Di balik senyumnya yang tenang, Arumi menyimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh. Pernikahannya dengan Ardi hanya tinggal formalitas. Demi puteri kecilnya, Kayla, Arumi bertahan.
Segalanya berubah ketika ia bertemu seorang psikiater muda, Dimas, yang baru saja bekerja di klinik psikiatri Dokter Arisa langganannya.
Dimas yang tenang dan hangat selalu membuat Arumi merasa didengar. Di ruang konsultasi yang seharusnya penuh batas, justru tumbuh perasaan yang tak diundang.
Tanpa Arumi sadari Kayla, puteri kecilnya yang cerdas, melihat semuanya. Ia tahu ibunya tidak bahagia. Ia juga tahu, ada cahaya berbeda di mata ibunya setiap kali pulang dari pertemuan dengan Mas Dokter —panggilan akrab Kayla pada Dimas.
Apakah perasaan Arumi pada Dimas yang tumbuh di ruang konsultasi hanya sebatas pelarian? Ataukah rumah yang selama ini Arumi rindukan?
Simak kisah selengkapnya dalam Mengejar Cinta Mas Dokter untuk Mama
Tiktok: Purnamanisa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Purnamanisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perpisahan
Malam itu, Arumi duduk di ruang makan sambil menikmati secangkir teh hangat. Bebannya sedikit ringan setelah mengatakan apa yang ingin dia katakan pada Ardi pagi tadi.
Sejak pembicaraan mereka pagi tadi, Ardi hanya mengurung diri di kamar. Arumi hanya mengingatkannya untuk makan saat waktu makan tiba. Arumi bahkan tak merasa sedih saat melihat suaminya tengah terpuruk, menyesali perbuatannya sendiri.
"Rum," panggil Ardi saat dirinya keluar kamar. Arumi bergeming di tempat duduknya. Ardi melangkah mendekat lalu duduk di hadapan Arumi.
Hening.
Arumi melihat Ardi duduk tertunduk di hadapannya. Tak ada lagi rasa sakit. Tak ada lagi rasa sedih. Arumi sudah benar-benar mati rasa.
"Rum... mungkin apa yang akan aku katakan hanya terdengar seperti alasan," kata Ardi akhirnya, sambil menatap Arumi dengan tatapan tak berdaya. Arumi diam.
"Tapi... aku butuh menjelaskan semuanya," lanjut Ardi. Arumi menyeruput tehnya perlahan.
"Aku dengerin, Mas," kata Arumi dingin. Ardi menghela nafas panjang seolah mengumpulkan keberanian untuk mengatakan faktanya.
"Aku khilaf, Rum. Aku berani sumpah aku udah nyoba buat nolak. Tapi..." suara Ardi tertahan.
"Tapi... dia terlalu sia-sia untuk dilewatkan begitu saja kan, Mas?" tanya Arumi, dingin. Ardi seperti dihujam sembilu tepat di ulu hatinya. Perih.
Kilasan adegan dalam video yang pernah dia lihat begitu membekas. Bagaimana Ardi mencumbui wanita itu. Bagaimana Ardi menyentuh wanita itu. Arumi tahu bahwa Ardi sangat menginginkannya.
"Maaf, Rum... Aku tau maaf aja nggak cukup," kata Ardi lalu tertunduk kehabisan kata-kata untuk menjelaskan faktanya.
Ardi tak bisa mengatakan dia tidak bersalah sepenuhnya. Tapi, video itu telah mengatakan hal sebaliknya. Arumi jelas tak akan mudah mempercayainya seperti dulu lagi.
"Aku memaafkan kamu, Mas," kata Arumi membuat kepala Ardi kembali mendongak.
"Tapi... Aku nggak bisa tetap pertahanin pernikahan ini," lanjut Arumi.
Wajah Ardi seketika lesu. Matanya berkaca-kaca. Airmatanya luluh membasahi kedua matanya.
"Aku mohon, Rum. Kasih aku kesempatan. Aku janji..."
"Kesempatan nggak dateng dua kali, Mas," kata Arumi menatap Ardi dingin.
"Kamu tau? Aku sampe pergi ke psikiater buat konsultasi masalah rumah tangga kita. Aku lakuin semua saran-saran psikiater ke aku. Mereka bahkan minta aku untuk selalu berpikir positif saat aku merasa cemas. Aku hampir gila, Mas. Dan kamu? Kamu sama sekali nggak liat usaha ku. Kamu dingin. Kamu bahkan selalu menghindari aku. Kenapa? Aku nggak pernah curiga kamu selingkuh. Aku nggak pernah curiga kamu ada wanita lain. Secuil pun aku nggak pernah berpikir soal itu. Aku bahkan selalu menyalahkan diriku sendiri atas sikap dingin mu ke aku. Tapi apa? Selama ini aku berjuang sendiri, usaha sendiri, untuk memperbaiki sesuatu yang ternyata kamu sendiri yang merusaknya. Dan sekarang? Kamu minta kesempatan?" kata Arumi. Nadanya sedikit meninggi. Namun, dia berusaha menahannya agar tak terdengar terlalu keras dan membangunkan Kayla yang sudah terlelap.
Airmata Arumi tumpah. Tapi dia tak menutupinya. Dia menghapusnya.
"Aku minta kita segera urus perceraian. Aku minta hak asuh Kayla," lanjut Arumi.
"Tapi kamu..."
"Aku bisa kembali ke rumah ibuk. Aku bisa kerja lagi. Aku punya keahlian. Aku punya pendidikan. Kamu nggak usah khawatir. Aku bakal tetep jaga Kayla seperti selama ini," potong Arumi lalu pergi menuju kamar Kayla meninggalkan Ardi yang terpuruk dengan kesalahannya.
'Harusnya gue tau... semua akan jadi begini...'
***
"Cerai?!" tanya ibu Ardi pada Ardi. Atas permintaan Arumi, Arumi ingin berpamitan pada ayah dan ibu Ardi sebelum proses pengadilan berjalan.
"Ada masalah apa, Rum? Apa nggak bisa dibicarakan baik-baik sampai harus berpisah?" tanya ayah Ardi dengan lemah lembut. Arumi menggeleng.
"Arumi tidak akan mengatakan masalahnya pada ibu dan ayah. Biarkan Mas Ardi yang menjelaskannya secara rinci. Yang jelas ini bukan suatu kesalah pahaman. Tapi, ini jelas-jelas kesalahan yang saya tidak akan pernah bisa lupakan seumur hidup saya meski saya sudah memaafkan Mas Ardi atas itu. Jadi..." Arumi menghela nafas panjang sebelum melanjutkan kalimatnya.
"Karena kita mengawali hubungan ini dengan baik, saya ingin mengakhirinya dengan baik pula, terutama dengan ayah ibu yang sudah begitu baik pada saya, dan selalu menyayangi saya dengan sepenuh hati," lanjut Arumi. Ibu Ardi terlihat terisak. Ayah Ardi manggut-manggut mencoba mengerti dan menerima keputusan anak mantunya.
"Maafkan kami, Rum, kalau Ardi sudah sangat menyakiti hati mu sampai kamu memilih ini sebagai jalan keluar. Kami mungkin kurang baik dalam mendidiknya. Tapi, jangan lupa, kami akan selalu menganggap kamu puteri kami. Terlebih ada Kayla sekarang. Kami tak ingin masalah antara kalian berdua dapat merusak hubungan kamu dan Kayla dengan kami," kata ayah Ardi, bijaksana.
"Ardi, lakukan apa yang menjadi tanggung jawab mu. Meski hubungan pernikahan kalian selesai, tapi status kamu sebagai papa Kayla tak berubah. Penuhi tanggung jawab mu. Biarkan Kayla tumbuh bersama mamanya. Kita bisa sesekali menjenguknya atau Arumi bisa sesekali membawanya pada kita. Karena seorang ibu tidak akan bisa hidup tanpa anaknya," lanjut ayah Ardi.
Ardi hanya tertunduk. Arumi mengusap airmata di sudut matanya. Kedua orangtua Ardi memang selalu hangat dan sayang pada Arumi sejak Arumi berpacaran dengan Ardi. Rasa sayang mereka terhadap Arumi tak berubah sampai saat ini.
Arumi memeluk ibu Ardi yang hanya bisa menangisi perceraian anaknya. Arumi tahu pasti ibu Ardi akan sangat terluka mengetahui penyebab perceraian anaknya adalah karena perselingkuhan. Ibu Ardi pasti akan merasa sangat gagal menjadi seorang ibu.
Setelah dari rumah kedua orangtua Ardi, Arumi mengemas semua barangnya dari rumah Ardi. Kayla terlihat bingung dengan keadaan rumahnya.
"Mama, kita mau liburan kemana? Banyak banget yang dibawa," tanya Kayla. Arumi menghela nafas panjang. Dia tahu, Kayla akan menanyakan hal ini suatu hari nanti. Arumi mencoba tersenyum.
"Kayla dan Mama akan tinggal di rumah Oma sekarang," kata Arumi.
"Papa?" tanya Kayla. Ardi hanya bisa duduk tertunduk di ruang makan.
"Papa nggak ikut," jawab Arumi, masih sambil berusaha tersenyum.
"Kenapa?"
Hening.
Kayla menatap kedua mata Arumi yang juga menatapnya.
"Apa Mama akan banyak tersenyum kalo Papa nggak ikut?" tanya Kayla.
Ardi mengangkat kepalanya mendengar pertanyaan Kayla pada Arumi. Dia tak menyangka, puteri kecilnya lebih paham tentang perasaan Arumi daripada dirinya.
"Mungkin," jawab Arumi dengan senyum yang lebih lebar. Kayla tersenyum lalu memeluk mamanya.
"Kayla janji akan jadi anak baik," kata Kayla dalam pelukan Arumi. Arumi mengangguk lalu melepaskan pelukannya perlahan.
"Peluk Papa. Jangan lupa cium tangan ya? Kita segera berangkat," kata Arumi. Kayla mengangguk lalu berjalan ke arah Ardi.
Kayla memeluk Ardi. Ardi memeluk Kayla lama, seolah dirinya tak akan lagi bertemu dengan puteri kecilnya itu. Airmata Ardi mengalir begitu saja dalam pelukan kecil Kayla.
'Maafkan, Papa, Kay. Maafkan, Papa,'
***