Hwang zin bukanlah orang dari era ini,dia lahir di tahun 2028 dan berusia 30 tahun,dia yatim piatu,Dia bekerja keras selama hidupnya.
Dia menjadi koki , petugas pengangkutan barang, bartender,pelayan restoran dan lainnya,dia hidup dengan menghemat banyak uang saat tabungannya mencapai 100 juta dalam 15 tahun hidupnya.
Hwang zin membeli bangunan toko kecil yang lengkap penuh dengan barang-barang grosir dari barang orang tua hingga anak-anak dan makan pokok dan sejenisnya.
dia akan mulai berbisnis tapi siapa kira saat dia dalam perjalan pulang justru mobilnya tertabrak truk dan bangun disini .....bukannya mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mooi Xyujin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berfikir untuk melarikan diri
"Paman maaf membuatmu cemas..." Dia merasa bersalah namun juga beruntung masih ada orang yang benar-benar tulus padanya.
Pria tua itu menepuk tangannya untuk menenangkannya. "Tak apa-apa, sekarang cepatlah makan dan sembuhkan lukamu... kamu harus pergi dari sini..."
"Paman...kamu?" Hwang Zin terkejut – siapa kira pria ini akan membantunya melarikan diri. Paman Dong melihat reaksinya dan merasa tak berdaya.
"....Apa kamu kira aku akan berpihak pada Jendral? Pria bau itu pantas mendapatkan nya...!" Beraninya membuat anak ini menjadi umpan hidup!
"Terimakasih...."Hwang Zin tertawa. Paman Dong segera memintanya untuk makan cepat selagi masih hangat – dia tidak bisa menolak kebaikannya.
Setelah itu Paman Dong pergi, berkata akan kembali malam nanti membawa makanan dan meminta Hwang Zin bertahan disini, menghemat tenaga sebelum melarikan diri.
Saat matahari mulai terbenam, Jenderal Jiang yang tidak muncul dari siang hari masuk ke tenda dengan tas kura-kura milik Hwang Zin.
Dia menaruh tas itu di pojok ruangan lalu menghampiri Hwang Zin yang duduk melihat ke luar jendela tenda.
"Zin.an bagaimana lukamu? Apa masih sakit...?" tanyanya dengan lembut, dibawah matanya masih sedikit gelap dan bibirnya tampak pucat.
Hwang Zin tetap diam.
Jiang Feng menyentuh leher putih anak itu – jika Hwang Zin berbalik, dia akan melihat mata paranoid yang dimiliki pria itu. "...Maafkan aku oke?... aku hanya tidak ingin kamu bersikap ceroboh..."
"Jenderal, perjanjian kita masih berlaku...jangan menjilat ludah mu sendiri dengan mengurung ku disini... "Ucap Hwang Zin dengan nada acuh tak acuh.
"Kenapa kamu ingin pergi lagi!" Jenderal merasa akan meledak.
Hwang Zin benar-benar tidak mengerti mengapa pria ini bersikap terlalu berlebihan padanya.
"Zin.an jangan seperti ini, aku tahu aku salah...kamu bisa menghukum ku semau mu...oke?" bisik Jiang Feng sambil memeluk lehernya, membenarkan wajahnya di pundaknya.
Bau darah dan obat memasuki hidungnya, membuat matanya terasa masam.
Hwang Zin membeku, matanya menyusut – dia merasakan pundaknya basah.
Pria gila ini menangis.
Tunggu...
Serius?!
Lalu dia mengingat semua reaksi Jiang Feng padanya selama ini – ciuman paksa, perilaku kemarin, dan sekarang ini.
Tidak mungkin!
Hwang Zin mencengkram lututnya dengan kuat, matanya menunduk dengan cahaya gelap di dalamnya.
2 Minggu kemudian.
Hwang Zin berbaring di ranjang Jenderal – pria itu sudah tertidur dengan tangan yang menahan tangannya erat.
Dia masih tidak menyangka Jiang Feng terobsesi padanya; pria gila ini berani menahannya siang dan malam di tendanya.
Luka nya sudah menutup dan berkeropeng, bahkan sudah bisa melepas perban. Hwang Zin berencana kabur saat kondisi barak lengah, tapi masalahnya Jiang Feng mengawasinya 24 jam – bahkan Song Wen pun menjadi kaki tangannya.
Jadi dia hanya bisa bersabar.
Keesokan harinya, Jenderal bangun seorang diri di atas ranjang – anak itu hilang. Matanya melebar, dia melompat dari tenda dan berlari keluar.
Beberapa prajurit terkejut melihatnya, termasuk Hang Si yang berpapasan dengannya. ".....Jendral!"
"Dimana Dia ..?" tanyanya dengan wajah gelap namun nadanya penuh kecemasan, sakit hati, dan kemarahan.
Hang Si menjawab dengan kaku. "Hwang Zin pergi ke kantin..."
Suasana kantin yang tenang tiba-tiba berubah menjadi tegang – Jendral yang jarang makan bersama mereka datang dengan wajah memanas.
Ditambah sepertinya akan ada pertengkaran, semua orang memasang telinga dengan hati-hati. Paman Dong merasa keringat dingin menetes.
Jiang Feng melihatnya dengan wajah dingin.
"Kembalilah ke tenda..."Kata-katanya bukan meminta tapi memerintah, namun Hwang Zin sama sekali tidak takut.
"Maaf Jendral, saya sangat sibuk..." Dia bahkan tak memandangnya sama sekali. Wajah Jendral semakin gelap, prajurit segera menjaga jarak darinya.
"Hwang Zin, aku perintahkan kamu-"
"..Jendral, bawahan mu sudah kelaparan – apa kau akan terus disini dan menghalangi kami berkerja...!" potong Hwang Zin mendongak melihatnya dengan nada tegas.
"....." Semua orang menahan nafas dingin – Tidak kami tak masalah!
Jangan bawa-bawa kami!
Jiang Feng membeku. Memang dia tak bisa berdiri terus disini dan membuat prajurit kelaparan, jadi hanya bisa berbalik pergi dengan wajah menakutkan.
"....." Paman Dong bingung dengan suasana yang menyeramkan. Dia segera bertanya."Zin.an.. apa yang sebenarnya terjadi dengan mu dan Jendral?"
"Tak ada... Paman segera bagikan rotinya..."jawabnya santai seolah suasana hatinya baik-baik saja – padahal suasana hati Jendral sangat buruk!
Pada malam hari, Hwang Zin kembali ke tendanya sendiri. Saat masuk, dia mendapati Jiang Feng duduk di atas tempat tidurnya dengan wajah dingin dan berpakaian rapi.
Suasana hati Hwang Zin segera berubah mendung. "...Keluar dari sini!"
Wajah Jiang Feng juga tidak baik – apalagi diusir begitu saja. "Saya Jendral disini...!"
"Baiklah tetaplah disini...." Hwang Zin tertawa dengan marah lalu berbalik ingin pergi.
Jiang Feng terkejut akan sikapnya, segera melompat dari ranjang dan menariknya masuk. "Zin.an!"
"Apa yang kamu lakukan Jendral...!?"bentaknya dengan kesal, menepis tangan pria itu darinya.
Jiang Feng sedikit terkejut dengan reaksinya pada sentuhan, menunduk dengan rasa tidak nyaman. "...Maaf saya salah... jangan marah..."
"....." Hwang Zin yang akan meledak tiba-tiba tak bisa berkata apa-apa saat pelaku nya tiba-tiba mengaku bersalah.
Dia menarik nafas panjang, merasa pusing menghadapi pria ini."Baiklah, ayo bicara..."
Jiang Feng membawanya ke tenda nya agar bisa bicara lebih aman tanpa didengar prajurit lain. Hwang Zin masuk lebih dulu – tenda Jiang Feng dijaga oleh dua orang prajurit.
Jiang Feng berdiri di luar meminta mereka berjaga agak jauh dan jangan biarkan siapapun mengganggu.
Hwang Zin duduk di bangku di meja teh, sisi kiri meja. Tangan hangat dan kasar menyentuh jakunnya dari belakang. Hwang Zin tetap diam, membiarkan pria itu bermain-main dengan jakunya.
"Hwang Zin... Zin.an..." gumamnya dengan suara serak. Suhu tubuh yang hangat dan panas terasa jelas di punggung Hwang Zin – dia bahkan bisa merasakan hal yang tidak seharusnya dia rasakan.
Sudut mulutnya berkedut. "Jiang Feng, jangan main-main.... seorang jenderal bersiap begitu mesum, apa bawahan mu tau?"
Tubuh Jiang Feng membeku dan kaku. Tentu saja mereka tidak tahu – lagipula dia tak pernah melakukan hal tidak senonoh seperti ini sebelumnya.
Hwang Zin berdiri dari kursinya, melihat kepala gelap pria itu menunduk lesu. Sepertinya dia tahu bahwa hal yang dia lakukan salah tapi dengan keras kepala tak mau mengakuinya.
Tinggi badan mereka hampir sama – bedanya Hwang Zin masih bisa tumbuh lebih tinggi lagi. Jadi dia dengan mudah mengulurkan tangan, mencubit dagu pria itu untuk melihat wajahnya.
Mata gelap itu merah dengan pandangan bingung, sedih, dan frustasi – namun bibirnya tak bergerak sedikit pun untuk mengakui kesalahannya.
Hwang Zin merasa jantungnya tertusuk jarum.
Di era ini memang masih banyak pria yang menyukai sesama pria – bahkan kaisar terdahulu memiliki banyak selir pria. Namun jika itu seorang Jenderal, hal itu akan sedikit berbeda.
"Jangan lakukan ini...." Hwang Zin mengambil tangannya kembali, melihatnya dengan serius untuk pertama kalinya. "Jangan pernah memikirkannya..."
Jiang Feng memandangnya dengan tidak percaya.Dia tau."....Kenapa? Apa salahnya?"
Apa salahnya jika dia menyukainya?
"Jiang Feng!" bentaknya – apakah pria ini gila!
Jenderal Jiang menggelengkan kepalanya, menolak mentah-mentah kata-kata Hwang Zin."...Maaf aku tak bisa melupakannya atau menghapus dari pikiranku.."
"Dan Kamu juga tak berhak meminta ku melakukannya!" jelasnya lagi dengan tegas.
Hwang Zin melihatnya dengan dingin, mendorongnya menjauh lalu pergi dari sana."Kalau begitu lakukan itu.. dan aku akan melakukan apa yang ku mau...!"
Jenderal berdiri di sana dengan mata memerah, tangannya terkepal kuat.
Sejak saat itu, Jiang Feng sering muncul di kantin – dan Hwang Zin akan bersikap seolah Jendral tak terlihat, tetap bekerja seperti biasanya.
Hanya saja ada tambahan "ekor" di belakangnya yang kadang muncul dan menghilang sesuka hati.
Pada sore hari, kelompok Paman Dong dibuat sibuk dan wajah orang-orang terlihat sangat bahagia.
Hwang Zin yang baru saja kembali dari mencuci sayuran terkejut. "Ada apa?"
"Jendral membawa hasil buruan – itu dua babi besar, kita akan makan enak..." jelas koki kecil dengan wajah berseri-seri. Mereka sudah lama tak makan daging.
Hwang Zin mengangguk dan segera pergi untuk memasak. Mereka menerima daging dan segera mengolahnya.
Pukul 9 malam, orang-orang sudah berkumpul dan makan bersama. Hwang Zin setelah memastikan semua orang sudah mendapatkan bagiannya, duduk di sekitar meja biasa untuk menyajikan makanan.
"Ini...." Paman Dong memberikannya daging di atas mangkuknya. "...Makan lah yang banyak!"
"Terima kasih..." tapi Hwang Zin hanya makan sedikit lalu memberikannya pada Paman Dong dengan alasan sudah kenyang, sebelum pergi dari sana.
Paman Dong membiarkannya – mengingat dia sudah banyak bekerja dari pagi, dan hari ini Hwang Zin tak memiliki tugas mencuci piring jadi bisa pergi lebih dulu.
Hwang Zin kembali ke tendanya dan mendapati kondisi gelap. Saat akan berbalik untuk mengambil api, lengannya ditahan."...Zin.an..."
Tubuhnya membeku. Hwang Zin menggertak giginya dan mendorongnya menjauh. "Jendral kembali ke tendamu...."
Terdengar suara benda jatuh jauh, Hwang Zin yang mendorongnya tanpa kekuatan tertegun – apalagi saat mendengar Jenderal meringis kesakitan.
"Ada apa?" tanyanya tanpa sadar, berjongkok untuk mengulurkan tangannya.
Tangan hangat dan kasar menyentuh tangannya.