Di balik kemewahan keluarga Mahendra, tersembunyi sebuah rahasia kelam. Bertahun-tahun lalu, Alisha Pratiwi diculik dan dipisahkan dari orang tua kandungnya, Ragendra dan Helena Mahendra. Sementara itu, kebohongan besar ditanam rapi oleh dalang licik bernama Bram Santoso.
Tanpa menyadari takdir yang terhubung, Alvaro tumbuh sebagai pewaris keluarga Mahendra, sedangkan Alisha hidup dalam kesederhanaan dengan identitas yang bukan miliknya. Ketika kebenaran perlahan terkuak, cinta, pengkhianatan, dan perebutan hak waris tak lagi bisa dihindari.
Siapakah pewaris yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 — Setelah Malam Itu
Bab 30 — Setelah Malam Itu
Alisha duduk di kursi lorong rumah sakit.
Tangannya saling menggenggam sejak tadi. Jemarinya masih terasa dingin meski udara di dalam ruangan cukup hangat.
Pintunya tertutup rapat.
Di balik pintu itu, Alvaro masih dalam penanganan dokter.
Ia menatap lurus ke depan, tapi pikirannya ke mana-mana.
Suara di kepalanya tidak berhenti.
Benturan itu.
Darah.
Cara Alvaro jatuh di depannya.
Alisha menutup mata sebentar.
Napasnya tidak teratur.
Ia mencoba menenangkan diri, tapi sulit.
Beberapa perawat lalu lalang di depan lorong. Suara langkah kaki terdengar jelas. Sesekali ada pasien lain yang lewat.
Semua terasa biasa.
Kecuali dirinya.
Pintu ruang perawatan akhirnya terbuka.
Seorang dokter keluar.
Alisha langsung berdiri.
“Dok… bagaimana keadaannya?”
Dokter itu melepas masker dari wajahnya.
“Lukanya cukup dalam di bagian kepala, tapi tidak sampai membahayakan nyawa.”
Alisha menahan napas.
“Kami sudah menghentikan pendarahannya. Dia butuh istirahat dan observasi.”
Alisha mengangguk cepat.
“Boleh… aku melihatnya?”
Dokter itu menatapnya sebentar, lalu mengangguk.
“Tapi jangan terlalu lama.”
Alisha langsung masuk tanpa menunggu lagi.
Ruangan itu tenang.
Bau obat terasa cukup kuat.
Alvaro terbaring di atas tempat tidur. Kepalanya sudah dibalut perban.
Wajahnya pucat.
Alisha melangkah pelan mendekat.
Setiap langkah terasa berat.
Ia berdiri di samping tempat tidur.
Melihat pria itu dalam keadaan seperti ini membuat dadanya sesak.
“Maaf…”
Suara itu keluar pelan.
Ia duduk di kursi di sampingnya.
Tangannya perlahan menyentuh tangan Alvaro.
Hangat.
Masih hangat.
Air mata langsung jatuh.
“Kalau bukan karena aku… kamu tidak akan seperti ini…”
Ia menunduk.
Bahunya sedikit bergetar.
Beberapa detik berlalu dalam diam.
Lalu jari Alvaro bergerak pelan.
Alisha langsung mengangkat kepala.
Matanya melebar.
“Kak Alvaro?”
Kelopak mata pria itu bergerak.
Perlahan terbuka.
Tatapannya masih sedikit kabur.
Tapi ia melihat satu hal yang jelas.
Alisha.
“Kamu…” suaranya pelan.
Alisha langsung mendekat.
“Aku di sini…”
Alvaro mencoba fokus.
“...kamu tidak apa-apa?”
Pertanyaan itu membuat Alisha langsung menangis lagi.
“Aku tidak apa-apa…”
Ia menggenggam tangan Alvaro lebih erat.
“Kamu yang terluka…”
Alvaro mencoba tersenyum tipis.
“Itu tidak penting.”
Alisha menggeleng cepat.
“Itu penting!”
Suaranya sedikit meninggi.
Lalu ia menunduk lagi.
“Aku hampir kehilangan kamu…”
Ruangan kembali sunyi.
Alvaro tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap Alisha beberapa detik.
“Aku tidak akan pergi,” katanya pelan.
Kalimat itu sederhana.
Tapi cukup membuat Alisha diam.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Ia hanya mengangguk kecil.
Pintu ruangan diketuk pelan.
Damar masuk.
Ia melihat kondisi Alvaro lalu mengangguk.
“Masih hidup, berarti belum selesai urusannya.”
Alvaro menghela napas pelan.
“Laporanmu?”
Damar mendekat.
“Semua orang di gudang sudah diamankan.”
Alisha sedikit menegang.
“Dia… bagaimana?”
Damar tahu siapa yang dimaksud.
“Ditahan.”
Jawabannya singkat.
Alisha menunduk.
Perasaannya campur aduk.
Marah.
Sedih.
Tidak percaya.
Damar lalu mengeluarkan sesuatu dari sakunya.
Sebuah ponsel.
“Aku menemukan ini di gudang.”
Alvaro menatap benda itu.
“Bukan milik mereka?”
Damar menggeleng.
“Sepertinya bukan.”
Ia menyalakan layar.
Pesan itu masih ada.
Damar menunjukkannya.
Alvaro membaca pelan.
“Permainan baru dimulai.”
Ruangan kembali sunyi.
Alisha ikut melihat.
“Apa maksudnya itu?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Alvaro menatap layar itu beberapa detik.
Pikirannya langsung bekerja.
“Ini bukan dia,” katanya akhirnya.
Damar mengangguk.
“Aku juga pikir begitu.”
“Berarti masih ada orang lain?”
Alisha mulai merasa tidak nyaman lagi.
Damar bersandar sedikit.
“Orang yang lebih besar dari ini.”
Alvaro menarik napas pelan.
Satu nama muncul di pikirannya.
“Bram.”
Nama itu membuat suasana berubah.
Alisha mengangkat kepala.
“Siapa itu?”
Damar menoleh padanya.
“Seseorang yang seharusnya sudah lama hilang.”
Alvaro menatap langit-langit ruangan.
“Dan seharusnya tidak kembali.”
Beberapa detik tidak ada yang bicara.
Semua mencerna kemungkinan itu.
Di tempat lain…
Seorang pria duduk di ruangan gelap.
Layar di depannya menampilkan berita.
Kasus penculikan.
Nama keluarga Mahendra kembali disebut.
Ia tersenyum tipis.
“Tepat seperti yang kuharapkan.”
Ia mematikan layar.
Ruangan langsung gelap.
“Kalian mulai bergerak…”
Suaranya pelan.
“…sekarang giliranku.”
Kembali ke rumah sakit.
Alisha masih duduk di samping Alvaro.
Tangannya tidak lepas dari genggaman pria itu.
“Apa semua ini akan selesai?” tanyanya pelan.
Alvaro tidak langsung menjawab.
Ia menatap ke arah Damar.
Damar hanya mengangkat bahu.
“Kalau orang itu benar-benar terlibat…”
Kalimatnya terhenti.
Alvaro melanjutkan.
“Ini baru awal.”
Alisha menunduk.
Perasaan tidak tenang kembali muncul.
Ia pikir semuanya sudah berakhir.
Ternyata belum.
Damar melihat ponsel di tangannya lagi.
Layar tiba-tiba menyala.
Ada pesan baru masuk.
Ketiganya langsung menoleh.
Damar membuka pesan itu.
Tulisan di layar pendek.
“Aku akan datang.”
Alisha langsung merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
Alvaro menatap layar itu dengan tajam.
Damar mengunci ponsel.
“Sepertinya dia tidak mau menunggu lama.”
Ruangan kembali sunyi.
Tidak ada yang bicara.
Semua tahu satu hal.
Masalah ini belum selesai.
Alisha menatap Alvaro.
Wajahnya masih pucat.
Tapi tatapannya tetap kuat.
Ia menggenggam tangannya lebih erat.
Jika seseorang benar-benar akan datang… apa yang akan terjadi selanjutnya?
#bersambung
Alisha tidak akan kalah terus kok… justru mulai dari bab berikutnya dia sudah mulai melawan 😉
makasih banyak masukannya, ditunggu ya kelanjutannya~