NovelToon NovelToon
Finding True Love

Finding True Love

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Hamil di luar nikah / Pembantu / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:9.4k
Nilai: 5
Nama Author: Aldiantt

Berawal dari niatan membantu sang kekasih mencari uang tambahan melamar, Alina justru harus kehilangan kehormatannya.

Ya, gadis itu terlalu mencintai kekasihnya. Sampai-sampai ia rela ikut menanggung beban yang harusnya bukan menjadi tanggung jawabnya. Sebuah pengorbanan untuk pria yang salah, yang atas kuasa Tuhan justru membawanya menemukan cinta yang benar.

Apa yang terjadi padanya?
Baca selengkapnya hingga selesai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aldiantt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Janjian

Hari berganti hari. Sejak peristiwa sakit perut dan ikrar baikan yang sudah mereka sepakati, kiam hari hubungan antara Vincent dan Alina pun semakin membaik. Komunikasi mereka semakin membaik. Intensitas pertemuan mereka juga semakin sering. Jika biasanya mereka hanya bertemu seminggu sekali atau bahkan lebih, kini hampir tiap hari Vincent menyempatkan diri mampir ke apartemen yang Alina tempati. Sekedar duduk, nonton film sambil makan cemilan lalu ngobrol santai. Sebuah hal sederhana yang tanpa mereka sadari jadi kebiasaan yang membuat mereka makin dekat.

"Ada fim baru di Net****" tulis Alina dalam sebuah pesan singkat.

Vincent yang tengah berada di kantor nampak mengulum senyum.

"Siapkan camilan mu. Pulang kerja aku mampir!" jawabnya.

"Mau beli aja atau aku buatin?"

"Kamu bikin. Nanti aku beli juga. Makin banyak makin seru!"

Alina mengulum senyum di seberang sana. "Oke! Nanti aku bikinin camilan buat kamu," ucapnya.

Vincent melengkungkan senyuman. "Kamu mau dibeliin apa?"

"Emm...apa, ya...aku lagi pengen...burger, kue coklat, puding keju...sama apa lagi, ya...."

Vincent terkekeh. "Ini ngidam apa doyan?"

Alina tertawa di ujung sana.

"Nanti aku cariin semua yang kamu suka. Tapi jangan terlalu banyak makan manis, ya. Nggak baik buat ibu hamil," ucap laki-laki itu.

"Okey! Makasih, ya!" Jawab Alina.

Suasana hening sejenak. Vincent yang memang tengah berada di kantor itu nampak sesekali menggerakkan kursor nya. Mengecek laporan kerja para karyawannya.

"Emm... Vincent, aku boleh minta izin?" tanya Alina kemudian.

"Izin apa?" tanya laki-laki itu.

"Aku boleh turun sore ini?" tanya wanita itu.

"Mau ngapain?" tanya Vincent.

"Pengen turun aja. Pengen lihat suasana di luar kalau sore. Ke depan aja, kok. Nggak jauh-jauh," ucap wanita itu.

Vincent menghela nafas panjang. Sebenarnya ia sangsi. Semenjak kejadian sakit perut itu, Vincent memang sedikit melonggarkan peraturan untuk Alina. Gadis itu di izinkan keluar apartemen asal tak terlalu jauh. Biasanya ada dirinya atau Bi Siti yang menemani, tapi berhubung hari ini Bi Siti libur, otomatis Alina tak punya teman untuk jalan-jalan.

"Boleh, ya? Bentar, kok. Atau kalau enggak nanti aku turun pas kamu udah mau nyampe, deh. Anggap aja aku nyambut kamu pulang. Boleh?"

Vincent menghela nafas panjang. Semenjak ia dan Alina baikan, semenjak mereka mulai mencoba mendekat dan mengenal satu sama lain, semenjak itu pula gadis itu terlihat lucu dan menyenangkan di mata Vincent. Ia yang semula seperti tak punya teman kini mulai menata kembali hidupnya dengan cara berteman baik dengan Alina.

Bukan perasaan yang lebih. Hanya sebatas ingin menjadi teman. Mengingat baik ia maupun Alina pada dasarnya adalah dua anak manusia yang sama sama kesepian. Alina dibuang keluarganya, sedangkan Vincent memang dari dulu tak punya banyak kawan. Lengkap, kan?

"Okey. Aku izinkan kamu turun. Tapi jangan jauh-jauh dari apartemen. Sore itu lalu lintas padat karena bertepatan dengan jam pulang kantor," ucap Vincent.

"Iya, iya! Nggak akan jauh-jauh, kok!" ucapnya.

"Ya, udah. Kalau gitu aku matiin dulu, ya, telponnya. Aku masih banyak kerjaan," ucap Vincent.

"Okey! Selamat sibuk. Kalau istirahat, ya!"

Sebuah kalimat bernada bercanda namun terdengar manis di telinga Vincent. Laki-laki itu mengulum senyum dengan satu telapak tangan mengusap area mulutnya.

"Okey," jawabnya singkat dibarengi dengan wajah merah merona.

Sambungan telepon pun terputus. Vincent meletakkan ponselnya di samping laptop sambil menggelengkan kepalanya. Dasar gadis kampung. Lucu sekali!

.......

Sementara di apartemen.

Alina yang tengah rebahan di sofa itu nampak memainkan ponselnya. Ia mulai mencari resep dan ide camilan untuk dibuat. Lebih baik ia membuatnya sekarang. Agar nanti sore ia bisa turun untuk cari angin. Toh, Vincent mengizinkan.

Ting...

Satu pesan masuk. Sebuah pesan dari Yuda. Pria pengantar pizza yang cukup sering berkirim pesan dengan dirinya. Alina memang sering order makanan lewat pria itu. Selain sudah saling kenal, Yuda juga cukup gesit dan cekatan dalam mengantar pesanan.

"Siang, Kakak cantik. Mau order sesuatu? Aku mau ngatar pesanan ke salah satu hotel dekat apartemen kamu," tulis Yuda.

"Siang, Mas. Nggak dulu, ya," jawab Alina.

"Tumben," balas Yuda.

"Lagi ngirit," jawab Alina.

"Halah!" balas kurir muda itu. "Nanti sore aku mau ke sekitaran tempat kerja kamu, nih. Sekalian jalan. Beneran nggak mau order?"

"Enggak, deh. Lagi pengen bikin cemilan sendiri," balas Alina.

"Oke, deh!" balas Yuda lagi.

.....

Sore menjelang. Saat jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Matahari perlahan mulai mengubur sinar teriknya. Panas yang menyengat perlahan hilang. Langit yang cerah samar samar berubah menjadi jingga. Hiruk pikuk kendaraan di jalan raya mulai terbentuk. Terisi para pekerja yang sudah bersiap pulang menemui keluarga tercinta.

Di ruang kerja milik Vincent Louis Oliver. Laki-laki matang calon ayah itu menutup laptopnya. Leher yang sedikit kaku itu digerakkan ke kanan dan ke kiri. Nafas dibuang kasar melalui hidung.

Huft... akhirnya selesai juga. Rangkaian pekerjaan dari pagi yang sangat menumpuk, kini akhirnya tamat, meski harus dilanjut lagi esok hari.

Vincent meraih ponsel di samping laptop. Sudah jam lima. Ia sudah ada janji dengan Alina untuk nonton film malam ini. Ia juga sudah berencana mampir sebentar ke supermarket guna membeli sesuatu untuk wanita berbadan dua itu.

Vincent mengulum senyum. Sorenya kini perlahan mulai terisi warna. Tak lagi sepi dan sendu seperti beberapa bulan lalu. Setelah mengikrarkan diri bersahabat dengan Alina, Vincent kini seperti punya tujuan pulang tiap harinya. Sekedar makan berdua di meja makan, nonton film di ruang tv, atau ngobrol tak penting tapi penting di balkon apartemen. Hal hal yang sangat sederhana, tapi cukup membuat sore harinya berwarna.

Canda Alina, tawanya, cerita cerita recehnya, hebohnya dia saat nonton, makan, dan ngobrol, menjadi hal yang paling Vincent suka. Lebih dari film ataupun makanannya.

Sang pewaris tunggal keluarga Oliver bangkit dari kursinya. Jas mahal yang semula terselampir di sandaran kursi itu kembali ia kenakan. Kontak mobil ia raih. Laki-laki itu siap menemui ibu dari calon anaknya itu. Namun tiba-tiba...

Ting...

Ponsel di saku celananya berbunyi pertanda pesan masuk.

"Mama sama papa kangen. Kamu ada waktu makan malam besok? Mama akan buatkan makanan kesukaan kamu," bunyi pesan itu. Pesan dari Nyonya Teresa Oliver, ibundanya.

Vincent membalas pesan itu dengan cepat.

"Iya, Ma. Besok Vincent mampir ke rumah," tulisnya.

Laki-laki itu kembali memasukkan ponselnya ke saku. Ia sudah tak berminat membalas pesan itu lagi. Bukan apa-apa, tapi memang sudah terbiasa. Sejak usia dua puluh tiga tahun, Vincent memang sudah memutuskan untuk tinggal terpisah dari kedua orang tuanya. Selain ingin mandiri, Vincent sebenarnya juga ingin menghindari 'terus diatur' oleh kedua orangtuanya.

Ya, keluarga Oliver adalah keluarga yang ambisius. Pembisnis yang "mungkin" dalam otaknya hanya ada kata kerja, bisnis, perusahaan, dan uang. Hal itu juga yang membuat Vincent tumbuh menjadi pria yang kesepian. Tak punya teman karena jarang bergaul. Bucin setengah mati dengan wanita karena memang hanya wanita itu satu satunya manusia yang pernah ia cintai. Bahkan karena cintanya kala itu kurang disetujui oleh kedua orangtuanya, hubungannya dengan ayah dan ibu pun sempat renggang. Ia bahkan tak tahu apakah kedua orang tuanya sudah dengar jika hubungan nya dan Alicia sudah kandas. Vincent memang sangat jarang menghubungi keluarganya itu.

Langkah berlanjut.

Vincent tancap gas meninggalkan gedung itu. Tak butuh waktu lama. Sekitar setengah jam perjalanan dari kantornya, Vincent tiba di sebuah gedung pusat perbelanjaan besar di kota itu. Laki-laki itu masuk ke dalamnya. Ia berjalan seorang diri mengitari mall tersebut. Tujuan utamanya adalah cari camilan. Tapi laki-laki itu sejak tadi sudah punya angan angan ingin membelikan Alina sesuatu.

Sesuatu yang beda. Yang bagus. Yang akan membuat wanita itu bahagia. Ya, mungkin semacam kado atau hadiah.

Fokus mata pria itu langsung tertuju pada sebuah toko perhiasan. Ya, jika dilihat lihat, Alina tak memiliki perhiasan lain selain sepasang anting dan sebuah cincin mungil yang melingkar di jarinya. Ia memang tak tahu apakah Alina tipe wanita yang suka memakai perhiasan atau tidak. Tapi menurutnya, wanita mana sih yang tak suka dibelikan perhiasan.

Laki-laki itu kemudian mampir ke toko itu dan mulai memilih beberapa jenis perhiasan yang terpampang di sana. Sebuah gelang emas berpadu berlian yang cukup mahal menjadi pilihannya. Gelang itu terlihat cantik, simple, cukup mungil, namun elegan. Pasti sangat cocok melingkar di lengan Alina yang putih.

Laki-laki itu mengulum senyum. Bayangan ketika ia memakaikan benda itu di lengan dan disambut dengan senyuman haru dan ucapan terimakasih dari Alina sudah menari nari di otaknya. Andai ini adalah adegan sinetron, sebuah benda berbentuk awan dengan wajah Alina yang manis pasti sudah tergambar di atas kepala Vincent yang senyum senyum tak jelas ini.

Sayang, ini hanya novel. Mungkin ada yang mau ngangkat jadi sinetron 🤭 Halo produser...👋👋😁

"Jadi gimana, Pak?"

Suara lembut dari sales wanita itu membuyarkan lamunan Vincent. Laki-laki itu gelagapan mencoba menetralkan ekspresinya agar tak terlihat memalukan.

"Ya, ini saja!" jawabnya.

"Baik. Kalau begitu mohon tunggu sebentar, ya."

Vincent selesai dengan perhiasannya setelah sang sales wanita menyerahkan paper bag berisi gelang emas dalam kotak beludru mahal itu. Laki-laki itu kemudian kembali berjalan jalan mengitari area mall. Fokusnya kemudian tertuju pada sebuah toko pakaian. Ah, mungkin Alina akan semakin senang jika ia juga membawakan pakaian baru untuknya saat pulang nanti.

Vincent mengulum senyum. Laki-laki tampang berperawakan tinggi tegap itu lantas mengayunkan kakinya menuju toko pakaian itu. Ia mulai memilah Milah beberapa pakaian dengan ukuran yang longgar. Maklum, perut Alina sudah mulai membesar. Ia ingin mencarikan pakaian yang sekiranya nyaman dipakai oleh ibu hamil. Di saat ia tengah sibuk mencari beberapa potong pakaian untuk Alina, tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya.

"Vincent!" Suara itu berhasil membuat Vincent menoleh.

"Dion!" sahutnya. "Lo di sini?" tanyanya saat melihat Dion, sahabatnya.

"Ya, kebetulan mampir. Lo, juga lagi beli sesuatu di sini?" tanya Dion.

Vincent terkekeh. "Gue juga kebetulan lewat. Mampir beli sesuatu," jawabnya santai.

Dion menyelidik.

"Wait," ucapnya. Ia menggerakkan tangannya, menyentuh beberapa pakaian yang terselampir di lengan kanan Vincent.

"Lu beli apa?" tanyanya.

Vincent mengulum senyum.

"Ini pakaian cewek, kan? Buat siapa?" tanya Dion begitu penasaran.

"Enggak. Buat nyokap gue!" elaknya.

Dion berdecih. "Alah! Bohong banget! Ini baju-baju bukan buat seumuran nyokap lu!"

"Beneran!"

"Lu yakin mau bohongin gue?" tanya Dion

Vincent tergelak. "Oke, oke! Gue emang nggak akan bisa bohongin detektif kayak lo!" ucapnya. "Ini buat temen gue."

Dion melipat lengannya di depan dada seolah berfikir.

"Seistimewa apa teman lo yang satu ini sampai-sampai Lo rela beliin baju baju sebanyak ini buat dia?" tanya Dion.

"Kayaknya gue ketinggalan banyak informasi tentang Lo. Lo udah banyak berubah semenjak terakhir kita ketemu. Padahal belum ada dua bulan nggak, sih?" tambah Dion

Vincent tergelak. "Ceritanya panjang," jawabnya.

"Lo buru-buru? Kita ngopi bentar?" tambah Vincent.

Dion melongok menatap arloji mahalnya.

"Em, nggak juga, sih. Bolehlah!" jawabnya.

"Oke! Kalau gitu gue ke kasir dulu. Wait, ya!"

Dion mengacungkan jari jempolnya. Vincent berlalu pergi. Sedangkan Dion nampak membuka ponselnya, menuju aplikasi WhatsApp.

"Baby, aku agak telat ke hotelnya. Tunggu, ya👙" tulisnya.

1
Radya Arynda
sabar Alina💪💪💪💪
Radya Arynda
kok ngak punya pendirian sih kamu cen vincen,,,,kasihan,,,alina ,,,mau di apakan dia,,,kenapa ngak nikah diam2 dulu,,,
Desyi Alawiyah
Cucu???

Wah, tanpa mama Theressa sadari, Vincent udah memberi dia cucu loh.. Di perutnya Alina.. 😜
Desyi Alawiyah
Dan pacarnya Alicia adalah Dion.. sahabatmu sendiri Vincent.. 😭
Desyi Alawiyah
Putramu itu hatinya sedang berbunga-bunga, mama Theresa 🤭
Georgia🤑
bener bener lu ya🙄
Desyi Alawiyah: Bener-bener anak durhakim tuh si Vincent 🤭🤣
total 1 replies
whiteblack✴️
pake kata itu..biar semakin jatuh cinta/Proud/
Don't Call Me Mbak💅
lanjut
Don't Call Me Mbak💅
waduh.aku ketinggalan banyak😱
Georgia🤑
entah kenapa aku terbayang bayang ibu ibu rambut mongkrok yang jualan rumah yang hanya dengam satu milyar saja....ituloh🤣🤣🤣🤣
Georgia🤑
istr jdman😊suport kerjaan suami🤗
Desyi Alawiyah
Tenang Kak, aku nggak akan kabur kok.. 🤣

Semangat yah Kak ngurus toddler nya /Determined/
Desyi Alawiyah
Semoga mamanya Vincent baik yah.. Nggak seperti orang kaya yang kebanyakkan.. 🤭
whiteblack✴️
kalau gitu nikahin lah...sampai kapan di simpan terus..dia itu bukan pajangan😒...
Radya Arynda
ternyata ke banggan vincen tidak lebih seperti pelacur,,,,,
Georgia🤑
sebesar apa thor????
Wanita Tanpa Mahkota 👑: 😁😁😁😁🙈
total 1 replies
Georgia🤑
lha dalahhh...
Georgia🤑
parraaahhhh🤣
Desyi Alawiyah
Yakin Dion mau menikahi Alicia? Sepertinya Dion cuma main-main doang deh sama Alicia.. 🤭
Desyi Alawiyah
Nah, bener kan.. Dion bermain api sama Alicia.. 😏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!