Salsa sangat mencintai Arkan, tapi Arkan tidak sama sekali. Dia sudah punya kakasih sebelum menikahi Salsa karena perjodohan.
Ditambah, Salsa adalah wanita yang sombong, jahat, serakah, manja, namun cintanya sangat besar pada Arlan. Selama satu tahun pernikahan, Arlan tidak pernah menyentuh Salsa sama sekali, hingga Salsa menggunakan cara licik agar bisa tidur dengan Arkan.
Arkan semakin murka, dia semakin membenci Salsa karena menjebaknya dan membuat hubungannya dengan kekasihnya semakin berantakan. Hingga Arkan mengusir Salsa dari rumah.
Beberapa tahun berlalu, Arkan bertemu kembali dengan Salsa di jalanan dalam keadaan GILA, namum Salsa bersama dengan seorang gadis kecil yang begitu mirip dengannya.
Ternyata dulu saat dia mengusir Salsa, Salsa sedang hamil. Timbullah penyesalan yang tiada tara dari Arkan dan dalam keadaan gila, Salsa selalu mengatakan....
"Apa salahku?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengais makanan
Arkan dan Gusti langsung berlari membelah lorong dengan napas memburu, mengikuti gema suara benturan keras yang berasal dari arah dapur bersih di lantai bawah.
Langkah kaki Arkan yang lebar mendadak terkunci di ambang pintu dapur. Namun, saat sampai di sana, bukan Salsa yang ia dapati. Pria itu justru disuguhi oleh sebuah pemandangan yang seketika menyayat hati nurani dan meremukkan sisa harga dirinya sebagai seorang ayah.
Di atas lantai marmer yang berkilau, sebuah tempat sampah berbahan stanles yang estetik telah terguling dalam posisi terbalik. Isinya, yang untungnya hanya berupa bungkusan-bungkusan makanan dan sisa potongan roti dari sarapan tadi pagi, sedikit berserakan.
Di sana, Ayu sedang berlutut. Jemari mungilnya yang kurus tengah mencoba mengambil sepotong roti tawar yang bagian pinggirnya sudah agak mengering dari dalam wadah plastik sampah tersebut.
Di sekelilingnya, dua orang pelayan baru yang tampak sangat muda sedang mencoba mencegah gerakan anak itu dengan wajah yang dipenuhi kebingungan dan kepanikan. Mereka tidak tahu harus berbuat apa pada anak kecil yang dibawa oleh majikan mereka.
"Jangan! Itu kotor Ayu!" Seru Arkan dengan suara yang sedikit meninggi. Nada suaranya bergetar hebat antara rasa panik, cemas, dan rasa perih yang teramat dalam melihat pemandangan tidak manusiawi itu terjadi di dalam rumah mewahnya sendiri.
Ayu tersentak kaget mendengar bentakan lembut itu. Dengan gerakan refleks yang luar biasa cepat, sebuah gerakan defensif yang biasa ia lakukan di jalanan saat berebut makanan dengan kucing atau gelandangan lain, ia langsung menyembunyikan potongan roti itu di balik punggung kecilnya.
Anak itu bangkit berdiri, memundurkan langkahnya hingga memojok ke sudut lemari dapur, lalu menatap Arkan dengan sepasang mata bulat yang berkilat penuh permusuhan dan rasa tidak percaya.
"Ini untuk Ibu! Di jalanan, kalau kami bisa mendapatkan potongan roti utuh seperti ini, itu sudah seperti pesta besar bagi kami! Om jangan pelit!" Sahut Ayu dengan nada sinis, matanya menatap Arkan seolah pria di depannya adalah sosok kikir yang ingin merebut satu-satunya sumber kehidupan mereka hari ini.
Jantung Arkan seolah dihantam oleh palu gada yang sangat besar. Kalimat polos namun sarkas dari bibir putri kandungnya itu menembus dadanya, menyisakan rasa ngilu yang luar biasa.
Bagaimana bisa seorang anak yang di dalam tubuhnya mengalir darah Ferdinan, menganggap sepotong roti tawar sisa di dalam tempat sampah sebagai sebuah hidangan pesta?
Arkan perlahan melangkah maju, lalu berjongkok di atas lantai marmer, mencoba menyamai tinggi tubuh anaknya agar Ayu tidak merasa terintimidasi. Air mata kembali merebak di sudut matanya, namun ia mencoba sekuat tenaga untuk menahannya agar suaranya tidak terdengar semakin menyedihkan.
"Nak... dengarkan Om. Di sini, di rumah ini, kamu tidak perlu lagi mengambil makanan dari tempat seperti itu. Kamu dan Ibu tidak akan kelaparan lagi" Ucap Arkan dengan suara yang melunak, mengulurkan tangannya perlahan tanpa berani menyentuh Ayu.
"Ada banyak makanan enak yang bersih di atas meja makan. Ada nasi, ada ayam, ada sup hangat, ada buah-buahan segar. Ayo, bawa potongan roti kotor itu ke sini, kita buang. Lalu kita ajak Ibu untuk makan bersama di meja depan ya?"
Ayu tidak bergeming. Ia justru mencengkeram potongan roti di balik punggungnya semakin erat. Ia menatap hamparan lantai dapur yang berkilau bersih, lalu kembali menatap wajah Arkan dengan nada datar yang teramat dingin, sebuah nada suara yang menusuk tepat ke pusat penyesalan Arkan.
"Ibu tidak mau keluar dari kamar. Ibu bilang, lantai di rumah ini terlalu bersih, terlalu berkilau. Ibu takut, kalau lantai ini sampai kena telapak kakinya yang kotor, Om akan sangat marah. Ibu bilang, Om pasti akan menjambak rambutnya dan mengusir kami berdua keluar ke jalanan, di bawah hujan" Sahut Ayu datar tanpa ekspresi.
Ugh....
Arkan merasakan tenggorokannya seketika tercekat bagai kehilangan pasokan oksigen. Dadanya terasa sangat sesak hingga ia harus mencengkeram kemejanya sendiri.
Kenyataan bahwa Salsa, bahkan di dalam kondisi jiwanya yang sudah hancur total dan dipenuhi delusi, tetap mengingat dengan sangat akurat dan tajam bagaimana kejamnya perlakuan Arkan saat mendorong dan membuangnya ke bawah hujan lebat subuh itu, menjadi sebuah tamparan yang teramat mengadili batinnya. Trauma itu telah menjelma menjadi hukum tetap di dalam ingatan Salsa.
"Bi Sumi, Bi Inah, tolong bawa makanan hangat itu langsung ke dalam kamar" Perintah Arkan dengan suara yang serak dan bergetar, menoleh ke arah para pelayannya tanpa sanggup bangkit dari posisi berlututnya.
"Baik, Tuan" Sahut mereka serentak dengan wajah penuh keprihatinan.
Arkan kemudian bangkit dengan tubuh yang terasa sangat lemas. Ia melangkah pelan, mengekor dari jarak aman di belakang Ayu yang berjalan kembali menuju kamar tamu di lantai atas.
Di dalam kamar, pemandangan memilukan kembali tersaji. Salsa menolak dengan keras untuk duduk atau sekadar menyentuh permukaan ranjang empuk bersprei mahal yang sudah disiapkan.
Wanita itu memilih untuk duduk meringkuk di pojok lantai, di atas sudut tikar kecil yang sengaja digelar pelayan, dengan kedua lutut yang ditarik rapat ke dada, sementara kedua tangannya tetap setia mendekap boneka plastik kumalnya.
Beberapa saat kemudian, Bi Inah masuk membawa nampan berisi semangkuk sup ayam hangat, nasi putih, dan beberapa lauk empuk.
Ayu dengan sangat telaten mengambil alih mangkuk tersebut. Bocah kecil itu duduk bersimpuh di depan ibunya, meniup sendok berisi kuah sup hangat dengan sabar, lalu menyodorkannya ke depan bibir pucat Salsa.
"Ibu, ayo makan sedikit. Ini supnya hangat, enak sekali. Tidak asam seperti makanan yang kita temukan di pasar kemarin" Bujuk Ayu dengan suara yang teramat lembut, bertransformasi total menjadi sosok ibu bagi ibunya sendiri.
Namun, Salsa tetap bergeming. Wanita itu memalingkan wajahnya ke dinding, merapatkan bibirnya rapat-rapat, enggan untuk membuka mulutnya sedikit pun. Matanya yang sayu menatap kosong ke arah sudut ruangan.
Melihat penolakan itu, Arkan tidak bisa lagi hanya berdiam diri di ambang pintu. Dengan langkah kaki yang teramat pelan dan hati-hati, seolah takut menginjak ranjau yang bisa meledakkan histeria Salsa, Arkan mendekat. Ia ikut berjongkok di lantai, berjarak sekitar satu meter di hadapan Salsa.
"Salsa, ini aku, Arkan. Tolong, makanlah sedikit, ya? Sup ini sengaja dibuat untukmu. Kamu harus mengisi perutmu agar tidak sakit Salsa" Bujuk Arkan dengan nada suara yang teramat lembut, dipenuhi dengan getaran permohonan yang mendalam.
Mendengar suara itu, Salsa perlahan menolehkan kepalanya. Sepasang matanya yang sayu dan cekung menatap wajah Arkan selama beberapa detik.
Namun, alih-alih menerima suapan, pupil mata Salsa mendadak melebar memancarkan gelombang ketakutan yang sangat hebat. Tubuhnya seketika bergetar, merapatkan punggungnya ke dinding beton di belakangnya sembari meracau panik.
"Jangan... jangan dekat-dekat denganku, Mas... Tolong jangan dekat-dekat" Ratap Salsa dengan suara parau yang tersendat di tenggorokan, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya yang kusam.
"Aku... aku bau jalanan. Aku kotor, penuh daki. Nanti... nanti jas mahalmu yang seharga puluhan juta itu bisa ketularan kotor dan bau sampah karena menyentuh kulitku. Aku tahu diri Mas... aku ini wanita murahan, kan? Mas Arkan sendiri yang selalu bilang begitu. Wanita murahan yang menjijikkan tidak boleh duduk dekat-dekat dan tidak boleh makan bersama dengan pria terhormat sepertimu!"
Brak!!!
Arkan memukul dinding tembok di samping tubuhnya dengan kepalan tangan kanannya yang luar biasa keras. Suara hantaman itu berdentum keras di dalam kamar, mengalirkan rasa sakit fisik di buku jarinya yang memerah, namun rasa sakit itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa frustrasi dan hancurnya batin Arkan saat ini.
Ia merasa sangat mengutuk dirinya sendiri. Setiap kata hinaan, setiap makian kotor, dan setiap jengkal kesombongan yang pernah ia lontarkan dengan penuh keangkuhan kepada Salsa enam tahun lalu, kini telah berbalik arah menjelma menjadi jeruji besi tak kasat mata yang mengurung ketat pikiran dan kewarasan Salsa, menutup jalan bagi wanita itu untuk menerima uluran tangannya.
Ayu dan Salsa sama-sama tersentak hebat, terkejut mendengar suara dentuman keras akibat pukulan tangan Arkan ke dinding. Sedetik kemudian, melihat bagaimana tubuh Salsa semakin bergetar hebat dan mulai menjerit tanpa suara karena syok, Arkan langsung tersadar dari aksi impulsifnya. Ia menyadari bahwa luapan rasa frustrasinya justru kembali mengejutkan dan menakuti anak serta wanita yang ingin ia lindungi.
"Maaf, maafkan aku, Salsa. Aku tidak bermaksud untuk menakutimu. Demi Tuhan, aku tidak bermaksud kasar" Ratap Arkan dengan suara yang pecah, memegangi tangannya yang gemetar di udara.
Namun, nasi telah menjadi bubur. Ketakutan Salsa sudah mencapai puncaknya. Dengan gerakan panik, Salsa langsung menarik tubuh Ayu mendekat ke dalam dekapannya, merangkul erat kepala dan punggung anak perempuan itu, menyembunyikannya bersama dengan boneka plastik kumalnya di bawah lindungan dadanya sendiri.
"Jangan dekat-dekat dengan dia, Ayu! Jangan dengarkan dia!" Racau Salsa dengan histeris, air matanya mengalir deras membasahi dahi Ayu.
"Dia jahat, pria ini sangat jahat! Dia tidak pernah menyukaiku, dia tidak menyukai kehadiran kita di dunia ini! Dia jahat Ayu, dia akan memukul kita dan membuang kita lagi ke hujan, dia jahat!"
Arkan yang awalnya berada dalam posisi berjongkok di depan mereka, seolah kehilangan seluruh sisa kekuatan di dalam tulang-tulangnya. Mendengar kalimat penolakan mutlak dan sebutan orang jahat yang keluar dari mulut wanita yang dulu sangat memujanya, Arkan langsung menjatuhkan dirinya terduduk ke belakang, di atas lantai marmer yang dingin.
Pria terpandang itu menekuk kedua lututnya tinggi-tight, menumpukan kedua sikunya di atas sana, lalu menyembunyikan seluruh wajahnya di antara kedua lengannya yang kekar.
Di sana, di atas lantai kamar tamu yang sunyi, Arkan menangis sesenggukan dengan bahu yang terguncang hebat, meraung tanpa suara di hadapan Salsa dan Ayu yang terus memperlihatkan tatapan waspada dan penuh permusuhan.
Setiap kata, setiap rintihan, dan setiap sorot mata penuh ketakutan yang dilayangkan oleh anak dan istrinya terasa begitu nyata menusuk-nusuk ke dalam pusat dadanya, mengalirkan rasa sakit batin yang teramat menyiksa hingga membuatnya tidak mampu lagi menahan tangis penyesalannya. Istana megah ini, malam ini, telah resmi berubah menjadi ruang sidang pengadilan paling kejam bagi seluruh dosa masa lalu seorang Arkan Ferdinan.
wajar ayu sangat membencimu arkan, karena kamu penyebab ibunya sangat menderita sampai gangguan jiwa dan depresi, salsa dan ayu sangat menderita hidupnya...
Arkan sabar meluluhkan hatinya ayu, gercap arkan cari dokter yg terbaik menyembuhkan salsa, dan dibantu suster weni merawat dan menjaga salsa...
Kamu jangan samapai kelihatan lemah arkan didepan salsa dan ayu berusaha kuat, tunjukan ketulusanmu dan niat baik pasti salsa dan ayu akan luluh hatinya dan menerimamu kembali....
semua butuh proses arkan pelan-pelan dekat salsa dan ayu, ditolak terus
jangan sampai menyerah pasti salsa dan ayu memaafkanmu lama-lama arkan....
salsa sangat tulus mencintaimu arkan, mungkin caranya salah ingin memilikimu sampai menjebakmu pake obat perangsang sampai tidur bareng...
kamu sangat kasar tega sekali mengusir salsa, semua penderitaan salsa dimulai...
kamu lebih percaya wanita rubah itu arkan, penuh tipu daya nabila sok polos dan lugu....
yg jelas setiap part bikikn aq trenyuh dan mewek...
harus kuat...
sudah jadi resiko..
Semoga Arkan menjadi Gila
dan semua harta nya buat Ayu
itu rasa nya baru setimpal 🔥😡
anak usia 5 thn sekritis iniiiii
Dunia memaksa tumbuh dewasa sebelum waktunya