Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aku menginginkannya
"Kau tak merindukanku?"
Hana diam menatap manik tajam tersebut.
"Aku merindukanmu, Hana."
"Boleh aku memelukmu sebentar?"
Hana tetap diam membisu, dirinya enggan memberi jawaban yang nantinya akan berujung memberi harapan.
"Hari ini aku berulang tahun, aku ingin sebuah pelukan."
Seketika Hana merasa bersalah, ia perlahan mendekat dan memeluk tubuh besar itu dengan canggung.
"Selamat ulang tahun, tuan Luca." Luca membalas pelukan dengan hangat.
"Tolong jangan lepaskan dulu. Begini sebentar saja."
Hana diam membiarkan Luca memeluknya, tak dipungkiri pelukan dari pria yang ia tolak berkali-kali ini sangat hangat dan nyaman.
Hatinya merasa terharu ketika merasakan pelukan dari pria. Dirinya sejak kecil tak pernah mendapatkan kasih sayang dari seorang ayah membuat pertahanannya runtuh seketika.
Luca merasa bajunya basah dan tubuh gadis yang ia peluk bergetar.
Pria itu yakin Hana sedang menangis, meskipun dirinya bertanya-tanya, namun ia memilih diam dan mengusap pelan punggung rapuh tersebut.
"Maaf, saya membuat basah baju anda, tuan."
Suaranya serak akibat terlalu lama menangis. Ia melerai pelukan dan menghapus air matanya.
"Tak apa. Apa hidupmu begitu sulit, Hana?" Ada perasaan nyeri yang menusuk hatinya ketika kata-kata itu dilontarkan.
"Apakah ada orang yang tak mengalami kesulitan, tuan?"
Luca pun mengalami kesulitan ketika dirinya menghadapi kematian sang ibu. Dirinya seperti kehilangan arah.
"Kau akan bahagia, Hana. Jika menikah denganku."
"Kenapa seperti itu?"
"Kau tak akan kesulitan lagi."
"Hidup saya tidak kesulitan lagi sejak ikut bersama anda. Saya bersyukur, terima kasih tuan."
"Kenapa kau menolakku?"
Hana mengerjap mata menatap wajah tampan dengan manik tajam itu.
"Kau meragukan kemampuanku?"
"Tidak. Anda hebat. Sangat hebat, saya berharap anda bisa bersanding dengan wanita yang juga hebat."
"Aku menginginkanmu. Bukan wanita lain."
Gadis itu tak tahu harus menjawab apa.
"Kau akan bahagia jika menikah denganku."
"Kenapa?"
"Aku kaya."
"Apa kebahagiaan bisa dibeli dengan kekayaan?"
"Tentu. Kau jangan naif tentang hidupmu."
Hana diam. Ia tak tahu harus bagaimana lagi untuk menolak pria ini.
Luca beranjak menuju sofa dan hendak meminum susu.
Hana tersadar akan sesuatu.
"Tunggu!"
"Ada apa?"
"Susunya pasti sudah dingin. Saya akan membuatkannya lagi."
"Tidak perlu. Kemarilah, duduk di sini." Luca menepuk sofa di sisinya lalu menegak habis susu dalam gelas.
Hana menurut.
"Ceritakan apa saja yang kau lakukan saat aku tak ada."
Hana menatap manik hitam yang sedang menatapnya
"Aku ingin mendengarnya langsung darimu."
Luca memang memasang CCTV dan menyuruh pengawalnya mengawasi gerak-gerik Hana, dan gadis itu mengetahuinya.
"Anda akan bosan mendengarnya."
"Tidak, aku akan bosan jika tak mendengar suaramu."
Luca merentangkan tangannya di sandaran sofa, tubuhnya ia buat rileks dengan menyender.
"Hana, kenapa kau diam?"
"Saya bingung harus memulai dari mana."
Ia memainkan jemarinya.
"Kau mengantuk?"
Hana mengangguk.
"Kalau begitu tidurlah di sini."
Hana menatap horor Luca.
"Apa kau pernah ku perkosa?"
Hana menggeleng. Pria itu bahkan tak pernah bertindak macam-macam saat dirinya menemani di kamar. Justru Hana sendirilah yang terkadang tak sadar melewati batas.
Oh tidak. Hana melupakan peristiwa saat ia masih kost. Ciuman pertamanya.
"Lalu apa yang kau takutkan? Kau sudah terbiasa tertidur di kamarku."
"Saya ingin tidur di kamar saya, tuan."
"Ingin kutemani? Ini masih hari ulang tahunku, aku sedang bersikap baik padamu."
"Maaf tuan, saya ingin sendiri. Permisi."
Luca memegang tangan Hana dan menariknya ketika gadis itu akan beranjak pergi. Sontak tubuh Hana jatuh membentur dada bidang Luca.
"A-astaga, tuan."
"Tak bisakah kau menerimaku? Sungguh, kau membuatku gila, Hana." Suara dingin dan rendah Luca membuat Hana membalas tatapan manik tajam tersebut.
"Jangan seperti ini, tuan. Ini tidak baik."
"Ayo menikah."
Hana mengerjap beberapa kali. Ya, mungkin sudah puluhan kali Luca mengajaknya menikah, ia tak habis pikir pria ini belum menyerah.
"Maaf, saya tidak mau."
Ia ingin beranjak namun Luca menahan tubuhnya.
"Apa yang kau pikirkan tentangku, Hana?"
"Tidakkah kau luluh dengan permohonanku yang sudah tak terhitung ini?"
"Apa kau masih suka berkeliaran di antara para pria?"
Luca memberikan sedikit tekanan pada cengkramannya di tangan Hana. Gadis itu meringis masam.
"Lepas.."
"Kau takut padaku, hm?"
Hana menggeleng pelan.
"Saya tidak takut pada siapapun. Anda bukan Tuhan." matanya menatap tajam Luca
"Kau menyukaiku, kan? Kau mengakui aku tampan. Lalu, kenapa kau tidak menerimaku saja?"
Hana bingung, kapan dirinya mengakui Luca tampan? Apa pria ini sedang mengigau?
"Anda memang kaya, tapi tingkat kepercayaan diri anda jangan terlalu banyak. Itu memalukan."
Sungguh, Luca semakin berang terhadap gadis ini. Rasanya ingin dia sekap dan takkan ia biarkan melihat matahari lagi.
"Keluar." Luca menghempaskan tangan Hana, gadis itu segera pergi dari kamar majikannya.
"Shit!!" Luca meremas rambutnya dengan kasar. Ia frustasi karena tak bisa mendapatkan Hana seutuhnya. Dirinya mengira Hana bisa dengan mudah ia dapatkan ketika satu atap. Ternyata penilaiannya salah.
Pria itu tetap terjaga, bayangan tubuh polos Hana sejak hari itu selalu menari-nari di ingatan. Membuat Luca panas-dingin.
Ia masih berpikir waras untuk tidak memperkosa gadis itu. Luca ingin kegiatan panas tersebut atas kerelaan Hana sendiri.
Seperti yang sudah-sudah. Jika setelah penolakan Hana yang diterima oleh Luca, maka pria itu akan bersikap dingin keesokan harinya. Hana sudah terbiasa.
"Kau ini bagaimana mengepelnya? Ini masih kotor! Lihat masih ada noda!" Kepala kebersihan sedang mengomel pada Hana yang pagi itu bekerja.
"Maaf, saya akan bersihkan lagi."
"Tentu saja kau harus bersihkan. Jangan membuatku melihat hal seperti ini lagi, paham?"
"Iya, Pak."
Gadis itu segera mengulang pekerjaannya. Ini bukan pertama kalinya dirinya mendapat omelan. Hana tahu ini ulah karyawan yang tak menyukainya saat dirinya ke toilet tadi.
Mereka dengan sengaja menyiram air pelan yang kotor kembali ke lantai.
"Kau tak apa-apa?"
"Tidak. Aku akan menyelesaikan ini."
"Ya, aku pergi dulu."
Yumna meninggalkan Hana yang kembali mengepel area yang sudah mereka bersihkan tadi.
Jam istirahat Hana memilih duduk di taman yang ada di area belakang gedung. Ia melepas sepatunya. Memperhatikan kakinya yang memerah karena sedikit lecet akibat ukuran sepatu yang sudah kekecilan.
Dalam diam ia merenungkan hidupnya. Tak dipungkiri hidupnya yang sekarang lebih nyaman walaupun ia memiliki hutang yang lebih besar.
Hana juga bersyukur, ia tak jadi menjual dirinya untuk melunasi hutang. Tubuhnya seketika merinding membayangkan jika hal itu menjadi kenyataan.
"Hana, kau langsung pulang?" panggilan Yumna membuat gadis itu menoleh ke belakang. Dirinya sudah berganti pakaian bersiap untuk keluar gedung.
"Ya. Ada apa Yumna?"
"Aku ingin mengajakmu ke cafe yang ada di depan. Mereka baru buka kemarin."
"Ah.. Maaf, aku tidak bisa."
Raut wajah Yumna terlihat murung namun seperkian detik berubah cerah.
"Baiklah, mungkin lain waktu kita bisa bersantai."
Hana mengangguk.
"Ayo kita turun." Yumna merangkul Hana menuju pintu keluar.
Hana memencet password pintu apartemen Luca, tampaknya pria itu belum pulang.
Dirinya segera mengerjakan pekerjaan yang sudah menunggunya, yaitu memasak makan malam. Karena biasanya, sebentar lagi majikannya akan pulang.