Diselingkuhi saat hamil besar, ia hampir kehilangan segalanya, termasuk anak yang belum sempat ia peluk.
Di titik terendah hidupnya, seorang pria asing menyelamatkannya.
Berbahaya. Dingin. Dan tidak pernah memberi tanpa imbalan.
Satu syarat.
Satu ikatan yang tak bisa ia tolak.
Demi bertahan… demi anaknya, ia menerima.
Lima tahun berlalu.
Hidup yang ia bangun perlahan terasa utuh, hingga masa lalu datang kembali, menuntut apa yang dulu ia abaikan.
Namun kali ini, ia bukan wanita yang sama.
Dan pria di sisinya…
bukan seseorang yang bisa disentuh tanpa konsekuensi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Keluarga Fan.
Lucien duduk bersama Mike sambil menyeduh teh hangat. Cangkir kecil yang unik serta teko keramik sepasang tertata rapi di atas meja.
Lucien yang terbiasa meracik daun teh terlihat sangat ahli dan tenang saat menuangkan air panas ke dalam teko.
"Lucien, kau tiba-tiba pulang tanpa pemberitahuan. Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" tanya Mike yang duduk berhadapan dengan putranya.
Di saat yang sama, Jean menghampiri pintu luar lalu diam-diam mencuri dengar percakapan mereka.
"Pa, aku akan menikah," ucap Lucien yang membuat Mike hampir tidak percaya.
"Apa?" Mike meletakkan cangkir tehnya dengan keras." Kau bilang menikah?"
Lucien mengangguk santai." Aku serius."
Mike menatap putranya lekat-lekat. Selama ini Lucien selalu dingin terhadap wanita. Bahkan banyak putri keluarga kaya yang mencoba mendekatinya tetapi semuanya ditolak mentah-mentah.
Kini tiba-tiba pria itu mengatakan ingin menikah.
"Siapa wanitanya?" tanya Mike penasaran.
Senyum tipis muncul di bibir Lucien." Aku sudah menemukannya."
Di luar pintu, mata Jean langsung membesar karena terkejut.
"Mustahil... Lucien ingin menikah?" gumamnya pelan.
Mike masih belum bisa tenang." Dari keluarga mana dia? Apa aku mengenalnya?"
Lucien menuang teh ke cangkir ayahnya terlebih dahulu sebelum menjawab dengan tenang.
"Dia bukan dari keluarga terpandang."
Mike mengernyit." Bukan keluarga besar?"
"Tapi aku menyukainya," jawab Lucien singkat namun tegas.
Jawaban itu membuat Mike terdiam cukup lama. Ia tahu sifat putranya. Sekali Lucien memutuskan sesuatu, maka tidak ada yang bisa mengubah pikirannya.
"Apa wanita itu juga mencintaimu?" tanya Mike lagi.
Tatapan Lucien berubah samar." Cepat atau lambat... dia akan menjadi milikku."
"Apa kelebihannya sampai dia berhasil mendapatkan hatimu?" tanya Mike.
"Ketika kita mencintai seseorang, di mata kita dia adalah wanita paling sempurna dan memiliki banyak kelebihan," ujar Lucien sambil tersenyum tipis.
Mike tertawa kecil." Papa jadi penasaran wanita seperti apa yang bisa membuatmu luluh. Cepat bawa dia pulang dan perkenalkan padaku. Kalau memang kalian saling mencintai, langsung saja adakan pesta pernikahan."
"Pa, dia tidak menginginkan pesta apa pun. Pernikahan pertamanya gagal dan dia tidak berharap ada perayaan lagi," ujar Lucien.
Mike langsung mengernyit." Pernikahan pertama? Gagal? Dia... seorang janda?"
"Dia juga memiliki seorang putra yang lucu," jawab Lucien dengan tenang.
Mike terdiam sesaat sambil menatap putranya.
"Lucien, apa tidak ada pilihan lain selain dia? Banyak wanita di dunia ini. Asalkan kau menjentikkan jari, mereka pasti berebut mendekatimu. Kenapa harus seorang janda yang sudah punya anak?" tanya Mike.
Di balik pintu, Jean yang mendengar semuanya tersenyum sinis.
"Ternyata seleranya serendah ini. Menyukai janda beranak. Lucien memang tidak lebih baik dari anakku sendiri," batinnya.
"Harus dia. Kalau bukan dia, pernikahan ini tidak akan pernah terjadi," jawab Lucien tegas.
Mike menarik napas panjang." Di mana kau mengenalnya? Sejak kapan hubungan kalian dimulai?"
"Belum lama ini. Setelah dia bercerai, tiga bulan kemudian aku akan menikahinya," jawab Lucien.
"Siapa wanita itu?" tanya Mike lagi.
Lucien menatap ayahnya lurus." Alyysa Liu."
Mike langsung terkejut.
"A-Alyysa? Mantan istri Darius?" tanyanya tidak percaya.
"Pa, mereka sudah bercerai, jadi tidak ada hubungan lagi," jawab Lucien." Lagi pula, Alyysa adalah wanita yang sudah aku cari sejak dulu."
Mike mulai terlihat gelisah." Lucien, selama ini papa selalu percaya pada pilihanmu. Alyysa memang wanita baik, tapi apa kata orang nanti? Seorang paman menikahi mantan istri keponakannya?"
Saat itu juga Jean melangkah masuk dengan wajah marah.
"Aku tidak setuju!" serunya.
Lucien bahkan tidak menoleh lama ke arahnya." Aku tidak membutuhkan persetujuanmu."
"Lucien, aku tahu kau membenci Darius. Tapi kenapa harus wanita itu? Darius sudah kau tekan sampai tidak punya jalan keluar. Kenapa sekarang mantan istrinya juga ingin kau ambil?" tanya Jean emosi.
"Aku tidak perlu menjelaskan apa pun padamu," jawab Lucien dingin.
"Lucien, papa juga ingin tahu alasannya," ujar Mike.
Tatapan Lucien berubah dalam.
"Pa, kalau dulu bukan karena keadaan, orang yang menikahi Alyysa seharusnya adalah aku, bukan bocah itu. Kalau saja Darius memperlakukannya dengan baik, aku mungkin akan memilih diam dan menyembunyikan semuanya. Tapi lihat apa yang dia lakukan. Dia hanya menyakiti Alyysa dan bahkan tidak memikirkan nasib Kael."
Suasana langsung hening.
"Kael membutuhkan keluarga yang utuh, dan aku akan menganggapnya sebagai anakku sendiri," lanjut Lucien." Alyysa masih muda. Kalau suatu hari dia menikah dengan pria lain, apakah pria itu benar-benar akan menyayangi Kael?"
Mike mulai goyah mendengar perkataan putranya.
Namun Jean tetap tidak terima.
"Bagaimanapun juga itu tidak bisa! Alyysa adalah mantan istri Darius, dan Kael akan tetap menjadi anak Darius selamanya!" katanya keras.
Lucien tersenyum dingin.
"Menjadi anak Darius?" ulangnya pelan." Apa dia mampu menjaga dirinya sendiri? Bagaimana dia bisa menjadi ayah yang baik kalau menjadi seorang suami saja dia gagal?"
"Lucien, kau tidak bisa melakukan ini! Kenapa harus Alyysa? Kenapa tidak memilih wanita lain saja?" teriak Jean.
Tatapan Lucien langsung berubah tajam.
"Kau sendiri gagal mendidik anakmu, jadi jangan merasa berhak mengatur hidupku," ucapnya dingin." Kalau Alyysa menjadi istriku, maka Kael juga akan menjadi anakku."
Jean mengepalkan tangan menahan marah.
Lucien kembali melanjutkan dengan suara rendah namun menusuk.
"Daripada Kael tumbuh dan memanggil pria lain sebagai ayahnya, lebih baik aku yang menjaganya. Setidaknya aku tidak akan membuat hidup mereka menderita seperti Darius."
"Alyysa walaupun sudah bercerai dengan Darius, dia tidak boleh menikah lagi! Kael hanya bisa menjadi anak Darius!" ujar Jean keras.
Tatapan Lucien langsung berubah dingin.
Brak!
Tiba-tiba pria itu melempar cangkir teh ke arah Jean.
"Ahhh!" Jean menjerit saat teh panas mengenai tangannya.
Cangkir keramik itu pecah di lantai dan membuat suasana menjadi tegang.
"Lucien, kau..." Jean menatapnya tidak percaya.
Mike juga terkejut karena ini pertama kalinya Lucien menunjukkan kemarahan sejelas itu di depan keluarganya.
Lucien berdiri perlahan. Tatapannya tajam dan penuh tekanan.
"Tidak masuk akal," ucapnya dingin." Putramu sendiri yang menghancurkan rumah tangganya, tetapi setelah mereka bercerai kau masih ingin mengatur hidup Alyysa?"
Jean mengepalkan tangannya.
"Pantas saja Darius tumbuh menjadi pria gagal karena memiliki ibu sepertimu!" kecam Lucien tanpa ampun.
"Lucien!" bentak Jean marah.
Namun Lucien sama sekali tidak peduli.
"Ini adalah pernikahanku. Tidak ada siapa pun yang bisa melarangnya," lanjutnya tegas." Dan Kael akan menjadi anakku."
Wajah Jean langsung berubah pucat.
"Jangan pernah berharap putramu bisa mendekati mereka lagi!" ujar Lucien dingin.
Aura pria itu begitu menekan hingga membuat Jean tidak mampu membalas.
Mike yang sejak tadi diam akhirnya menghela napas panjang.
"Sudah cukup," katanya berat." Jean, jangan ikut campur lagi dalam masalah mereka."
"Pa, tugas Alyysa hanya membesarkan Kael. Setelah anak itu dewasa, dia harus menyerahkan Kael pada keluarga kita. Dia tidak perlu menikah lagi!" ucap Jean keras.
Mike langsung mengernyit mendengar ucapan itu.
"Apakah itu pemikiran manusia normal?" tanya Lucien dingin." Kau hanya memikirkan diri sendiri dan ingin mengatur hidup orang lain."
Jean terdiam sesaat saat tatapan tajam Lucien mengarah padanya.
"Dengarkan baik-baik. Alyysa bukan pengasuh ataupun pembantumu. Dia memiliki kehidupannya sendiri," lanjut Lucien dengan nada penuh tekanan." Kalau kau tidak bisa menerima itu, silakan angkat kaki dari rumah ini."
"Lucien!" Jean menggertakkan giginya menahan marah.
"Lucien, Alyysa itu hanya wanita malas yang tidak mau bekerja. Apa sebenarnya kelebihan yang dia miliki?" ujar Jean sinis." Kalau dia memang wanita baik, mana mungkin Darius sampai mencintai wanita lain?"
Tatapan Lucien berubah semakin dingin.
"Wanitaku tidak membutuhkan penilaian darimu," ucapnya tajam." Dia bebas melakukan apa pun yang dia inginkan."
Jean menatapnya tidak percaya.
"Karena aku akan memanjakannya dan memberinya segalanya," lanjut Lucien tanpa ragu." Kebebasan yang dia inginkan, kehidupan yang tenang, dan rasa aman."
Suara Lucien terdengar rendah, tetapi penuh ketegasan.
"Aku akan memastikan Alyysa tidak hidup dalam tekanan dan air mata seperti saat bersama anakmu."
Wajah Jean langsung berubah jelek.
"Jadi jangan menghakimiku," ucap Lucien dingin." Dan jangan pernah lagi menyebut calon istriku sebagai wanita malas."
ayooooo