NovelToon NovelToon
Ambillah!

Ambillah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mafia
Popularitas:386.3k
Nilai: 5
Nama Author: IAS

"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."

Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.

Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.

Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.

Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.

Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.

Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Oh Gitu ... 05

"Gimana, kamu suka jalan-jalannya semalem?"

"Iya dong, Mas. Suka, suka banget."

"Buka dong jilbabnya, kan aku pengen lihat rambut kamu yang cantik itu. Lagian di sini kan cuma ada aku sama kamu aja."

Matahari masih belum muncul, tapi dua orang berbeda jenis itu sudah membuka mata mereka sedari tadi. Keduanya saling melempar senyum dan tawa kecil. Seolah dunia benar-benar hanya milik mereka berdua. Dan mereka lupa bahwa saat ini yang mereka lakukan adalah salah.

"Kalau Mbak Arun tahu gimana?" ucap si wanita tiba-tiba. Sepetinya dia mendadak merasa takut jika sang istri sah mengetahui apa yang mereka lakukan sekarang ini.

"Nggak akan, dia kan nggak ada di sini. Semua juga udah ku suruh diem. Kalau ada yang berani bilang, aku bakalan pecat orang itu. Jadi mustahil dia tahu. Tenang aja Jelita, semuanya akan aman,"sahut si pria dengan sangat percaya diri.

Bak ABG yang tengah dimabuk cinta. Heriawan benar-benar lupa statusnya. Statusnya yang sudah beristri, statusnya yang merupakan seorang suami. Dia dengan sangat cepat meraup bibir Jelita dan tangannya sudah mulai menjelajah dengan liar.

Tok tok tok

Degh!

Heri dan Jelita langsung diam. Mereka juga menarik tubuh mereka seketika hingga menjauh satu sama lain.

"Siapa mas, kamu mesen sesuatu?" tanya Jelita dengar raut wajah yang nampak takut.

"Nggak, nggak ada,"sahut Heri cepat.

Tok tok tok

"Siapa?" tanya Heri dengan sedikit keras

"Sayang, ini aku. Aku datang karena aku kangen sama kamu!!" sahut orang di depan pintu kamar.

Degh!

Mampus!

Heri mengumpat lirih hampir tak bersuara. Dia terdiam sesaat, pun dengan Jelita. Namun detik selanjutnya Heri dan Jelita langsung bergerak cepat.

Heri segera bangun dari tempat tidurnya, hal yang sama juga dilakukan Jelita. Wanita itu juga segera meraih hijabnya lalu bergegas pergi dari tempat itu. Tak lupa ia memastikan bahwa tidak ada apapun yang tertinggal.

"Hai sayang, kok kamu nggak ngabarin aku sih kalau mau datang? Kan aku bisa jemput kamu di bandara,"ucap Heri setelah membuka pintu kamar hotel. Dia tersenyum, atau lebih tepatnya berusaha untuk tersenyum dengan lebar meski pada kenyataannya itu sangat dipaksakan.

"Namanya juga surprise, Mas. Kalau bilang dulu namanya bukan surprise dong,"sahut Arundari tenang.

Ia berjalan masuk, lalu menatap seluruh ruangan kamar hotel itu dengan seksama. Mata seorang istri tentu sangat jeli. Apalagi mata hatinya, dia bisa merasakan sesuatu yang tidak terlihat.

Arundari melihat tempat tidur yang sedikit berantakan. Sprei nya seolah baru saja digunakan oleh dua orang.

Tapi bukan itu fokus utama Arundari, melainkan dinding yang ada di sisi lemari yang seperri bergerak. Dia berjalan terus hingga sampai ke sana.

Ketika hendak menyentuh dinding tersebut, tiba-tiba Heri sudah berada di depannya. Secepat apa pria itu melewati dirinya, entah, Arundari bahkan tidak menyadarinya. Mungkin karena dia sangat fokus tadi, jadi tidak sadari Heri berjalan mengikutinya.

"Ada apa?" tanya Heri saat Arundari tepat di depan dinding.

"Minggir!" ucap Arundari sedikit lebih keras. Dia semakin penasaran karena melihat Heri yang tampak panik.

Dan Heri pun pasrah. Dia menepi, membiarkan istrinya melakukan apa yang dia inginkan.

Dengan perlahan dan dada yang berdebar-debar, Arundari mendorong sedikit dinding itu. Betapa terkejutnya ia karena ternyata dinding itu bukan dinding biasa, tapi merupakan sebuah pintu. Ya kamar milik Heri ternyata terhubung dengan kamar sebelah.

Blakkk!

"Lho Mbak Arun, kok di sini?"

"Pagi Bu."

"Pagi Bu Arun."

Degh!

Arundari terkejut bukan main. Tapi secepat mungkin dia mengontrol ekspresi wajahnya. Dirinya bersikap senatural mungkin saat melihat semua orang (team Heri) ada di kamar sebelah.

"Pagi, maaf ya ganggu kalian. Iya aku nyusul ke sini karena kangen sama Mas Suami," jawab Arundari sambil menggamit lengan Heri yang ada di belakangnya.

"Waah sweet banget sih, Ibu. Mumpung di sini bu, jalan-jalan lah berdua sama Bapak. Lumayan sampai nanti jam pesawat berangkat," ucap salah satu karyawan Heri.

Melihat dari cara bicara, anak itu nampaknya polos. Matanya juga terlihat tulus dan ekspresi wajahnya juga santai tak seperti yang lainnya. Selain anak itu, mereka (anak buah Heri) nampak tegang melihat kedatangan Arundari.

"Waah iya juga. Makasih ya, Anis. Kamu bener banget. Yuk mas jalan-jalan. Sambil nyari sarapan. Aku laper belum makan juga," ucap Arundari.

"Iya, ayo kita pergi," balas Heri.

Aarundari langsung melenggang kembali ke kamar dan menutup pintu itu. Lantas apa ia benar-benar langsung pergi dengan Heri? jawabannya adalah tidak. Arundari memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang.

"Lho nggak jadi pergi sama nyari sarapan?" tanya Heri heran menatap istrinya yang tengah rebahan.

"Nggak ah Mas, males juga. Pesen aja terus makan di sini," jawab Arundari sambil memejamkan matanya.

"Oh gitu, ya udah aku pesen ya."

Heri menelpon dengan menggunakan telepon yang ada di kamar hotel tersebut untuk menghubungi layanan kamar. Dia meminta dibawakan sarapan sesuai apa yang diinginkan oleh istrinya.

Setelah selesai, Heri berkata kepada Arundari untuk menunggu dan dia ingin mandi lebih dulu.

Klak

Ketika Heri masuk ke kamar mandi, Arundari langsung bangkit dari posisi tidurnya. Matanya kembali memicing, untuk memeriksa kembali kamar tersebut.

Tak hanya itu, Arundari juga memeriksa ponsel milik Heri. Ponsel tersebut tak dikunci dengan menggunakan kunci apapun memang. Akan tetapi tak ada satupun yang mencurigakan di sana.

Namun Arundari tak bisa menerima semudah itu. Ia memasang sejenis pelacak yang bisa menghubungkan ponsel Heri dengan ponselnya.

Dengan itu, dimanapun keberadaan Heri akan langsung bisa ia ketahui.

Tok tok tok

"Layanan kamar!"

Arundari meletakkan ponsel itu ke tempat semula. Lokasinya bahkan tak berubah barang sedikit pun. Dan ia segera bergegas menghampiri pegawai hotel yang sudah datang dengan membawa pesanannya.

"Makasih ya, Mas. Oh iya aku mau tanya. Emang di hotel ini ada kamar yang bisa saling terhubung ya?" tanya Arundari kepada pegawai hotel tersebut.

"Iya Bu, ada. Dan itu biasanya diminta oleh si pemesan."

Degh!

Kecurigaan Arundari yang memang belum usai itu semakin kuat mendengar ucapan sang pegawai hotel. Tidak mungin Heri tidak tahu bahwa kamarnya terhubung dengan kamar sebelah. Dimana itu berarti Heri lah yang memesan kamar itu.

"Oke Mas, makasih ya. Oh iya satu lagi, mas tahu nggak yang sebelah itu diisi oleh berapa orang?"

"Setahu saya cuma satu, Bu. Itu lho mbaknya yang suaranya bagus itu."

Benar, semua kecurigaannya ternyata benar. Perasaan tidak enaknya adalah sesuatu yang bukan mengada-ada.

"Oke, Mas. Makasih sekali lagi."

Arundari kembali mengucapkan terimakasih. Dia juga memberikan sebuah tip kepada pegawai hotel itu.

"Jadi begitu cara mainnya. Oke, aku akan lihat dulu sejauh mana kamu bermain-main, Mas. Jelita, kamu bener-bener ya. Aku udah sangat sayang sama kamu kayak adek sendiri tapi kamu malah berani main-main sama aku kayak gini,"ucap Arundari lirih. Tangannya bergetar, ada emosi yang meluap-luap akan tetapi berusaha menahannya agar tidak meledak di sana.

TBC

1
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
itulah resiko ny, menutupi bangkai
Miss Typo
karna rasa bersalahnya jadi Arip ngelakuin itu biar dapet hukuman dari Ady, tapi tetep aja gak dapet hukuman, makin tersiksa deh Arip
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒: harusnya ditaruh ke pesantren trus biar taubat sekalian dengan penyesalan
total 1 replies
dewi rofiqoh
Ternyata arip hanya ingin mendapatkan hukuman dari adyaksa, agar ia lebih tenang
dewi rofiqoh
Lanjuut
GiZaNyA
wahhh si Beni gimana ini suruh jangan ngasih tau Arun malah dia jujur... 🤣🤣
sunaryati jarum
Arun itu perjuangan suamimu memenuhi ngidammu harus terluka karena orang di masa lalu
Sindy Sintia
siap2 kena hukuman push up atau lari keliling halaman rumah pak bos ben
Miss Typo
Beni gak bisa bohong di depan Arun 😁
awas lho Ben kena omel pak bos gak tuh karna mlh jujur ke istri tercinta nya 🤣
Lela Angraini
naahh khn ketahuan jga. lebih baik zuzuuurr ady,biar arun nggk marah" nanti ngambeg repot urusannya hluw
Miss Typo
karna dimaafin dan di biarin pergi begitu saja dan gak di hukum Ady, mungkin Arip masih sangat merasa bersalah jadi dia bikin ulah ke Ady biar dapet hukuman, biar ngurangin rasa bersalahnya??? tapi melukai Ady gak tmbh merasa bersalah tuh, walaupun mungkin gak parah 🤔
Miss Typo
aduh,,, ada aja nih yg bikin kesel
Darti abdullah
Arip siapa ya aku kok lupa padahal aku ngikutin dari awal
Dew666
🍎🍎🍎
sunaryati jarum
Apa Arip minta pekerjaan
Samsiah Yuliana
hmm
ada² ajj si Arif itu🥱
dewi rofiqoh
Apa tujuan arip sebenarnya dengan menyerang adyaksa?
Yuliana Tunru
apa mau x si arip aplg melukai ady ..tangkap dan lapor polisi z biar dipenjara lama
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒
bandel juga si Arif di kasih enk mlh nyusahin orang
Vie
dah gila dia....
Mariee__shiitie___🍒🍒🍒🍒: orang nekad pasti ada alasannya,,, tapi pikiran nya dah buntu
total 3 replies
Sulati Cus
oh... berarti peletnya bkn untuk kamu Ben😅
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!