NovelToon NovelToon
The Employer

The Employer

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: zanizen_

Bagi Laily, mendapatkan pekerjaan sebagai pelayan di rumah mewah keluarga Arshawirya adalah sebuah keberuntungan—kesempatan kedua untuk mengubur masa lalu kriminalnya.

Jeffran Arshawirya adalah suami sempurna yang tampan dan penuh perhatian, sementara istrinya, Selina, tampak seperti wanita kaya yang tidak stabil dan gemar menyiksanya dengan aturan tak masuk akal.

Namun, di balik kemegahan rumah serbaputih itu, tersimpan gema masa lalu yang mengerikan. Sebuah rumor berbisik bahwa Selina pernah mencoba membunuh putrinya sendiri di bak mandi. Ketika batas profesional antara Laily dan Jeffran mulai mengabur dalam satu malam yang terlarang, Laily menyadari satu hal: di rumah ini, tidak ada yang benar-benar jujur.

Apakah Selina memang seorang psikopat yang berbahaya, ataukah ada skenario yang jauh lebih gelap yang sedang mengintai nyawa Laily? Ingat, di rumah ini, salah memilih langkah bisa berarti kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanizen_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter tiga puluh

Kami hampir tidak berbicara selama perjalanan pulang—Jeffran menyalakan radio dan kami mendengarkan celotehan tak berarti dari sang penyiar. Aku baru teringat kalau dia sempat menyebutkan ada rapat di kota nanti siang, jadi dia harus segera balik arah tidak lama setelah kami tiba di rumah. Namun, perjalanan pulang ini bukan sepenuhnya demi aku. Dia masih mengenakan pakaian yang sama dengan yang dipakainya kemarin, dan aku yakin dia ingin berganti pakaian dengan setelan jas baru sebelum menghadiri rapatnya.

"Hampir sampai." Gumamnya, saat kami keluar dari jalan tol. Dia memakai sepasang kacamata hitam, membuat ekspresi wajahnya mustahil untuk dibaca.

"Baguslah."

Rok gaunku tersingkap naik lagi—gaun sialan inilah yang menyebabkan semua masalah kami. Aku menariknya ke bawah, dan bahkan dengan kacamata hitam yang dipakainya, aku tetap menyadari bahwa Jeffran sedang melihat ke arahku lagi. Aku mengangkat alis, menatapnya dan dia tersenyum malu-malu.

"Satu kali lirikan terakhir sebelum kita berpisah." Gumamnya, sambil terkekeh pelan.

Aku hanya tersenyum.

Saat kami sedang berkendara menyusuri blok pemukiman, dia membanting setir sedikit untuk menghindari truk sampah. Dan saat itulah sebuah pikiran mengerikan terlintas di benakku.

"Tuan Jeffran." Desisku. "Saya belum mengeluarkan tempat sampah tadi malam!"

"Oh..."

Dia tampaknya tidak terlalu memahami gawatnya situasi ini. "Selina secara khusus mengirim pesan kepadaku untuk mengeluarkan tempat sampah tadi malam. Aku tidak pernah melakukannya karena aku tidak ada di rumah. Aku tidak pernah lupa sebelumnya. Jika dia sampai tahu..."

Dia melepas kacamata hitamnya, memperlihatkan mata yang sedikit memerah. "Oh Sial! Apakah kau masih punya waktu untuk melakukannya sekarang?"

Aku melihat ke arah truk sampah tersebut, yang sedang melaju ke arah yang berlawanan dari rumahnya. "Saya rasa tidak. Sepertinya sudah terlambat. Mereka datang sangat pagi."

"Kau bisa bilang saja kalau kau lupa, kan?"

"Anda pikir Selina akan percaya begitu saja?"

"Shit!" Katanya lagi. Dia mengetuk-ngetukkan jari pada setir mobil. "Oke, aku yang akan membereskannya. Jangan khawatir."

Satu-satunya cara untuk membereskannya adalah dengan mengangkut semua sampah itu ke tempat pembuangan akhir secara pribadi. Aku bahkan tidak tahu di mana tempat pembuangan sampahnya, tetapi bagasi mobil Ayla-ku sangat kecil, dan itu akan memakan waktu beberapa kali jalan, di mana pun tempatnya berada. Jadi aku benar-benar berharap Jeffran bersungguh-sungguh saat dia bilang akan membereskannya.

Ketika kami kembali ke rumah, Jeffran menekan tombol di mobilnya yang membuat pintu gerbang berayun terbuka secara otomatis. Nicho sedang bekerja di halaman rumah kami, dan dia langsung menyentakkan kepalanya ke atas saat melihat mobil BMW itu melaju menyusuri jalan masuk. Sangat tidak biasa melihat mobil BMW tiba di rumah pada jam seperti ini—akan lebih masuk akal jika mobil itu pergi—jadi keterkejutannya sangat beralasan.

Aku seharusnya merunduk, tetapi sudah terlambat. Nicho menghentikan pekerjaannya di tengah halaman, dan mata gelapnya bertemu dengan mataku. Dan dia menggelengkan kepalanya, persis seperti yang dilakukannya pada hari pertama itu.

Sialan!

Jeffran menyadarinya juga, tetapi dia hanya mengangkat tangan dan melambai seolah tidak ada yang aneh dengan dirinya yang tiba di rumah pada jam 9:30 pagi bersama seorang wanita yang bukan istrinya. Sebelum memasukkan mobil ke dalam garasi, dia memindahkan transmisi mobil ke posisi parkir.

"Biar kulihat apakah Nicho bisa mengurus sampahnya." Katanya.

Aku ingin memohon kepadanya agar tidak usah meminta bantuan Nicho, tetapi sebelum aku sempat membuka mulut, dia sudah melompat keluar dari mobil, meninggalkan pintunya sedikit terbuka. Nicho mengambil langkah mundur seolah dia tidak ingin melakukan percakapan ini.

"Ciao, Nicho." Jeffran memamerkan senyum lebar kepada tukang kebun itu. Astaga, dia terlihat sangat tampan saat tersenyum. Aku memejamkan mata sejenak, bergidik saat mengingat tangan-tangannya di sekujur tubuhku tadi malam. "Aku butuh bantuanmu."

Nicho tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dia hanya menatapnya.

"Kami punya masalah dengan sampah." Jeffran menunjuk ke arah empat kantong sampah yang penuh di samping rumah. "Kami lupa mengeluarkannya tadi malam untuk petugas kebersihan. Apakah kau bisa membawanya ke tempat pembuangan sampah untuk kami menggunakan trukmu? Aku akan memberimu upah."

Nicho melihat ke arah kantong-kantong sampah itu, lalu kembali menatap Jeffran. Dia tidak mengatakan apa-apa.

"Sampah..." Jeffran mengulangi. "Ke... pembuangan. Tempat pembuangan sampah. Capisci?"

Nicho menggelengkan kepalanya.

Jeffran menggertakkan gigi dan mengeluarkan dompet dari saku belakangnya. "Singkirkan sampah ini untuk kami. Aku akan memberimu..." Dia mengobrak-abrik dompetnya. "Seratus ribu."

Dia mengipaskan lembaran uang itu di depan wajah Nicho. "Singkirkan sampah ini. Kau punya truk. Bawa ke tempat pembuangan sampah."

Akhirnya, Nicho berkata, "No, sono occupato. Sibuk."

"Benar, tapi ini adalah halaman rumah kami dan..." Jeffran menghela napas dan kembali merogoh dompetnya. "Dua ratus ribu. Satu kali perjalanan ke tempat pembuangan sampah. Bantu aku. Tolong."

Awalnya, aku sempat berpikir pasti Nicho akan menolak lagi. Namun dia mengulurkan tangan dan mengambil lembaran uang itu dari tangan Jeffran. Kemudian dia berjalan ke samping rumah dan menyambar kantong-kantong sampah tersebut. Dia berhasil membawa semuanya dalam sekali angkut seiring otot-otot di lengannya menonjol di balik kaus putihnya.

"Bagus." Kata Jeffran. "Ke tempat pembuangan sampah."

Nicho hanya menatapnya selama sesaat, lalu berjalan melewati Jeffran begitu saja sambil membawa kantong-kantong sampah tersebut. Tanpa sepatah kata pun lagi, dia melemparkannya ke dalam truknya dan langsung pergi. Jadi aku rasa dia sudah menangkap maksudnya.

Jeffran melangkah kembali ke mobil dan merosot masuk ke kursi pengemudi. "Baiklah, itu sudah beres. Tapi astaga, brengsek sekali orang itu!"

"Saya rasa dia tadi tidak mengerti ucapan Anda."

"Ya, tentu saja." Dia memutar bola matanya ke arahku. "Dia mengerti lebih banyak daripada yang dia tunjukkan. Dia hanya sengaja bertahan demi mendapatkan uang lebih banyak."

Aku setuju bahwa Nicho tampaknya tidak mau membuang sampah itu, tetapi aku tidak berpikir itu karena dia menginginkan uang lebih banyak.

"Aku tidak menyukai pria itu." Gerutu Jeffran. "Dia bekerja di semua rumah di lingkungan ini, tetapi dia menghabiskan sepertiga waktunya di halaman rumah kita. Dia selalu ada di luar sana. Aku bahkan tidak tahu apa yang sedang dia lakukan setengah waktu dari itu."

"Anda memang memiliki rumah terbesar di blok ini." Aku menunjukkan faktanya. "Dan halaman rumput terluas."

"Benar, tapi..." Jeffran menatap truk Nicho yang menghilang di ujung jalan.

"Entahlah. Aku sudah menyuruh Selina untuk memecatnya dan mempekerjakan orang lain, tetapi dia bilang semua orang menggunakan jasanya dan dia rupanya adalah yang terbaik."

Tentu saja, Nicho bukanlah orang favoritku sejak dia menolakku dengan cara yang tidak terlalu halus, tetapi bukan itu yang membuatku merasa sangat tidak nyaman. Aku tidak bisa melupakan cara dia membisikkan kata bahasa Italia yang berarti "bahaya" kepadaku pada hari pertama di sini. Cara dia yang tampak takut untuk menentang Selina, meskipun tubuhnya cukup besar untuk meremukkan wanita itu dengan satu tangan. Apakah Jeffran tahu seberapa waspadanya Nicho terhadap istrinya?

Baiklah, aku tidak akan menjadi orang yang memberi tahu hal itu kepadanya.

.

.

.

.

.

.

To be continue.....

Like gaes🥰

1
Kim Borahae
hi, saya pembaca baru. ceritanya bagus. semangat ya 💪

btw, saya pun baru mula menulis novel, kalau ada masa, boleh singgah profile. terima kasih 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!