Ameera, sangat terpukul saat mengetahui suaminya Caleb selingkuh di depan matanya sendiri. senua pengorbanannya selama ini terasa sia-sia.
Ameera tidak bisa merima kenyataan itu dan memilih pergi meninggalkan rumah. meninggalkan Ibu mertua yang sakit. yang menganggapnya tidak lebih dari seorang pembantu.
Saatnya membangun harapan baru, mengejar impian yang selama ini dia hancurkan.
Berhasilkah Ameera meraih mimpi dan cintanya. Apakah Caleb berhasil menemukan istrinya yang minggat dari rumah.
Mohon dukungannya atas cerita ini. Dari awal hingga akhir. Bukan hanya sekedar mampir atau jadi pembaca hantu, tiba-tiba muncul dan tiba menghilang. Tinggalkan jejaknya sebagai tanda cinta buat Emak. Love you untuk kalian semua. Horas!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30. Bukan tamu biasa.
Ameera mendengus kesal. Apa memang seperti ini ya birokrasi di perusahaan besar. Ketika berurusan dengan mereka dipersulit. Atau ini hanya ulah karyawannya saja. Sepertinya petugas itu sentimen padanya. Padahal baru kali ini bertemu.
Belum apa-apa sudah dijegal. Benar-benar tidak profesional.
"Halo Mbak, tolong kasih tau Bapak Hadinata kalau saya Ameera, sedang menunggu di bawah. Teman saja sebentar lagi datang. Dia sudah pesan tadi, supaya saya bertemu duluan dengan beliau. Karena kedatangan saya sudah ditunggu." Ameera kembali datang ke meja resepsionis. Karena lima menitnya sudah terbuang percuma.
"Maaf ya Mbak, tadi saya kan sudah minta kepada Mbak, bukti kalau Mbak akan bertemu Pak Bos. Nyatanya Mbak gak bisa kasih bukti. Itu sudah aturan SOP perusahaan ini, Mbak."
"Teman saya yang akan bawa bukti itu. Oke akan saya telepon dia." dengus Ameera merasa diperlakukan tidak baik.
Kalau kehadirannnya dicurigai, petugas itu hanya tinggal angkat telepon, ke sekretaris bosnya. Ini mah, gak ada inisiatif sama sekali. Jutek kali jadi petugas resepsionis ini.Awas kamu nanti, aku adukan biar tau rasa. Dengus Ameera dalam hati menahan kesal.
Terpaksa Ameera kembali ke tempat duduknya, di ruang tunggu. Dengan kesal dia membuka ponselnya menghubungi Richi. Tapi tidak di respon. Karena saat itu, Richi tengah dalam perjalanan. Ponselnya disilent.
Rina, Lena dan Tya berbisik-bisik, sambil cekikikan. Pandangan mereka tertuju ke arah dimana, Ameera tengah menunggu dengan kesal. Ameera yakin, dia yang jadi bahan rumpian mereka.
Entah apa yang salah dengan dirinya. Saat mata mereka bentrok, mereka pura-pura memandang ke arah lain. Benar-benar menguji kesabaran.
Tiba-tiba dari arah pintu masuk, muncul sosok yang hendak dijumpai, Ameera. Edgar Hadinata! Ameera kaget melihat pria itu hadir di tempat yang sama dengannya. Ameera tidak tau kalau orang yang akan dia temui adalah Edgar sendiri.
Sebaliknya juga, Edgar belum mengetahui kalau dia berurusan dengan Ameera. Yang dia tahu dia akan bertemu dengan Selasih. Desainer pendatang baru yang akan bekerja sama dengan perusahaannya.
Hari ini mereka akan bertemu, melanjutkan pertemuan yang tertunda minggu kemarin, karena kakeknya mendadak hilang. Karena itu mereka belum saling kenal, walau sudah pernah bertemu, tetapi dengan versi nama lain.
Edgar tertegun saat melihat Ameera duduk di ruang tunggu. Begitu juga dengan Ameera. Rasa canggung, karena pertemuan diantara mereka yang selalu berujung buruk, membuat Ameera ragu untuk menyapa.
Akan tetapi karena Edgar menyadari kalau Ameera lah yang telah menolong kakeknya, akhirnya menyapa Ameera lebih dulu.
"Ameera kan?" sapa Edgar garing. Sepertinya lidahnya berasa kelu saat menyebut nama, Ameera. Bukan karena apa-apa. Tapi karena setiap bertemu kemarin itu, mereka kerap beradu mulut.
"Eh, Pak Edgar!" Ameera menyahut kikuk juga. Tidak menduga bertemu pria itu disini.
"Ada urusan apa disini?"
"E-gh, saya menunggu seseorang Pak." ucap Ameera canggung. Dalam hati dia merutuk diri sendiri. Karena suasana canggung saat bertemu Edgar. Bayangan peristiwa yang membuat mereka, saling gertak saat bertemu kemarin. Itulah penyebabnya
"Oh, menunggu seseorang ya." kening Edgar mengernyit. Kedua alisnya bertaut. Merasa ingin tahu siapa yang ditunggu Ameera di kantornya. Tapi untuk bertanya lebih lanjut dia segan.
"Silahkan, saya pamit dulu." Edgar akhirnya mohon diri. Padahal tadi dia sudah merasa surprise melihat Ameera muncul di perusahaannya. Berharap ada kaitannya dengan dirinya.
Lucunya pula, Ameera tidak tau dia adalah pemilik perusahaan yang didatanginya. Kesalahan informasi membuat keduanya salah faham.
Setahu Ameera, CEO yang hendak ia jumpai adalah Pak Hadinata. Sebaliknya Edgar juga taunya, desainer itu adalah Selasih. Nama yang berbeda, tapi orang yang sama.
Edgar, menduga yang ditunggu Ameera, pastilah suaminya. Itu berarti salah satu bawahannya, adalah suami Ameera?
Edgar, menghampiri meja resepsionis. Bertanya apakah ada tamu yang mencarinya dengan nama Selasih. Petugas itu menggeleng. Sehingga Edgar berlalu dengan sedikit kesal. Karena tadi Richi telah menghubunginya, kalau Selasih sudah berada di kantornya. Nyatanya tidak ada.
Sepeninggal, Edgar, Ameera kembali resah karena Richi belum juga datang. Sudah berkali-kali dia menghubungi Richi, belum direspon juga.
Ameera semakin panik, tapi dia malas berurusan dengan petugas resepsionis yang angkuh itu. Sementara Tya dan kedua temannya berbisik-bisik membicarakan Ameera.
Mereka merasa aneh, kenapa sikap Ameera terkesan acuh. Padahal orang yang hendak dia jumpai sudah muncul di depan hidungnya. Apakah mereka belum saling kenal. Atau wanita itu hanya berpura-pura sok kenal dan sok punya urusan dengan bosnya?
Ameera semakin muak melihat tingkah petugas resepsionis itu dan ingin merobek-robek mulut tak sopan mereka.
Dipuncak kesabaran Ameera, antara kesal dan bosan menungggu. Richi tiba-tibba muncul. Dengan nafas ngos-ngosan karena panik saat melihat chat dan panggilan dari Ameera.
"Ameera! Kok, kamu masih disini?" seru Richi kebingungan. Ketika melihat Ameera masih di ruang tunggu. Bukannya sudah bersama Richi.
"Tentu saja aku masih menunggu disini, Mas. Aku tidak menyangka kalau berurusan dengan perusahaan ini sangat ribet." dengus Ameera sengaja dengan suara ditinggikan.
"Maksud kamu?"
"Kenapa Mas tidak bilang, kalau masuk perusahaan ini, mesti punya bukti hitam diatas putih."
"Eeh, kamu jangan ngaco. Siapa yang ngomong begitu. Aku kan sudah bilang, tanya ke resepsionis saja. Ayo, kita sudah telat." Richi menarik Lengan Ameera. Tapi langkah Ameera tetap tertahan.
"Eh, apalagi, Ame?" Richi heran karena Ameera tidak bergerak.
"Mereka sudah membuang waktuku Mas, dengan aturan yang tidak masuk akal. Aku dicekal tadi untuk bertemu Pak Hadinata." protes Ameera dongkol.
"Mereka? Mereka siapa maksudmu?"
"Para petugas itu?" Ameera menunjuk dengan dagunya.
"Maksudmu, mereka itu tidak mengijinkanmu masuk?"
"Iya, karena aku tidak memiliki bukti hitam di atas putih untuk bertemu bos mereka."
"Astaga! Mereka itu lancang sekali cari masalah ke kamu. Sudah, biar itu menjadi urusan bos mereka. Aku akan laporkan merek nanti. Ayo!" Richi menyeret lengan Ameera. Sementara Tya dan kedua temannya mendadak wajahnya pucat pias, mendengar ucapan Richi.
"Aduh, gawat! Bisa-bisa kita kena tegor bos ini. Ternyata wanita itu bukan tamu sembarangan. Tapi, kenapa dia tadi tidak kenal bos kita, saat bertemu?" cetus Tya bingung.
"Kamu juga sih, kenapa mempersulit wanita itu." sahut Lena.
"Tau, padahal kenal aja gak. Dia datang kesini karena ada urusan dengan perusahaan ini. Kok malah kita persulit tadi. Gimana kalau kita kena pecat. Ternyata dia itu teman Pak Richi." timpal Rina.
"Ih, kalian ini. Tadi kan kalian juga ikutan bersikap sama! Sekarang malah menyudutkan aku." balas Tya was-was juga.Tak disangka ternyata wanita yang mengaku nama Ameera itu bukan tamu biasa.
"Iyakan, kamu yang mulai, Ty. Kalau kita diam kamu juga akan ngamuk ke kita." sikut Rina.
"Selamat pagi, Gar!" sapa Richi di ruang kantornya. Edgar terkejut dan lebih terkejut lagi melihat siapa yang berdiri dibelakang Richi.***