NovelToon NovelToon
Lupa Bahwa Kau Milikku

Lupa Bahwa Kau Milikku

Status: tamat
Genre:CEO / Perjodohan / Tamat
Popularitas:120.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Menikah tanpa kehadiran suami bukanlah impian Sheena. Ia terpaksa menandatangani dokumen pernikahan di catatan sipil hanya didampingi oleh ibu mertuanya, sementara Mark Smith—sang suami—lebih memilih merayakan kelulusan S2-nya di Universitas of Oxford tanpa sedikit pun memberi kabar.

Tiga bulan penuh pengabaian membuat hati Sheena mendingin. Saat Mark pulang dengan aura black flag yang kaku dan dingin, Sheena dipaksa pindah ke mansion pribadi pria itu. Mark bersikap seolah Sheena hanyalah orang asing yang menumpang hidup, karena hatinya masih tertahan pada sosok gadis kecil di halte bus bertahun-tahun lalu—satu-satunya orang yang membolehkannya menangis.

Mark tidak sadar, sapu tangan yang ia simpan bagai nyawa adalah milik wanita yang kini ia abaikan di rumahnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, apakah Sheena masih mau menunggu pria yang sudah membuang waktunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Laporan Sang "Monyet" dan Paket Misterius

Pagi harinya di Smith Group, Rei masuk ke ruang kerja Mark dengan wajah datar nan profesional. Ia meletakkan sebuah map tipis berwarna abu-abu di atas meja mahoni sang CEO.

"Ini laporan yang Anda minta, Tuan. Mengenai pria bernama Martin di University of Makati," ucap Rei singkat.

Mark meletakkan cangkir kopinya, lalu membuka map itu dengan perlahan. Matanya menyapu baris demi baris informasi yang telah dikumpulkan tim keamanan Smith Group dalam waktu kurang dari 24 jam.

SUBJEK: MARTIN LEON

Status: Mahasiswa Drop-out dari Universitas di Calapan (Sedang mencoba mendaftar ulang di Manila).

Pekerjaan: Pengangguran (Sesekali menjadi promotor acara malam).

Latar Belakang: Keluarga kelas menengah bawah di Calapan. Ayahnya memiliki utang piutang yang cukup banyak.

Catatan Perilaku: Memiliki riwayat sering meminjam uang dari teman-teman wanitanya. Terkenal sebagai "player" di lingkungan SMA-nya dulu.

Tinggi Badan: 163 cm (Mark mendengus saat membaca bagian ini).

Mark melempar laporan itu ke atas meja dengan tatapan meremehkan. "Hanya ini? Dia bahkan tidak punya pekerjaan tetap dan berani menyentuh istriku dengan tangan kotornya?"

"Ada informasi tambahan, Tuan," sela Rei. "Sepertinya dia sedang terlilit masalah finansial dan mencoba mendekati Nyonya Sheena kembali, karena dulu Nyonya Sheena sering membantunya."

Rahang Mark mengeras. "Jadi dia ingin memanfaatkan Sheena kembali? Berani sekali dia."

"Satu lagi, Tuan. Pagi ini kurir mengantarkan sebuah paket kecil ke mansion atas nama Nyonya Sheena. Karena prosedur keamanan, pengawal di depan sempat memeriksanya. Pengirimnya adalah Martin Leon."

Mata Mark berkilat tajam. "Apa isinya?"

"Sebuah surat dan... foto lama mereka saat SMA. Sepertinya dia mencoba mengingatkan Nyonya tentang masa lalu mereka," jawab Rei ragu.

Sore itu, Sheena pulang dengan perasaan was-was. Kabar tentang "jemputan mewah" kemarin masih menjadi bahan gunjingan di kantin, dan ia hanya ingin segera masuk ke kamarnya untuk bersembunyi. Namun, langkahnya terhenti di ruang tengah.

Mark duduk di sofa tunggal dengan kaki menyilang elegan. Di atas meja kopi di depannya, tergeletak sebuah amplop cokelat yang sudah terbuka dan sebuah foto tua. Wajah Mark tampak datar, namun auranya begitu dingin hingga Sheena merasa suhu ruangan turun beberapa derajat.

"Kau menerima kiriman," ucap Mark tanpa mengalihkan pandangan dari foto itu.

Sheena mendekat, jantungnya berdegup kencang saat melihat foto dirinya saat SMA bersanding dengan Martin. "Itu... dari mana kau mendapatkannya?"

Mark menyesap tehnya perlahan sebelum menjawab. "Penjagaku mencegat kurir di gerbang. Prosedur standar. Aku tidak membiarkan barang sampah masuk ke rumahku tanpa pemeriksaan."

Mark mengambil foto itu dengan dua jari, menatapnya dengan tatapan meremehkan. "Martin Leon. Anak laki-laki yang kau tangisi saat perjodohan kita dimulai. Ternyata seleramu dulu cukup... rendah, Sheena."

Wajah Sheena memerah, campuran antara malu dan marah. "Itu masa lalu, Mark! Untuk apa kau membahasnya?"

"Aku tidak membahas masa lalu. Aku membahas niat busuknya di masa sekarang," Mark meletakkan selembar kertas laporan dari Rei di samping foto tersebut. "Dia mencarimu bukan karena rindu, tapi karena ayahnya terlilit hutang judi dan dia pikir kau adalah mesin ATM berjalan terbaik."

Sheena tertegun. Ia mengambil laporan itu dan membacanya. Matanya memanas bukan karena masih cinta, tapi karena merasa sangat bodoh pernah memuja pria seperti Martin.

"Dia mengirimkan foto ini untuk memancing emosimu," lanjut Mark, suaranya kini merendah, hampir seperti bisikan yang menenangkan namun otoriter. "Dia ingin kau merasa bersalah, lalu menemuinya, dan akhirnya kau membantunya lagi."

Sheena meremas pinggiran bajunya. "Aku tidak akan pernah memberinya sepeser pun."

Mark bangkit dari duduknya, berjalan mendekat hingga bayangan tubuhnya yang menjulang menutupi tubuh mungil Sheena. Ia mengambil foto itu dari meja, lalu dengan gerakan perlahan namun pasti, ia merobeknya menjadi serpihan kecil tepat di depan mata Sheena.

"Bagus. Karena aku tidak suka berbagi, apalagi dengan parasit," ucap Mark. Ia mengulurkan tangan, menyelipkan anak rambut Sheena ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat lembut, kontras dengan kata-katanya yang tajam.

"Mulai hari ini, jangan pernah membuka surat atau paket apa pun yang tidak kuketahui. Biar aku yang menjadi filternya. Kau hanya perlu fokus pada kuliahmu, bukan pada sampah dari Calapan itu."

Sheena mendongak, menatap mata Mark yang kelam. Ada rasa posesif yang luar biasa kuat di sana, namun entah kenapa, Sheena tidak merasa terancam. Ia justru merasa seperti sedang dilindungi oleh benteng yang tak tertembus.

"Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Sheena pelan.

Mark terdiam sejenak, menatap bibir Sheena yang sedikit bergetar. "Karena namamu sekarang adalah Sheena Smith. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun mengotori nama itu, atau menyakiti pemiliknya."

Mark berbalik pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Sheena yang terpaku menatap serpihan foto di lantai. Untuk pertama kalinya, Sheena merasa bahwa pernikahan paksa ini mungkin adalah satu-satunya hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupnya yang kacau.

1
Edel1215
Saran thor: umur mark 34 tahunan, kalo 24 tu berasa masih mudah bgt, org umum kalo tamat kuliah itu 21 atau 22. Jd berasa bocah sm bocah
W.s • Bae: no sayang, ini sudah segala perhitungan. usia 24 itu lulusan S2. sesuai perhitungan angka usia^^😍
total 1 replies
Fajar Mulia Fitri Maharani
keren cerita nya thor😍
Witha.tarti
Telat ...untuk membaca ini...
Dara Fitriani
seru ceritanya
Inarrr Ulfah
monyat gak tuh🤣🤣🤣
destiana
keren🥰🥰
destiana
aaaaaaaaaa🤗🤗🤗 keren banget ceritanya Thor😘😘😘
W.s • Bae: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Sri Menanti
mantap thorrrr... 🥰🥰😍keren karya mu.
W.s • Bae: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Ira Nadira
astga nagaaaaaaaa bagus bgt thorrrr😍😍😍 aku padamu pokoknya mah😍
W.s • Bae: makasih ya kak 😍
total 1 replies
Ira Nadira
baper bgt kalo punya laki model gini nih🤭, kira2 ada g yah di dunia nyata😁
Ira Nadira
mampus lu rasain😒
Ira Nadira
tp di awal td ada kata2 kalo si mathiass tau Senna pemilik sapu tangan itu kan??
Ira Nadira
yahhh pecah perawan dah😁
Ira Nadira
duh thorrrr🤣kan gw yg salting ihhh malu ahh🤭
bagus, ceritanya ringan dan manis. gak ada konflik. tapi panjangkan lah lain kali ceritanya hahah🤣
Ira Nadira
wahhh salut sama si othorrr keren bgt penulisannya😍😍 hampir g ada typo samsek😍😍
Ira Nadira
astaga astagaaaaaaaa😍😍😍 manis bgt sih akhhh🤣🤣
Ira Nadira
dari awal bab g pernah komen karna saking serunya😍😍
W.s • Bae: makasih ya kak😍
total 1 replies
Naufal hanifah
keren /Good//Good//Good/
Sari Purnama
Hmm..saya suka saya suka saya sukaaaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!