagai tameng pelindung bagi Evelyn dan Benjamin.

BRAKKK!

Mobil boks itu melesat tangguh, menabrak angin kosong tempat Evelyn terduduk satu detik yang lalu, sebelum akhirnya sang sopir berhasil menginjak rem darurat hingga mobil itu berhenti seratus meter di depan dengan posisi melintang.

Riuh rendah teriakan histeris para pejalan kaki di trotoar mendadak senyap. Mereka semua melongo, mengucek mata tidak percaya melihat gadis yang mereka kira sudah hancur terlindas, kini justru berada di seberang trotoar dalam dekapan dua pria asing berpenampilan rupawan.

Evelyn terengah-engah, dadanya naik turun dengan hebat. Sengatan listrik hijau zamrud di tubuhnya tadi entah bagaimana justru melenyapkan rasa pening akibat kanker otaknya dalam sekejap. Kesadarannya mendadak pulih seratus persen. Ia buru-buru melepaskan diri dari himpitan Benjamin dan Damian, lalu berdiri dengan lutut yang masih sedikit gemetar.

"K-Kalian..." Evelyn menatap tangannya sendiri, lalu beralih menatap Benjamin dan Damian bergantian dengan sorot mata menuntut penjelasan. "Kalian ini sebenarnya makhluk apa?! Dan apa yang baru saja terjadi dengan waktu?!"

1
Eka Putri Handayani
Semangat thor lebih bnyk up lg dong, gayamu kael tunggu aja evelyn bertransformasi jadi lebih kuat uh bakal kelepek-klepek deh
Soobin Chan: makasih ya supportnya. maaf author cuma bisa up 1× sehari😄
total 1 replies
Soobin Chan
aslinya emang kuat ko dia, tahan banting pula🤣
Eka Putri Handayani
sumpah gak suka banget sm kael kasar, thor buat evelyn segera ninggalin raganya yg sakit² itu deh
Soobin Chan: iya di tunggu aja ya nanti di bab-bab selanjutnya🙏
total 1 replies
Eka Putri Handayani
thor lebih baik langsung buat evelyn kembali pada raga aslinya deh kesian bngt klo dia hrs menderita kya gtu🥺
Soobin Chan: sabar ya😄 nanti juga sembuh sendiri.
makasih banyak ya udah mampir dan mau baca cerita gaje dari author ini/Smile/
total 1 replies
Soobin Chan
masih sepi hihi/Sob/
Soobin Chan: komen dong guys🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!