Kensington Valerio (22th) adalah seorang "Raja Pesta" yang sinis terhadap cinta, namun terobsesi mengoleksi ribuan novel romansa.
Baginya, cinta hanyalah delusi dengan alur membosankan yang selalu bisa ia tebak ending-nya.
Di tengah kejenuhannya akan kepalsuan dunia, hadir Audrey Hepburn (19th)—mahasiswi hukum tingkat satu yang kaku, ambisius, dan membawa prinsip kesucian yang keras kepala.
Audrey bukan sekadar junior di fakultasnya, ia adalah variabel acak yang mengacaukan prediksi Kensington.
Saat rahasia pengkhianatan mulai mengikis pertahanan Audrey, Kensington justru merasa tertantang untuk menuliskan naskah hidupnya sendiri.
Apakah Audrey akan berakhir menjadi sekadar koleksi di rak bukunya, ataukah ia adalah satu-satunya wanita yang mampu memberikan Kensington sebuah akhir yang tak terduga?
Di arena balap liar dan koridor kampus yang dingin, Kensington mulai mempertanyakan: apakah cintanya juga akan menjadi klise, atau sebuah tragedi yang tak terlukiskan ?
🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#6
Lampu neon di ruang laundry asrama berkedip-kedip, menciptakan suasana yang agak mencekam di tengah keheningan malam.
Bau detergen yang menyengat bercampur dengan hawa panas dari mesin pengering yang menderu pelan. Audrey memasukkan tumpukan pakaian kotornya ke dalam mesin nomor tujuh, sementara Odetta sudah duduk manis di atas meja lipat sambil mengayun-ayunkan kakinya.
Pikiran Audrey masih tertambat pada peringatan Vivian tempo hari.
“Dia punya banyak luka yang dia tutupi dengan kemewahan dan sikap dingin.”
Kata-kata itu berputar seperti kaset rusak di kepalanya, menyaingi suara putaran mesin cuci.
"Det," panggil Audrey pelan, memecah kesunyian. "Kau tahu sesuatu tentang masa lalu Kensington? Vivian sempat menyinggung soal... luka lama."
Odetta mendadak berhenti mengayunkan kaki. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada mahasiswa lain yang sedang mengambil jemuran malam-malam begini. Ia kemudian melompat turun dan mendekati Audrey dengan gerakan yang sangat rahasia.
"Kau benar-benar ingin membahas itu di sini?" bisik Odetta, wajahnya tampak sangat serius.
Audrey mengerutkan dahi, ikut terbawa suasana tegang. "Ada apa? Apa itu sangat rahasia? Maksudku, semua orang di kampus ini sepertinya membicarakan dia, kan?"
"Tidak, bukan begitu," jawab Odetta, ia menyandarkan punggungnya pada mesin cuci yang sedang bergetar. "Masalahnya, ini bukan sekadar gosip tentang siapa yang dia tiduri semalam. Ini tentang sesuatu yang... gelap. Sesuatu yang membuat nama Valerio sempat sedikit tergores di lingkaran elit."
Odetta menarik napas dalam, seolah sedang menyiapkan mental untuk menceritakan sebuah tragedi. "Kensington pernah punya teman dekat, sahabat karib sejak bangku High School. Mereka bertiga—Kensington, pria ini, dan seorang gadis—selalu bersama. Rumor yang kutahu, pria itu sangat mencintai si gadis. Dia melakukan segalanya. Pengorbanan yang gila-gilaan, uang, waktu, bahkan mengabaikan masa depannya sendiri demi mengejar perempuan itu."
Audrey mendengarkan tanpa berkedip. "Lalu?"
"Lalu, bom itu meledak," suara Odetta merendah. "Ternyata, selama ini perempuan itu hanya menggunakan pria tersebut untuk bisa terus berada di dekat Kensington. Gadis itu mencintai Kensington secara obsesif. Dan saat pria itu tahu bahwa pengorbanannya sia-sia karena sahabat yang dia percayai adalah alasan cintanya ditolak... pria itu tidak bisa menanggungnya. Dia bunuh diri, Audrey."
Deg.
Jantung Audrey seolah berhenti berdetak sesaat. Ia membayangkan pemandangan mengerikan itu.
Persahabatan yang hancur oleh cinta segitiga yang tragis. "Jadi... itu alasannya? Itu sebabnya Kensington tidak percaya cinta? Karena dia merasa bersalah atas kematian sahabatnya?"
Odetta mengedikkan bahu, ekspresinya tampak ragu. "Entahlah, aku juga tidak tahu pasti. Banyak yang bilang begitu. Tapi menurutku, itu terlalu sederhana untuk pria serumit Kensington. Maksudku, dia bukan orang yang mudah merasa bersalah, kau lihat sendiri kan betapa dinginnya dia?"
Audrey terdiam. Jawaban Odetta memang luar biasa dramatis, namun ia merasa ada sesuatu yang kurang memuaskan.
Ada potongan puzzle yang hilang. Jika itu hanyalah masalah rasa bersalah, mengapa Kensington harus mengoleksi ribuan novel cinta? Jika dia membenci dampaknya, bukankah seharusnya dia menjauhi segala hal yang berbau romansa?
Cerita Odetta juga tidak Pas dengan latar belakang keluarganya. Keluarga Valerio dikenal sangat harmonis di depan publik.
Mereka memiliki kehangatan keluarga yang luar biasa, dukungan finansial yang tak terbatas, dan citra yang sempurna.
Lalu, mengapa Kensington tumbuh menjadi pria yang sangat benci pada konsep cinta? Apakah tragedi sahabatnya itu hanyalah puncak dari gunung es yang jauh lebih besar di bawah permukaan?
Di sisi lain kota, di dalam kesunyian perpustakaan pribadinya yang megah, Kensington Valerio duduk di kursi kulitnya yang besar.
Di tangannya terdapat sebuah novel baru dengan sampul berwarna pastel yang manis. Ia baru saja mencapai halaman terakhir.
Kensington menutup buku itu dengan gerakan kasar, lalu melemparkannya ke atas meja kayu jati di depannya. Sebuah senyum sinis tersungging di bibirnya yang pucat.
"Lagi-lagi," gumamnya pada kegelapan ruangan.
Novel itu berakhir persis seperti ribuan novel lainnya yang ia baca. Akhir yang bahagia. Setelah serangkaian kekecewaan, setelah pengorbanan yang menguras air mata, setelah pengkhianatan kesetiaan yang menyakitkan, selalu ada kesempatan kedua. Sang pahlawan selalu mendapatkan cintanya, dan dunia kembali menjadi tempat yang penuh pelangi.
Kensington merasa mual. Ia bosan. Benar-benar bosan dengan alur yang seragam.
Baginya, novel-novel ini bukan lagi sebuah hiburan, melainkan bukti kebodohan manusia yang selalu mendambakan kepastian dalam bentuk 'kebahagiaan'.
Sejak halaman pertama, ia sudah bisa menebak kapan sang tokoh utama akan bertemu, kapan konflik akan pecah, dan bagaimana mereka akan berbaikan di bawah guyuran hujan.
Ia memiliki sebuah obsesi yang aneh, sebuah rasa lapar yang tak terpuaskan: ia ingin menemukan sebuah kisah cinta yang tidak bisa ia prediksi. Sebuah alur di mana ia tidak bisa menebak ending-nya.
Inilah alasan sebenarnya mengapa ia terus membaca. Ia mencari sesuatu yang nyata, sesuatu yang tidak mengikuti naskah "kesempatan kedua" yang klise. Namun, pencarian itu selalu nihil. Bukan hanya dalam buku, tapi juga dalam kehidupan nyatanya.
Kensington mengalihkan pandangannya ke arah jendela yang memperlihatkan kerlap-kerlip Los Angeles.
Di sekitarnya, banyak wanita yang datang dan pergi. Wanita-wanita cantik seperti Bianca yang siap melakukan apa saja demi perhatiannya. Namun, masalahnya tetap sama: Kensington bisa menebak mereka semua.
Ia tahu kapan mereka akan mulai merayu, kapan mereka akan mulai menuntut komitmen, dan kapan mereka akan mulai menangis saat ia mengabaikannya. Endingnya selalu bisa ia tebak. Hidupnya terasa seperti film yang sudah ia tonton berulang-ulang kali hingga ia hafal setiap baris dialognya.
Namun kemudian, bayangan seorang gadis dengan kemeja putih rapi dan tatapan mata yang berani muncul di benaknya.
Audrey Hepburn.
Gadis itu tidak gemetar saat menatapnya. Gadis itu tidak memujanya seperti kebanyakan orang. Dan yang paling penting, gadis itu membawa aura "kebenaran" yang sangat kaku, namun di saat yang sama, ia memiliki rasa ingin tahu yang berbahaya.
"Apakah kau akan berakhir sama seperti mereka, Audrey?" bisik Kensington.
Ada sesuatu dalam diri Audrey yang membuatnya sedikit penasaran.
Apakah Audrey akan tetap menjadi gadis yang patuh pada ibunya, atau apakah dia akan pecah menjadi sesuatu yang lain? Kensington ingin tahu, tapi ia juga takut jika ternyata Audrey pun hanya akan menjadi alur yang bisa ia tebak endingnya: seorang mahasiswi hukum yang sukses, menikah dengan pria manis, dan hidup bahagia selamanya dalam delusi cinta yang membosankan.
Kensington bangkit, berjalan menuju rak bukunya, dan mengambil sebuah ruang kosong di antara deretan novel. Ia menyentuh kayu rak itu, seolah-olah sedang menunggu sebuah buku baru yang layak untuk diletakkan di sana. Buku yang ceritanya tidak bisa ia prediksi.
Kembali di ruang laundry, Audrey masih memandangi mesin cucinya yang mulai berhenti berputar.
"Kau tahu, Det," ucap Audrey tiba-tiba. "Aku tidak merasa Kensington membenci cinta karena dia takut pada rasa sakit. Aku merasa dia membencinya karena dia merasa cinta itu... terlalu mudah."
Odetta menaikkan alisnya. "Mudah? Kau bercanda? Orang bunuh diri karena itu!"
"Bukan prosesnya," jelas Audrey, mencoba merumuskan pemikirannya. "Tapi hasilnya. Semua orang menginginkan hasil yang sama. Semua orang berjuang untuk pola yang sama. Mungkin, bagi seseorang yang memiliki segalanya seperti dia, pola yang berulang itu adalah sebuah penghinaan terhadap kecerdasannya."
Odetta menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kau terlalu filosofis, Drey. Sudahlah, ayo angkat jemuranmu. Besok kita ada kelas Hukum Internasional pagi-pagi sekali. Jangan sampai kau gagal hanya karena memikirkan si raja pesta itu."
Audrey tersenyum kecil. Ia mengambil keranjang pakaiannya, namun matanya tetap menatap ke arah jendela, ke arah cahaya kota di mana penthouse Kensington berada.
Teka-teki tentang Kensington Valerio bukan lagi sekadar gosip kampus baginya. Ini telah menjadi sebuah tantangan intelektual.
Mengapa seorang pria yang tumbuh dalam kehangatan keluarga justru menjadi skeptis yang paling pahit? Dan mengapa pria yang mengaku tidak percaya cinta, justru menghabiskan malam-malamnya dengan membaca tentang Cinta?
Audrey berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan tetap fokus pada kuliahnya. Ia tidak akan membiarkan dirinya terjatuh ke dalam orbit Kensington yang berbahaya.
terimakasih berkali² double up.
besuk lagi up nya kak,,,
kesehatannya di jaga
semangat 💪
nunggu kejutan dari kakak cantik 💪
dari pemilihan kata kata bagus, mudah di pahami. Alur kata tidak melibet.
Padahal novel e bagus banget tapii kenapa peminat bacanya sedikit ya
Aku doain ya kak,, semoga novel e bisa banyak yang baca, bisa masuk rank
insha Allah setiap baca, aku kasih kopii. biar nulisnya tambah semangat, dan nggak ngantuk 🤭