NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Kehidupan Kedua: Kali Ini, Aku Yang Mengatur Permainan Mereka

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Pernahkah kamu salah memilih pasangan hingga berujung maut?

Shanaya tewas setelah dipaksa menelan racun. Suaminya, Alvian, dan sepupunya, Anastasia, merampas perusahaannya. Mereka berdua bahkan membunuh ibu Shanaya demi uang.

Mati ternyata bukan akhir bagi Shanaya. Dia terbangun tujuh tahun di masa lalu, tepat tiga hari sebelum acara tunangannya dengan Alvian.

Shanaya menolak mati konyol untuk kedua kalinya. Dia menyusun siasat untuk membalas dendam. Targetnya adalah menghancurkan Alvian dan Anastasia.

Untuk itu Shanaya butuh panggung besar. Dia mengincar Steven Aditya, bos media televisi. Dulu Steven ikut andil dalam kehancurannya. Kali ini, Shanaya akan memaksa pria itu tunduk dan bekerja sama.

Satu kejutan menanti Shanaya. Bukan cuma dia yang kembali ke masa lalu. Ada satu orang lagi yang juga hidup kembali dan mengulang waktu. Siapa orang ini? Apakah dia sekutu yang akan membantu Shanaya, atau musuh yang jauh lebih mematikan?

Baca cerita ini dan temani Shanaya menagih balasa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Manuver

Di kehidupan lalunya, kunjungan mendadak ini adalah awal dari bencana besar. Saat itu, ia sibuk mengurus kekacauan media akibat ulah Anastasia.

Ia membiarkan ibunya sendirian menghadapi manipulasi keluarga Restu. Hasilnya? Tanda tangan Mama Kesuma di atas dokumen persetujuan pengalihan dana cadangan perusahaan.

Kali ini, Shanaya tidak akan membiarkan sejarah berulang.

Langkah Shanaya nyaris tak terdengar saat ia menyusuri lorong panjang menuju ruang teh. Dari balik pintu kayu yang sedikit terbuka, suara isak tangis Nyonya Restu mendominasi ruangan.

"Jeng, tolong bantu Alvian kali ini saja. Anak itu dijebak perempuan murahan itu!" Suara Nyonya Restu bergetar hebat. Sempurna. Penuh penderitaan yang dilatih dengan baik. "Pertunangan dadakan di Ritz bulan lalu itu cuma manipulasi Anastasia. Alvian masih mencintai Shanaya, Jeng. Dia menyesal setengah mati."

Mama Kesuma terdengar menghela napas panjang. "Jeng, anak Anda sudah mempermalukan keluarga kami di televisi nasional. Dan sekarang Jeng datang minta dana cadangan sebesar ini? Saya harus bicara dulu dengan direksi. Terutama dengan Shanaya."

"Jangan, Jeng!" Nyonya Restu memotong cepat. Nadanya panik. "Shanaya sedang emosi. Dia pasti menolak mentah-mentah. Ini murni investasi bisnis, Jeng. Anggap saja Kesuma Group menyuntikkan dana ke Restu Land untuk proyek Thamrin. Begitu dana itu cair, Alvian akan membatalkan pertunangannya hari itu juga. Saya bawa dokumen jaminannya nih."

Tangan Shanaya mendorong pintu kayu itu hingga terbuka lebar. Engselnya berderit pelan.

"Proyek Thamrin sudah mangkrak enam bulan. Restu Land gagal bayar bunga bank bulan lalu. Dan alat berat kalian baru saja ditarik oleh vendor karena tunggakan miliaran rupiah."

Suara Shanaya membelah ruangan. Dingin. Menguliti semua kebohongan dalam hitungan detik.

Nyonya Restu tersentak kaget. Tubuhnya menegang di atas sofa beludru. Tangisannya berhenti seketika, digantikan oleh mata melotot ngeri.

Mama Kesuma ikut berdiri dengan raut wajah terkejut melihat putrinya sudah berada di ambang pintu.

"Shanaya, kamu sudah pulang?" Mama Kesuma mendekat. "Kata asistenmu kamu ada rapat sampai malam."

"Rapatnya bisa menunggu, Ma. Tapi mengusir parasit dari rumah kita tidak bisa ditunda." Shanaya berjalan perlahan mendekati meja teh. Matanya tidak lepas dari wajah Nyonya Restu yang kini memucat.

Di atas meja marmer, tergeletak tiga map tebal berwarna merah. Shanaya mengambil satu. Jemarinya membalik halaman pertama dengan jijik.

"Apa ini? Proposal pinjaman lunak tanpa agunan menggunakan dana cadangan Kesuma Fashion?" Shanaya tertawa pelan. Tawanya terdengar kering dan berbahaya. Ia melempar map itu kembali ke atas meja hingga menimbulkan bunyi tamparan keras. "Kalian menyebut ini sebagai manuver bisnis?"

"Jaga bicaramu, Shanaya." Nyonya Restu mencoba mempertahankan harga dirinya. Dagunya terangkat, meski tangannya sedikit gemetar.

"Alvian bersedia membuang tunangannya demi kembali padamu. Harusnya kamu bersyukur keluarga kita masih bisa bersatu."

"Bersyukur?" Shanaya menyilangkan tangan di depan dada. Kepalanya miring sedikit, menatap wanita tua itu layaknya melihat spesimen hama.

"Kembali padaku setelah dia mengemis dana dari perempuan pemilik rekening cangkang Anastasia? Alvian berdiri diam saat skandal plagiat itu dituduhkan kepadaku, lalu mencari pelampung baru saat perusahaannya hancur. Dan sekarang, Anda datang kemari memeras ibuku dengan janji konyol mengembalikan barang bekas yang sudah kubuang?"

Rahang Nyonya Restu mengeras. Wajah keibuannya luntur tak bersisa. Ia menatap Mama Kesuma, mencari sekutu. "Jeng, lihat anakmu. Dia sudah diracuni media luar. Dia tidak punya empati."

"Ibuku punya terlalu banyak empati. Itu sebabnya pembohong licik seperti keluarga Anda berani masuk ke rumah ini." Shanaya memotong tanpa ampun. Ia menekan tombol interkom di dinding. "Satpam, tolong masuk ke ruang teh sekarang. Ada tamu salah alamat."

"Kamu mengusirku?" Mata Nyonya Restu membelalak.

"Saya mengembalikan Anda ke habitat asli Anda, Tante." Shanaya tersenyum tipis. "Sampaikan salam saya pada Alvian. Katakan padanya, kalau dia butuh uang, dia bisa menjual mobil sport mewahnya. Bukan menggadaikan pertunangan palsunya pada keluarga kami."

Dua satpam berseragam masuk dengan sigap. Nyonya Restu meraup map merahnya dengan kasar. Matanya menyorotkan kebencian murni pada Shanaya. Ia melangkah keluar tanpa mengucapkan selamat tinggal.

Udara di ruang teh perlahan terasa lebih ringan. Bi Inah masuk membawa nampan berisi teh chamomile tepat setelah keributan selesai.

"Maafkan Naya, Ma." Shanaya memutar tubuhnya, menatap ibunya dengan tatapan melembut. "Naya harus bertindak keras. Mereka kehabisan uang tunai. Mama tidak boleh menandatangani kertas apa pun dari keluarga Restu."

Mama Kesuma menghela napas panjang lalu duduk kembali. Tangannya memijat pelipis. "Mama tidak tahu kondisi mereka separah itu. Beraninya dia menggunakan status pertunangan Alvian untuk menekan kita."

"Itu karena mereka ahli menipu." Shanaya duduk di sebelah ibunya. Menepuk punggung tangan wanita itu perlahan. "Naya yang akan urus semuanya. Mama istirahat saja."

Ponsel di dalam saku jas Shanaya mendadak bergetar panjang. Nomor tanpa nama tertera di layar. Shanaya bangkit berdiri, menjauh menuju jendela besar yang menghadap taman belakang. Ia menggeser layar hijau.

"Satu jam dua belas menit." Suara bariton Steven Aditya langsung menyapa telinganya. Dalam, dingin, dan penuh perhitungan. "Waktu yang cukup cepat untuk kembali ke sarang dan mengusir lintah."

Alis Shanaya bertaut. "Kamu menyadap rumahku, Steven?"

"Aku memantau asetku." Terdengar suara ketukan bolpoin di atas meja kayu dari seberang sana. "Kesuma Fashion sedang naik daun berkat skandal Anastasia. Aku tidak akan membiarkan nilai sahamnya anjlok hanya karena ibumu salah memberi sumbangan ke perusahaan mati."

"Mamaku tidak menandatangani apa pun. Aku datang tepat waktu."

"Bagus." Jeda sejenak. Hening mengudara di antara mereka. Suara napas Steven terdengar pelan sebelum pria itu kembali bicara. Nadanya berubah setingkat lebih tajam. "Kamu datang tepat waktu karena diantar oleh supir baru yang punya banyak waktu luang. Fotografer indie itu."

Shanaya memutar bola mata. Emosi pria ini selalu acak. "Rio temanku. Dia kebetulan ada di kantor saat aku mendapat telepon darurat dari rumah. Dan ini bukan urusanmu."

"Semua yang berpotensi merusak konsentrasimu adalah urusanku, Shanaya." Suara Steven turun satu oktaf, berubah menekan. "Pria itu menatapmu layaknya proyek seni. Jaga jarakmu."

"Berhenti mendikte siapa yang boleh mendekatiku. Fokus saja pada pekerjaan kita." Shanaya membalas tidak kalah dingin. Dadanya bergemuruh aneh, tapi ia mengabaikannya.

"Apa yang membuatmu menelepon? Apa sekarang kamu tipe orang yang menelepon hanya untuk membahas siapa yang menyetir mobilku?"

Terdengar hembusan napas kasar dari ujung telepon. Steven kembali ke mode predator bisnisnya. "Alvian bergerak lebih cepat dari perkiraan kita. Gagal membujuk ibumu, dia langsung bermanuver ke titik buta."

Shanaya menegang. Jari tangannya mencengkeram ambang jendela. "Titik buta?"

"Dewan direksi Kesuma Group," jelas Steven. Suaranya mutlak tanpa keraguan. "Seseorang di pihak Alvian membocorkan rekam medis ibumu ke jajaran pemegang saham utama. Mereka bilang ibumu tidak kompeten memimpin karena penyakit jantungnya. Investor panik. Besok pagi, ada rapat darurat dewan direksi."

Darah di tubuh Shanaya mendidih. Alvian benar-benar bermain kotor. Ia menyerang titik paling lemah dari dinasti Kesuma.

"Tiga puluh investor duduk menunggu besok pagi," lanjut Steven.

"Bersiaplah, Shanaya. Perang besok pagi bukan soal desain baju."

1
sukensri hardiati
melihat perubahan drastis sikapnya....mungkinkah steven yg mengulang waktu?
sukensri hardiati
jiwa maling dan nggak punya malu anastasia dah mendarah daging....kebentus2 masalah nggak kapok2 juga...
gina altira
Rasakannn
gina altira
Gila, ini duo monster
gina altira
Bikin emosi ni Anastasia
sukensri hardiati
dari shanaya pindah ke sabrina...trus ke shanaya lagi....makasiiih....
sukensri hardiati: Sami2 👍💪🙏
total 2 replies
sukensri hardiati
tambah rameee....
sukensri hardiati
waduuuuh....
sukensri hardiati
bodoh banget yg mau kerja sama ama anastasia....dah ketahuan dua kali jadi plagiator
gina altira
Konflik nya makin seruu, 👍
gina altira
Shanaya kuat
tutiana
luar biasa
sukensri hardiati
cepet up ya....pingin tahu cara steven keluar dr jeratan masalahnya
sukensri hardiati
ayah shanaya dah meninggal ya...
sukensri hardiati
lama juga tunangannya...tujuh tahun..
sukensri hardiati: 🙏💪👍 ok....dah klir
total 3 replies
gina altira
Steven perhatian juga
Titi Liana
suka
tutiana
sm seperti bab sebelumnya Thor ?
INeeTha: Makasih kak🙏🙏
total 4 replies
gina altira
greget bgt sama Alvian
INeeTha
Makasih buat semua yang sudah mampir, semoga suka dan baca sampai tamat lagi ya 🙏🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!