NovelToon NovelToon
Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Lepaskan Aku Mas, Aku Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / CEO / Penyesalan Suami / Romantis / Romansa / Cintapertama
Popularitas:18k
Nilai: 5
Nama Author: Itz_zara

Lima tahun menikah, Samira tak pernah dicintai.

Pernikahannya lahir dari kesalahan satu malam bukan dari cinta, melainkan kehamilan yang memaksa Samudra menikahinya.
Ia mencintai sendirian. Bertahan sendirian.

Hingga suatu hari, lelah itu tak bisa lagi ditahan.

“Lepaskan aku, Mas… aku menyerah.”

Karena pernikahan tanpa cinta hanya akan mengajarkan satu hal: kapan seseorang harus berhenti bertahan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Itz_zara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Bertemunya Masa Lalu

Saat itu, keluarga kecil Samudra tengah berada di salah satu wahana permainan yang cukup ramai di kota tersebut. Suara tawa anak-anak, musik ceria, dan gemerlap warna dari berbagai permainan memenuhi suasana.

Binar berdiri di antara Samira dan Samudra, matanya berbinar penuh antusias. Ia menunjuk ke arah salah satu wahana, sebuah permainan yang berputar cukup tinggi.

“Bibi mau naik itu, Pa!” serunya semangat.

Samudra mengikuti arah tunjuknya, lalu sedikit mengernyit.

“Yang itu?” tanyanya memastikan.

Binar mengangguk cepat.

“Iya!”

Samudra menatap wahana itu beberapa detik, lalu kembali ke arah putrinya. Nada suaranya tetap tenang, tapi kali ini lebih serius.

“Memangnya Bibi berani naik itu?” tanya Samudra pada Binar dengan lembut.

Ia memang sengaja bertanya dulu. Samudra tidak ingin menuruti keinginan anaknya begitu saja, lalu di tengah permainan Binar malah ketakutan dan minta turun.

Binar mengangguk mantap.

“Berani kok!” ucap Binar dengan percaya diri.

Samira yang berdiri di samping ikut berjongkok agar sejajar dengan tinggi Binar.

“Yakin, sayang?” tanyanya lembut.

“Iya,” jawab Binar lagi, kali ini sedikit lebih pelan, tapi tetap penuh keyakinan.

Samira tersenyum, lalu merapikan rambut putrinya yang sedikit tertiup angin.

“Nanti kalau takut, bilang ya. Jangan dipaksakan.” Ucap Samira lembut.

Binar mengangguk.

“Iya, Mama.”

Samudra akhirnya menghela napas kecil, lalu tersenyum tipis.

“Ya sudah. Kita coba.”

“Yeaaay!” Binar langsung melonjak kecil kegirangan.

@@@

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berdiri di antrean. Binar berdiri di depan, sesekali berjinjit melihat wahana yang berputar.

“Pa… tinggi ya…” gumamnya.

Samudra melirik.

“Tadi katanya berani.” Goda Samudra.

Binar langsung menoleh.

“Iya! Berani!”

Samira tertawa kecil melihat ekspresi campur aduk putrinya antara semangat dan sedikit tegang.

Saat giliran mereka tiba, petugas membantu Binar naik ke kursi wahana. Samira duduk di sebelahnya, sementara Samudra berada di sisi lain.

Sabuk pengaman dipasang. Wahana mulai bergerak perlahan.

Awalnya pelan. Lalu semakin cepat. Binar langsung mencengkeram tangan Samira.

“Mama…” ucap Binar lirih.

“Iya, sayang… Mama di sini,” jawab Samira sambil menggenggam tangan kecil itu.

Samudra di sisi lain ikut memperhatikan.

“Bibi masih berani?” tanyanya.

Binar menatap ke depan, angin mulai menerpa wajahnya.

Beberapa detik—

Lalu tiba-tiba—

“Iyaaa! Seruuu!” teriaknya.

Samira langsung tertawa lega. Sementara Samudra hanya tersenyum kecil, matanya tetap mengawasi.

Wahana terus berputar. Tawa Binar semakin keras.

Ia bahkan mulai melepaskan satu tangannya, melambai kecil ke arah bawah.

“Pa! Mama! Lihat!”

Samira menggeleng sambil tertawa.

“Hati-hati!”

Samudra mengulurkan tangan, memastikan putrinya tetap aman.

“Pegang yang benar.”

“Iya, Papa!”

@@@

Beberapa menit kemudian, wahana berhenti. Binar turun dengan wajah merah karena angin dan tawa.

“Seruuuu!” katanya tanpa henti.

Samira tersenyum lebar.

“Tadi katanya takut.”

“Enggak takut!” bantah Binar cepat.

Samudra mengangkat alis.

“Tadi pegang tangan Mama kuat banget.”

Binar langsung menoleh ke Samira, lalu tertawa malu.

“Itu… biar nggak jatuh.”

Samira dan Samudra sama-sama tertawa.

@@@

Setelah itu, mereka berjalan pelan keluar dari area wahana. Binar berjalan di tengah, memegang tangan kedua orang tuanya.

“Pa, kita naik lagi ya…” pinta Binar.

Samudra menatapnya.

“Masih kuat?” tanya Samudra.

“Masih!” jawab Binar.

Samira ikut menimpali,

“Tapi jangan yang terlalu ekstrem ya.”

Binar berpikir sebentar.

“Yang tadi lagi aja.”

Samudra mengangguk.

“Boleh.”

Namun sebelum melangkah lebih jauh, langkah Samira sedikit melambat. Samudra yang menyadari itu menoleh.

“Kenapa?”

Samira menggeleng kecil.

“Nggak apa-apa.”

"Ya udah yuk, Bibi udah nungguin."

Belum sempat Samira membalas ucapan Samudra, Binar lebih dulu memotong.

“Pa, ayo…”

Kemudian mereka melanjutkan menaiki wahana yang diinginkan oleh putri mereka.

@@@

“Capek?” tanya Samudra sambil mengelap keringat di dahi putrinya dengan sapu tangan.

“Belum!” jawab Binar cepat, napasnya memang sedikit terengah, tapi matanya masih berbinar penuh semangat.

Samira tersenyum kecil melihat itu.

“Kalau belum capek, berarti… lapar,” tebaknya.

Binar langsung menoleh.

“Iya! Lapar!”

Samudra tertawa pelan.

“Ya sudah, kita makan siang dulu.”

Binar langsung mengangguk setuju.

“Mau makan enak!”

"Siap princess!"

@@@

Mereka pun berjalan keluar dari area wahana menuju deretan restoran yang tidak jauh dari sana. Matahari sudah cukup tinggi, membuat suasana terasa lebih hangat.

Setelah melihat beberapa pilihan, akhirnya mereka masuk ke sebuah restoran yang cukup ramai namun nyaman.

Interiornya sederhana tapi rapi, dengan aroma makanan yang langsung menggoda begitu mereka melangkah masuk.

“Di sini saja ya,” ujar Samudra.

Samira mengangguk.

“Iya, kelihatannya enak.”

Mereka duduk di salah satu meja. Binar langsung sibuk melihat menu dengan ekspresi serius, seolah benar-benar mengerti.

“Mau ini… ini… sama ini!” katanya sambil menunjuk beberapa gambar sekaligus.

Samira tertawa kecil.

“Pelan-pelan, sayang. Nanti Mama bantu pilihkan.”

Samudra memperhatikan itu sambil tersenyum tipis, lalu mengambil menu.

“Mas pesan ya,” katanya.

Samira mengangguk.

“Iya.”

@@@

Beberapa menit kemudian, setelah pesanan dibuat, suasana meja mereka kembali santai.

Binar mulai bercerita lagi tentang wahana yang tadi ia naiki, tangannya ikut bergerak ke sana ke mari menjelaskan.

Samira sesekali tertawa, sementara Samudra mendengarkan sambil sesekali menanggapi.

Namun—

Tanpa sengaja, pandangan Samira teralihkan. Ke arah pintu masuk restoran.

Dan di sanalah—

Seorang wanita baru saja masuk.

Langkahnya tenang. Penampilannya rapi, elegan. Dan wajah itu… Samira mengenalinya.

Jantungnya langsung berdetak sedikit lebih cepat.

Nadira.

Wanita yang pernah ia lihat… waktu itu. Di parkiran mall. Bersama ibu mertuanya.

Tatapan Samira langsung berubah sedikit kaku. Ia tidak sadar… sejak kapan tangannya berhenti bergerak.

Samudra yang duduk di depannya menyadari perubahan itu.

“Mir?” panggilnya pelan.

Samira tersentak kecil.

“Iya?”

“Kamu kenapa?”

Samira menggeleng cepat.

“Nggak apa-apa…”

Namun matanya… tanpa sadar kembali melirik ke arah wanita itu.

Dan saat itulah—

Nadira juga melihat ke arah mereka.

Tatapan mereka bertemu. Beberapa detik.

Hening.

Lalu—

Senyum tipis muncul di bibir Nadira. Bukan senyum ramah. Lebih seperti… senyum yang penuh arti.

Dan tanpa ragu—

Ia melangkah mendekat. Samira langsung menegang. Sementara Samudra… belum menyadari sepenuhnya.

“Samudra?”

Suara itu terdengar jelas di meja mereka. Samudra langsung menoleh. Dan dalam sekejap—

Ekspresinya berubah.

Sedikit terkejut.

“Nadira…”

Binar yang tidak mengerti apa-apa hanya menatap bergantian.

“Papa, itu siapa?” bisiknya pelan.

Namun tidak ada yang langsung menjawab. Karena suasana di meja itu…

Tiba-tiba berubah.

@@@

Nadira berdiri di samping meja mereka, menatap Samudra dengan tatapan yang sulit ditebak.

“Lama tidak bertemu,” ujarnya santai.

Samudra berdiri perlahan.

“Iya… lama.”

Nada suaranya terdengar lebih datar dari biasanya. Samira yang duduk di sana hanya bisa diam. Tangannya saling menggenggam di bawah meja.

Berusaha tetap tenang. Berusaha tidak terlihat terganggu.

Namun hatinya… Tidak bisa dibohongi. Nadira akhirnya melirik ke arah Samira.

“Ini…?” tanyanya, meski seolah sudah tahu jawabannya.

Samudra menarik napas kecil.

“Istri aku. Samira.”

Nadira mengangguk pelan.

“Ah…”

Lalu ia mengulurkan tangan.

“Senang bertemu denganmu.”

Samira menatap tangan itu beberapa detik. Lalu… dengan ragu, ia menyambutnya.

“Iya… saya juga.”

Meski suaranya pelan.

Dan jujur—

Tidak sepenuhnya tulus.

@@@

Binar yang masih bingung akhirnya menarik baju Samudra.

“Papa…”

Samudra menoleh.

“Iya, sayang?”

“Ini siapa?” tanya Binar. Karena pertemuan diparkiran hari itu Binar sudah mengantuk jadi tak memperdulikan sekitar.

Samudra terdiam sejenak. Sementara Nadira justru tersenyum, lalu sedikit menunduk ke arah Binar.

“Teman lama Papa,” jawabnya lebih dulu.

Nada suaranya lembut. Tapi entah kenapa… Membuat suasana semakin tidak nyaman.

Beberapa detik hening.

Lalu Nadira kembali berdiri tegak.

“Tidak menyangka kita bertemu di sini,” katanya santai.

Samudra hanya mengangguk kecil.

“Iya.”

“Lagi liburan?”

“Iya. Sama keluarga.”

Nadira melirik sekilas ke arah Samira… lalu ke arah Binar.

“Kelihatannya… bahagia.”

Kalimat itu terdengar seperti pujian. Namun ada sesuatu di baliknya. Yang tidak bisa dijelaskan.

Samira merasakannya.

Jelas.

“Ya sudah… aku gak mau ganggu,” lanjut Nadira.

“Tadi cuma kebetulan lihat.”

Ia tersenyum tipis.

“Semoga liburannya menyenangkan.”

Samudra mengangguk.

“Iya.”

Lalu—

Nadira melangkah pergi. Kembali ke mejanya. Namun sebelum benar-benar menjauh—

Ia sempat menoleh sekali lagi.

Ke arah Samudra.

Dan saat itu—

Samira melihatnya dengan jelas. Tatapan itu… Bukan sekadar tatapan biasa.

Suasana di meja mereka kembali hening.

Berbeda dari sebelumnya. Binar yang tidak paham hanya menatap kedua orang tuanya.

“Pa… Mama… kenapa diam?”

Samira tersadar, lalu cepat tersenyum.

“Nggak apa-apa, sayang.”

Namun saat ia melirik ke arah Samudra— Ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.

Pria itu…

Diam.

Dan entah kenapa—

Perasaan tidak nyaman itu…

Perlahan mulai tumbuh kembali.

@@@

Hai Semuanya!

Selamat Datang Di Cerita Baru Aku!!!

Mohon maaf kalau alurnya terasa lambat. Aku memang sengaja membuatnya bergaya slow burn supaya setiap detail dan emosi dalam cerita nya bisa lebih terasa.

Jangan lupa like, comment, follow, dan share cerita ini ya!!!

Terima Kasih!

1
Yunita Sophi
thor jgn di kasih bom dong... petasan aja bikin kaget dan takut..😂 semoga mereka kuat menghadapi cobaan yg akan merusak hubungan mereka yg mulai manis...
Itz_zara: Hmm gimana yakk🤔
total 1 replies
cinta semu
awal baca biasa aja tapi makin lama ..bikin nagih tuk lanjut baca😂😂titip samudera sm Samira ya Thor ...bikin bahagia sampai tamat
Itz_zara: Aww makaasih🥰
total 1 replies
cinta semu
nah kan meluk istri sambil tidur bikin ketagihan kan ...lama2 u akan kecanduan samudera 😂😂😂😂
Itz_zara: Nagih banget🤭
total 1 replies
Uthie
Masih penasaran soal Judulnya.. apakah jadi terealisasi kan.. atau.. malah sdh berubah gak jadi pisah 😁👍
Itz_zara: eitss jangan senang dulu🤭 ada boom nanti🤫
total 1 replies
Ma Em
Akhirnya Samudra sdh baik dan menerima Samira sebagai istrinya bahkan sdh dikenalkan sama teman2 nya , semoga rumah tangga Samira dgn Samudra langgeng , selalu rukun dan bahagia .
Itz_zara: Aminn, doain ya lancar terus rumah tangganya😆
total 1 replies
Fina Silaban Tio II
ceritanya aku suka
Itz_zara: Thank u 🥰
total 1 replies
Si Memeh
bagus banget cerita nya
Yunita Sophi
Samira kok gak jadi cemburu sih... cemburu dong 😄😄😄
Itz_zara: Selalu positif thinking dia🤭 jadi gak gampang cemburu🤭
total 1 replies
Uthie
Sukkkkaaa BANGETTT ceritanya... terdiri dari beberapa part cerita.. jadi berasa banyak dan Puasssss bacanya 👍😘🤗
Itz_zara: Awww makasih ya😆🥰
total 1 replies
Yunita Sophi
thor semangat 💪💪💪 kopi pagi ☕️🍞
Itz_zara: Thank u ya masih nungguin cerita ini🥰
total 1 replies
Yunita Sophi
klo udah ada cemburu berarti udah ada cinta ya Sam 😍😄
Itz_zara: Kayaknya🤭🤫
total 1 replies
Yunita Sophi
aq cubit jantung Samudra klo tergoda sama pelakor... kan dia yg ninggalin kamu Sam masa mau tergoda sih...
Itz_zara: Waduh mau di cubit jantungnya🤭
total 1 replies
Yunita Sophi
ahh makin suka liat yg bahagia...😍
Itz_zara: Awww makasih🥰
total 1 replies
Yunita Sophi
nah gitu dong Sam qta kan jadi ketularan bahagia🤭😄😄😍
Itz_zara: Samudra memang susah ditebak🤫
total 1 replies
Yunita Sophi
semoga kalian bahagia mulai dari saat ini..😍
Itz_zara: Aminnn🥰
total 1 replies
Yunita Sophi
seharusnya kamu bahagia Samudra mendapatkan istri yg sll ada walau kamu tdk mencintai nya...
Itz_zara: Orang yang punya gengsi gedhe kak🤭
total 1 replies
Uthie
Nexxxttt 💞💞
Itz_zara: Siap😆 Maap ya balasnya telat😆
total 1 replies
Yunita Sophi
jangan sampai ulet keket mengganggu kebahagiaan mereka
Itz_zara: hahaha ulet keket gak tuh🤭
total 1 replies
Yunita Sophi
nah gitu dong Sam... so cool bikin gemes aja tau
Itz_zara: Samudra si cowok cool🥶
total 1 replies
Yunita Sophi
aq yakin othor nya baik sama Samira...
Itz_zara: Baik banget ini🤫🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!