Elena hanya seorang peneliti biasa di kota London, hingga sebuah tawaran rahasia mengubah segalanya. Ia setuju menjadi bagian dari program donor untuk pria yang tak ingin cinta, tak butuh istri, hanya menginginkan pewaris sempurna.
Lima tahun berlalu, Elena hidup dalam bayang-bayang kontrak yang melarangnya membuka jati diri. Tapi saat anak yang ia lahirkan tumbuh jenius melampaui usianya, masa lalu pun mengetuk pintu.
Dan pria itu... kini berdiri di hadapannya, tanpa tahu bahwa bocah itu adalah darah dagingnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rima Andriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Menjelang siang, suasana di lantai dua puluh lima Thorne Corporation masih sunyi. Suara detik jarum jam digital berpadu dengan ketikan papan tombol komputer menjadi latar yang menenangkan. Di dalam ruang kerja Elena, wanita itu sibuk memeriksa ulang dokumen rapat sore. Namun, pikirannya tidak sepenuhnya di tempat.
Tiba-tiba, suara interkom dari dalam ruang utama terdengar kembali . Elena tidak tahu ada apa lagi Alexander memanggilnya.
“Elena, masuklah.”
Nada suara itu tenang, tapi mengandung tekanan yang membuat napas Elena tercekat sejenak.
Ia segera bangkit, merapikan blazernya, lalu membuka pintu dengan perlahan. Alexander Thorne sedang berdiri di dekat jendela besar, membelakangi ruangan, menatap pemandangan kota yang tertutup awan kelabu.
“Elena,” panggilnya lagi, tanpa menoleh.
“Ya, Tuan?”
Alexander akhirnya membalikkan badan. Tatapannya tajam, tapi tidak sekeras biasanya. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang sulit diterjemahkan. Antara penasaran… dan entahlah.
“Duduklah,” ucapnya pelan.
Elena menurut, duduk di kursi tamu di depan meja kerjanya. Tangannya saling meremas di atas pangkuan.
Alexander berjalan perlahan, lalu duduk di kursi kerjanya. Ia mengamati Elena beberapa detik sebelum akhirnya berbicara.
“Aku baru saja merevisi file personal seluruh staf inti. Dan saat melihat data pribadimu… aku menyadari sesuatu.”
Elena tetap diam.
“Tidak ada keterangan mengenai pernikahanmu sebelumnya. Juga tidak ada catatan bahwa kau memiliki seorang anak.”
Elena menarik napas dalam-dalam. Suaranya akhirnya terdengar, tenang tapi berat.
“Saya… memang tidak mencantumkannya, Tuan. Bukan karena saya ingin menyembunyikan kebenaran, tapi karena… saya tahu itu tidak akan relevan dengan performa kerja saya.”
“Tidak relevan?” Alexander mengulang, nadanya naik sedikit. “Kau punya anak, Elena. Anak yang masih kecil. Dan kau tidak berpikir itu akan berdampak pada pekerjaanmu di posisi seintens ini?”
“Saya bisa memastikan bahwa pekerjaan saya tidak pernah terganggu. Semua tanggung jawab saya selesaikan tepat waktu. Bahkan sering lebih.”
Alexander menyandarkan tubuhnya ke kursi, memandang Elena lekat-lekat.
“Kau menyembunyikan hal sepenting itu. Kenapa?”
Elena menelan ludah. “Karena saya harus menghidupi putra saya seorang diri. Dan di dunia seperti ini, tidak semua perusahaan memberi ruang bagi seorang ibu tunggal untuk membuktikan bahwa ia mampu. Saya takut… saya kehilangan kesempatan hanya karena status saya.”
Keheningan menggantung di antara mereka.
Alexander memicingkan mata. “Putramu... dia tinggal sendiri di rumah saat kau bekerja?”
Elena menunduk. “Terkadang Saya menitipkan di sekolahnya. Tapi ada saat-saat tertentu dia memang sendirian. Dan saya tahu, itu tidak ideal. Tapi jika saya tidak bekerja, maka saya tidak akan bisa memberinya hidup yang layak.”
Alexander bergumam, “Tidak terganggu, katamu…”
Nada suaranya seperti menampar. Elena mengangkat wajahnya, dan untuk sesaat ia melihat sesuatu di balik ekspresi pria itu. Bukan kemarahan… tapi kegelisahan yang tidak biasa.
“Kau tidak merasa kasihan padanya?” lanjut Alexander. “Kau tidak merasa berdosa karena meninggalkan anakmu sendirian saat dia mungkin membutuhkanmu?”
Elena mengatupkan bibirnya erat. Ada luka dalam pertanyaan itu yang tidak bisa ia jawab dengan logika. Tapi kenapa Alexander yang terkenal dingin dan acuh berkata seperti itu padanya?
“Justru karena saya kasihan padanya, saya bekerja. Justru karena saya ingin ia merasa aman, merasa cukup, saya korbankan waktu yang seharusnya bisa saya habiskan dengannya. Saya tahu saya tidak sempurna, Tuan. Tapi saya… saya mencoba menjadi ibu yang terbaik sebisanya.”
Alexander terdiam lama. Tangannya bergerak pelan, mengetuk permukaan meja dengan jari telunjuknya.
“Siapa ayah dari anak itu?” tanyanya tiba-tiba.
Elena tercekat.
“Dia tidak pernah muncul di catatan sipil. Tidak ada informasi mengenai suamimu, atau mantan suamimu.”
Elena menatap pria itu, berusaha menyusun kata secepat pikirannya berpacu.
“Dia… pergi. Sejak Leon masih bayi. Saya tidak ingin menyebutkan namanya dalam dokumen apa pun. Dia tidak… ingin terlibat.”
Alexander memiringkan kepalanya sedikit. “Jadi, dia meninggalkanmu?”
Elena mengangguk pelan. “Ya. Saya tidak ingin memaksa orang yang tidak ingin bertanggung jawab untuk tetap tinggal.”
Alexander mendengus. “Seharusnya dia tetap bertanggung jawab, Elena. Anak itu bukan hanya tanggung jawabmu.”
Elena menunduk. Dalam hati, ia bergumam getir. Bagaimana mungkin dia bertanggung jawab, sementara pria yang sedang bicara ini… adalah ayahnya putranya sendiri?
Namun tidak ada satu pun dari emosi itu yang terlihat di wajahnya.
“Saya sudah terbiasa sendiri,” ucap Elena akhirnya. “Saya tidak menyesali keputusan saya. Dan saya tidak ingin mengganggu siapa pun dengan masa lalu saya.”
Alexander menghela napas panjang. Ia berdiri, berjalan ke jendela, lalu berbicara dengan punggung membelakangi Elena.
Alexander menoleh sedikit. Matanya masih menyimpan kebingungan, seolah ada potongan teka-teki yang belum pas di pikirannya.
“Berapa usia putramu?” tanyanya lagi.
“Elena menjawab cepat, “Enam tahun.”
Alexander mengangguk pelan, lalu kembali duduk di kursinya.
“Baik. Aku tidak akan menanyakan lebih jauh. Tapi… jika suatu saat anakmu butuh sesuatu, pastikan kau tidak menyembunyikannya dariku.”
Elena terkejut. Tapi tetap menjaga ketenangannya.
“Dipahami, Tuan.”
“Elena.”
Elena baru hendak melangkah keluar ketika namanya kembali dipanggil.
“Ya, Tuan?”
Pria itu memandangnya dalam-dalam. “Apa kau bahagia… membesarkan anakmu sendirian?”
Elena terdiam lama. Tapi akhirnya ia menjawab, suara pelan dan tenang, “Saya tidak pernah menyesal membesarkannya. Saya hanya… berharap saya bisa memberinya lebih.”
Alexander tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu kembali menatap layar komputernya.
Elena melangkah keluar, menutup pintu perlahan. Tapi detak jantungnya belum juga melambat.
Alexander Thorne duduk diam di ruangannya yang luas. Pintu telah tertutup kembali setelah Elena keluar, meninggalkannya sendiri bersama secangkir kopi yang bahkan belum disentuh.
Ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, tangan kirinya terangkat perlahan dan mengusap pelipisnya yang tiba-tiba terasa berat.
'Kenapa aku menanyakan hal itu padanya?'
Pertanyaan itu bergema dalam benaknya, mengganggu lebih dari yang seharusnya.
Biasanya, ia tidak pernah peduli. Tidak tertarik. Tidak pada urusan pribadi bawahannya, apalagi tentang kehidupan keluarga mereka. Ia menjalani hidup dalam garis tegas antara profesional dan pribadi. Semua harus rapi, efisien, dan tidak menyisakan ruang untuk... empati.
Namun tadi, barusan saja, ia bertanya. Tentang kebahagiaan Elena. Tentang anaknya. Tentang masa lalunya.
Dan yang paling membuatnya terganggu, ia bertanya dengan nada khawatir.
Alexander berdiri dari kursi, berjalan ke arah jendela besar yang menghadap kota. Matanya menatap awan kelabu yang menggantung rendah. Namun pikirannya tidak berada di sana.
Kilasan ingatan itu kembali datang tanpa izin.
Elena. Dengan rambutnya yang tergerai acak. Mata yang memohon namun tetap tegar. Suara napasnya yang terengah di bawah cahaya lampu rumah pribadi Alex yang temaram. Tubuh mereka menyatu dalam keheningan yang tidak butuh banyak kata.
Ada sesuatu yang berbeda dalam cara Elena memeluknya malam itu.
Ada sesuatu yang terasa…
Penuh.
Alexander menghela napas berat, kedua tangannya kini terkepal di balik punggung.
Ia mencoba menyangkal, mencari alasan logis untuk ketertarikannya belakangan ini pada wanita itu. Bahwa mungkin Elena sekadar sosok kompeten yang pantas mendapat perhatian profesional. Atau mungkin hanya efek dari kejadian satu malam yang membuat pikirannya sesat sesaat.
Tapi…
bukannya setting Belgia?🤭🤭 aku yg lompat atau bagaimana kok setelah saya urut lagi bacanya memang Belgia surat lamarannya dan Thorne juga datang ke Belgia gimana ya