Dituduh menjual jasad anak kandungnya sendiri, Raznalira Utami (28 th) tidak hanya kehilangan buah hatinya tetapi juga rumah tangganya. Suaminya menceraikannya tanpa memberi kesempatan untuk menjelaskan.
Dalam keterpurukan hidupnya, Razna menerima tawaran menjadi ibu susu bagi bayi laki-laki milik seorang duda muda konglomerat, Rendra Mahardika (35th). Demi bertahan hidup, ia menekan masa lalunya dan masuk ke dunia baru yang terasa asing, dingin, dan penuh rahasia.
Namun takdir seolah belum selesai mempermainkannya.
Di rumah megah itu, Razna bertemu dengan seorang wanita misterius yang membuat darahnya seketika membeku. Wanita tua yang dulu membeli jasad anaknya.
Apa tujuan sebenarnya wanita itu membeli jasad bayi Razna?
Apa hubungan wanita tua itu dengan Rendra?
Kecurigaan Razna berubah menjadi ketakutan saat perlahan ia menyadari sesuatu yang mustahil, apakah itu?
Happy reading 💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FR Nursy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 24 Mulai Terungkap
Suara berat itu membuat Danara tersentak kaget, seraya mengelus dadanya. Wajahnya langsung pucat saat melihat kakak iparnya berdiri di ambang pintu ruang rawat dengan rahang yang mengeras.
"Kak Rendra?" tanyanya kikuk
"Kakak bikin kaget aja," lanjutnya pelan, hatinya sudah tidak karuan.
"Surti, masuklah. Temani Finza di dalam, lalu tutup pintunya pelan-pelan!" titah Rendra tanpa mengalihkan tatapannya dari Danara.
"Baik Tuan," Surti membungkukkan badannya. Sebelum masuk, matanya melirik ke arah Danara dengan kesal.
Kehadiran Rendra secara tiba-tiba membuat Danara merasa cemas dan khawatir. Seraya menunduk dalam-dalam.
"Jangan-jangan Kak Rendra ...." gumamnya was-was.
"Apa yang sudah kamu katakan barusan?" tanyanya tajam tanpa basa-basi.
Danara panik sesaat, memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya. Secepatnya dia memasang wajah sedih. Apa yang dia khawatirkan barusan benar-benar terjadi. Dia sama sekali tidak menyangka, ucapannya justru didengar Rendra. Padahal dia melihat pintu ruangan itu tadi tertutup rapat.
"Aku hanya mengingatkan Mbak Razna, supaya lebih berhati-hati menjaga Finza, Kak," ujarnya cemas.
"Dengan menghina dia!" kata Renda dingin.
Lorong rumah sakit terasa mencekam. Sorot mata Rendra seolah akan memakan Danara hidup-hidup.
Razna secepatnya berdiri, dia tidak ingin ada keributan di rumah sakit.
"Maaf Tuan, Nona Danara sebenarnya hanya khawatir sama Finza. Saya mohon tidak usah diperpanjang masalahnya.." ucapnya cepat berusaha meredakan suasana.
Ucapan Razna tidak digubrisnya. Rendra tetap tidak mengalihkan pandangannya dari Danara.
"Aku sudah cukup pusing memikirkan kondisi Finza. Jadi kamu jangan memperkeruh keadaan lagi, Paham!"
Nada suaranya rendah, tetapi jelas penuh peringatan yang tidak bisa diabaikan.
Danara mengepalkan tangannya secara diam-diam.
"Tapi Kak, aku benarkan? Kalau dia lebih berhati-hati menjaga Finza, keponakanku itu tidak mungkin jatuh dari kasur tempatnya tidur," katanya sambil berpura-pura menahan tangis.
Rendra akhirnya menghela napas dengan kasar.
"Cukup!" ujar Rendra sambil mengangkat telunjuknya.
Satu kata itu langsung membuat Danara terdiam.
"Dengar Danara. Tidak ada orang tua atau pengasuh yang ingin anaknya celaka. Razna juga pasti syok dengan kejadian ini. Perlu kamu ingat, Razna itu ibu susunya Finza, dia akan selamanya jadi orang tua bagi Finza karena tetesan darahnya mengalir setiap waktu melalui ASI yang diberikannya. Jadi, kamu jangan macam-macam sama Razna!" jelas Rendra tanpa peduli dengan perasaan Danara saat ini.
Kalimat itu membuat mata Razna membola tak percaya. Dia sama sekali tidak menyangka Rendra akan membelanya dan tidak menyalahkannya. Walaupun Rendra tadi sempat marah karena Finza terjatuh, tapi ternyata Rendra masih menyimpan kepercayaan penuh pada Razna. Air mata Razna kembali jatuh, namun kali ini karena rasa haru.
Danara tak kalah terkejutnya mendengar ucapan Rendra yang membela Razna secara terang-terangan. Dia menyaksikan semua itu dengan hati yang mulai terbakar cemburu. Bibirnya terkatup rapat dan tangannya mengepal kuat, berusaha menahan emosi yang membuncah.
Dia perhatikan, tatapan Rendra kepada Razna semakin berbeda dari hari ke hari. Hal ini membuat Danara semakin takut, sangat takut. Kakak ipar yang seharusnya menjadi miliknya akan direbut oleh orang lain yang baru dikenal beberapa bulan terakhir ini. Dia merasa usahanya menjadi sia-sia selama ini.
"Tidak akan aku biarkan, kamu merebut Kak Rendra dariku...." batinnya penuh amarah.
Surti yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka dari balik pintu, diam-diam menghela napas lega. Dia sangat bersyukur akhirnya majikannya bisa membuka matanya buat Razna. Kini dia berharap kebenaran bisa terungkap.
"Bukankah di rumah ada CCTV? Ya...Ibu pernah memberitahuku kalau aku tidak boleh genit dengan Tuan karena pengawasan di rumah itu cukup ketat. Di setiap sudut ruangan ada CCTV yang terpasang tanpa diketahui banyak orang. Tapi bagaimana ibu bisa tahu ya?" gumam Surti.
Surti (22 tahun) adalah anak dari mantan asisten rumah tangga yang telah dipercaya keluarga besar Rendra selama bertahun-tahun. Ibunya baru setahun berhenti bekerja karena sudah pensiun. Sebagai pengganti sang ibu, Surti pun tak kalah rajin dan dapat dipercaya. Meskipun hanya lulusan SMA, ia memiliki kecerdasan yang cukup baik, pemberani dan amanah. Karena itulah, ia dapat dipercaya untuk mengasuh anak pertama Rendra yaitu Moana.
Di luar, suasana kembali berubah saat seorang perawat datang menghampiri mereka.
"Maaf, siapa orang tua Finza?" tanyanya.
"Saya, Sus," jawab Rendra cepat.
Perawat itu kemudian menyerahkan sebuah benda kecil transparan yang tak sengaja ia temukan saat pemeriksaan.
"Ini kami temukan menempel di pakaian bayi saat pemeriksaan tadi. Kami khawatir benda ini masih diperlukan," ujarnya.
"Oh terima kasih, Sus," Rendra menerima benda tersebut.
Dia memperhatikan benda tersebut dengan teliti. Ternyata Benda yang berupa serpihan kecil payet berbentuk berlian itu berasal dari pakaian wanita.
Kening Razna langsung berkerut.
"Lho...bukankah itu..." gumamnya sambil menatap payet yang dipegang Rendra. Dia merasa pernah melihatnya tapi entah di mana.
"Punyamu?"
Razna menggeleng pelan, "Bukan Tuan," jawabnya jujur.
Rendra menganggukkan kepala. Razna tidak mungkin memiliki pakaian yang berpayet sebagus dan harganya pasti sangat mahal.
Sementara itu, wajah Danara mendadak berubah menjadi tegang. Ia sangat mengenali benda tersebut. Payet itu berasal dari cardigan mahal yang sedang ia pakai malam ini. Dia sama sekali tidak pernah menyangka kalau payet tersebut terlepas dari pakaiannya saat kejadian tadi siang. Kalau saja ia tahu akan berakhir seperti ini, ia tidak akan memakai cardigan itu lagi.
Perawat itu melanjutkan ucapannya, "Mungkin tidak penting, tapi biasanya benda tersebut tersangkut saat bayi bersentuhan dengan seseorang. Bisa jadi orang itulah penyebab dedek bayi terjatuh," jelasnya membuat wajah Danara memerah.
Deg....
raz.. kan dia kerja.. tp kmcemburu .. dan km yg berharap sama Rendra
padahal Rendra ngk suka ma km.. dia ngangap km adik .. pahamm!
udah jadi adek ipar masih aja ngelunjak pgen jdi istri... ngk tau diri
Degar sendiri kan dra klakuan adek ipar mu...