NovelToon NovelToon
Istri Sempurna Pilihan Oma

Istri Sempurna Pilihan Oma

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:8.1k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Oma frustasi memikirkan di dunia yang sudah berusia 33 tahun, mapan dalam pekerjaan tetapi tidak kunjung menikah. Melihat sekretaris Emir yang memiliki kepribadian yang baik membuat Oma kepikiran untuk menjodohkan mereka.
Sudah pasti Emir menolak, Oma melakukan berbagai hal sampai akhirnya Emir dengan Ayana pilihan Oma bersatu dalam jeratan pernikahan.

Bagaimana keduanya menjalani pernikahan dan hubungan pekerjaan yang cukup dekat?
Apakah pada akhirnya keduanya sama-sama memiliki perasaan atau justru pernikahan mereka tidak ada bedanya dan hanya sebatas pekerjaan saja.

Mari untuk membaca Novel Saya dari bab 1 sampai akhir, dan terus ikuti jawabannya di setiap bab.

Terimakasih....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 14 Tanpa Dia Cukup Berantakan.

Perusahaan.

Seperti biasanya para karyawan mulai melakukan aktivitas mereka seperti biasa dengan ketika di keyboard yang saling memburu satu sama lain.

"Pak Emir sudah kembali, tetapi Ayana kenapa tidak masuk kerja hari ini?" tanya Rani berbisik-bisik pada Diva yang duduk di sampingnya fokus pada komputernya.

"Aku juga belum sempat menghubunginya, mungkin saja dia diberikan tugas lain sehingga belum sampai ke kantor," jawab Diva.

"Mungkin Ayana kelelahan dan akhirnya tidak masuk," tebak Rani.

"Tidak mungkin, seorang Ayana tidak akan pernah kenal lelah dan juga tidak pernah tidak masuk kantor kecuali hari libur, cutinya saja tidak pernah diambil," sahut Diva.

"Iya juga sih," sahut Rani.

Emir berada di kantornya dengan tangannya begitu lincah menandatangani dokumen-dokumen. Emir juga berkali-kali mendapatkan telepon dari sopirnya Arya yang juga merupakan orang yang terkadang bisa membantunya dalam pekerjaan.

Emir terlihat kewalahan dalam menghadapi pekerjaan tanpa sekretarisnya, karena sudah pasti diwakilkan pada Arya dan Arya juga sudah pasti akan tanya-tanya terlebih dahulu pada Emir.

Di saat semua dia kerjakan sendiri. Emir ingin minum dan membuka Tumbler, tetapi sayang sekali isinya kosong.

"Ayana minum saya," Emir seketika terdiam menyadari bahwa di ruangan tersebut tidak ada Ayana.

Huhhhhhh.

Emir menarik nafas dan membuang perlahan ke depan.

"Bagaimana mungkin aku tergantung padanya," ucap Emir memijat kepalanya merasa tidak masuk akal dengan dirinya hal sekecil itupun bisa-bisanya dia menyebutkan nama sekretarisnya.

Ternyata pernyataan Emir pada Ayana bahwa ada dan tidak adanya Ayana di kantor tidak akan mengubah apapun dan nyatanya dia kewalahan sendiri dan tidak bisa melakukan apapun tanpa sekretarisnya, baik dalam urusan personal maupun urusan pekerjaan.

*****

Malam hari Emir baru saja tiba pulang dari kantor. Emir terlihat begitu lelah langsung duduk di sofa ruang tamu. Sejak tadi dia terlihat mengatur nafas.

"Kenapa pekerjaan begitu banyak sekali hari ini, aku bahkan sampai melupakan untuk beristirahat," ucap Emir memijat belakang lehernya.

Suara langkah di anak tangga terdengar membuat Emir melihat ke arah tersebut dan ternyata Ayana menuruni anak tangga dan tidak lupa menggunakan hijabnya.

"Apa Dokter Nadien tadi jadi datang?" tanya Emir.

"Jadi. Pak, beliau memeriksa saya dan alhamdulillah kondisi saya sudah baik-baik saja," jawab Ayana.

"Baguslah, jadi tidak perlu harus libur untuk hari berikutnya," ucap Emir.

"Hmmmm, bapak mau saya buatkan kopi?" tanya Ayana menawarkan karena melihat bagaimana atasannya terlihat begitu sangat lelah.

"Hmmm, boleh, kamu bawa ke kamar," ucap Emir.

"Baiklah, pak!" jawab Ayana langsung meninggalkan ruang tamu dan menuju dapur.

Setelah Emir bersih-bersih dan sudah mengganti pakaiannya menggunakan kaos putih dengan celana panjang. Ayana sudah berada di kamar dengan secangkir kopi yang tadi dia buat dan bahkan dia juga membuatkan makanan untuk Emir.

Mata Emir tertuju pada satu piring nasi goreng, kopi dan juga lengkap dengan air putihnya. Ayana seolah-olah tahu jika pimpinannya itu belum makan sama sekali.

Emir menghela nafas dan kemudian langsung duduk di sofa, meneguk kopi tersebut dan ternyata dia juga mau makan nasi goreng yang dibuatkan istrinya. Sementara Ayana ternyata tidak lepas dari pekerjaannya.

Mengupas buah apel dan memotongnya yang duduk di samping Emir, membuat Emir memperhatikan pekerjaan sekretarisnya itu yang memang ada saja tanpa disuruh. Sebenarnya menikah dan tidak menikah dengan Emir.

Ayana merasa hal yang dia lakukan biasa-biasa saja dan sering dia lakukan di kantor, mungkin yang membuat canggung mereka berada di ruangan yang sama dan terasa sedikit aneh jika ruangan itu berhubungan dengan kamar.

"Hmmmm, pak...." Ayana mulai mengeluarkan suara ketika ada sesuatu yang ingin diungkapkan.

"Hmmm," sahut Emir dengan deheman.

"Tadi siang pak Arya menelpon saya dan menyerah saya untuk bunuh diri berkas-berkas proyek yang berada di desa. Pak Arya menghentikan bapak ingin menghentikan proyek di desa Tasika?" tanya Ayana dengan gugup.

"Ya, saya memang ingin menghentikan proyek yang berada di sana," jawab Emir.

"Apa ini berkaitan dengan apa yang terjadi dengan kita di desa?" tanya Ayana.

"Benar, warga desa jual mahal di saat saya ingin membangun proyek di sana yang padahal itu untuk kemajuan desa, saya mengeluarkan uang yang banyak untuk memberikan kompensasi kepada warga desa, ketika mereka mulai melihat perkembangan proyek yang berada di sana dan mereka juga yang dibutuhkan, datang kepada saya memberi pujian dan terus mengucapkan terima kasih, tetapi hanya karena satu kesalahan saja yang saya lakukan dan bahkan itu tidak terbukti, mereka langsung menjudge dulu saya dan merendahkan harga diri saya seperti itu karena manusia!" tegas Emir.

Emir sepertinya masih marah dengan sikap warga desa yang kekanak-kanakan dan bahkan menimbulkan pernikahan di antara keduanya.

"Jadi wajar saja jika saya menghentikan proyek itu, jika warga desa segala sesuatu diputuskan tanpa mencari kebenaran dulu, maka sampai kapanpun desa Tasika tidak akan pernah maju. Jadi untuk apa melanjutkan proyek di sana yang hanya membuang-buang waktu dan tenaga, saya lebih baik mengalihkan kepada desa yang bisa menghargai dan meski sayang mengalami kerugian yang banyak!" tegas Emir.

Ayana terdiam, pasti dia sedih karena proyek tersebut dihentikan dari desanya, bagaimanapun dia pasti menginginkan desa itu maju.

"Kenapa? apa salah satu warga desa kamu menghubungi kamu dan mengatakan kepada saya untuk tidak menghentikan proyek itu? Atau sekarang mereka menyesali atas perbuatan mereka, meminta maaf dan apapun yang ingin mereka lakukan agar saya mengubah keputusan saya?" tanya Emir.

"Ayana apapun yang dilakukan warga desa dan bagaimanapun mereka berusaha untuk membujuk saya tidak akan mengubah apapun, kita sudah terlanjur menikah!" tegas Emir.

"Maaf pak, saya benar-benar minta maaf atas semua perbuatan warga desa," ucap Ayana.

"Saya sudah mengatakan kepada kamu jangan pernah mewakilkan orang-orang yang minim SDM itu untuk minta maaf!" tegas Emir.

Jika berkaitan dengan warga desa, kepala Emir semakin sakit dan rasanya ingin marah-marah terus. Ayana tidak bisa berbuat apa-apa.

"Jari kamu bisa terputus," ucap Emir menegur Ayana mulai melamun dalam memotong buah tersebut.

"Oh, iya pak," sahut Ayana.

Emir tidak mengatakan apapun lagi dan melanjutkan makannya, nasi goreng itu terasa begitu enak dan cocok di lidah, ini memang masakan pertama istrinya untuknya, tetapi untuk kopi buatan Ayana sudah pernah dinikmati oleh Emir dan bahkan sering.

*****

Karena Ayana sudah sembuh yang akhirnya dia hari ini akan ke kantor bersama dengan Emir. Sebelum itu untuk pertama kali Ayana sarapan bersama dengan Oma dan Emir.

"Ayana pagi-pagi kamu biasanya sarapan apa?" tanya Oma.

Ayana mengingat bagaimana kesibukan terhadap terkadang dia hanya makan dengan roti yang dibungkus plastik sembari berjalan dan juga terkadang sarapan di bus.

"Sama saja Oma seperti ini," jawab Ayana.

"Huhhhh, kalau Oma tidak bisa hanya makan roti di saat pagi hari, perut tidak akan kenyang dan tadi pula kamu itu kerja, apa cukup hanya sarapan dengan roti saja?" tanya Oma.

"Alhamdulillah cukup," jawab Ayana.

"Itu karena kamu terlalu sibuk kerja, kamu sampai tidak menyadari bahwa kamu lapar," ucap Oma si paling tahu.

Emir hanya diam saja menikmati sarapannya.

Bersambung....

1
Oma Gavin
wah emir jadi sasaran empuk lastri nanti pakai jurus pamungkas obat lucknut biar emir kepanasan dan majuk jebakan lastri
shinta liliand
emir gk gentle bgt jd cowok.. tp jg kaasae ngomong sama omanya hmmm susaaah
Enz99
bagus
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Dew666
💜💜💜💜
Dew666
🍎🍎🍎
nurlizan lizan
thor lbh teliti lg, bnyak typo🙏
Dew666
💝💝💝
Ridwani
👍👍👍👍👍👍
Dew666
👄👄👄
Ridwani
👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!