NovelToon NovelToon
SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

SEBELUM SENJA PAMIT DI AKAR TUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa pedesaan / Healing
Popularitas:449
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

"Kalau kau memang ingin mati, setidaknya selesaikan dulu 7 permintaanku. Setelah itu, aku tidak akan melarangmu gantung diri di pohon ini."
Kehilangan karier, dikhianati sahabat, dan ditinggal tunangan, Gani pulang ke desa masa kecilnya hanya dengan satu tujuan: mati dengan tenang di bawah pohon beringin tua.
Namun, rencananya berantakan saat Kirana—gadis desa yang cerewet, keras kepala, namun memiliki senyum paling tulus—menemukannya di hutan dan memberinya satu kesepakatan gila. Gani terpaksa menyetujui "7 Permintaan" gadis itu sebelum ia diizinkan mati.
Mulai dari mencuri mangga Kepala Desa hingga menari di bawah hujan badai, setiap permintaan justru perlahan mengembalikan warna di hidup Gani yang kelabu.
Namun, saat cinta mulai menunda niat kematiannya, Gani menyadari satu kebenaran yang kejam: Kirana memiliki alasan yang jauh lebih tragis darinya untuk tidak bisa hidup lebih lama lagi.
Kini, mampukah tangan yang pernah hancur itu menyelamatkan satu-

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Tujuh Permintaan Sang Tiran Kecil

​Sentuhan itu hanya berlangsung kurang dari tiga detik.

​Gani segera menarik tangannya seolah baru saja menyentuh bara api. Namun anehnya, permukaan kulit telapak tangan gadis itu sama sekali tidak hangat. Terasa dingin, rapuh, dan sedikit lembap, seakan aliran darah di bawah kulitnya tidak berdesir sekuat manusia pada umumnya.

​Gani mundur selangkah, napasnya masih memburu. Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan perasaan campur aduk—jijik pada kelemahannya sendiri, sekaligus bingung dengan absurditas situasi yang tengah memenjarakannya. Ia baru saja menyepakati sebuah kontrak dengan orang asing di tengah hutan yang gelap. Sebuah kontrak di mana taruhannya adalah nyawanya sendiri.

​Kirana, di sisi lain, tampak sama sekali tidak terganggu oleh kecanggungan yang menggantung tebal di udara. Gadis itu menunduk, memungut tali nilon bersimpul tujuh putaran yang tergeletak pasrah di atas tumpukan daun kering. Dengan gerakan santai yang nyaris terlihat seperti sedang melipat pita kado, Kirana menggulung tali kematian itu, memutar sisa panjangnya agar rapi, lalu membuangnya ke dalam keranjang anyaman bambu miliknya, menindih bunga-bunga telang dan jamur kuping yang tadi ia petik.

​"Hei!" Gani berseru refleks, suaranya parau. Ia maju selangkah, berniat merebut kembali barang miliknya. "Apa yang kau lakukan? Kembalikan itu padaku."

​Kirana memeluk keranjangnya erat-erat, memundurkan tubuhnya menghindari jangkauan Gani. Mata sabitnya menyipit tajam. "Ini adalah barang bukti, Tuan Kota. Jaminan kontrak kita. Sampai kau menyelesaikan tujuh permintaanku, alat eksekusi ini akan aku sita."

​"Itu barangku! Aku membelinya dengan uangku yang tersisa!" Gani membentak, urat di lehernya mulai bermunculan. Insting korporatnya, insting untuk memegang kendali atas asetnya, meronta keluar.

​"Kau kan mau mati, untuk apa memikirkan hak milik?" balas Kirana telak, nada suaranya polos namun argumennya menusuk tepat di ulu hati Gani. "Orang mati tidak butuh tali, mereka butuh doa. Lagipula, kalau kutinggalkan ini bersamamu, kau bisa saja mengingkari janji dan mencari pohon lain besok pagi saat aku tidak melihat. Aku tidak bodoh."

​Gani menggeram pelan, mengusap wajahnya yang kasar dan belum dicukur dengan kedua tangan. Frustrasi mulai menggantikan rasa takutnya. Ia adalah Gani Raditya. Pria yang biasa mengatur ratusan pekerja konstruksi, mempresentasikan desain kompleks di hadapan dewan direksi yang sinis, dan memenangkan tender bernilai triliunan rupiah. Ia terbiasa memegang kendali penuh atas setiap milimeter kehidupannya.

​Dan sekarang? Ia sedang berdebat dengan seorang gadis bergaun motif bunga yang menahan 'hak bunuh dirinya' dengan ancaman rumah sakit jiwa.

​"Kau gila," desis Gani, memalingkan wajah, menatap ke arah batang pohon Akar Tua yang kini benar-benar tertelan bayang-bayang malam. "Aku pasti sudah gila karena meladenimu."

​"Kita semua punya sedikit kegilaan di kepala kita. Bedanya, kegilaanku menyelamatkan nyawa, sementara kegilaanmu menghancurkannya," timpal Kirana ringan. Gadis itu berbalik, melangkah melewati akar-akar papan raksasa dengan sangat lincah meskipun hari mulai gelap. "Ayo. Hutan ini bukan tempat yang bagus kalau matahari sudah benar-benar tenggelam. Banyak ular berbisa yang suka mencari kehangatan di atas tumpukan daun kering."

​Mendengar kata 'ular berbisa', bulu kuduk Gani refleks meremang. Niatnya memang ingin mati, tetapi mati dipatuk ular secara perlahan di tengah hutan yang dingin jelas tidak masuk dalam rencananya. Kematian seperti itu terlalu menyedihkan dan tidak memiliki nilai estetika sama sekali.

​Dengan enggan, Gani memungut jaket parka abu-abunya yang tadi ia buang. Ia memakainya kembali, meresletingnya hingga ke dagu, seolah jaket itu adalah zirah yang melindunginya dari tatapan dunia luar. Ia berjalan mengekor di belakang Kirana, menjaga jarak sekitar dua meter.

​Selama perjalanan keluar dari hutan, tidak ada yang bersuara. Hanya terdengar gemeresik langkah kaki mereka. Gani memperhatikan punggung kecil di depannya. Cara berjalan Kirana agak aneh; ritmenya tidak konstan. Kadang ia melangkah cepat, namun beberapa detik kemudian ia melambat secara drastis, seolah kehabisan napas, sebelum kembali memaksakan diri berjalan normal. Namun, karena suasana hatinya yang masih kalut, Gani mengabaikan detail tersebut.

​Mereka tiba di batas pekarangan belakang rumah tua Gani tepat saat azan Magrib berkumandang sayup-sayup dari pengeras suara surau desa. Suara azan itu terbawa angin melintasi petak-petak sawah, menghadirkan nuansa magis sekaligus melankolis yang membuat tenggorokan Gani terasa tercekat. Sudah berapa lama ia tidak mendengar suara azan yang begitu jernih, tanpa tertutup bisingnya klakson kendaraan ibukota?

​Kirana menghentikan langkahnya di dekat sumur tua yang dinding batanya sudah dipenuhi lumut tebal. Ia berbalik, menghadap Gani dengan senyum yang belum pudar sejak mereka pertama kali bertemu.

​"Nah, kita sudah sampai di peradaban," kata Kirana, matanya menyapu kondisi bagian belakang rumah Gani yang menyerupai rumah hantu. Rumput liar setinggi paha, genteng yang pecah berserakan, dan tampias air hujan yang meninggalkan noda hitam di dinding kayu. "Rumah keluargamu benar-benar butuh sentuhan keajaiban. Aku bahkan tidak yakin apakah tikus desa mau tinggal di sana."

​"Jangan mengomentari rumahku. Itu bukan urusanmu," potong Gani dingin, nada suaranya ketus. Ia melipat kedua tangan di dada, membangun tembok pertahanan. "Sekarang, karena kita sudah di luar hutan, mari kita bicarakan kesepakatan konyol ini secara rasional. Aku benci ketidakpastian."

​Kirana menaikkan sebelah alisnya. "Rasional? Kau mau bunuh diri karena putus asa, lalu menyebut dirimu rasional?"

​Gani mengabaikan sindiran itu. Otak kirinya mulai bekerja, mencoba merasionalisasi situasi yang tak masuk akal ini ke dalam format yang ia pahami: Format Bisnis.

​"Kau bilang 7 permintaan," Gani mulai merinci, suaranya kembali menemukan ketegasan yang biasa ia gunakan di ruang rapat. "Apa saja itu? Apa scope of work yang kau harapkan dariku? Berapa lama tenggat waktunya? Dan yang paling penting, apa motifmu? Apa yang sebenarnya kau inginkan dari seorang pria bangkrut sepertiku? Kau ingin aku menjadi buruh kasarmu? Atau kau mau memeras uang? Asal kau tahu saja, saldoku saat ini tidak cukup bahkan untuk membeli seekor ayam pelung."

​Mendengar rentetan pertanyaan formal itu, tawa Kirana meledak. Tawanya begitu lepas, renyah, dan mengalun indah di udara senja, sangat tidak sepadan dengan wajah Gani yang kaku dan serius. Gadis itu tertawa hingga harus memegangi perutnya, sementara tangan yang lain memegang keranjang.

​"Ya Tuhan, Tuan Kota," sela Kirana di sela-sela tawanya, menyeka sedikit air mata di sudut matanya. "Kau ini sedang melamar pekerjaan atau sedang menyepakati penundaan kematian? Scope of work? Tenggat waktu? Bahasamu kaku sekali. Pantas saja kau stres."

​Wajah Gani memerah. Harga dirinya sebagai seorang profesional elit tercoreng oleh tawa gadis kampung di hadapannya. "Jawab saja pertanyaanku, jangan tertawa!"

​Kirana menarik napas panjang, menenangkan dirinya. Senyumnya berubah menjadi seringai kecil yang menantang. Ia melangkah maju satu langkah, mendongak menatap mata Gani.

​"Baiklah, kalau kau mau bermain aturan, kita buat aturannya," ucap Kirana, nadanya kini lebih serius, meski kilat jenaka masih menari di matanya. "Aturan pertama: Ketujuh permintaan itu murni adalah wewenangku. Aku yang menentukan apa, kapan, dan bagaimana kau melakukannya. Kau tidak punya hak veto. Tugasmu hanya satu: mengeksekusinya."

​"Itu kediktatoran," protes Gani. "Bagaimana kalau kau menyuruhku membunuh orang? Atau merampok bank?"

​"Tenang saja, aku tidak tertarik pada hal-hal kriminal. Aku gadis baik-baik, Tuan Kota. Lagipula, desa ini terlalu damai untuk dikotori hal semacam itu," jawab Kirana santai. "Aturan kedua: Selama kau belum menyelesaikan ketujuh permintaan itu, nyawamu adalah milikku. Kau dilarang keras mencoba bunuh diri, baik itu menggantung diri, melompat ke sumur tua di belakangmu itu, menenggak racun tikus, atau mogok makan."

​Gani melirik sumur tua di belakangnya dengan perasaan tidak nyaman. Gadis ini seolah bisa membaca setiap alternatif gelap di kepalanya.

​"Lalu, bagaimana dengan jangka waktunya?" tanya Gani lagi. "Aku tidak punya waktu bertahun-tahun untuk melayanimu. Aku harus... segera pergi."

​Sorot mata Kirana mendadak meredup untuk sepersekian detik. Sesuatu yang menyerupai awan mendung melintasi wajahnya yang cerah, tetapi hilang begitu cepat sebelum Gani sempat menganalisisnya.

​"Jangan khawatir soal waktu," sahut Kirana pelan, suaranya sedikit bergetar. "Tidak akan memakan waktu bertahun-tahun. Percayalah, aku mungkin tidak punya waktu selama itu juga."

​Gani mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"

​"Tidak ada," potong Kirana cepat, kembali memasang topeng keceriaannya. "Intinya, kau tidak boleh lari dari desa ini. Kau harus tinggal di rumah ini sampai urusan kita selesai. Anggap saja ini... liburan berbayar."

​"Berbayar? Kau membayarku dengan apa?" cibir Gani.

​"Dengan membiarkanmu mati sesuai keinginanmu pada akhirnya. Bukankah itu kompensasi tertinggi yang kau harapkan saat ini?" Kirana membalas dengan kejam namun sangat logis.

​Gani terdiam. Lidahnya kelu. Argumen gadis itu tidak memiliki celah. Gani telah memberikan semua posisi tawarnya saat ia menyetujui kesepakatan di bawah pohon tadi. Ia kini sepenuhnya berada di bawah belas kasihan sang tiran kecil bergaun kuning ini.

​"Kau sangat menyebalkan," gerutu Gani akhirnya, sebuah pengakuan kekalahan yang keluar dari sela giginya.

​Kirana tersenyum puas, matanya berbinar kemenangan. Ia memutar tubuhnya, bersiap untuk pergi. "Anggap itu sebagai pujian. Oh, satu hal lagi," ia menoleh dari balik bahunya. "Karena kau adalah pekerjaku sekarang, sebaiknya kita tidak menggunakan nama samaran. Aku sudah tahu kau adalah Mas Gani, anak almarhum Pak Haris. Semua orang di desa sudah membicarakan kepulanganmu siang ini."

​Gani menghela napas kasar. Tentu saja. Di desa kecil ini, privasi adalah mitos.

​"Namaku Kirana. Rumahku di dekat pertigaan jalan utama, yang halamannya penuh dengan pot bunga mawar. Aku tahu kau tidak peduli, tapi sebaiknya kau ingat." Kirana mengedipkan sebelah matanya. "Istirahatlah yang cukup malam ini, Gani. Bersihkan sedikit rumahmu itu. Besok pagi, aku akan datang menagih permintaan pertamaku. Jangan mencoba kabur, atau kau tahu apa akibatnya."

​Tanpa menunggu balasan dari Gani, Kirana melangkah pergi. Ia berjalan menyusuri jalan setapak di samping rumah Gani menuju jalan desa, bersenandung kecil seolah ia baru saja pulang dari piknik sore yang menyenangkan, bukannya baru saja menggagalkan upaya bunuh diri seseorang.

​Gani berdiri mematung di dekat sumur, memandangi siluet Kirana yang perlahan menghilang ditelan kegelapan malam. Ia menyisir rambutnya yang berantakan dengan jari-jari tangannya yang masih gemetar.

​Otaknya terasa penuh. Terlalu banyak kejadian dalam rentang waktu dua jam terakhir. Dari niat mengakhiri hidup yang sudah bulat, kini ia terjebak menjadi pelayan bagi gadis aneh yang menyita talinya.

​Gani berbalik, menatap bagian belakang rumahnya. Pintu belakang yang terbuat dari kayu jati tampak miring dan engselnya sudah nyaris lepas. Hawa dingin dari lantai semen yang lembap mulai merayap naik melalui sol sepatunya.

​Dengan gontai, ia melangkah masuk melalui pintu belakang itu. Dapur rumahnya berantakan. Tungku kayu bakar di sudut ruangan dipenuhi sarang laba-laba tebal. Pecahan genteng menutupi lantai. Tidak ada listrik, karena Raka—si bajingan itu—telah berhenti membayar tagihan listrik rumah ini sejak enam bulan lalu dari rekening perusahaan yang Gani amanatkan.

​Rumah ini gelap gulita. Segelap masa depannya.

​Gani merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel pintarnya yang retak di bagian sudut layar. Baterainya tinggal sebelas persen. Tidak ada sinyal internet, hanya sinyal telepon darurat. Ia menyalakan fitur senter pada ponselnya, menggunakan seberkas cahaya putih itu untuk menavigasi dirinya menuju kamar utama di bagian depan, tempat ia meletakkan tas ranselnya siang tadi.

​Setibanya di kamar, ia menjatuhkan dirinya ke atas ranjang kayu yang tidak berkasur. Tulang punggungnya langsung memprotes keras saat menghantam papan kayu yang keras, tetapi Gani tidak peduli. Ia menatap langit-langit kamar yang penuh dengan noda air hujan.

​Hening.

​Sangat hening.

​Tidak ada suara deru mesin mobil dari jalan tol. Tidak ada suara dentuman musik dari kelab malam di lantai bawah apartemennya. Tidak ada suara dering notifikasi dari klien yang menuntut revisi desain jam tiga pagi.

​Hanya ada suara gesekan daun bambu dari luar jendela, dan detak jantungnya sendiri. Detak jantung yang, sialnya, masih beresonansi di rongga dadanya.

​Gani mengangkat tangan kirinya, menyorotkan cahaya senter ke arah pergelangan tangannya. Bekas sayatan cutter di sana tampak mengerikan, namun sudah mulai mengering. Luka itu adalah simbol kegagalannya yang pertama. Dan hari ini, di bawah pohon beringin itu, ia mencatatkan kegagalannya yang kedua.

​Mati ternyata tidak semudah yang ia bayangkan. Ternyata, alam semesta—melalui perantara seorang gadis cerewet bernama Kirana—masih belum mengizinkannya untuk logout dari kehidupan ini.

​Di tengah keheningan itu, tiba-tiba terdengar suara keroncongan yang cukup keras.

​Gani menunduk, menatap perutnya sendiri. Lambungnya memutar, memprotes keras karena kekosongan yang telah berlangsung berhari-hari. Asam lambungnya naik, menciptakan sensasi perih yang menyengat.

​Gani tertawa pelan. Tawanya hambar, kering, dan penuh dengan ironi.

​"Kau ingin mati, otakku," bisik Gani pada dirinya sendiri di tengah kegelapan, "tapi tubuh brengsek ini malah meminta makan."

​Tubuh manusianya mengkhianati keinginannya untuk hancur. Secara biologis, ia masih diprogram untuk bertahan hidup. Rasa laparnya adalah bukti bahwa ia belum menjadi mayat.

​Gani mematikan senter ponselnya untuk menghemat baterai. Kegelapan total menyelimutinya. Ia menutup mata, mencoba mengabaikan rasa perih di perut dan punggungnya yang sakit.

​Tujuh permintaan, batin Gani.

​Apa yang akan diminta oleh gadis itu besok? Apakah ia akan menyuruh Gani mencangkul sawah? Menguras sumur? Atau yang lebih buruk, memaksa Gani berinteraksi dengan warga desa yang pasti akan menatapnya dengan pandangan mengasihani?

​Mengingat senyum Kirana yang penuh teka-teki, Gani menyadari satu hal yang membuatnya merasa semakin frustrasi. Gadis itu tidak memandangnya dengan belas kasihan. Saat semua orang—hakim, wartawan, teman-temannya—menatap Gani seolah ia adalah sampah yang menjijikkan atau mangsa yang rapuh, Kirana menatapnya dengan tatapan menantang.

​Gadis itu sedang bermain dengannya. Menguji egonya.

​"Sialan," umpat Gani pelan sebelum kesadaran mulai meninggalkannya. "Selesaikan saja tujuh hal bodoh itu, lalu aku akan membuktikan padanya bahwa aku serius ingin mati."

​Malam itu, untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, Gani tertidur bukan karena obat penenang dosis tinggi. Ia tertidur karena kelelahan fisik, dan untuk pertama kalinya pula, bukan rasa putus asa yang menemaninya terlelap, melainkan rasa kesal yang aneh pada seorang gadis desa bergaun kuning mustard.

​Sebuah titik emosi baru telah muncul di kanvas jiwanya yang kelabu. Dan Gani belum menyadari, bahwa itu adalah tetesan pertama dari cat warna yang akan mengubah kembali seluruh hidupnya.

1
Yeni Puspitasari
segar , konyol, keren 😍
Yeni Puspitasari
dari dua novel yg mengerikan Thor, cerita baru mu kali ini membuat ku tertawa lebar🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!