Kesalahan di masa remajanya membuat Dewi harus menerima konsekuensi dari semua itu. Memiliki dua orang anak tanpa suami membuat Dewi menjadi bahan pembicaraan di kampungnya. Hingga suatu hari dia menerima lamaran dari saudara ayahnya yang memiliki seorang anak laki laki. Bertahun-tahun berumah tangga Dewi dan Randi belum memiliki anak. Segala cara mereka melakukan, pengobatan tradisional sampai ke dokter kandungan yang terbaik di kota mereka tidak menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Dewi mulai lelah menghadapi tuntutan suami dan keluarga suaminya yang menginginkan keturunan. Hingga semua keluarga besarnya berprasangka buruk pada Dewi, mereka mengatakan kalau Dewi itu mandul karena minum obat ketika belum bersuami.
Suami Dewi juga mulai terpengaruh dengan pembicaraan orang orang. Pertengkaran menjadi hal biasa. Setiap kali ada pertemuan keluarga, mereka selalu mengatakan agar Randi menikah lagi. Agar bisa memiliki anak.
Bagaimana kisah selanjut
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Langit sudah menggelap, Dewi masih duduk di bangku taman. Jack memperhatikan Dewi dari kejauhan, ia sedang berpikir apa yang membuat keluarga Randi tidak menyukai Dewi. Berkata kasar atau menghina orang lain saja tidak pernah ia dengar dari mulut Dewi.
Dia melihat seseorang sedang memperhatikan dan mencoba mendekati Dewi. Jack melihat pria itu menuju ke arah Dewi dan yang membuat Jack lebih terkejut lagi. Wajahnya sangat mirip Yan dan Arumi.
"Apakah dia ayah Yan dan Arumi?" Batin Jack
Sementara Dewi masih terus berpikir bagaimana bisa selama ini dia tidak tahu kalau dia satu tempat kerja dengan istri Rama.
Sungguh, Dewi tidak berharap ia harus bertemu Rama kembali dan sekarang harus bertemu istri Rama, bekerja di tempat yang sama.
Dewi menghapus sisa air matanya, Dewi melakukan panggilan telepon.
"Hallo Lia.. Kamu sibuk nggak?".
"Nggak say.. Gimana?"
"Temani saya di sini ya, saya nggak bisa ke rumah kamu. Ada kakak ipar saya di sana "
"Oh ok, kamu di mana sekarang?"
"Di taman dekat Cafe Lolita "
"Ok.. Saya ke sana "
Dewi memutuskan panggilan telepon.
"Dewi.."
Dewi tidak perlu menoleh melihat siapa yang memanggil namanya karena ia sudah tau siapa pemilik suara itu.
"Seharusnya kau nggak kembali sini dan seharusnya kau nggak pernah menampakkan wajah mu di sini" Kata Dewi.
"Maaf, Dewi...saya hanya ingin bicara dengan mereka sekali saja"
"Terus, apakah kau pikir mereka mau?"
Rama diam..
"Menjauh lah dari hidup saya dan saya nggak perduli sebenarnya kau kembali ke sini. Asalkan jangan dekati anak anak saya, jangan membuat mereka semakin membenci kamu. "
Rama masih terdiam, masih memikirkan kata kata Dewi.
Menjauhi anak anaknya? itu tidak akan mungkin dia lakukan. Dia sudah sangat senang bisa melihat mereka walaupun dari kejauhan.
Sesungguhnya Rama ingin bicara dengan Dewi namun, Dewi selalu menjauhi nya dan dia seperti orang asing bagi Dewi.
Rama tau kesalahannya terlalu besar, jika saat ini Dewi masih mau bicara dengannya itu mungkin satu keajaiban
"Sorry Wi, saya telat Nora rewel pengen ikut". Kedatangan Amalia menyelamatkan Dewi.
Dewi tersenyum menatap Amalia, semua itu tidak luput dari perhatian Rama dan hal itu membuat Rama kesusahan menelan salivanya. Senyum itu dulu selalu ia lihat di wajah Dewi.
"Em...Lia apa kabar?" Tanya Rama
Amalia berbalik menatap Rama " Ngapain kamu di sini? Ingin membohongi Dewi lagi?" Tanya Amalia
"Nggak Lia...ehh..."
"Kayaknya kamu nggak gampang nyerah ya. Padahal udah saya bilang kalau Dewi sudah menikah dan bahagia. Tapi kamu nekat, untuk apa? Apa tujuan kamu di sini" Pertanyaan beruntun dari Amalia membuat kerongkongan Rama tercekat tidak bisa menjawab.
Namun Rama berusaha keras untuk bicara,dan ia berharap Dewi bisa mendengar itu juga.
"Sa..saya hanya ingin bicara dan meminta maaf pada Yan, Arumi dan Dewi" Jawab Rama terbata bata
"Benarkah?" Ragu Amalia bertanya
Anggukan kepala Rama bisa di lihat oleh Dewi juga.
"Setelah kamu bicara dan meminta maaf pada anak-anak saya, apakah kamu nggak akan menemui mereka lagi?" Pertanyaan Dewi tidak langsung di jawab oleh Rama
"Apa saya nggak bisa bicara dan dekat dengan mereka Wi? Bagaimanapun mereka anak anak saya juga " Kalimat itu meluncur begitu saja, namun Dewi menanggapinya dengan tawa.
"Aneh, seharusnya kau nikmati saja hidupmu saat ini. Bukankah ini yang kamu inginkan sehingga kamu meninggalkan saya dan anak anak saya? Berbahagialah bersama istri dan anak anakmu, mereka tujuan hidupmu sejak awal, kau nggak perlu repot-repot datang kemari untuk hal yang sudah kau buang" Ujar Dewi seakan-akan tidak tau kalau Rama belum memiliki anak.
"18 tahun, saya rasa itu sudah cukup untuk melupakan semuanya, kecuali kau punya niat lain " Sambung Dewi lagi.
Rama kehabisan kata, ia harus menjawab apa?
"B.. bukan maksud saya seperti itu, nggak ada niat apapun Wi. Saya ingin mereka mengenal saya sebagai Ayah mereka"
Suara tawa keras Dewi mengangetkan Amalia yang sedang berdiam diri di samping Dewi.
"Mereka punya Ayah, Suami saya itu ayah mereka. kamu bukan siapa-siapa mereka"
"Wi.. Izinkan saya bertemu mereka sekali saja. Tentang kesalahan saya di masalalu, saya akan mengatakan yang sejujurnya pada mereka. Saya hanya ingin menebusnya dengan melakukan kewajiban saya sebagai ayah mereka "
Sepasangan mata bening Dewi mengerjab, Dewi menatap Rama.
"Pergi"
Rama tersentak saat Dewi berteriak dan menyuruhnya pergi. Beberapa orang yang sedang berada di taman itu juga terkejut dengan teriakan Dewi.
"Saya bilang pergi" Dewi meminta sekali lagi
Rama gelagapan, dia bergeser sedikit menjauh dari Dewi namun belum beranjak dari tempat itu.
"Saya bilang pergi dan jangan pernah kembali ke hadapan saya, apapun alasanmu ke sini. Jangan pernah dekati anak anak saya. Mereka nggak butuh kamu. Mereka nggak butuh siapapun, mereka punya saya jadi jangan pernah kamu muncul dihadapan mereka dan mengaku sebagai ayah mereka. Itu udah nggak penting sama sekali" Dewi mengulangi lagi perkataannya agar Rama tidak mendekati anak anaknya.
Rama masih diam , belum beranjak dari tempat itu.
"Saya sudah bilang pergi, sebelum saya mempermalukan kamu, atau kau mau saya mempermalukan istri mu?" Ancaman Dewi membuat Rama takut.
Rama tidak ingin Aini yang jadi korbannya, dia segera pergi. Amalia langsung memeluk Dewi. Tangisan Dewi kembali terdengar, tak ada yang tahu bagaimana terluka nya Dewi selama Rama meninggalkan dia dan anak anaknya.
"Kamu nggak harus membalasnya dengan menunjukkan kelemahanmu Wi, biarkan dia melihat Yan dan Arumi. Apakah kamu yakin dia berani mendekati Yan ? "
Dewi menatap Amalia, dia tidak paham kata kata Amalia
"Kamu ingat ketika Yan nginap di rumah?" Tanya Amalia dan Dewi mengangguk
"Saat itu Yan nggak sengaja melihat Rama, saya melihat Yan menatap Rama dari kejauhan, Saya bisa melihat tatapannya penuh dengan kebencian pada Rama"
"Kamu serius?" Tanya Dewi
"Ya.. saya justru takut kalau Yan bertemu Rama" Kata Amalia lagi
"Ya....Yan punya banyak kenangan bersama Rama. Dia pasti sangat membenci Rama " Ucap Dewi
"Kamu bener Wi, Yan diam tapi menyimpan banyak luka dan sekarang Rama datang ingin bertemu mereka? Rama kayaknya udah nggak waras"Kata Amalia lagi
Dewi menarik nafas panjang. Pikirannya kembali berputar dari awal dia bertemu Rama kembali. Kenapa dia harus membiarkan rasa sakit ini membuatnya lemah? Seharusnya dia menikmati hidupnya bersama kedua anaknya.
Lagi pula saat ini, dia harus bersikap santai karena yang melukai nya bukan hanya Rama namun semua orang yang berada di sekitarnya.
"Benar.. Kenapa saya yang harus menghindari Rama ? saya tau apa tujuan Rama kembali ke kota ini... Baik lah...," Dewi membatin dan tersenyum tipis.
"Ok deh sayang ku Lia, saya akan menikmati hidup saya saat ini " Kata Dewi tersenyum manis.
Satu minggu kemudian...
Deni tertegun melihat Dewi hari ini di tempat kerjanya, selama satu minggu ini Dewi hilang kabar sama sekali. Deni mencoba menghubungi Dewi tapi tak ada tanggapan dari Dewi. Deni berpikir Dewi mungkin sudah mengundurkan diri karena permasalahannya beberapa hari yang lalu.
Tapi hari ini Dewi muncul dengan tampilan yang sangat menarik menurut Deni, tidak hanya menarik, Dewi jauh lebih cantik.
Tidak hanya Deni yang tertegun dengan perubahan Dewi, Randi suami Dewi dan kedua iparnya saja terkejut melihat perubahan Dewi.
Sejak pulang dari kampung halaman orang tua Dewi, Randi lebih banyak menghabiskan waktu di rumah Mariam. Alasan Randi jika di sana, dia lembur. Hal itu dia lakukan juga karena permintaan ibunya yang mengatakan bahwa Randi harus bersama Mariam agar Mariam segera hamil.
Perubahan Dewi membuat Randi salah paham ia menyangka kalau Dewi sedang menarik perhatiannya, Randi merasa senang.
Randi dan Deni yang melihat perubahan Dewi tentu tau kalau Dewi itu sudah cantik sebenarnya walaupun dengan dandanan seadanya saja. Dan sekarang mereka melihat Dewi semakin cantik.
Perubahan ini karena paksaan dari Amalia juga...
"Kamu harus membuat mereka tau kalau kamu itu sebenarnya sangat cantik say. Mungkin selama ini mereka menganggap kamu itu nggak tau apapun tentang cara merawat diri, mungkin juga istri si Rama itu menganggap dirinya jauh lebih cantik dari kamu Wi. Ayo ubah sedikit penampilan mu itu say.."
Dewi tersenyum mengingat alasan Amalia ketika mengajaknya ke salon. Menurut Dewi tak masuk akal tapi Dewi tetap mengikuti saran Amalia.
Dan hari ini dia juga kembali masuk kerja, setelah beberapa hari Dewi berpikir. Dia tidak harus berhenti dari pekerjaannya. Bukan dia yang harus menghindari Rama dan Istrinya. Mereka yang harusnya menjauh.
"Hi sayang....Ka... kamu cantik banget" Kata Deni tanpa sadar
"Serius Den...? Cocok nggak tampilan saya sekarang?" Tanya Dewi kepada Deni.
"Cantik banget, nggak nampak sama sekali kalau kamu udah punya dua orang anak sayang "
"Alahhh... pujianmu berlebihan Den" Kata Dewi
"Ehh serius sayang, kamu bayangkan gimana terkejutnya Yuna melihat kamu nanti, hari ini dia balik dari Australia" Kata Deni lagi
"Loh emangnya dia beneran balik? bukannya dia masih beberapa bulan lagi di sana? Kok dia nggak kasih tau saya?"
"Kamu yakin dia nggak kabarin kamu? Udah cek ponsel kamu?"
Dewi baru ingat kalau dia sama sekali tidak membuka ponsel yang satunya lagi.
"Eh iya..saya nggak pernah ngecek ponsel saya " Setelah melihat ponselnya..Dewi terkejut melihat begitu banyak pesan dan panggilan masuk. Salah satunya dari Yuna
"Say... Saya balik tiga hari lagi, tapi sama laki saya juga" Pesan masuk dari Yuna, salah satu teman Dewi.
"Say... kenapa nggak di angkat panggilan teleponnya?"
"Wi... kau mati ya? Ihh hari ini saya balik. Kau kenapa nggak respon pesan sama panggilan dari saya sih Wi?"
Dewi membuka pesan masuk lainnya..
"Sayang, Apa kabar? kamu nggak masuk kerja? "Pesan dari Deni
"Wi...."
Kemudian pesan dari Randi...
"Sayang, Hari ini saya lembur lagi"
"Sayang, saya temani ibu sama kak Rani dulu ya. Ibu di rumah kak Rani. Belum balik ke kampung "
"Sayang, Kayaknya saya lembur lagi sampai hari minggu gantiin kak Johan,soalnya kak Johan keluar kota "
Dewi baru ingat kalau Randi tidak pulang ke rumah hampir seminggu, setelah mereka kembali dari kampung, sejak kematian Ayah Dewi.
"Wi.... Yuk ke atas, kita udah di tungguin tuh, om Max juga udah ada"
"Loh ada apa ?"
"Rapat bulanan lah"
.
.
.
Bersambung...
Baru update lagi.....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya readers kesayangan ku 🫰🏼 🫰🏼
sudahlah miskin belagu pulak tuh