NovelToon NovelToon
Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Kisah Cinta: Daisy Dan Tuan Jenderal

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Daisy, seorang wanita muda berusia dua puluh tiga tahun dengan paras bak boneka, adalah sosok jenius di balik lagu-lagu hits global dan komik-komik legendaris yang merajai dunia. Meski hidup dalam kemewahan sebagai kerabat dekat Sang Raja, ia memilih tetap rendah hati. Namun, kebebasannya terusik saat kepulangannya dari Oxford disambut dengan berita perjodohan. Ia harus menikah dengan Matthew von Eisenberg, seorang Duke sekaligus Jenderal Agung berusia dua puluh enam tahun yang kaku dan dingin. Di balik kemegahan pernikahan mereka, ada dinding es yang tinggi. Enam bulan pertama berlalu dengan keheningan, hingga sebuah tugas negara memaksa Matthew pergi ke medan perang selama dua tahun, meninggalkan pernikahan yang bahkan belum sempat dimulai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Garis Demarkasi di Balik Meja Perjamuan

Kejadian karung beras sore itu meninggalkan luka yang tidak berdarah di hati Daisy. Bagi seorang wanita yang menjunjung tinggi kemandirian dan martabat seperti dirinya, diperlakukan secara fisik seolah-olah dia adalah logistik perang merupakan penghinaan tertinggi. Namun, Daisy tidak membalas dengan teriakan atau tangisan. Ia membalas dengan sesuatu yang jauh lebih mematikan bagi seorang pria yang haus akan pengakuan: Formalitas yang Sempurna.

Pagi harinya, suasana di meja sarapan terasa seperti ruang sidang militer. Daisy duduk tegak, mengenakan gaun pagi berwarna abu-abu mutiara yang kancingnya tertutup rapat hingga ke leher. Tidak ada bando hitam yang manis atau rambut yang terurai acak-acakan. Semuanya rapi, terkendali, dan dingin.

Saat Matthew masuk ke ruang makan dengan seragam lengkapnya, Daisy bahkan tidak menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengolesi roti.

"Selamat pagi," suara Matthew rendah, mencoba mencari celah untuk memulai percakapan.

Daisy meletakkan pisaunya perlahan. Ia menatap lurus ke arah Matthew, namun matanya tidak memancarkan emosi apa pun. "Selamat pagi, Jenderal. Saya harap Anda beristirahat dengan cukup semalam."

Matthew tertegun. Apakah Daisy marah atas tindakannya kemarin?

"Daisy, aku melakukan itu kemarin karena kau belum makan sejak pagi," ucap Matthew sambil menarik kursinya.

"Iya saya mengerti, Jenderal," sahut Daisy datar. "Mengingat cara Anda memperlakukan saya semalam, saya menyadari bahwa posisi saya di rumah ini memang tidak lebih dari subjek yang harus patuh pada otoritas Anda."

Matthew mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia ingin membela diri, ingin mengatakan bahwa ia hanya khawatir, tapi egonya kembali mengunci mulutnya. Ia hanya bisa menatap piringnya dengan seleranya yang hilang seketika.

"Saya akan pergi ke Ibukota selama tiga hari untuk urusan agensi dan peluncuran komik," lanjut Daisy tanpa menunggu respon Matthew. "Saya memberitahu Anda hanya agar laporan intelijen Anda tidak perlu bekerja terlalu keras untuk mencari keberadaan saya."

"Kau menyindirku?" Tanya Matthew, matanya menyipit tajam.

"Saya hanya menyatakan fakta, Jenderal. Anda menyukai kontrol, dan saya memberikan informasi yang Anda butuhkan secara sukarela. Bukankah itu yang paling efisien bagi Anda?"

Daisy bangkit dari kursinya, membungkuk sedikit dengan sangat formal—sebuah gestur yang biasa dilakukan pelayan atau bawahan militer—lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Tiga hari berikutnya adalah siksaan bagi Matthew. Markas militer terasa lebih tenang daripada pikirannya sendiri. Ia tenggelam dalam tumpukan berkas strategi pertahanan, namun setiap kali ia melihat kata strategi, ia teringat bagaimana Daisy membangun strategi untuk mengucilkannya.

Di markas, Matthew menjadi lebih galak dari biasanya. Para perwira bawahannya gemetar setiap kali ia memberikan instruksi. Namun, di balik wajah sangarnya, ia terus-menerus mengecek ponselnya. Tidak ada pesan dari Daisy. Hanya ada laporan kering dari ajudannya yang membuntuti Daisy di Ibukota.

“Nyonya Muda menghadiri konferensi pers. Nyonya Muda makan malam dengan tim produksi. Nyonya Muda terlihat tenang dan profesional.”

"Tenang dan profesional," gumam Matthew sambil melempar ponselnya ke meja. "Dia benar-benar ingin membuangku dari hidupnya."

Matthew mulai menyadari kesalahannya. Ia pikir dengan bersikap dominan, ia bisa melindungi Daisy. Ternyata, Daisy bukan Maira. Daisy tidak butuh perlindungan yang bersifat mengekang; Daisy butuh dihargai sebagai manusia yang setara. Namun, bagi pria yang sejak usia 10 tahun sudah dididik di asrama militer untuk memimpin dan memerintah, kata setara adalah konsep yang sangat asing.

Ia takut. Ia benar-benar takut jika ia meminta maaf, ia akan terlihat lemah. Dan di dunianya, lemah berarti hancur. Namun, ia juga sadar bahwa jika ia terus bersikap seperti ini, ia akan benar-benar kehilangan Daisy selamanya—kali ini bukan karena kabur seperti Maira, tapi karena Daisy akan tetap ada di depannya namun jiwanya sudah mati untuknya.

Sementara itu di Ibukota, Daisy bersinar di bawah lampu sorot. Ia menghadiri berbagai wawancara televisi dan sesi tanda tangan buku. Namun, setiap kali ia sendirian di kamar hotelnya, ia menatap ponselnya.

Ia melihat nama "Jenderal Matthew" di kontaknya. Ia teringat bagaimana kuatnya lengan Matthew saat menggendongnya malam itu. Sebenarnya, ada bagian kecil di hatinya yang merasa terenyuh karena Matthew ternyata memperhatikan kesehatannya. Tapi rasa sakit karena merasa dianggap objek dan rahasia tentang gadis Maira jauh lebih besar daripada rasa haru itu.

"Dia hanya ingin aku menjadi boneka yang cantik dan sehat untuk pajangannya," batin Daisy pada dirinya sendiri.

Ia memutuskan untuk semakin memperlebar jurang itu. Daisy mulai menjadwalkan tur promosi ke luar negeri. London, Paris, Seoul. Ia ingin menjauh sejauh mungkin dari aroma pinus Glanzwald dan aroma militer Matthew.

Malam saat Daisy kembali ke Glanzwald, Matthew sudah menunggunya di depan gerbang paviliun. Ia masih mengenakan seragamnya, berdiri tegak di bawah hujan rintik yang mulai turun. Ia tampak seperti patung kuno yang tidak bergeser sedikit pun selama tiga hari.

Saat mobil Daisy berhenti, Matthew sendiri yang membukakan pintu.

"Selamat datang kembali," ucap Matthew.

Daisy turun, memegang payungnya sendiri tanpa memedulikan tangan Matthew yang terulur ingin membantunya. "Terima kasih, Jenderal. Anda tidak perlu repot-repot menyambut saya di luar seperti ini. Udara sedang tidak bagus untuk kesehatan Anda."

"Daisy, hentikan panggilan itu, mulai sekarang panggil ku Matthew," Matthew berkata dengan nada yang hampir terdengar seperti permohonan.

"Saya hanya mengikuti protokol yang Anda buat sendiri, Jenderal," sahut Daisy dingin. "Sekarang, jika Anda mengizinkan, saya ingin segera beristirahat. Perjalanan dari Ibukota cukup melelahkan."

Daisy melangkah melewatinya. Matthew merasa seperti sebuah tembok besar baru saja dibangun tepat di tengah-tengah mereka. Ia mengikuti Daisy masuk ke dalam rumah, namun tetap menjaga jarak beberapa langkah di belakangnya—jarak yang aman bagi Daisy, namun menyakitkan bagi Matthew.

Di ruang tengah, Matthew memanggilnya lagi. "Aku meminta pelayan menyiapkan teh jahe hangat di kamarmu. Karena hujan."

Daisy berhenti sejenak, namun tidak berbalik. "Terima kasih atas perhatian Anda, Jenderal. Anda sangat efisien dalam mengatur rumah tangga ini. Saya hargai itu."

"Efisien? Hanya itu?" Suara Matthew meninggi, rasa frustrasinya meledak kecil. "Aku melakukannya karena aku ingin kau tidak sakit, Daisy! Bukan karena masalah efisiensi atau laporan pelayan!"

Daisy akhirnya berbalik. Ia menatap mata Matthew yang mulai memerah karena menahan emosi. "Jika Anda benar-benar peduli, Jenderal, Anda akan bertanya lebih dulu sebelum menggunakan kekerasan fisik untuk membawa saya makan malam tempo hari. Tapi Anda tidak bertanya. Anda hanya memerintah. Dan bagi saya, itu bukan kepedulian. Itu adalah kepemilikan."

Daisy kemudian melanjutkan langkahnya menaiki tangga. Matthew berdiri di bawah, menatap punggung Daisy yang semakin menjauh. Ia merasa seperti seorang pecundang di medan pertempuran paling penting dalam hidupnya.

Malam itu, Glanzwald kembali tenggelam dalam kesunyian yang mencekam. Di sayap kanan, sang Jenderal meratapi ketidakmampuannya untuk bicara. Di sayap kiri, sang Muse menangisi cinta yang ia rasa tidak akan pernah bisa tulus karena terhalang oleh bayang-bayang masa lalu dan kekakuan yang memuakkan.

"Dasar pria menyebalkan," bisik Daisy di dalam kamarnya yang gelap.

"Aku mencintaimu, tapi aku tidak tahu caranya," gumam Matthew di ruang kerjanya yang dingin.

Dua kalimat yang tidak pernah sampai pada tujuannya itu kini menggantung di udara Glanzwald, menandai puncak dari perang dingin mereka di Musim Pertama ini.

1
Fbian Danish
aku suka sekali ceritamu Thor. pendek, ringan, GK bertele2... cocok sekali untuk hiburanku disela puyengnya mikirin dunia😄😄 fighting thor💪💪💪💪
W.s • Bae: benar banget kak 😄 terimakasih ya😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!