NovelToon NovelToon
Pengganti Yang Dipilih

Pengganti Yang Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat / Misteri
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ayyun

Olivia Nugraha, gadis 18 tahun yang baru lulus SMA, terpaksa menggantikan kakaknya, Olin, untuk menikah dengan Juna demi menjaga nama besar keluarga mereka. Ia mencoba melawan, namun Oma selalu selangkah lebih maju. Pernikahan tetap terjadi.

Sementara itu, keberadaan Olin masih menjadi tanda tanya. Benarkah ia kabur? Atau ada alasan lain di balik menghilangnya? Dan mengapa namanya kembali disebut saat ia resmi menjadi bagian dari dinasti?

Karena mungkin… Olivia tidak pernah benar-benar dipilih untuk menggantikan Olin, tapi ia dipilih karena seseorang sudah mengincarnya sejak awal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 28

Kesadaran Olivia kembali perlahan. Gelap yang tadi menyelimuti pikirannya mulai memudar, berganti dengan cahaya redup yang terasa asing.

Kepalanya berat, tubuhnya lemas, namun yang paling terasa—dingin yang sudah tidak menusuk lagi.

Pelan-pelan, ia membuka mata. Langit-langit putih, bersih dan tenang. Bukan laut, bukan gelap, bukan juga kematian. Ia mengedip beberapa kali, mencoba fokus.

Lalu samar-samar, sebuah sosok terlihat di sampingnya. Pria itu, yang di lorong, yang di mobil, dan yang di laut.

“Jangan gerak dulu…” suaranya terdengar pelan, tapi jelas. “Kalau nggak mau mati beneran.”

Olivia mengernyit, ia mencoba bangun, namun tubuhnya langsung terasa berat. Pria itu dengan sigap menahan pundaknya, lalu membantu Olivia duduk perlahan, menyandarkannya ke kepala ranjang. Napas Olivia masih belum stabil.

“Gue… di mana?” tanyanya lirih, suaranya serak.

Pria itu menatapnya sebentar, lalu menjawab santai,

“Di rumah gue.”

Olivia diam, masih mencoba memproses.

“Tenang aja,” lanjutnya. “Lu aman. Hujan badai dari jam empat subuh kemarin. Ombak besar dan mereka nggak bakal nyangka lu selamat.”

Olivia menelan ludah. Ia menoleh pelan, melihat sekeliling. Kamar itu luas, mewah tapi bukan seperti rumahnya.

Lebih… dingin, sunyi dan tertutup. Matanya lalu turun ke tubuhnya sendiri. Ia terdiam, pakaiannya sudah berganti.

Bukan lagi pakaian basah kemarin, melainkan pakaian bersih, nyaman—bahkan mahal. Alisnya langsung berkerut.

“Apa yang terjadi sama gue…?” tanyanya pelan, masih bingung.

Pria itu bersandar santai di kursi.

“Lu hampir mati.”

Jawabannya datar tanpa dramatisasi, dan justru itu yang membuatnya terasa nyata.

“Tubuh lu hipotermia. Nafas hampir berhenti.” Ia berhenti sejenak. “Dan lu tidur… hampir tiga hari.”

Mata Olivia langsung melebar.

“Tiga hari…?”

Ia mencoba mengingat. Air, gelombang, tangan yang menariknya dan lalu gelap.

“Lu… ngapain?” tanyanya tiba-tiba, nada suaranya setengah protes, setengah bingung.

Pria itu mengangkat alis.

“Ngapain?”

Olivia menatapnya, masih setengah sadar dan linglung.

“Ya… gue kan—” ia terdiam, lalu menggeleng kecil, frustasi dengan pikirannya sendiri.

Pria itu justru terkekeh pelan.

“Harusnya bukan ‘ngapain’,” katanya santai. “Tapi ‘makasih’.”

Olivia mendengus lemah, tapi tidak membantah.

“Lu hampir mati, Olivia,” lanjutnya, kali ini lebih serius. “Selama tiga hari, badan lu cuma gue jaga. Infus. Obat. Istirahat.”

Ia menatap Olivia dalam, hening. Kata-kata itu terasa berat. Olivia menunduk, tangannya menggenggam selimut. Lalu, pelan—

“Di mana… kakak gue?”

Pertanyaan itu keluar begitu saja, tanpa jeda dan tanpa ragu dan ruangan itu kembali terasa tegang.

Pria itu tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Olivia beberapa detik. Lalu berkata pelan—

“Lebih dekat dari yang lu kira.”

Jantung Olivia langsung berdegup kencang.

“Maksudnya?”

Pria itu berdiri, berjalan menuju jendela. Berhenti sebentar… tanpa menoleh.

“Kalau lu udah cukup kuat…”

Ia membuka tirai jendela perlahan. “…gue tunjukin.”

Tirai terbuka, cahaya dari luar masuk dan tepat sebelum Olivia sempat berdiri— ia mendengar suara lain dari balik pintu, suara perempuan. Samar, lemah namun sangat ia kenal.

Suara yang sudah lama hilang yang selama ini ia cari dan kini tepat di balik pintu itu, suara itu begitu samar tapi begitu familiar.

Tubuh Olivia yang masih lemah seketika menegang. Jantungnya berdetak lebih cepat, seolah mengenali sesuatu sebelum pikirannya sempat memproses. Itu suara Oliana.

“Kak…” lirihnya hampir tak terdengar.

Ia langsung berusaha turun dari ranjang. Tangannya mencengkeram tiang infus, kakinya gemetar, tapi tekadnya jauh lebih kuat dari rasa sakit di tubuhnya.

Namun sebelum sempat melangkah jauh, pria itu dengan cepat menahannya.

“Jangan dipaksakan,” katanya tegas, menahan bahu Olivia. “Lu masih lemah.”

“Lepasin,” Olivia mendesis, kesal.

“Istirahat dulu.”

Nada suaranya tidak tinggi, tapi tidak bisa dibantah.

Olivia mendengus kesal, tapi akhirnya menyerah. Tubuhnya memang tidak bisa diajak kompromi. Ia kembali berbaring, meski matanya masih menatap pintu dengan gelisah.

Pria itu berdiri, lalu berjalan ke arah pintu.

“Gue ambilin sarapan.”

“Gue bukan bayi,” sindir Olivia lemah.

Pria itu hanya menyeringai tipis, lalu keluar. Pintu tidak ditutup rapat dan justru celah kecil itu mengundang rasa penasaran.

Beberapa detik berlalu, suara itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas, lebih dekat. Olivia menahan napas.

Pelan-pelan, ia kembali bangkit. Tangannya meraih tiang infus, menyeretnya pelan. Langkahnya goyah, tapi ia terus bergerak mendekat ke pintu.

Setiap langkah terasa berat. Namun rasa ingin tau itu jauh lebih berat untuk ditahan. Ia mendekat, mengintip, dan benar.

Di luar sana, berdiri seorang perempuan. Wajah yang sangat ia kenal, Oliana. Namun yang membuat Olivia membeku bukan kehadiran kakaknya. Melainkan… kata-kata yang keluar dari bibirnya.

“Kenapa lu bawa Olivia ke sini?”

Nada suara Oliana tegang. Marah.

“Ini malah bikin dia semakin dalam bahaya.”

Olivia terdiam. Apa? Pria itu berdiri di hadapannya, terlihat tenang.

“Dia harus tau semuanya,” jawabnya. “Kalau nggak, dia bakal terus jadi target tanpa ngerti apa-apa.”

“Harusnya kita nggak ketemu sekarang,” potong Oliana. “Ini terlalu cepat.”

“Dan kalau terlalu lama?” pria itu membalas. “Dia bisa mati tanpa tau kebenaran.”

Hening. Olivia menggenggam tiang infusnya erat, pikirannya kacau. Apa maksud mereka? Bahaya apa? Kebenaran apa? Dan—kenapa kakaknya justru terdengar tidak ingin ditemui?

Cukup. Olivia tidak tahan lagi, ia lelah untuk menebak-nebak. Dengan sisa tenaganya, ia mendorong pintu hingga terbuka lebar.

“Cukup!”

Keduanya menoleh bersamaan. Mata Oliana langsung melebar.

“Liv—”

“Maksud lu apa ngomong kayak gitu?” potong Olivia, suaranya bergetar antara marah dan sakit hati. “Gue nyariin lu mati-matian. Berbulan-bulan. Gue pikir lu diculik, gue pikir lu kenapa-kenapa…”

Napasnya memburu.

“Sekarang gue nemu lu, dan lu malah… nggak mau gue ada di sini?”

Hening. Oliana terdiam. Wajahnya berubah—kaget, lalu… ragu.

“Ini nggak seperti yang lu pikirin, Liv,” katanya pelan, mencoba mendekat.

“Terus seperti apa?” bentak Olivia. “Lu kabur? Diculik? Atau sengaja ninggalin semuanya?”

Matanya memanas.

“Lu sadar nggak sih? Hidup gue hancur gara-gara lu!”

Kalimat itu keluar begitu saja, dan kali ini—tidak bisa ditarik kembali.

“Gue dipaksa nikah sama Juna!” lanjutnya, suaranya pecah. “Pacar lu! Enam bulan gue hidup kayak orang lain! Gue nggak tau lu hidup atau mati!”

Ruangan itu mendadak sunyi. Oliana menunduk. Jelas… ia tidak menyangka semuanya akan sejauh ini.

“Ayo balik,” desak Olivia. “Ambil lagi hidup lu. Itu harusnya hidup lu, bukan gue.”

Hening panjang. Oliana menarik napas dalam, lalu pelan—

“Gue minta maaf.”

Olivia terdiam, namun permintaan maaf itu tidak cukup. Tidak akan pernah cukup.

“Liv…” Oliana ragu, lalu menatap Olivia dengan serius. “Lu... hamil?”

Olivia langsung mengernyit. “Hah?”

“Lu… sama Juna…” Oliana tampak sulit mengucapkannya. “Kalian…?”

Detik berikutnya—

“Gila aja lu!”

Olivia langsung memotong, wajahnya memerah antara kesal dan jijik.

“Gue nganggep dia kakak gue sendiri!” tegasnya. “Gue nggak pernah—bahkan sekalipun—tidur sekasur sama dia!”

Ia mendengus. “Jangan mikir yang aneh-aneh deh, Kak. Mau muntah gue.”

Ekspresinya benar-benar tulus dan kesal. Wajah Oliana terlihat lega, sangat jelas. Seolah beban berat yang selama ini ia tahan… sedikit terangkat.

“Bagus…” gumamnya pelan.

“Makanya,” lanjut Olivia cepat, masih emosi. “Balik. Kalian saling cinta. Jangan hancurin semuanya kayak gini!”

Namun—kali ini Oliana justru menggeleng pelan tapi pasti.

“Gue nggak bisa, Liv.”

Jawaban itu sederhana tapi menghantam keras. Olivia membeku.

“Nggak bisa?” ulangnya tidak percaya. “Alasan lu apa lagi sekarang?”

Namun Oliana tidak menjawab. Ia hanya menatap Olivia lama, seolah ingin mengatakan banyak hal tapi memilih untuk tidak mengatakannya.

Lalu, tanpa kata lagi—ia berbalik dan berjalan pergi.

“Kak!” Olivia langsung berteriak. “Jangan pergi gitu aja!”

Tidak ada jawaban. “Oliana!”

Langkah kaki itu tetap menjauh.

“Alasan lu apa?!” teriak Olivia, emosinya meledak. “Gue berhak tau!”

Namun satu-satunya yang tersisa hanyalah keheningan. Olivia berdiri di sana, lemah, marah dan bingung. Ia menemukan kakaknya namun justru membuat segalanya semakin tidak masuk akal.

Ia pun menoleh perlahan ke arah pria itu, tatapannya tajam.

“Sekarang lu jelasin,” katanya dingin. “Sebenarnya… masalahnya apa?”

Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap ke arah pintu tempat Oliana pergi, lalu kembali ke Olivia. Dengan ekspresi yang jauh lebih serius dari sebelumnya.

“Masalahnya…” ia berhenti sejenak. “Lebih besar dari sekadar pernikahan lu.”

Jantung Olivia kembali berdegup. “Apa maksud lu?”

Pria itu melangkah mendekat, berhenti tepat di depannya dan berkata pelan—

“Keluarga lu sekarang… bukan cuma mengatur hidup orang.”

Olivia menegang. “Terus?”

Pria itu menatapnya dalam. “Mereka juga… menghilangkan orang.”

1
Paradina
semangat kakak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!