NovelToon NovelToon
Cinta Ditolak Sebab Status

Cinta Ditolak Sebab Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:459
Nilai: 5
Nama Author: Bila Official

Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.

Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.

Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.

Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.

Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.

Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30. Dirumahnya Tara.

Di kamar tamu yang dipinjamkan Tara, Aurel duduk sendirian di tepi ranjang. Koper miliknya berada di dekat lemari, masih tertutup rapat, belum dibuka sama sekali, sejak tiba di rumah Tara beberapa jam yang lalu, Aurel belum memiliki tenaga untuk membereskan barang-barangnya. Bahkan hanya melihat koper itu saja sudah membuat dadanya terasa sesak, karena koper itu menjadi bukti bahwa dirinya benar-benar sudah meninggalkan rumah keluarga Argas. Rumah tempat ia bekerja, rumah tempat ia menemukan banyak orang baik, rumah tempat ia mengenal Arvano dan rumah yang kini tak bisa lagi di datangin.

Aurel memeluk lututnya dengan tatapannya yang kosong. Pikirannya terus berputar mengingat kejadian tadi siang. Suara kemarahan Bagaskara, tatapan kecewa semua orang, tangis Indah, pelukan Feni, dan wajah Arvano yang berusaha menahannya pergi. Semua masih terasa begitu jelas, seolah baru terjadi beberapa menit yang lalu.

Padahal waktu terus berjalan dan kenyataan tidak bisa diubah. Aurel sudah pergi dan mungkin tidak akan kembali. Perlahan air mata kembali turun membasahi pipinya, namun kali ini Aurel tidak menghapusnya. Ia membiarkan dirinya menangis, karena hanya itu yang bisa di lakukan.

Tok, Tok, Tok

Suara ketukan pelan membuat Aurel tersadar. Pintu kamar terbuka sedikit. Tara muncul sambil membawa dua gelas teh hangat. "Aku masuk ya."

Aurel mengangguk pelan.

Tara masuk lalu meletakkan gelas di atas meja. "Kau belum buka koper?" Tanya Tara.

Aurel menggeleng. "Belum ada semangat."

Tara duduk di sampingnya. Memandang koper yang masih tergeletak di sudut ruangan, kemudian memandang sahabatnya. "Aurel."

"Hm?" Jawab Aurel yang singkat.

"Kau tadi janji mau cerita." Kata Tara.

Aurel menunduk. Ia memang sudah berjanji, dan mungkin hanya kepada Tara bisa menceritakan semuanya.

Aurel mulai bercerita. Awalnya pelan, namun semakin lama semakin banyak. Tentang rahasia yang mereka sembunyikan, tentang Erika, tentang rumah sakit, dan akhirnya tentang CCTV yang membuat semuanya terbongkar.

Tara mendengarkan tanpa menyela, sesekali matanya membesar karena terkejut dan sesekali menghela napas. Namun tetap membiarkan Aurel menyelesaikan semuanya.

"Jadi," Kata Tara setelah beberapa saat. Lanjut Tara."Pak Bagaskara benar-benar mengusirmu?"

Aurel mengangguk. "Iya."

"Kau enggak bohong kan?" Tanya Tara.

Aurel tersenyum pahit. "Kalau bohong aku enggak mungkin bawa koper."

Tara terdiam.Tara tahu sahabatnya sedang terluka.

"Aku enggak marah sama beliau." Ucap Aurel lirih.

Tara menoleh. "Kenapa?"

"Karena aku ngerti." Jawab Aurel.

"Mengerti apa?" Tanya Aurel.

"Aku cuma pembantu." Sahut Aurel yang menyadarinya.

Tara langsung menggeleng. "Jangan ngomong begitu."

"Itu kenyataannya, kan." Aurel menatap sahabatnya.

Namun Tara terlihat serius. "Kau memang bekerja sebagai pembantu, tapi itu bukan berarti kau lebih rendah dari siapa pun."

Aurel terdiam.

Tara menggenggam tangan sahabatnya. "Dengar ya."

"Apa?" Tanya Aurel.

"Kau orang baik, pekerja keras, dan sayang sama keluargamu. Itu jauh lebih berharga daripada status apa pun."

Mata Aurel kembali memanas.

Ucapan sederhana Tara terasa sangat berarti, karena sejak diusir tadi siang. Belum ada yang mengatakan hal seperti itu kepadanya. Setelah suasana sedikit tenang.

Aurel kembali berbicara. "Tara."

"Hm?" Sahut Tara sambil menoleh Aurel.

"Tolong jangan kasih tahu siapa pun kalau aku di sini." Titah Aurel.

Tara mengernyit. "Siapa pun?"

"Iya."

"Termasuk Arvano?"

Aurel terdiam beberapa saat.

Nama itu membuat dadanya kembali nyeri, namun akhirnya ia mengangguk. "Iya, untuk sementara."

"Kenapa?" Tanya Tara sambil mengernyit.

"Aku butuh waktu." Jawab Aurel.

Tara memahami, tidak memaksa, karena Tara tahu Aurel sedang berusaha menenangkan dirinya.

"Kalau begitu tinggal saja di sini dulu." Kata Tara.

Aurel langsung menoleh. "Tapi orang tuamu?"

"Nanti ku yang bicara." Kata Tara.

"Aku enggak mau merepotkan." Sahut Aurel yang merasa gak enak an.

"Kau bukan merepotkan." Tara tersenyum. Lanjut Tara. "Kau itu sahabatku."

Mata Aurel kembali berkaca-kaca, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena terharu.

Malam semakin larut. Angin dari luar jendela bertiup pelan, membuat tirai bergerak perlahan. Suasana kamar menjadi semakin tenang. Setelah menangis hampir seharian, setelah menahan begitu banyak emosi. Tubuh Aurel mulai merasa lelah, begitu juga Tara. Mereka masih duduk di atas ranjang sambil mengobrol. Namun suara mereka semakin pelan. Kelopak mata mereka semakin berat. Hingga akhirnya, tanpa sadar, mereka tertidur.

Aurel membuka mata kembali, langit di luar jendela sudah gelap. Lampu kamar masih menyala. Dan Tara masih tertidur di sampingnya. Aurel tersenyum kecil. Ia merasa sedikit lebih tenang. Tak lama kemudian Tara juga bangun. Mereka saling menatap, lalu tertawa kecil.

"Kita ketiduran." Kata Tara.

"Iya." Jawab Aurel.

Mereka lalu keluar kamar. Dan begitu sampai di ruang keluarga. Aurel langsung melihat dua orang yang tidak dikenalnya. Seorang pria dan seorang wanita paruh baya. Mereka duduk di sofa sambil berbincang. Begitu melihat Tara, keduanya tersenyum.

"Ayah, Ibu." Sapa Tara.

Aurel langsung menyadari. Mereka pasti orang tua Tara. Aurel segera menundukkan kepala dengan sopan. "Selamat malam Om, Tante."

Kedua orang tua Tara tersenyum ramah.

"Ini Aurel ya?" Tanya ibu Tara.

"Iya, Tante." Jawab Aurel.

Orang tua Tara masih mengingat Aurel, meski terakhir kali mereka bertemu saat masa SMA. Mereka sering mendengar nama Aurel dari cerita Tara, karena sejak dulu keduanya memang sangat dekat.

Tara lalu duduk di dekat orang tuanya. "Ayah."

"Hm?" Kata Ayahnya Tara.

"Aurel mau menginap di sini beberapa waktu." Kata Tara.

Ayah Tara menoleh ke arah Aurel, kemudian tersenyum. "Tentu boleh."

Aurel terkejut. "Benarkah, Om?"

"Tentu." Kata Ayahnya Tara.

Rumah ini memang tidak besar, namun keramahan keluarga Tara membuat hati Aurel terasa hangat.

"Terima kasih." Ucap Aurel.

Ibu Tara tersenyum. "Anggap saja rumah sendiri."

Ucapan Ibunya Tara hampir membuat Aurel menangis lagi, karena hari ini ia kehilangan satu tempat tinggal. Namun ternyata Tuhan masih memberinya tempat untuk bernaung.

Telepon dari Kampung, beberapa saat kemudian. Aurel kembali ke kamar. Ia duduk di tepi ranjang. Masih memikirkan banyak hal. Saat itulah ponselnya bergetar. Nama yang muncul membuat jantungnya berdetak lebih cepat. "Ibu."

Aurel langsung mengangkat telepon. "Halo Bu."

"Aurel." Suara Freya terdengar hangat dari seberang sana. Lanjut Freya."Kok lama enggak telepon?"

Aurel menelan ludah. Ia hampir lupa kapan terakhir kali menghubungi orang tuanya. Beberapa hari terakhir hidupnya memang terlalu kacau. "Maaf Bu, Aurel sibuk."

Freya tertawa kecil. "Yang penting sehat."

"Iya Bu. Sehat kok." Jawab Aurel tersenyum, padahal sebenarnya tidak. Hatinya sedang hancur. Namun ia tidak mungkin mengatakan itu.

Tak lama kemudian Surya ikut berbicara. "Gimana kerjaannya?"

"Baik Yah." Jawab Aurel.

"Majikannya baik?" Tanya Surya.

Aurel memejamkan mata. Seketika bayangan keluarga Argas muncul di pikirannya. Indah, Feni, Satrio, dan Arvano. Mereka memang baik.

"Iya Yah." Jawab Aurel akhirnya. Lanjut Aurel. "Mereka baik."

Surya terdengar lega. "Syukurlah."

Percakapan terus berlanjut. Tentang kesehatan Freya, tentang sawah, tentang kampung, tentang hal-hal sederhana yang biasanya membuat Aurel bahagia.

Namun malam ini. Setiap pertanyaan justru membuat dadanya terasa semakin sesak. Karena Aurel terus berbohong. Aurel tidak mengatakan bahwa dirinya sudah diusir, tidak mengatakan bahwa kehilangan pekerjaan, tidak mengatakan bahwa sedang tinggal di rumah temannya, dan tidak mengatakan bahwa sedang menangis hampir setiap jam. Ia menyimpan semuanya sendiri, karena tidak ingin membuat kedua orang tuanya khawatir.

Setelah telepon berakhir. Aurel duduk diam di tepi ranjang. Ponselnya masih berada di tangannya. Air mata perlahan jatuh lagi, bukan karena telepon itu menyakitkan, melainkan karena Aurel sadar.

Cepat atau lambat, kebenaran pasti akan terungkap. Dan Aurel tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya kepada kedua orang tuanya nanti.

Di sisi lain kota Jakarta. Arvano masih berada di apartemennya. Duduk sendirian di depan jendela. Ponselnya berada di atas meja. Tidak ada kabar, tidak ada pesan, tidak ada petunjuk tentang keberadaan Aurel. Dan itu membuatnya semakin gelisah.

Sementara itu. Di rumah keluarga Argas. Bagaskara berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Tatapannya kosong, namun pikirannya tidak tenang. Rumah ini terasa berbeda sejak Aurel pergi.

Terlalu sepi, terlalu dingin, dan entah kenapa. Perasaan bersalah mulai muncul sedikit demi sedikit di dalam hatinya. Meski Aurel masih berusaha menolaknya.

Sedangkan di kamar Tara. Aurel akhirnya berbaring kembali. Mencoba memejamkan mata, namun sebelum benar-benar tertidur. Ponselnya bergetar sekali lagi. Sebuah pesan masuk dari nomor yang sangat dikenalnya. Nomor yang selama ini selalu membuatnya tersenyum, yaitu Nomor milik Arvano.

Aurel menatap layar itu cukup lama. Jantungnya berdetak semakin cepat, namun Aurel belum berani membuka pesannya. Dan malam itu berakhir dengan satu pertanyaan besar di kepalanya.

Haruskah Aurel membalas pesan Arvano atau tetap menghilang untuk sementara waktu?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!