Selama dua tahun, Elara Vasiliev bekerja sebagai ART di rumah keluarga Moretti. Diam, patuh, dan selalu menerima hinaan, ia dianggap hanya wanita miskin yang tak punya harga diri. Tidak seorang pun tahu bahwa Elara menyimpan rahasia besar tentang jati dirinya.
Saat Madam Seraphina Moretti menuduhnya mencuri kalung berlian dan mengusirnya di depan semua orang, deretan mobil mewah tiba di depan gerbang mansion keluarga itu. Seorang pria tua turun, membungkuk hormat, lalu berkata,
“Nona Elara, Tuan Octavian menjemput Anda. Seluruh Vasiliev Group menunggu pewaris sahnya.”
Keluarga Moretti seketika pucat. Wanita yang selama ini mereka hina ternyata cucu tunggal pemilik kerajaan bisnis terbesar di Eropa.
Kini Elara kembali… bukan sebagai pelayan, melainkan wanita berkuasa yang siap membuat semua orang yang meremehkannya menyesal. Namun di tengah balas dendamnya, Damian Moretti—pria dingin yang dulu tak pernah membelanya—mulai mengejar cinta yang telah ia sia-siakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ThiaSulaiman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29.Elara Muncul dengan Identitas Baru
Malam kota berkilau seperti lautan cahaya.
Deretan mobil mewah mulai memenuhi halaman depan Imperial Palace Hotel, tempat gala tahunan paling bergengsi diadakan.
Lampu kamera berkedip tanpa henti.
Nama-nama besar dunia bisnis berdatangan satu per satu.
Dan di antara keramaian itu…
semua orang sedang menunggu satu sosok.
Elara Vasiliev.
“Media sudah penuh rumor tentang dia.”
“Aku dengar dia benar-benar mengubah Vasiliev Group.”
“Dan aku dengar keluarga Moretti juga hadir malam ini.”
“Kalau begitu… ini bakal jadi perang dingin paling mahal tahun ini.”
Para wartawan berdiri di balik pagar pembatas sambil terus bersiap dengan kamera mereka.
Tak sedikit yang bahkan rela datang lebih awal hanya untuk mendapatkan satu foto.
Karena beberapa bulan terakhir…
nama Elara berubah menjadi pusat perhatian seluruh kota.
Sementara itu, di dalam salah satu suite pribadi hotel, suasana jauh lebih tenang.
Irina sedang membantu merapikan gaun hitam panjang yang dikenakan Elara.
Gaun itu sederhana.
Tanpa detail berlebihan.
Namun potongannya begitu elegan sampai membuat aura Elara terlihat berbeda sepenuhnya.
Dingin.
Mahal.
Tak tersentuh.
Irina menatap pantulan Elara di cermin lalu tersenyum kecil.
“Nona benar-benar terlihat seperti pewaris keluarga besar.”
Elara memasang anting perlahan.
“Aku memang pewaris keluarga besar.”
Jawabannya tenang.
Namun cukup membuat Irina tertawa kecil.
“Benar.”
Elara berdiri dari kursi rias.
Tatapannya jatuh pada bayangan dirinya di cermin besar.
Dan untuk sesaat…
ia terdiam.
Karena wanita di depannya terasa sangat jauh dari dirinya yang dulu.
Dulu…
ia sering berdiri di dapur mansion Moretti memakai pakaian sederhana.
Mengikat rambut asal.
Berusaha memastikan semua orang nyaman.
Berusaha menjadi “cukup”.
Namun sekarang?
Ia berdiri di salah satu hotel termewah kota.
Menjadi pusat perhatian dunia bisnis.
Dan ironisnya…
semua itu baru terjadi setelah hidupnya dihancurkan.
“Elara.”
Suara Viktor terdengar dari belakang.
“Sudah waktunya.”
Elara mengangguk pelan.
Namun sebelum melangkah keluar, Irina tiba-tiba berkata lembut,
“Malam ini semua orang akan melihat Anda.”
Elara tersenyum tipis.
“Biarkan mereka melihat.”
Tatapannya perlahan berubah tajam.
“Karena kali ini…”
ia mengambil clutch hitamnya,
“…aku tidak datang sebagai orang yang akan diinjak lagi.”
Di ballroom utama, acara mulai ramai.
Para tamu elit berdiri sambil menikmati musik klasik dan champagne mahal.
Gaun-gaun mewah memenuhi ruangan.
Tuxedo hitam berkilau di bawah lampu kristal.
Namun meski semuanya terlihat sempurna…
orang-orang tetap terus melirik pintu masuk.
Menunggu.
Selene berdiri di dekat tangga ballroom dalam gaun merah menyala.
Ia terlihat cantik.
Sangat cantik.
Dan biasanya itu sudah cukup membuat semua perhatian tertuju padanya.
Namun malam ini berbeda.
Karena bahkan saat ia lewat—
orang-orang masih sibuk membicarakan nama lain.
“Elara benar-benar akan datang?”
“Aku penasaran seperti apa dia sekarang.”
“Damian pasti menyesal setengah mati.”
Mendengar itu, rahang Selene langsung mengeras.
Seraphina yang berdiri di sampingnya ikut memperhatikan sekitar dengan wajah dingin.
Ia bisa merasakan perubahan suasana.
Dulu orang-orang selalu mendekati keluarga Moretti terlebih dahulu.
Sekarang?
Mereka justru sibuk menunggu wanita yang dulu pernah mereka hina bersama-sama.
Dan itu membuat harga dirinya terasa seperti disayat perlahan.
Damian sendiri berdiri di dekat balkon ballroom.
Tuxedo hitam membuatnya terlihat tenang dan elegan seperti biasa.
Namun malam itu, ada sesuatu yang berbeda di matanya.
Kegelisahan.
Dan harapan kecil yang bahkan ia sendiri tidak ingin akui.
“Aku tidak pernah lihat kau sesering itu melihat pintu masuk.”
Cassian muncul di sampingnya sambil membawa wine.
Damian tidak menoleh.
“Jangan mulai.”
Cassian tersenyum tipis.
“Kenapa? Gugup?”
Damian akhirnya menatapnya dingin.
“Bukankah kau terlalu tertarik pada urusanku?”
Cassian terkekeh pelan.
“Tidak.”
Tatapannya bergerak ke arah pintu ballroom.
“Aku hanya penasaran…”
sudut bibirnya terangkat tipis,
“…seperti apa wajah pria yang kehilangan sesuatu paling berharga dalam hidupnya.”
Damian tidak menjawab.
Karena untuk pertama kalinya…
ia takut Cassian benar.
Lampu ballroom perlahan meredup sedikit.
Musik orkestra berubah lebih pelan.
Dan tepat ketika pintu utama terbuka—
seluruh ruangan langsung sunyi.
Benar-benar sunyi.
Semua mata menoleh ke arah yang sama.
Para wartawan di luar langsung berebut maju.
Flash kamera menyala tanpa henti.
Dan di tengah cahaya itu…
Elara muncul.
Gaun hitam panjangnya bergerak lembut mengikuti langkahnya.
Rambut hitam bergelombang jatuh elegan di bahunya.
Make-up tipis justru membuat wajahnya terlihat semakin mahal.
Kalung berlian sederhana menghiasi lehernya.
Tidak berlebihan.
Namun cukup untuk membuat semua orang sulit mengalihkan pandangan.
Ia berjalan perlahan memasuki ballroom bersama Viktor.
Dan entah kenapa…
seluruh ruangan terasa berubah.
“Itu… Elara?”
“Ya Tuhan.”
“Dia benar-benar berbeda.”
“Tidak…”
seorang sosialita berbisik pelan,
“…dia seperti orang yang memang dilahirkan untuk dunia ini.”
Tatapan Damian langsung membeku.
Dunia di sekitarnya seperti menghilang sesaat.
Karena wanita yang berjalan masuk malam itu…
tidak lagi terlihat seperti seseorang yang dulu meminta diterima.
Kini Elara terlihat seperti seseorang yang bahkan tidak membutuhkan pengakuan siapa pun.
Dan justru itu membuatnya jauh lebih sulit dilupakan.
Selene langsung menegang.
Tangannya mengepal di sisi tubuh.
Matanya penuh kebencian saat melihat semua orang mulai memperhatikan Elara.
Bahkan beberapa pria yang tadi berbicara dengannya kini ikut menoleh ke arah wanita itu.
Dan itu menghancurkan harga dirinya perlahan.
“Elara Vasiliev…”
Seorang investor senior langsung berjalan menghampiri dengan senyum lebar.
“Saya sudah lama ingin bertemu Anda.”
Elara menjabat tangannya sopan.
“Senang bertemu Anda juga.”
“Anda jauh lebih muda dari yang saya bayangkan.”
“Dan Anda terdengar lebih ramah dibanding artikel media.”
Jawaban itu langsung membuat investor tersebut tertawa.
Cerdas.
Tenang.
Elegant.
Tidak heran orang-orang mulai menyukainya.
Sementara itu, Seraphina memperhatikan semua itu dengan tatapan dingin.
Dan semakin lama ia melihat—
semakin besar rasa tidak nyaman di dadanya.
Karena malam ini…
Elara tidak datang sebagai korban.
Ia datang sebagai ancaman.
“Elara.”
Suara rendah Damian akhirnya terdengar di dekatnya.
Elara perlahan menoleh.
Dan tepat saat mata mereka bertemu—
seluruh ballroom seperti kembali menahan napas.
Damian berjalan mendekat perlahan.
Tatapannya tak lepas dari wajah Elara.
“Aku hampir tidak mengenalimu.”
Elara tersenyum tipis.
“Mungkin karena dulu kau tidak benar-benar melihatku.”
Kalimat itu menghantam Damian telak.
Namun ia tetap tersenyum kecil pahit.
“Masih marah?”
“Elara mengangkat alis.”
“Menurutmu?”
Sebelum suasana berubah semakin tegang, suara tepuk tangan kecil terdengar dari belakang.
Cassian.
Pria itu muncul sambil tersenyum santai.
“Akhirnya bintang utama datang juga.”
Tatapannya bergerak pada Elara penuh arti.
“Dan seperti biasa…”
senyumnya melebar sedikit,
“…kau berhasil membuat satu ruangan kehilangan kemampuan bernapas.”
Beberapa sosialita langsung berbisik heboh.
Karena Cassian terkenal sulit tertarik pada siapa pun.
Namun malam ini…
jelas sekali pria itu terlalu memperhatikan Elara.
Damian langsung memasang wajah dingin.
Sementara Cassian justru terlihat semakin menikmati situasi.
“Elara.”
Seorang wanita tua anggota keluarga bangsawan Eropa mendekat.
“Ayahmu pasti bangga melihatmu malam ini.”
Untuk pertama kalinya malam itu…
ekspresi Elara sedikit berubah.
Lembut.
Hanya sepersekian detik.
Namun Damian melihatnya.
Dan dadanya terasa semakin sesak.
Karena ternyata…
selama ini ia benar-benar tidak tahu banyak tentang wanita yang pernah berdiri di sampingnya.
Tak lama kemudian, pembawa acara mulai naik ke panggung.
Lampu ballroom kembali meredup.
Semua tamu perlahan menghadap ke depan.
Namun bahkan di tengah ruangan sebesar itu…
mata orang-orang masih terus jatuh pada Elara.
“Selamat malam para tamu terhormat.”
Suara pembawa acara menggema elegan.
“Malam ini kita merayakan para tokoh yang membawa perubahan besar dalam dunia bisnis internasional.”
Tepuk tangan terdengar pelan.
Dan beberapa detik kemudian—
nama yang disebut pertama langsung membuat seluruh ruangan kembali gempar.
“Nona Elara Vasiliev.”
Flash kamera kembali menyala liar.
Dan Elara berdiri perlahan.
Tenang.
Anggun.
Tak sedikit pun terlihat gugup.
Pembawa acara tersenyum lebar.
“Wanita muda yang dalam waktu singkat berhasil mengubah arah Vasiliev Group…”
ia menatap Elara kagum,
“…dan menjadi simbol generasi baru dunia bisnis.”
Tepuk tangan menggema memenuhi ballroom.
Namun di antara semua tepuk tangan itu—
ada dua orang yang diam.
Selene.
Dan Seraphina.
Karena malam itu…
mereka akhirnya sadar satu hal yang paling menyakitkan:
Wanita yang dulu mereka hina…
sudah kembali dengan identitas baru.
Dan kali ini—
seluruh dunia berdiri di pihaknya.
tu nnek lmpir blm kapok jg rupanya,stlh dlu ftnah elara skrng pun mlkukn hal yg sma....tp syangnya dia bkln apes kali ni....tnggu aja blasannya....
biarlh wktu yg mmbuktikn sglanya,kl dia bnr2 mmpu jd pmimpin.....smngtttt....
jd pnsran....sbnrnya elara ada prsaan ga y sm damian????mskpn dia psti kcewa sih sm skpnya dlu yg sllu diam,tp htinya spa yg tau.....
kl udh tau spa dia sbnrnya,bru mrsa brslah dn mnyesal....dlu kmna aja wooyyyyy.... 🙄🙄🙄