Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Siang hari dengan panas yang terik, tepat pukul dua belas.
Melina baru saja pulang, namun kali ini dirinya menggunakan supir yang di suruh mertuanya.
Di rumah Ganendra langit tampak mendung kelabu, seolah menyerap panas teriknya matahari.
Langkah Melina masuk ke dalam rumah setelah turun dari mobil, tak lupa gadis itu mengucapkan terimakasih kepada sang supir.
"Makasih ya Pak," ucap Melina tulus.
"Iya sama-sama non," jawab sang supir.
Melina melangkah masuk, dirinya bernapas lega karena sudah dua hari Ihsan tak pulang.
Hal yang membuat Melina bernapas lega, karena semenjak kejadian kemarin lusa dirinya menjadi takut kepada sang suami.
Pemukulan dan semua yang dilakukan Ihsan padanya sudah mampu menoreh trauma pada Melina.
Meski begitu Melina mencoba mengulas senyum saat melihat sosok ibu mertuanya di ruang tamu, tangannya Adisti sedang merajut.
Ruang tamu.
Di ruang tamu lantai marmer yang berkilau memantulkan cahaya dari lampu gantung kristal yang megah di tengah ruangan.
Sofa yang terbuat dari beludru berwarna coklat susu yang empuk tertata dengan tampilan estetika.
Tak lupa mengelilingi sebuah meja kayu jati yang di pelitur halus, dengan design ternama.
Jendela-jendela besar di belakang sofa memperlihatkan pemandangan taman dengan hiasan pohon hijau.
Suasana kota Jakarta sedang mendung, tak lama suara rintik-rintik hujan turun.
Cuaca sedang tak menentu, kadang panas sekali lalu mendung dan tiba-tiba turun hujan.
Ini menyebabkan banyak yang sakit.
Di ruang tamu.
Adisti tengah duduk di sofa beludru itu dengan santainya.
Wanita itu dengan elegan mengenakan gaun berwarna hijau zamrud yang elegan, sangat senada dengan warna kesukaannya hijau.
Rambutnya yang sedikit pirang, dan ikal di bagian bawah jatuh dengan indah sampai bahu.
Tangannya tengah memegang jarum rajut yang menari lincah selayaknya penari balet.
Melina melihat itu menyapa ibu mertuanya.
"Assalamualaikum Mah," ujar Melina.
"Wallaikumsalam, eh Mel udah pulang."
"Iya Mah," jawab Melina.
"Bentar mah, Mel cuci tangan ama bersihin muka dulu nanti salim sekalian bantu mama merajut," lanjut Melina.
"Oh oke," sahut Melina.
Tak berselang lama.
Setelah membersihkan wajah dan mencuci tangan, Melina menuruni anak tangga dan berjalan mendekat dengan langkah ragu ke ibu mertuanya.
Melina hari ini mengenakan kaos berwarna merah muda dengan garis-garis horizontal warna biru, dan celana kulot warna hijau pucat.
"Mah, sini aku bantuin?" ucap Melina dengan nada lembut.
Adisti langsung mendongak dan tersenyum tulus.
"Oh, Melina. Tentu sayang, sini duduk di sebelah mama."
Melina pun duduk di sofa dan tersenyum, hal yang membuat Adisti kaget----ternyata Melina memliki keahlian dalam merajut dengan indah.
Tangan gadis berusia 19 tahun itu dengan cekatan mengambil gulungan benang dan mulai merajut syal.
Jari-jarinya bergerak sangat terampil, menciptakan barisan jahitan yang sempurna.
Adisti menatap menantunya dan berhenti sejenak, memperhatikan gerakan tangan Melina dengan seksama.
Senyum manis penuh rasa kagum terpancar dari wajah wanita paruh baya itu.
"Melina, mama nggak tahu kamu bisa merajut," ucap Adisti tersenyum.
"Nggak nyangka bisa merajut, bagus lagi hasilnya, bahkan rapi begini," puji Adisti dengan nada kagum yang tulus.
Melina tersenyum ke arah ibu mertuanya, dan matanya kembali merajut dengan pipi sedikit merona.
"Terima kasih, Mah. Dulu di panti, kami sering membuat kerajinan tangan untuk dijual, jadi Mel terbiasa."
Momen sederhana di bawah kerlip lampu kristal terasa sangat hangat bagi Melina, di rumah ini Melina bisa merasakan langsung kasih sayang seorang ibu.
Karena sejak kecil Melina hanya merasakan kasih sayang dari Bunda Pipin, yang menjadi ibu panti asuhan.
Dengan kehadiran Adisti---Melina seolah tak mau tahu lagi keberadaan ibu kandungnya.
Senyum keceriaan di wajah Melina terbit saat sang suami tak di sini, sungguh takut Melina jika berhadapan dengan suaminya.
"Mama coba bikin baju bayi yaa," ucap Adisti dengan tersenyum.
"Baju bayi, emang mama mau ngasih buat siapa?" tanya Melina dengan terkekeh.
"Ya buat kamu ama Ihsan, mama pengen loh gendong cucu...," ujar Adisti dengan lirih.
Tangan Melina hampir tertusuk jarum rajut, mendengar penuturan dari Melina.
Hal yang tak mungkin terjadi mengingat Ihsan sangat jijik jika menyentuhnya, jalankan menyentuh di dekati saja Ihsan akan berteriak.
Bahkan Adisti tak tahu jika putranya tengah melakukan KDRT kepada menantunya, tapi Melina merasa bersyukur dengan kehadiran ibu mertua yang mau menerimanya.
Adisti---sosok ibu yang mau menerima Melina dan secara pribadi gadis ini amat menaruh hormat pada Adisti.
Ibu mertua yang hadir menjadi pelipur lara yang sangat berarti.
"Gimana malam pengantin kamu?" tanya Adisti dengan tangan yang masih merajut.
Melina menghela napas, dan masih sibuk merajut.
"Baik-baik aja kok Mah, Mas Ishan juga baik," ucap Melina berbohong.
"Tapi kenapa mama waktu itu tak mendengar suara desahan dan tak ada darah perawan?" tanya Adisti dengan penuh selidik.
Kali ini Melina merasa terpojok, dirinya menelan salivanya dan berpikir alasan apalagi yang harus di berikan kepada mertuanya.
"Mas...Mas Ishan bilang aku fokus saja kuliahku Mah," jawab Melina.
"Mas Ishan juga nggak mau kalo aku hamil dulu," lanjut Melina berbohong.
Mendengar penuturan menantunya, Adisti langsung memasang wajah masam.
"Nanti mama ngomong ama Ishan soal kehamilan kamu!" titahnya.
"Mah...jangan kata Mas Ishan takut kuliah aku ke ganggu," jawab Melina.
"Nanti mama sewa baby sitter! Kamu nggak usah khawatir!" ucapnya dengan tegas.
Melina yang mendengar itu langsung panas dingin, mukanya pucat susah payah menelan salivanya.
"Ishan nanti abis pulang Syuting! Mama yang ngomong sama dia! Udah nunggu cucu perdana malah di tunda!" ungkap Adisti dengan jengkel.
Melina tak bisa berbuat banyak, karena posisinya disini yang paling lemah.
"Ya allah apa yang harus hamba lakukan, semoga nanti hamba nggak di semprot lagi ama Mas Ishan," batin Melina yang sudah ketakutan.
Hari ini Melina gadis yang berusia sembilan belas tahun, di paksa harus memiliki anak oleh mertuanya.
Padahal dirinya masih kuliah dan masih butuh fokus untuk kuliah, bukan memiliki anak.
Beasiswa sudah di cabut, jika keinginan Adisti tak di turuti maka dirinya tak akan bisa kuliah lagi yang menjadi impiannya.
*
*
*
*
*
*
*
*
*