NovelToon NovelToon
Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Ibu Yang Kembali Dari Kematian

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: septian123

Seraphina Halstrom pernah percaya bahwa keluarga adalah segalanya, hingga di detik terakhir hidupnya ia menyadari bahwa suami dan kedua anaknya sendiri telah merencanakan kematiannya demi harta. Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Kembali ke masa lalu sebelum semuanya terjadi, Seraphina tidak lagi menjadi ibu yang lembut dan mudah dimanfaatkan.

Dengan ingatan akan pengkhianatan yang sama, ia mulai menyusun langkah demi langkah untuk membalas mereka. Kali ini, ia tidak akan dikhianati, ia akan menghancurkan mereka terlebih dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24

Pagi itu dimulai dengan suasana yang hampir terlalu tenang.

Langit cerah membentang di balik jendela besar mansion keluarga Halstrom, sinar matahari masuk perlahan melewati kaca tinggi dan jatuh lembut di lantai marmer yang mengilap. Pelayan bergerak seperti biasa dengan ritme yang sudah dihafal selama bertahun-tahun. Di dapur utama, suara peralatan makan terdengar samar bercampur aroma kopi hitam dan roti hangat yang baru keluar dari oven. Dari luar, semuanya masih tampak sama. Rumah besar itu tetap terlihat seperti simbol keluarga sempurna yang selama ini dikenal banyak orang.

Namun di balik ketenangan yang tampak rapi itu, sesuatu sedang berubah.

Perubahan itu tidak datang dengan suara keras. Tidak ada pertengkaran, tidak ada ledakan emosi, bahkan tidak ada tanda mencolok yang cukup jelas untuk segera disadari. Semuanya bergerak perlahan, hampir seperti aliran air yang diam-diam mengubah bentuk batu tanpa terlihat. Dan pusat dari perubahan itu sedang duduk sendirian di ruang kerja pribadinya sejak pagi.

Seraphina Halstrom sudah berada di sana bahkan sebelum anggota keluarga lain bangun. Ia duduk tegak di kursi kerja besar berbahan kulit hitam, rambut panjangnya tersusun rapi, sementara jemarinya bergerak perlahan membalik dokumen satu per satu di atas meja. Beberapa map terbuka di hadapannya, tersusun sangat teratur dengan catatan kecil di sudut halaman.

Rekening bersama.

Hak akses perusahaan.

Portofolio investasi.

Kepemilikan aset pribadi.

Semua hal yang dulu hampir tidak pernah ia sentuh secara detail.

Bukan karena tidak peduli, melainkan karena terlalu percaya.

Dulu, Seraphina merasa rumah tangga yang sehat berdiri di atas kepercayaan. Ia percaya pada Darius tanpa syarat, percaya bahwa pria itu menjaga semuanya sebagaimana dirinya menjaga keluarga. Karena keyakinan itulah ia terlalu sering menandatangani dokumen tanpa membaca seluruh isi, terlalu mudah memberikan akses, dan terlalu lama membiarkan banyak keputusan berjalan tanpa pengawasan.

Kini semuanya terasa seperti kesalahan mahal.

Ia masih mengingat dengan terlalu jelas bagaimana hidupnya berakhir di masa lalu. Tubuhnya melemah perlahan, napasnya terasa sesak, sementara orang-orang yang selama ini ia cintai berdiri dengan mata yang begitu dingin. Tidak ada penyesalan di wajah mereka. Tidak ada kepanikan. Yang tersisa hanya jarak yang terasa terlalu menyakitkan untuk dipercaya.

Dan setelah memahami akar dari semua itu, Seraphina akhirnya melihat satu pola yang dulu gagal ia sadari.

Uang.

Kekuasaan.

Kontrol.

Darius tidak mengambil semuanya sekaligus.

Pria itu melakukannya sedikit demi sedikit.

Perlahan.

Sangat rapi.

Hingga pada akhirnya dirinya hanya menjadi seseorang yang berdiri di atas nama besar tanpa benar-benar memiliki kendali apa pun.

Kali ini tidak.

Seraphina menarik napas pelan sebelum menutup satu dokumen dan membuka map berikutnya.

“Apa semua revisi bank sudah selesai?” tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari halaman di tangannya.

Di samping meja, Evelyn Hart berdiri dengan tablet di tangan. Wanita itu masih terlihat sama seperti dulu, pembawaannya tenang, pakaian formalnya selalu rapi, dan cara berbicaranya tidak pernah tergesa.

“Sudah, Nyonya,” jawab Evelyn. “Tim legal juga menyelesaikan perubahan hak akses semalam. Semuanya sudah berjalan sesuai instruksi Anda.”

Seraphina mengangguk kecil.

Tatapannya bergerak perlahan membaca rincian revisi.

Rekening utama keluarga.

Dulu, Darius memiliki akses hampir setara dengannya. Keputusan yang pada saat itu terasa normal karena mereka adalah pasangan suami istri. Namun sekarang, saat melihat detailnya kembali, ia hampir merasa ingin tertawa pahit.

Betapa mudahnya ia menyerahkan kendali.

Betapa yakinnya ia bahwa cinta akan cukup melindunginya.

Kini akses itu mulai berubah.

Tidak langsung dicabut.

Tidak terlalu mencolok.

Di permukaan, semuanya masih terlihat sama.

Namun jika diperhatikan lebih dalam, jalur gerak Darius mulai dipersempit perlahan. Beberapa transaksi besar membutuhkan validasi tambahan. Dana investasi tertentu tidak lagi bisa dipindahkan tanpa persetujuan utama. Rekening cadangan yang dulu bercampur mulai dipisahkan kembali.

Rapi.

Halus.

Sulit dicurigai.

Persis seperti cara Darius bergerak selama ini.

“Bagaimana dengan aset pribadi?” tanyanya lagi.

Evelyn segera membuka data tambahan.

“Villa utara sudah kembali di bawah pengawasan pribadi Anda. Rekening investasi cadangan juga sudah dipisahkan. Ada beberapa properti lain yang masih dalam proses penyesuaian dokumen.”

“Bagus.”

Seraphina mengambil pena lalu membubuhkan tanda tangan di beberapa halaman terakhir tanpa keraguan sedikit pun.

Dulu, mungkin ia akan merasa bersalah.

Merasa terlalu berhitung.

Merasa seperti sedang merusak keseimbangan rumah tangga.

Sekarang tidak lagi.

Karena setelah mengetahui bagaimana akhir hidupnya, semuanya berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Ia hanya sedang mengambil kembali miliknya.

“Pastikan semua berjalan bertahap,” ucap Seraphina tenang. “Aku tidak mau perubahan ini terlalu terlihat.”

“Tentu.”

Seraphina berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan nada yang lebih pelan.

“Aku ingin dia sadar saat semuanya sudah terlambat.”

Kalimat itu keluar begitu saja.

Dingin.

Terukur.

Dan untuk beberapa detik, Evelyn hanya diam.

Karena semakin lama, wanita di depannya terasa semakin sulit dikenali.

Masih elegan.

Masih tenang.

Namun ada sesuatu yang berubah jauh di dalam dirinya.

Sesuatu yang tidak lagi bergerak karena emosi.

Melainkan perhitungan.

---

Perubahan mulai terasa beberapa hari kemudian.

Awalnya kecil.

Hampir tidak berarti.

Sore itu, Darius sedang berada di ruang kerja kantor pusat ketika ia mencoba mengakses dana investasi untuk salah satu proyek pribadi yang selama ini selalu berjalan lancar. Biasanya proses itu hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Ia tinggal memberi persetujuan dan sistem langsung bergerak.

Namun hari itu berbeda.

Permintaan tertahan.

Notifikasi validasi tambahan muncul di layar.

Darius mengernyit samar.

Aneh.

Ia mencoba sekali lagi.

Hasilnya tetap sama.

“Kenapa sistem berubah?” gumamnya pelan.

Asisten keuangan yang duduk di hadapannya tampak sedikit tegang.

“Ada revisi otorisasi, Tuan.”

Darius mengangkat kepala.

“Revisi dari siapa?”

“Hak validasi utama kembali ke Nyonya Seraphina.”

Ruangan mendadak terasa lebih sunyi.

Darius menyandarkan tubuh ke kursi perlahan, jemarinya mengetuk meja dengan ritme pelan.

Sekali.

Dua kali.

Lalu berhenti.

“Kenapa aku tidak diberi tahu?”

Asisten itu tampak semakin berhati-hati menjawab.

“Kami kira Anda sudah mengetahui, Tuan.”

Tentu saja tidak.

Kalau tahu, ia pasti sudah menghentikannya sebelum semuanya berubah terlalu jauh.

Darius membuka kembali laporan investasi di layar. Dahi pria itu mulai mengeras saat membaca detail demi detail.

Dana cadangan tertentu dipisahkan.

Beberapa jalur perpindahan dana terkunci.

Akses fleksibel yang selama ini tersedia mulai menghilang satu per satu.

Tidak cukup besar untuk menciptakan konflik langsung.

Namun cukup mengganggu.

Dan yang paling membuatnya tidak nyaman, semuanya terasa terlalu rapi.

Seolah seseorang sudah memikirkan langkah ini sejak lama.

Apa sebenarnya yang sedang dilakukan Seraphina?

Pertanyaan itu mulai muncul semakin jelas di kepalanya.

---

Malam harinya, Darius pulang lebih awal dari biasanya.

Makan malam keluarga berlangsung seperti rutinitas biasa. Lysandra sibuk membahas acara sosial terbaru sambil memainkan ponselnya, Kael tetap diam seperti biasanya dengan ekspresi sulit ditebak, sementara Seraphina duduk tenang di ujung meja panjang.

Anggun.

Rapi.

Dan terlalu tenang.

Darius beberapa kali memperhatikannya diam-diam.

Cara wanita itu berbicara.

Cara tersenyum tipis saat menjawab sesuatu.

Tatapan mata yang kini terasa lebih sulit dibaca dibanding sebelumnya.

Ada jarak yang samar.

Tidak terlalu terlihat.

Namun cukup terasa.

“Besok aku mungkin butuh dana tambahan buat event minggu depan,” ujar Lysandra tiba-tiba sambil menyeruput minuman.

Seraphina mengangkat pandangan perlahan.

“Gunakan anggaranmu.”

Lysandra langsung mendecakkan lidah kecil.

“Lagi?”

“Kalau kurang, kurangi kebutuhan.”

Jawaban itu keluar begitu saja.

Tenang.

Tanpa nada menghakimi.

Namun cukup membuat meja makan sedikit lebih hening.

Kael mengangkat kepala sekilas.

Darius memperhatikan.

Karena dulu, Seraphina akan lebih mudah mengalah.

Sekarang justru sebaliknya.

Setelah makan malam selesai, Darius mengikuti Seraphina ke ruang baca.

Wanita itu sedang menuang teh ketika ia masuk. Cahaya lampu hangat menerangi ruangan, membuat suasana terlihat nyaman seperti biasanya.

“Kamu sibuk akhir-akhir ini,” ujar Darius sambil berdiri dekat rak buku.

Seraphina mengangkat wajah sedikit.

“Lumayan.”

“Dengan perusahaan?”

“Sedikit.”

Darius tersenyum tipis, tetap mempertahankan nada lembut seperti suami yang hanya sedang penasaran.

“Kamu harusnya cerita.”

Seraphina membalas dengan senyum kecil yang sulit dibaca.

“Semuanya baik-baik saja.”

Jawaban itu terlalu singkat.

Terlalu rapi.

Dan anehnya membuat Darius semakin tidak nyaman.

“Aku cuma penasaran,” lanjutnya. “Beberapa akses keuangan berubah.”

“Oh?” Seraphina meletakkan cangkir perlahan.

“Ada revisi sistem?”

“Aku hanya merapikan beberapa hal.”

Nada bicaranya santai.

Sangat masuk akal.

Sulit dipermasalahkan.

“Maksudnya?” tanya Darius lagi.

“Memisahkan aset pribadi. Menata ulang investasi. Sedikit evaluasi.”

Jawaban itu terdengar normal.

Bahkan terlalu normal.

Namun justru itu yang mengganggu.

“Kenapa mendadak?”

Seraphina menatapnya beberapa detik.

Tatapan yang terlalu tenang.

Lalu sudut bibirnya bergerak kecil.

“Bukankah memang seharusnya dilakukan?”

Tidak ada sindiran.

Tidak ada tuduhan.

Namun Darius tetap merasa seperti sedang dijauhkan dari sesuatu.

Dan perasaan itu mulai terasa semakin tidak menyenangkan.

---

Hari-hari berikutnya menjadi lebih mengganggu.

Dana tertentu tertahan.

Persetujuan investasi semakin lambat.

Beberapa jalur keuangan yang biasanya berjalan mulus sekarang membutuhkan persetujuan tambahan.

Beberapa rencana bisnis sampingan bahkan terpaksa ditunda.

Darius mulai kesal.

Namun ia juga sadar tidak bisa langsung bereaksi keras.

Karena secara hukum, semua yang dilakukan Seraphina benar.

Masuk akal.

Bahkan wajar.

Justru akan terlihat aneh jika ia terlalu mempersoalkannya.

Sore itu, di ruang kerja kantor pusat, satu laporan kembali membuat rahangnya mengeras.

Angka tidak sesuai.

Jalur dana berubah.

Investasi tertentu benar-benar terkunci.

“Kenapa ini belum diproses?” tanyanya dingin.

Asistennya terlihat gugup.

“Kami masih menunggu validasi akhir dari Nyonya Seraphina.”

Lagi.

Selalu nama itu.

Seraphina.

Darius bersandar perlahan di kursi, pandangannya jatuh pada layar laptop cukup lama.

Karena sekarang ia mulai menyadari sesuatu yang sangat mengganggu.

Seraphina tidak lagi bergerak seperti biasanya.

Wanita itu sedang mengambil sesuatu kembali.

Pelan.

Diam-diam.

Dan tanpa suara besar.

Namun cukup untuk mulai mengacaukan rencananya sedikit demi sedikit.

Malam itu, saat duduk sendirian di ruang kerja rumah, Darius menatap laporan keuangan cukup lama sebelum akhirnya mengencangkan rahang.

Karena ada sesuatu yang mulai bergerak di luar kendalinya.

Dan ia tidak menyukainya sedikit pun.

1
Ma Em
Bagus Seraphina kamu bisa semua yg Darius ambil dari perusahaan mu bisa Seraphina ambil kembali secara pelan tapi pasti agar Darius dan anak2 mu tdk curiga .
Ma Em
Sudah waktunya kamu jatuh Darius makanya jgn suka ngambil yg bkn milikmu Darius , Darius serakah mau menguasai harta Seraphina untung saja Seraphina cepat bergerak dan cepat menyadari kesalahan nya kalau terlambat sedikit lagi Seraphina bakal dibuang .
Ma Em
Seraphina kamu hrs kuat dan hati2 menghadapi mereka karena itu sangat berbahaya untukmu Seraphina , meskipun itu dgn anak2 mu juga suamimu Seraphina tetap hrs hati2 jgn sampai terulang lagi anak-anak dan suamimu meracuni kamu Seraphina .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!