lanjutan novel Tuan Tiada Tanding
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
berhasil mengejar Maheswari
Rasa bangga menyelimuti hati Mawar. Dia sama sekali tidak menyangka Psikopat Pengambil Wajah sosok penjahat gila bisa dia lukai.
Mawar menyeringai kemudian dia mengambil sempel darah hitam dari Maheswari atau Psikopat Pengambil Wajah itu.
"Kamu harus bersyukur pak Suherman karena kamu menghubungiku, berbekal ilmu yang di ajarkan Panemban Ontogeni, aku bisa melacak lebih lanjut bakongan itu." Ucap Mawar dengan penuh percaya diri.
"Ba... bagaimana caranya?" Tanya Suherman dengan ekspresi penasaran di wajahnya.
Mawar kemudian mengeluarkan sebuah boneka polos berwarna putih, boneka polos tanpa wajah.
Kemudian Mawar mengambil darah kering yang ada di atas tanah dan dia masukan ke dalam punggung boneka polos itu.
Mawar merapalkan mantra khusus.
Sementara itu di tempat terpencil di lereng gunung putri tidur. Maheswari tiba-tiba membuka matanya.
Uhuk!
Dia batuk kering dan dadanya terasa sangat sakit. Matanya bergetar, "keparat! Siapakah yang berani menggunakan mantra pelacak untuk melacakku!" Ucapnya dengan geram.
Maheswari menggertakan giginya, sebagai seseorang yang memiliki berbagai macam kesaktian, dia bisa dengan mudah merasakan bahwa dirinya sedang di lacak menggunakan mantra pelacakan.
Kemudian Maheswari mengingat darah yang keluar saat terkena serangan dari ketapel itu. Maheswari merinding ketakutan ketika mengingat betapa memberikannya ketapel yang tampak biasa saja itu.
"Tidak, aku tidak boleh kesana lagi!" Ucap Maheswari dengan ketakutan. Maheswari sudah tidak punya nyali lagi untuk menuju toko kelontong itu. Dia yakin sekali bahwa penjaga toko kelontong itu merupakan orang sakti mandraguna yang sedang menyamar.
Memikirkan hal ini membuat Maheswari bingung, "Apakah Tuan Penjaga toko kelontong itu yang melacakku? Atau mungkin mawar dan para aparat yang melacakku?" Batin Maheswari dengan ekspresi bimbang.
Maheswari khawatir apabila yang melacaknya adalah Tuan Penjaga toko kelontong itu. Namun apabila yang melacaknya adalah Mawar dan para aparat Maheswari tidak terlalu khawatir.
"Sepertinya aku harus kabur, aku tidak mau tertangkap tuan dengan pusaka ketapel itu!"
***
Sementara itu Arjuna dan Pak Man melongo melihat mobil para aparat yang secara tiba-tiba memenuhi perempatan Sumbersekar ini.
"Lololo!" Ucap Arjuna yang kaget.
Hazing!
Tiba-tiba pak man bersin.
Arjuna terperanjat, "ada apa pak man?" Tanya Arjuna.
"Tidak tau, tiba-tiba saja bersin palingan ada yang membicarakan di belakang." Jawab pak man.
Arjuna menganggukan kepalanya kemudian Arjuna bertanya, "mengapa tiba-tiba saja banyak aparat?"
Pak Man menggelengkan kepalanya, " aku juga tidak tahu jun. Coba kita kesana."
Dengan cepat Arjuna dan Pak Man menghampiri salah satu aparat yang berjaga di dekat SD di perempatan Sumbersekar.
"Permisi pak, ada apa ini ramai-ramai?" Tanya Pak Man.
Aparat itu menatap ke arah Arjuna dan Pak Man dengan sangat serius, "pembunuh berantainya ada di sekitar sini!" Ucapnya.
Seketika itu juga Arjuna dan Pak Man menghirup udara dalam-dalam.
"Tadi malam jejaknya berada di sekitar sini!" Ucap aparat itu.
Arjuna dan Pak Man ketakutan dengan cepat Arjuna menoleh ke arah pak Man, "katamu aman aman saja pak! Malahan tadi malam pelakunya ada di sini!" Ucap Arjuna.
Pak Man sendiri mulai berkeringat dingin, "ayo yo ndak tahu jun!" Ucap Pak Man.
Pak Man semakin merinding ketika dia mengingat membuka tokonya sampai larut malam dan menutup tokonya dengan santai. Pak Man sendiri memikirkan apa jadinya dirinya apabila tiba tiba pembunuh berantai itu muncul di depannya sedangkan dia hanya membawa ketapel.
***
Waktu berjalan dengan sangat cepat.
Arjuna, Pak Man dan para warga Sumbersekar pada saat ini memenuhi ruang kantor desa Sumbersekar yang tidak jauh dari perempatan Sumbersekar.
Ada jajaran para perangkat desa dan para aparat. Inti dari pertemuan ini adalah untuk mengabarkan bahwa jangan ada yang keluar di malam hari.
"Jadi bapak bapak dan ibu ibu semuanya nanti sore langsung tutup pintu dan jendela! Sebelum pembunuh berantai itu tertangkap mohon jangan ada yang keluar di malam hari!" Ucap kepala desa.
Arjuna yang ada di sana terlihat was-was. Duo kuli sedang dia tugasi dan belum kembali.
"Mati aku, aku sendirian!" Batin Arjuna.
Akhirnya pertemuan itu selesai. Semua orang yang ada di tempat ini langsung kembali ke rumah mereka masing masing.
Begitu juga dengan Arjuna dan Pak Man.
Siapa sangka sesampainya di toko Pak Man tanpa basa basi langsung menutup tokonya. Bersama dengan Bu Man dan anaknya, pak Man mengunci semua pintu dan jendela.
"Ayo kita ngungsi dulu!" Ucap Pak Man.
"Ayo pak kita kembali kalau Sumbersekar sudah aman!" Ucap Bu Man. Dengan cepat ketiga orang itu berboncengan motor meninggalkan toko kelontong itu.
***
Waktu berjalan dengan sangat cepat, Siapa sangka malam tiba begitu saja. Di malam yang dingin ini terlihat seorang wanita dengan pupur tebal berjalan menyelusuri perkebunan dan persawahan yang berada di Dau.
Dau merupakan sebuah kecamatan yang terletak di kabupaten Malang. Kecamatan ini berbatasan langsung dengan Kota Batu dan Kota malang.
Sementara jarak Dau dengan desa Sumbersekar juga sangat dekat, karena Desa Sumbersekar adalah salah satu desa yang terletak di kecamatan Dau.
"Aku harus segera kabur dari tempat ini! Akan sangat berbahaya apabila Tuan Penjaga toko kelontong itu mengetahui keberadaan!" Ucap Maheswari.
Maheswari sudah tidak memikirkan balas dengannya lagi ke suherman maupun Mawar, atau memenuhi rasa penasarannya kepada pemuda yang bisa melihat wajah aslinya kala itu.
Prioritas Maheswari saat ini adalah menyelamatkan diri, dan kabur dari pria paruh baya penjaga toko kelontong itu yang ternyata orang sakti yang sedang menyamar.
Siapa sangka saat Maheswari hampir melewati sebuah lembah sungai yang ada di kecamatan Dau, tiba-tiba terlihat seorang wanita memegang sebilah pedang berdiri di atas batu.
Maheswari mengetahui betul wanita ini adalah Mawar murid Begawan Ontogeni.
"Hufff... aduh nona, aku ham-- hampir tidak bisa bernafas!" Di belakang Mawar terlihat seorang pria berseragam yang bersandar dengan ekspresi ngos-ngosan.
Siapa lagi kalau bukan Suherman.
Bagaimana pun juga Mawar merupakan murid Begawan Ontogeni. Dalam menempuh jalan kesaktian dasar saja seseorang sudah melakukan teknik olah nafas. Dari sini saja sudah di maklumi jika mawar terlihat santai dan tenang.
Berbeda dengan Suherman yang sudah ngos-ngosan dalam pengejaran ini.
Pada awalnya Maheswari termenung ketika melihat dua orang ini, namun dengan cepat dia menyeringai.
"Haha! Jadi kamu yang memburuk dan menggunakan ilmu pelacak?!" Tanya Maheswari.
Mawar tersenyum tipis memandangi Maheswari, "Benar, apakah kamu terkejut?"
"Haha!!!" Maheswari langsung tertawa, "kamu salah bodoh! Aku justru bersyukur karena ternyata kamu yang melacakku!" Ucap Maheswari dengan sebuah seringai.
Maheswari benar-benar tidak bisa membayangkan apabila Tuan itu yang mengejarnya.