Aurielle Veyra (25 tahun), seorang Make Up Artist kelas dunia, dikenal mampu mengubah wajah biasa menjadi sebuah 'Mahakarya'.
Namun setelah tertidur usai bekerja tanpa henti, dia terbangun … bukan di Apartemen mewahnya.
Melainkan di raga seorang gadis yatim piatu miskin di desa terpencil dalam Kekaisaran Shang Agung, yang bernama Lin Yue. Yang meninggal karena menyerah menjalani kehidupan di dunia itu.
Di dunia tanpa kosmetik modern, Aurielle terikat dengan sebuah ruang dimensi misterius berisi resep kecantikan kuno yang telah lama hilang dari sejarah.
Dari bunga liar, mutiara, hingga ramuan rahasia, dia menciptakan kosmetik yang mampu membuat siapa pun terlihat memukau.
Namun, di balik kecantikan yang dia ciptakan …
tersembunyi rahasia racun halus, dan permainan kekuasaan yang mematikan.
Karena di dalam dunia Kekaisaran~
Sebuah wajah yang sempurna bisa menjadi sebuah 'senjata' yang mematikan!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora79, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 dan 35.
***
Pria itu terdiam cukup lama dengan wajah yang terlihat bo-doh.
Matanya yang tajam terlihat kosong sejenak, seolah-olah dia sedang mencoba mengingat sesuatu yang ... tidak terjangkau oleh otaknya.
"Namaku ..."
"Namaku ... siapa, ya?" gumamnya pelan.
Suasana mendadak hening, dan alisnya mengerut.
Kenapa dia tiba-tiba mendadak amnesia?
Napasnya sedikit memburu, saat dia tidak bisa mengingat siapa dirinya sendiri.
"Aku ... aku ... aku tidak bisa mengingatnya! Kenapa aku tidak bisa mengingatnya?!" teriaknya, histeris.
Lin Yue memiringkan kepalanya dengan wajah bingung.
"Haaaaah?! Kamu tidak mengingatnya??" beo Lin Yue.
Pria tampan itu menggelengkan kepalanya perlahan, wajahnya terlihat kebingungan.
"Ya, aku tidak bisa mengingat siapa aku ..." ujarnya dengan nada memelas.
"Otakku ... kosong. Aku tidak tahu siapa aku, darimana aku berasal, bahkan soal kenapa aku bisa terluka seperti itu ..." lanjutnya dengan nada rendah.
"Waduh, gawat! Dia ternyata benaran amnesia! Aduh, gimana ini Gustiii?!" gumam Lin Yue dalam hatinya.
Lin Yue menyilangkan tangannya di depan dada, matanya menatap tajam pria di depannya itu.
"Benaran hilang ingatan atau pura-pura, hm?" tanya Lin Yue dengan nada menyelidik.
Tidak lama kemudian, suara Tango terdengar dalam benak Lin Yue.
[Kemungkinan besar akibat benturan energi tingkat tinggi, yang secara tidak sengaja merusak sebagian memori otaknya, Host.]
"Hmmm, ..." sahut Lin Yue sambil mengangguk pelan.
Pria tampan itu menatap serius gadis di depannya dengan tajam, wajahnya terlihat serius dan dingin.
"Jika aku tidak bisa mengingat identitasku, apakah kamu akan tetap membiarkan aku tinggal di sini?" tanya pria itu.
"Kamu tidak mempunyai pilihan, Tuan Tanpa nama. Jika kamu pergi, untuk apa aku menolong kamu?" sahut Lin Yue sambil tersenyum tipis.
"Hehehehe ... sepertinya ucapan kamu ada benarnya juga," ujar pria itu sambil terkekeh pelan.
Lin Yue berjalan mendekati pria itu, lalu dia menatapnya dari atas hingga ke bawah dengan intens.
"Baiklah. Karena kamu tidak mengingat namamu sekarang, maka aku akan memberikan kamu sebuah nama sementara. Bagaimana, apakah kamu setuju?" ujar Lin Yue.
"Aku tidak keberatan, Nona ..." jawab pria itu.
Lin Yue terlihat sedang berpikir sejenak, lalu dia teringat akan tokoh favoritnya dalam film 'Saint Saiya' di dunia modernnya.
"Nah, mulai sekarang aku akan memanggilmu 'Shirui'. Yang artinya tajam dan tenang, cocok dengan wajahmu ..." ujar Lin Yue, yang mengubah nama 'Shiriyu' menjadi 'Shirui'.
Pria itu terdiam sejenak, lalu dia menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Shirui ... Nama yang sangat bagus. Terima kasih, Nona Yue," ujarnya dengan nada tenang.
"Sama-sama, Shirui ..."
Lin Yue membalikan tubuhnya, berniat untuk pulang.
"Kamu bisa tinggal di sini dengan salah satu penjagaku, yang akan merangkap menjadi pelayanmu juga. Rumah pohon ini sudah dilindungi oleh sebuah formasi, sehingga tidak akan ada yang bisa masuk ke sini kecuali aku dan para bawahanku," ujar Lin Yue menjelaskan.
"Bagaimana dengan kamu, Nona Yue? Apakah kamu akan tinggal di sini juga?" tanya Shirui.
"Aku mempunyai wilayah yang harus aku urus, Shirui. Setelah semuanya siap, maka aku akan membawamu melihatnya," jawab Lin Yue.
"Kenapa kamu menolongku, Nona Yue?" tanya Shirui kembali.
Langkah Lin yue berhenti sejenak, saat mendengar pertanyaan itu.
" ... Karena aku mampu."
Jawaban singkat dan padat, namun cukup membuat Shirui terdiam.
"Gadis yang cukup menarik!"
--
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat, dan Lin Yue sudah beberapa kali datang ke rumah pohonnya untuk melihat keadaan Shirui.
Yuexue dan Chichi sepertinya sangat betah hidup disana, sekalian menjaga sekitar rumah pohon miliknya.
Lin Yue kadang datang sambil membawa makanan, kadang hanya duduk diam sambil merenung, dan kadang-kadang dia berlatih bersama dengan Shirui.
Dia memberikan berbagai macam pil untuk Shirui, agar kultivasinya bisa meningkat.
Selain itu, dia mengajarkan beberapa jurus beladiri campuran kreasinya sendiri.
Wusssh!
Blar!
"Lebih cepat, Shirui!" seru Lin Yue.
Shirui menghindari serangan itu dengan gerakan meliuk tipis, lalu dia membalas serangan itu dengan tangan kosong.
Bugh! Bugh! Bugh!
"Nona Yue, tubuhku seperti mengingat semua gerakan ini, namun otakku tidak bisa mengingatnya ..." ujar Shirui dengan suara rendah.
"Itu berarti insting bertempurmu masih melekat pada tubuhmu! Jangan dipaksakan, kamu akan mengingatnya secara perlahan ..." sahut Lin Yue, sambil terus menyerang pria itu.
"Apakah itu artinya aku seorang petarung?" tanya Shirui.
"Jawabannya sudah sangat jelas dengan adanya luka-luka pada tubuhmu kemarin, kan?" jawab Lin Yue sambil menyeringai tipis.
"Hahaha! Sepertinya identitasku bukan dari kalangan biasa saja, ya?" ujar Shirui sambil tertawa miris.
"Ya. Kamu bukanlah orang dari kalangan biasa,"
"Baguslah kalau begitu ..."
--
Sementara di sisi lain, tepatnya di gerbang wilayah Han, Xue Xialan berdiri di sana dengan mengenakan pakaian sederhana.
Wajahnya sudah terlihat jauh lebih sehat, namun jiwanya masih goyah karena menyimpan bayangan masa lalunya yang menakutkan.
Dia menatap gerbang besar itu tatapan ragu, apakah dia akan masuk ke sana untuk mencari pekerjaan apa tidak.
Beberapa warga diluar gerbang Han melewatinya dan menatap wanita itu dengan tanda tanya pada wajah mereka.
"Ah, Nona Xialan ... sedang apa kamu berdiri di sini? Apakah kamu mau masuk ke dalam wilayah Han?" tanya salah satu wanita paruh baya.
Xue Xialan mengangguk pelan sambil tersenyum.
"Ya, Bibi ... Aku berniat melihat sekitar, dan aku ingin masuk ke wilayah di dalam gerbang itu," jawab Xue Xialan.
"Gerbang itu tidak bisa dimasuki begitu saja, Nona. Kamu harus membayar dua keping emas untuk masuk kesana, kecuali kamu mempunyai kenalan untuk dikunjungi ..." ujar salah satu wanita itu, memberi tahu Xue Xialan.
"Wah, mahal sekali!" pekik Xue Xialan, terkejut.
"Memang mahal ... Oleh karena itu, para pekerja yang bekerja disana sangat beruntung," sahut salah satu Bibi dengan antusias.
"Baiklah, aku tidak jadi masuk kesana ..." ujar Xue Xialan, mengurungkan niatnya.
Saat dia ingin melangkah menjauh dari gerbang itu, tiba-tiba dia melihat sosok Lin Yue, yang baru saja keluar dari dalam hutan bambu.
Dia terpaku menatapnya, lalu tatapan mereka bertemu, membuat tubuh Xue Xialan membeku.
Tubuh Xue Xialan sedikit gemetar, saat merasakan aura yang familiar.
"Dia ... Aura ini ..."
Lin Yue menghentikan langkahnya, lalu dia menyipitkan matanya saat melhat sosok wanita yang ada di luar gerbang wilayahnya.
"Tango ..." gumam Lin Yue dengan suara pelan.
[Saya disini, Host!]
Ternyata Tango mengurungkan niatnya untuk naik level, karena Lin Yue terus menahan kepergiannya.
"Wanita itu ... apakah aku mengenal dirinya sebelumnya? Auranya terasa tidak asing, seperti aku pernah mengenalnya ..." ujar Lin Yue dengan wajah bingung.
[Dia Xue Xialan, Host!]
"Siapa Xue Xialan itu?" tanya Lin Yue.
[Selir Kaisar Longhui, Host! Aduh! Belum tua sudah pikun!]
"Hey! Bukan pikun, ya?! Aku hanya pernah mendengar namanya, namun belum pernah bertatapan langsung dengan wanita jahat itu!" sanggah Lin Yue, yang akhirnya mengingat siapa wanita itu.
[Nah, itu dia! Dia sudah berniat untuk mencelakai Anda, namun belum kesampaian sampai sekarang!]
"Hmm, sepertinya ada yang tidak beres dengan dirinya, benar tidak?" tanya Lin Yue.
[Benar sekali! Tango mengidentifikasi sebuah emosi trauma berat dari dirinya, kemungkinan dia terbawa suasana masa lalu yang berat.]
"Apakah ingatan dia tentang aku sudah dihapuskan?" tanya Lin Yue kembali.
[Sudah, Host! Itu hanyalah reaksi dari alam bawah sadarnya, karena dia merasakan aura samar dari dalam tubuh Anda.]
"Bagus kalau begitu ..."
Lin Yue berjalan menghampirinya, namun saat dirinya sampai dekat gerbang itu, Xue Xialan memundurkan langkahnya dengan tubuh gemetar.
"Kamu siapa?" tanya Lin Yue, pura-pura tidak mengenalnya.
"A-aku ... aku hanya warga baru di sini, Nona ..." jawab Xue Xialan sambil menundukkan kepalanya.
"Haaah! Ternyata dia benar-benar tidak mengenalku ..." gumam Lin Yue dengan rasa lega.
"No-nona jangan salah paham! A-aku tidak ingin mencari masalah, kok! A-aku hanya penasaran dengan wilayah ini, dan hanya ingin melihat-lihat saja ..." ujar Xue Xialan dengan nada terbata.
"Aku hanya ingin hidup tenang ..." lanjutnya dengan suara pelan.
Lin Yue menatapnya dengan wajah datar.
"Jangan pernah berpikir untuk membuat masalah di wilayah ini, jika kamu berniat jahat, lebih baik kamu pergi saja dari wilayah bebas ini," ujar Lin Yue memperingatkan dengan nada dingin.
Xue Xialan terdiam, air mata mulai mengalir deras di wajahnya.
"Tolong, jangan usir aku ... aku tidak punya tempat lain untuk berteduh ..." ujar Xialan dengan suara parau.
Lin Yue berpikir sejenak, lalu dia mempunyai ide gila untuk Xue Xialan.
"Tango, sepertinya dia kabur dari Kaisar Zhuang Erdan. Agar tidak membawa masalah, ubah sedikit wajahnya agar tidak dikenali oleh pihak Kekaisaran Zhuang. Setelah itu, hapus semua ingatan dia, sisakan hanya ingatan tentang kehidupannya saat ini saja ..." perintah Lin Yue dalam benaknya.
[Siap, Host! Perintah diterima!]
Sebuah cahaya lembut mulai menyelubungi tubuh Xue Xialan, membuatnya merasa lemas.
Lin Yue langsung menahan tubuhnya agar tidak jatuh, sampai proses itu selesai.
Beberapa detik kemudian, Xue Xialan membuka matanya kembali.
"Dengarkan aku, Xialan ... Namamu sekarang adalah Han Xialan, dan kamu akan tinggal di wilayah Han dan bekerja untukku, paham?!" ujar Lin Yue dengan nada tegas, namun lembut.
Xialan masih merasa pusing sesaat, lalu dia menganggukkan kepalanya ketika mendengar ucapan Lin Yue.
Lin Yue memanggil salah satu warga yang lewat disana, dan berniat menitipkan Xialan kepada pasangan paruh baya itu, dengan identitas sebagai anaknya.
"Paman, tolong terima wanita ini sebagai anak kalian. Dia akan bekerja di Paviliun milikku. Dia wanita malang ..." pinta Lin Yue kepada pria paruh baya itu.
"Baik, Nona Yue. Saya harap dia tidak akan membawa masalah untuk wilayah baru kita ..." ujar Pria paruh baya itu.
"Tenang saja, Paman ... Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi," ujar Lin Yue.
Lalu dia menatap ke arah Xialan.
"Kamu kembali ke rumahmu saja, Xialan. Ayahmu sudah datang menjemputmu ..." ujar Lin Yue.
"Baik, terima kasih, Nona Yue ..."
"Hmm ..."
Han Xialan berjalan bersama pasangan paruh baya itu tanpa merasa curiga sedkitpun, dia juga melupakan Bibi Lan yang sudah menolongnya kemarin.
--
[Apakah ini sebuah keputusan yang tepat, Host?]
Lin Yue menatap kepada keluarga kecil yang berlalu dari hadapannya itu.
"Ini lebih baik, daripada membiarkan 'Bom Waktu' berjalan bebas di dalam wilayah baru kita, Tango ..." jawab Lin Yue dalam benaknya.
[Sekarang izinkan saya menaikkan level ke level 'Semesta', Host! Jangan tahan-tahan saya lagi dong!]
"Baiklah, pergi sana! Kita akan berjumpa kembali dua bulan mendatang!" sahut Lin Yue dengan nada kesal.
[Baik, Host! Tango pamit!]
"Hmm, ..."
--
Hari-hari berikutnya berjalan lebih tenang, sementara Han Xialan sudah mulai bekerja di dalam Paviliun Orchid Bulan, dalam pengawasan ketat para bawahan Lin Yue.
Sementara Mei Fang menyibukkan diri dengan urusan pembelian hasil panen para warga, dan menjualnya ke berbagai wilayah dengan harga yang sangat tinggi bersama adiknya.
Sementara Lin Yue semakin sering mengunjungi rumah pohon untuk membuat design kincir angin dan menara untuk menampung energi matahari.
Hubungannya dengan Shirui semakin dekat, membuat suasana hatinya menjadi bagus setiap harinya.
Dia juga berencana untuk membuat arak buah, dan akan menyerahkan urusan itu kepada Shirui nantinya, agar dia mempunyai penghasilan sendiri.
Lin Yue akan membuat arak buah dengan campuran air ajaib, agar dapat menyehatkan tubuh peminumnya.
Selain itu, dia ingin arak miliknya berbeda dengan arak-arak mahal yang dijual di dunia ini.
"Minumlah ..." ujar Lin yue sambil menyerahkan secangkir teh kepada Shirui.
"Terima kasih, Yue'er ..."
"Kamu sudah bisa mengalirkan energi Qi ke dalam meridianmu?" tanya Lin Yue.
"Sudah bisa, namun secara perlahan. Aku tidak ingin merusak meridianku kembali, jika terlalu terburu-buru ..." jawab Shirui.
Lin Yue langsung duduk di seberang Shirui, dan dia menatap pria itu dengan tatapan lembut.
"Ayo, coba lagi sekarang ..." ujar Lin Yue.
"Baiklah."
Shirui menutup matanya, setelah dia meletakkan cangkir tehnya.
Energi spiritual tipis mulai mengalir masuk ke dalam tubuhnya dengan perlahan.
Namun tiba-tiba~
"Ugh!"
Shirui meringis, saat merasakan nyeri pada tubuhnya.
Lin Yue langsung mendekat ke arahnya dengan wajah khawatir.
"Jangan terlalu dipaksakan, Shirui .. Meridianmu baru saja pulih," ujarnya dengan nada lembut.
"Haaah! Sepertinya tubuhku lebih keras kepala, dari pada otakku ..." ujar Shirui sambil menghela napas lelah.
"Hahahaha! Itu pertanda bagus, Shirui! Tandanya tubuh kamu akan lebih cepat pulih kedepannya ..." sahut Lin Yue sambil tertawa.
"Kenapa kamu selalu datang berkunjung, Yue'er? Apakah kamu takut aku kabur, hmm?" tanya Shirui.
"Aku hanya ingin memastikan, jika 'investasi' masa depanku tidak akan mati ..." jawab Lin Yue asal.
"Yakin, cuma investasi saja?" tanya Shirui dengan nada magnetis yang menggoda.
Lin Yue menatapnya sekilas, wajahnya sudah merona sekarang.
"Ya, hanya investasi ... untuk saat ini ..." jawab Lin Yue sambil memalingkan wajahnya.
Mereka terdiam ...
Namun mereka tahu, suasananya sudah tidak secanggung kemarin.
--
Sementara itu di kejauhan, seseorang sedang mengamati wilayah Han dengan wajah serius.
Tatapan matanya sangat dingin, saat merasakan sebuah jejak aura yag tertinggal di sana.
"Jejaknya menghilang di sini ..." gumamnya pelan.
"Ini semakin menarik!"
"Han Lin Yue, ya? Hehehe ..."
"Tunggu saja kedatangan kami ..."
Lin Yue merasakan sebuah aura kuat di luar gerbang wilayahnya.
Tatapannya menajam, dan wajahnya mengeras.
"Ingin mengacau di dalam wilayahku, heh?! MIMPI!!"
"Aku tunggu kedatangan kalian dengan tangan terbuka ... Hahaha!"
⚛⚛⚛
ditunggu yaa kelanjutannya author
ditunggu yaa kelanjutannya author
ditunggu yaa kelanjutannya autho
😁😁
ditunggu yaa kelanjutannya author
Akhirnya update juga author 😁
ditunggu yaa kelanjutannya author