Karang Wilis bukan sekadar desa terpencil. Di balik hamparan sawahnya yang hijau, ada ketegangan yang sudah mengakar bertahun-tahun — perebutan wilayah yang belum selesai, warga yang hidup dalam waspada, dan batas bambu yang tidak boleh didekati.
Dokter Nayla datang untuk menyembuhkan.
Letnan Raditya datang untuk melindungi.
Tapi di tempat seperti ini — siapa yang menyembuhkan si penyembuh? Dan siapa yang melindungi si pelindung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irsan Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pagi setelah badai / healing chapter
Bab 30
Nayla tidak ingat jam berapa ia tertidur.
Yang ia tahu saat ini, ketika matanya membuka, langit di luar tenda sudah putih kebiruan — warna yang hanya ada di antara gelap dan terang. Ia lalu meraih ponselnya yang tergeletak di sampingnya, menghidupkannya untuk melihat jam, tetapi pandangannya kabur karena mata yang masih meminta untuk terpejam lagi. Nayla mengucek-ngucek matanya,
"05.43," ucapnya, tidak kepada siapa-siapa.
lalu ia duduk, melirik ke sebelah keranjang Sari, tetapi yang terlihat di sana hanyalah selimut yang terlipat rapi.
lalu ia mengusap wajah pelan, menggaruk rambutnya. Namun sesaat kemudian bayangan itu kejadian semalam melintas begitu saja di kepalanya. Nayla menggigit kuku telunjuknya, matanya melirik arah pintu tenda medis.
_(Semalam terasa seperti mimpi panjang baginya yang belum sepenuhnya ia percayai — Raditya yang muncul dari ujung jalan, perban yang basah, dan ucapan "Saya takut, Pak, entah kenapa" yang keluar dari mulutnya sendiri sebelum sempat ia tahan.)_
Beberapa saat kemudian suara itu terdengar.
"Dokter!" suara Sari dari luar tenda medis.
Nayla beranjak dari ranjang lapangannya, ia lalu melangkah berjalan ke arah pintu, membuka resleting tenda. di sana Sari berdiri di luar dengan senyum yang terlalu lebar untuk pukul setengah enam pagi. Di tangannya, dua pasang sandal jepit.
Nayla mengernyit sesaat.
"Itu sandal untuk apa, Sar?" tanyanya, kebingungan.
Sari melirik sandal di tangannya, lalu melirik Nayla sambil tersenyum.
"Saya mau ajak dokter jalan-jalan hari ini."
Nayla mengernyit. "Jalan-jalan ke mana? Ini masih subuh, Sari."
"Ini bukan subuh lagi, dokterku. Ini sudah pagi." Sari mengulurkan sandal jepit merah. "Lagi pula saya dengar semalam Letnan Raditya kirim kabar — negosiasi berhasil. Pihak Margalaya setuju mundur dari batas. Untuk sementara."
Nayla diam sebentar.
"Jadi?" lanjut Sari, matanya berbinar. "Kita keluar sebentar. Bukan patroli. Bukan keliling warga. Hanya... jalan."
Nayla menatap Sari, melihat binar di matanya, lalu tersenyum.
"Lima menit," ucapnya akhirnya.
Sari tersenyum, lalu mengangguk. Terlihat Nayla hanya menggeleng dan berbalik masuk.
Mereka keluar dari pos ketika kabut pagi masih menggantung tipis di atas atap-atap rumah.
Jalan desa sepagi ini berbeda. Tidak ada hiruk pikuk. Tidak ada suara radio dari warung yang belum buka. Hanya langkah mereka sendiri di atas tanah yang masih lembap, dan di kejauhan, suara ayam yang berkokok satu per satu seperti sedang saling membangunkan.
"Kita mau ke mana?" tanya Nayla.
"Kita ke sawah dulu, Dok."
"Lah, terus kenapa kita ke rumah Emak?"
"Kata Iva kemarin, hari ini jalan setapak di belakang rumah Emak — banyak burung, dan lewat jalan itu jalannya lebih adem, Dok, karena banyak pohon-pohon dan tanaman rimbun."
"Oh, gitu," balas Nayla.
"He-em," ucap Sari.
Mereka mampir ke rumah Emak terlebih dahulu.
Terlihat pintu rumah itu sudah terbuka, aroma masakan dan asap menyambut — Emak memang selalu bangun sebelum fajar. Perempuan tua itu terlihat sedang berdiri di teras dengan sapu lidi di tangan, menyapu halaman yang daunnya berjatuhan semalam.
Ia menoleh saat mendengar langkah.
"Eh — Sari, Dokter," matanya hangat. "Pagi-pagi sekali mau ke mana?" tanya Emak.
"Mau jalan-jalan, Bik, sekalian mau kenalin suasana desa ke dokter kita ini," Sari menjawab sambil melirik ke arah Nayla.
"Oh, bagus kalau begitu. Tetapi, tetap kalian harus hati-hati."
"Iya, Bik. Oh ya, Bik, Vina sama Aldi ke mana? Kok nggak kelihatan?" tanya Sari.
"Vina ke sawah, nemenin Bapaknya. Kalau Aldi nggak tahu, tuh, tadi Bibik suruh nyapu, pas Bibik keluar udah ngilang aja dia."
"Kalian sudah sarapan?" tanya Emak.
"Hehe, belum, Bik," jawab Sari, cengengesan.
Emak tersenyum lalu, "Ayo naik dulu ke rumah," ajaknya.
"Nggak usah, Buk. Kami mau ke sawah —" Nayla angkat bicara, mencoba menjelaskan.
"Sawah bisa nanti. Sarapan dulu."
Terlihat Nayla tersenyum. Sesaat bayangan ibunya melintas di kepalanya karena melihat Emak.
Saat ini mereka sedang sarapan.
Lalu Tok tok.
Terdengar pintu depan diketuk.
Iva membuka langsung dari luar sebelum ada yang menjawab.
Anak itu masuk dengan semangat yang tidak peduli pada jam — rambut dikepang dua, baju bunga merah yang sudah sedikit kusut, dan di tangannya sebuah bambu kecil yang entah untuk apa.
"DOKTER!"
"Iva—" Emak mendesis. "Jangan teriak di dalam rumah."
"Eh, maap, Buk, De," Iva menurunkan volume sedikit sambil cengengesan. "Dokter mau ke sawah ya?" tanyanya.
"Iya," jawab Sari sebelum Nayla sempat.
Iva langsung berbalik ke pintu. "Ayo, Dok! Sekarang aja, mumpung belum siang. Nanti kalau sudah siang burungnya nggak ada lagi," ajak Iva antusias.
Nayla dengan Sari terlihat saling menatap.
Emak terlihat hanya menggelengkan kepalanya.
Jalan setapak ke sawah sempit — hanya cukup untuk satu orang, dengan rumput liar di kiri kanan yang menyentuh kaki kalau tidak hati-hati. Pohon-pohon rimbun.
Iva di depan, melompat-lompat ringan seperti tidak kenal tanah berlumpur. Sari di belakangnya, sesekali menahan diri agar tidak tergelincir. Nayla di paling belakang, Emak di sampingnya dengan langkah pelan tapi pasti — langkah orang yang sudah ribuan kali melewati jalan yang sama.
"Dokter pernah lihat sawah?" tanya Emak pelan.
"Pernah, Mak," jawab Nayla sambil tersenyum. "Tapi tidak sepagi ini."
Emak mengangguk. Mereka berjalan beriringan sambil ngobrol dan Iva di depan yang terlihat tidak henti-hentinya memukul rumput liar di kiri kanan dengan bambu yang ia bawa.
Beberapa saat kemudian — sawah itu terbuka di depan mereka.
Nayla berhenti.
Hamparan hijau yang luas — padi yang sudah setinggi lutut, bergoyang pelan tertiup angin pagi yang masih dingin. Kabut tipis masih menggantung di atasnya. Di ujung sawah, sebuah sungai kecil mengalir pelan — suaranya terdengar dari sini. Di kejauhan sebuah bukit berdiri kokoh.
Dan di atas sawah-sawah itu burung-burung.
Puluhan. Berterbangan rendah di atas padi, hinggap sebentar di pematang, lalu terbang lagi. Warnanya putih dan abu-abu, kontras dengan hijau di bawahnya.
"Itu kuntul," ucap Emak pelan di sampingnya. "Mereka selalu datang pagi. Kalau sudah siang, pergi."
Nayla menatap semuanya — sawah, kabut, bukit, sungai, burung.
"Indah sekali, Buk. Saya sudah lupa dengan suasana ini sejak saya berumur 15 tahun," ucapnya akhirnya, pelan.
Emak mengangguk. "Desa kami memang tidak semaju desa lain, Dok. Listrik belum merata, sinyal sering ada sering hilang, jalur transportasi belum merata. Tapi kami punya ini semua." Lalu setelah megatakan itu terlihat sesaat kemudian wajah Emak tiba-tiba berubah murung. "Tetapi setelah konflik itu," terlihat Emak menghembuskan napasnya, "ini semua tidak bisa dinikmati, Setiap warga yang hendak ke sawah, mereka selalu dihantui perasaan takut."
Nayla menatap wajah Emak dari samping. Terlihat di sana jelas kesedihan mendalam yang tersimpan, sama seperti ibu-ibu lain yang ia temui saat dia keliling. Sari juga, yang terlihat tidak jauh darinya, tiba-tiba berubah murung.
Lalu Nayla menghela napas dan menghembuskan.
Ia meraih tangan Emak.
"Ibuk, tenang aja. Masalah in pasti akan selesai. Saya yakin itu," ucap Nayla lembut tapi tegas.
"Terima kasih, dokter," balas Emak sambil tersenyum.
Mereka berdiri di sana menikmati hamparan hijaunya sawah, dan dingin angin pagi.
beberapa saat kemudian mereka berjalan ke arah pondok di kejauhan yang suda terlihat suda ada Vina dan pak darmo.