Perang antara manusia dan iblis telah mencapai titik terburuk.
Kerajaan Beltrum berada di ambang kehancuran setelah kalah dari sihir suci Zetobia.
Dalam keputusasaan, mereka melakukan sesuatu yang tabu
memanggil manusia dari dunia lain.
Zeta, seorang mahasiswa biasa, tiba-tiba terseret ke dunia asing yang dipenuhi sihir dan darah.
Bukan sebagai pahlawan manusia…
melainkan harapan terakhir bagi bangsa iblis.
Namun satu pertanyaan besar muncul akankah ia menjadi penyelamat… atau justru kehancuran bagi kedua dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agung Noviar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 KERAJAAN YANG RETAK
lanngit Beltrum Kerajaan Iblis Terkuat saat ini tampak seperti permukaan kaca hitam yang retak-retak. Awan merah gelap menggumpal, berputar perlahan seolah mengikuti denyut sihir yang masih tersisa dari peperangan. Di sebuah tempat dengan tanah yang rata dan membentang luas yang di kenal sebagai lembah nox wilayah kerajaan beltrum, bau tanah terbakar bercampur darah memenuhi udara, membuat siapa pun yang bernapas akan merasakan getir perang yang belum benar-benar usai.
Kerajaan Beltrum wilayah para iblis bermata merah tanpa tanduk, berkulit pucat seputih tulang telah berperang selama 6 bulan lamanya melawan Zetobia, kerajaan manusia yang dikenal penuh sihir suci. Dan hari ini, iblis merasakan kekalahan paling pahit.
Ruang singgasana istana pusat diselimuti keheningan. Pilar-pilar batu berdiri kokoh, obor menyala redup di dinding berwarna putih Di atas singgasana, sang raja terdiam dengan kepala terasa berat. Kekalahan pasukan iblis tidak membawa kelegaan pikirannya kacau oleh kenyataan bahwa setengah wilayah Lembah Nox kini berada di bawah kekuasaan Kerajaan Zetobia.
Di tengah ruangan, Jenderal Lytia berlutut. Nafasnya terengah engah lalu matanya memperlihatkan kelelahan yang tidak bisa disembunyikan. Rambut hitam pendeknya kusut, dan armor merah tuanya penuh goresan bekas pedang manusia.
“Yang Mulia…” suara Lytia pecah
“Pertahanan lembah nox setengah wilayah sudah di kuasai musuh. Pasukan kita… tersisa kurang dari sepertiga.”
Hening menyeruak seperti kabut dingin.
Sang Raja Beltrum Mata merahnya tampak berkaca-kaca, namun ia tetap menahan emosi itu. Raja tidak boleh menunjukkan keruntuhan.
“Seberapa banyak musuh yang ada di setengah wilayah lembah nox?”
Lytia menunduk lebih dalam. “Mereka sekitar 100 pasukan sudah berada di setengah wilayah lembah Nox, saat ini mereka sedang menunggu pasukan bantuan dan mengumpulkan kekuatan penuh kira kira 4 hari lagi mereka akan siap menyerang lagi.”
Para penasihat bergumam gelisah. Ada yang memegang dada karena cemas, ada yang menatap lantai tak berani menatap raja.
Tiba-tiba BRUK!
Pintu singgasana terbuka keras, membuat semua penjaga refleks menghunus tombak. Namun ketika melihat siapa yang masuk, mereka langsung berlutut.
Putri Stella.
Gadis iblis berambut putih keperakan itu berdiri dengan napas terengah, jubah tempurnya robek di beberapa tempat, dan lengan kirinya terdapat bekas luka baru. Meski begitu, matanya menyala tajam. Ada sesuatu yang ia bawa.
“Ayah!” serunya sambil melangkah maju. “Maafkan aku menyela… tapi aku berhasil menemukan ini.”
Di tangannya terdapat gulungan kuno. Kertasnya berwarna krem kecoklatan dan terlihat sangat tua, namun dari gulungan itu keluar energi sihir tipis yang bahkan membuat lantai singgasana bergetar halus.
Suasana ruangan berubah. Para penasihat menegang. Lytia mendongak, terkejut. Raja sendiri berdiri dari singgasana.
“Gulungan apa itu, Stella?”
Putri Stella menelan ludah, lalu mengangkat gulungan itu agar semua bisa melihat.
“I-Itu gulungan dari Zetobia… Aku menemukannya di antara reruntuhan kamp penyihir manusia. Menurut tulisan kunonya, gulungan ini… dapat memanggil seorang kesatria di atas rata-rata. Kesatria dunia luar.”
Beberapa penasihat panik.
“Kesatria pemanggilan!?”
“ternyata ada yah sihir itu aku pikir hanya dongeng!”
“Jika mereka menggunakannya, kita pasti kalah telak!”
Raja memejamkan mata sesaat, menyerap informasi itu dengan hati-hati.
Namun sebelum raja mengeluarkan keputusan…
Jenderal Lytia angkat suara.
“Yang Mulia… izinkan hamba mengajukan usulan.”
Raja mengangguk perlahan. “Bicaralah, Lytia.”
Jenderal Lytia bangkit berdiri. Ia menatap gulungan itu dengan ekspresi penuh kewaspadaan.
“Dengan segala hormat… gulungan itu belum pasti terbukti. Kita tidak tahu bagaimana cara memakainya, apakah masih bekerja, atau apakah itu jebakan. Sihir pemanggilan kesatria dunia luar masih belum pasti itu nyata atau tidak”
Putri Stella menggigit bibir. Ia tahu Lytia tidak salah.
Lytia lalu melanjutkan, suaranya tegas namun penuh tanggung jawab:
“Bagaimana kalau kita gunakan Mata Iblis Naha terlebih dahulu, Yang Mulia? Artefak itu milik leluhur kita sendiri. Kita mengerti struktur sihirnya, setidaknya lebih daripada gulungan musuh.”
Para penasihat mulai mengangguk.
Pernyataan Lytia masuk akal.
Lebih aman. Lebih dekat. Lebih bisa diprediksi.
Salah satu penasihat menimpali,
“Meski raja sebelumnya gagal memakai Mata Naha… setidaknya kita tahu artefak itu bukan tipuan. Memanggil kesatria asing terlalu beresiko untuk kondisi kerajaan sekarang.”
Putri Stella tampak cemas, tapi ia mencoba tetap tenang.
“Lytia… bukankah Mata Naha pernah hampir mengambil alih tubuh raja sebelumnya,”
Lytia mengangguk.
“Benar. Namun itu karena tidak ada wadah yang cocok. Jika kita menemukan seseorang dengan resonansi sihir yang pas, mata itu bisa dikendalikan. Itu jauh lebih masuk akal daripada memanggil kesatria dunia lain tanpa kepastian.”
Raja Beltrum terdiam lama.
Ia menatap putrinya… lalu menatap Lytia.
Lalu ia menarik napas panjang.
“Baik. Kita akan mencoba Mata Iblis Naha terlebih dahulu.”
Para penjaga langsung berdiri tegap.
Penasihat saling bertukar pandang lega.
“Gulungan Zetobia… simpan rapat-rapat,” lanjut raja. “Letakkan di ruang terlarang dan jaga dengan sihir segel. Jangan sentuh sampai aku memberikan perintah.”
Putri Stella menundukkan kepala. “Baik, Ayah…”
Raja mengangkat tangan dan memberi perintah terakhir.
“Lytia. Tolong persiapkan ritual. Kita akan menuju ruang bawah tanah. Jika Mata Iblis itu dapat bangkit…kita mungkin masih memiliki harapan.”
Lytia meletakkan tangan di dada, memberi salam hormat.
“Dengan senang hati, Yang Mulia. Aku tidak akan mengecewakan kerajaan ini.”
Suara langkah deras memenuhi ruangan.
Para prajurit bersiap.
Stella menyimpan gulungan itu dalam wadah sihir.
Raja melangkah keruangan mata Naha itu dengan aura berat seperti badai. Dan di kejauhan… terdengar raungan sihir yang sangat seram dari dalam ruang bawah tanah seolah Mata Iblis Naha sudah merasakan mereka akan datang.
Di ruang bawah tanah kastil, cahaya ungu pekat dari Mata Iblis Naha terus berdenyut seperti jantung makhluk purba yang baru terbangun dari tidur panjangnya. Lalu raja iblis mulai memasukan mata Naha itu ke mata kirinya
Namun…
Saat Raja Beltrum pertama kali memakai mata tersebut, tidak ada yang terjadi.
Tidak ada ledakan kekuatan.
Tidak ada peningkatan aura.
Hanya… keheningan.
Dan rasa tidak nyaman di balik kelopak mata kirinya.
Namun raja tidak menyerah.
“Aku akan mencobanya di medan perang,” katanya dengan suara tegas. “Jika mata ini memiliki kekuatan, maka kekuatannya akan bangkit saat darah musuh mendekat.”
Lalu besok pagi yang masih agak gelap di hari ke 4 setelah Zetobia Mengesuai setengah lembah nox, Maka Kerajaan Beltrum menyiapkan serangan balik pasukan iblis bergerak menuju garis pertahanan pertama di lembah nox. Langit berubah gelap. Suara terompet perang para iblis menembus penjuru negeri. Pasukan berbaris dengan keyakinan baru meskipun sebagian hanya berpura-pura percaya.
Raja Beltrum berdiri di garis depan, Mata Naha berdenyut samar di dalam rongga mata kirinya.
“Majuuuuu!”
Raungan iblis mengguncang lembah.
Pertempuran pun pecah.
Sihir suci Zetobia turun seperti hujan cahaya, sementara iblis membalas dengan api kegelapan dan belati sihir. Tanah berguncang. Batuan terpecah. Udara penuh dengan jeritan perang.
Namun satu hal menjadi jelas…
Mata Naha tetap diam.
Tidak menyala.
Tidak bereaksi.
Tidak melindungi raja seperti yang diharapkan.
Pasukan Iblis di kalahkan dengan mudah dalam waktu dua jam saja malah membuat situasi makin buruk. Prajurit iblis, yang sudah lemah sejak perang sebelumnya, mulai tumbang satu per satu.
Putri Stella berlari mendekati ayahnya, napasnya kejar-kejaran.
“Ayah! Pasukan kita terdesak! Kita harus mundur!”
“Tapi Mata Naha… belum”
“Ayah!” suara Stella bergetar, bukan karena takut, tetapi karena frustrasi. “Jika kita terus maju, kita akan kehilangan seluruh pasukan!”
Raja mengepalkan tangan.
Ia tahu putrinya benar.
Dengan suara berat, ia memberi perintah:
“Mundur…! Semua pasukan, mundur ke benteng!”
Horns perang iblis meraung panjang, tanda retret.
Beberapa jam kemudian, mereka tiba di kerajaan Beltrum kembali dengan sunyi. Raja Beltrum masuk ke istana dia duduk dan mencengkeram mata kirinya dengan kesal.
“Sial…! Kenapa artefak itu tidak bereaksi!? Di mana kekuatannya!?”
Stella, yang berdiri di sampingnya, menunduk.
“Ayah… mungkin memang bukan Anda yang cocok.”
Raja menatap putrinya.
“Kau ingin mengatakan… apa?”
Putri Stella menarik napas, lalu berkata dengan suara pelan namun jelas:
“Apakah kita memang harus memanggil kesatria dari dunia lain? Mungkin saja Mata Naha akan cocok pada kesatria itu. Zetobia membuat gulungan pemanggil ini untuk memanggil kesatria yang sangat kuat… mungkin tubuhnya lebih kompatibel dengan artefak itu dibanding kita.”
Ruangan menjadi hening.
Para penasihat saling pandang.
Dan akhirnya, Semua orang setuju pada sesuatu.
“Tidak ada pilihan lagi, Yang Mulia,” ucap salah satu penasihat dengan wajah putus asa. “Jika mata itu memang ditakdirkan untuk kesatria dunia lain… maka biarkan kita memanggilnya sebelum Zetobia merebut kembali gulungan itu dan melakukannya.”
Putri Stella menatap gulungan yang ia simpan di wadah sihir.
Tangannya sedikit bergetar.
“Ayah… tapi ada satu hal yang harus kita fikirkan.”
Raja menatap putrinya dengan mata keras. “Apa itu?”
Putri berkata pelan, ragu:
“Jika kesatria ini berasal dari dunia lain… dan gulungan ini milik zetobia… apakah dia akan datang sebagai ras iblis… atau manusia? Kita tidak tahu jenis makhluk apa yang akan dipanggil…”
Keheningan menegang.
Hingga Jenderal Lytia melangkah maju.
“Putri… meskipun kesatria itu manusia, itu tidak masalah. Selama ia bukan Zetobia… dan selama kita bisa mengawasinya, dia tidak akan menjadi ancaman.”
Ia menenangkan putri stella
Raja Beltrum memejamkan mata.
Ketika ia membukanya kembali, matanya dipenuhi ketegasan yang tidak pernah terlihat sejak perang dimulai.
“Baiklah putri ku tolong persiapkan ritual pemanggilan.”
Lalu putri Stella raja dan para orang orang Beltrum pergi ke Ruangan khusus kerajaan. Saat sampai di ruangan dan membuat lingkaran sihir Tiba tiba ruangan itu perlahan lahan tertutup pintu batu yang bergerak sendiri. Obor di sekeliling ruangan padam satu per satu, seakan takut pada energi yang muncul dari tengah lingkaran sihir berdiameter belasan meter. Para penasihat berdiri mengelilingi Putri Stella dan Raja Beltrum, sementara Jenderal Lytia menjaga pintu dengan tangan yang tak pernah lepas dari gagang pedangnya.
Udara menjadi sangat berat.
Seolah ada sesuatu yang tak terlihat sedang merayap di udara, menyentuh kulit dan tulang mereka.
Putri Stella mengangkat gulungan Zetobia. Huruf-huruf kuno di gulungan itu menyala pelan… lalu mulai bergerak sendiri, seperti cacing cahaya yang bangun dari tidur panjang. Stella menggigit bibirnya, mencoba mengatur napas.
“Aku… akan mulai, Ayah.”
Raja Beltrum hanya mengangguk, meski pundaknya tegang.
Stella membaca rapalan pertama.
Lingkaran sihir langsung bergetar keras. Lantai seperti berdenyut, seakan ruangan itu memiliki jantungnya sendiri. Salah satu penasihat hampir jatuh tersungkur ketika cahaya merah meledak dari garis-garis sihir.
“Aawas!!”
Lytia langsung bergerak menahan seorang penyihir yang terpental ke tembok.
Raja Beltrum menatap tajam. “Teruskan, Putri! Energi ini… bukan energi biasa.”
Stella melanjutkan rapalan kedua.
Namun kali ini bayangan hitam muncul dari tengah lingkaran, berputar seperti tornado kecil. Obor yang tadi padam kini menyala kembali, tapi dengan api ungu yang menjilat-jilat liar.
Tiba-tiba gulungan Zetobia meledak dengan cahaya putih terang. Putri Stella berteriak kecil.
Beralih ke Dunia lain
Sosok manusia mahasiswa bernama Zeta sedang berjalan di koridor kampus setelah presentasi kelompoknya selesai. Teman-temannya ngoceh soal nilai, tapi Zeta malah sibuk menenangkan detak jantungnya yang aneh.
Dari tadi… dadanya seperti ditarik.
Bukan sakit.Bukan cemas. Seperti ada… panggilan?
“Zet, kamu gapapa?” tanya temannya.
Zeta tersenyum tipis, “Hehe… gapapa kok. Mungkin aku kecapean.”
Tapi jantungnya berdetak lagi.
Dug… dug… dug… dug…
Bergetar seperti merespons sesuatu yang tak terlihat.
Saat ia berjalan ke gerbang kampus, ia tanpa sengaja berpapasan dengan Elina seseorang gadis pintar dan cantik yang di sukai oleh Zeta
Elina tersenyum lembut. “Oh, Zeta. Presentasinya bagus ya tadi.”
Zeta membeku sepersekian detik.
“Oh iya! Heh… makasih. Kamu juga keren,” jawabnya malu-malu.
Namun di tengah ngobrol…
Dug…dugg....duggg....duggg
Dadanya berdetak lebih keras.
Elina sampai memiringkan kepala. “Eh, wajah kamu pucat Zeta… Apa kamu sakit?”
“Enggak kok aku cuman kecapean Elina" balas Zeta
Padahal Zeta sendiri bingung. Aneh seperti apa? Ia tidak bisa menjelaskan.
Setelah Selesai kuliah dan kerja part-time yang melelahkan, Zeta akhirnya sampai di kosnya. Punggungnya pegal, kakinya terasa berat, tapi ada satu hal yang membuat mood-nya naik drastis. Ia teringat kejadian tadi siang.
“Gila...aku bisa ngobrol sama elina…”
Hanya dengan memikirkan nama cewek itu, bibirnya otomatis tersenyum sendiri.
Suara elina, cara dia tertawa kecil, dan bagaimana ia menatap Zeta waktu bilang “presentasimu bagus” semuanya terasa seperti mimpi kecil yang indah.
Zeta menutup pintu kos, lalu melempar tas ke kursi.
“Ahh… gila, gila. Kok bisa ya? Bisanya aku kaku banget.”
Ia tertawa sendiri sambil mengusap wajah.
Di hatinya ada rasa bangga, sedikit deg-degan, dan mungkin… harapan kecil.
Ia makan mie instan sambil memainkan HP, kemudian ingat tugasnya.
“Udah lah… besok aja. Hari ini aku senang senang dulu.”
Zeta merebahkan diri di kasur, menatap langit-langit, masih memikirkan elina yang senyum padanya. Tanpa terasa, kelopak matanya menutup perlahan.
“Nanti aku ajak ngobrol lagi deh…” Lalu ia tertidur. Beberapa menit setelah Zeta masuk ke tidur lelap, kamar kos yang sempit itu berubah. Udara menjadi dingin. Gelang lampu kamar berkedip dua kali.
Lalu cahaya putih muncul di sudut langit-langit. Tidak kasar. Tidak langsung besar. Tapi perlahan-lahan tumbuh, seperti embun yang berubah menjadi bintang kecil. Cahaya itu turun ke arah Zeta yang tertidur. Kasurnya bergetar ringan. Selimutnya tersingkap pelan. Lalu…Cahaya itu menelan Zeta sepenuhnya.
cerita awal lumayan good, pantas untuk like dan hadiah 👍