NovelToon NovelToon
Mrs. Only His

Mrs. Only His

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Di bawah gemerlap penthouse mewah Chicago, Suzanne Klatten terjebak dalam neraka pernikahan tanpa cinta.

Enam bulan menyandang status istri sah Willem Daendels, dia hanya menerima penolakan, dihina, dan dikhianati demi wanita simpanan.

Namun, sebuah pelarian di koridor privat mengubah segalanya.

Dalam rapuhnya batin yang hancur, Suzanne menyerahkan kesuciannya kepada Aiden Luther Stone—bocah SMA berusia 18 tahun yang kehilangan kendali akibat pengaruh obat perangsang.

Saat fajar menyingsing, kepolosan runtuh dan takdir baru terajut.

Aiden yang didera rasa bersalah bersumpah akan bertanggung jawab dan menikahinya, tanpa tahu wanita misterius itu seorang istri Tetangga Apartemennya.

Di balik balutan hoodie kebesaran dan cincin pernikahan yang disembunyikan, Suzanne melangkah kembali ke neraka rumah tangganya dengan rahasia paling berdosa.

Sebuah romansa terlarang yang penuh manipulasi, dan ego yang siap membakar batas moralitas.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#29

Sementara kehangatan dan gelak tawa mewarnai malam di penthouse mewah milik Aiden Luther-Stone, atmosfer yang sangat berbeda justru menyelimuti sebuah apartemen mewah lainnya di kawasan elite distrik utara Chicago.

Di dalam unit hunian bertingkat dengan interior serba putih dan sentuhan emas glamor milik artis muda Aleonie Bethman, suasana malam itu terasa dipenuhi oleh ketegangan ambisi yang membara.

Aleonie duduk di depan meja rias kristalnya, menatap pantulan wajah cantiknya di cermin besar berlampu LED.

Jemarinya yang lentik sedang mengusapkan masker gel premium ke permukaan kulitnya, memastikan penampilannya besok pagi berada dalam kondisi yang teramat sempurna tanpa cela sedikit pun.

Pintu kamar privatnya diketuk dua kali sebelum sosok Jeremy, asisten pribadi sekaligus manajer setianya, melangkah masuk dengan selembar kertas dokumen di tangannya.

Wajah pria itu memancarkan binar kelicikan yang sama besarnya dengan sang artis.

"Ale, aku membawa kabar baik untukmu," ucap Jeremy, menutup pintu di belakangnya dengan rapat.

Ia melangkah mendekat dan meletakkan selembar kertas yang berisi denah tata letak ruang ujian di atas meja rias.

"Besok adalah hari pertama untuk Ujian Akhir Tahun di sekolah kalian. Sesuai dengan perintahmu minggu lalu, aku sudah menggunakan koneksi internal dan menyuap salah satu staf administrasi sekolah yang mengurus kartu ujian. Aku sudah mengatur semuanya dengan sangat matang."

Aleonie menghentikan gerakan jemarinya. Ia menoleh perlahan dengan sepasang mata indahnya yang seketika berkilat tajam penuh minat.

"Katakan padaku, Jeremy. Bagaimana posisi dudukku?"

Jeremy tersenyum licik, menunjuk ke arah salah satu kotak denah di baris ketiga dekat jendela.

"Posisi duduk dan mejamu besok pagi akan berada tepat bersebelahan dengan meja milik Aiden Luther-Stone. Nomor ujian kalian sengaja dibuat berurutan dalam satu ruangan isolasi akademik kelas khusus."

Mendengar laporan berharga tersebut, Aleonie seketika berdiri dari kursi riasnya. Sebuah senyuman kemenangan yang teramat lebar dan senang terukir di bibirnya yang dilapisi masker gel.

Rasa puas yang luar biasa membuncah di dalam dadanya, menghapus seluruh sisa kejengkelan akibat skandal obat kontrasepsi minggu lalu.

"Terima kasih banyak, Jeremy! Kau memang selalu bisa diandalkan," seru Aleonie dengan suara yang melengking senang.

Ia merebut kertas denah itu, menatap nama 'Aiden Hayes Stone' yang tertulis tepat di sebelah namanya dengan pandangan memuja yang teramat intens.

"Hari pertama kembali ke sekolah setelah libur panjang, dan langsung berada di samping Aiden... Ini adalah kebahagiaan yang luar biasa bagiku!"

Aleonie mengepalkan tangannya, membayangkan bagaimana esok hari ia akan menghirup aroma maskulin Aiden dari jarak yang teramat dekat selama berjam-jam di dalam ruang ujian.

"Segera siapkan pakaian seragam sekolah terbaikku, Jeremy. Pastikan roknya sudah dipermak sedikit agar pas di lekuk pinggangku, dan siapkan parfum aroma black vanilla langka yang baru kubeli dari Paris kemarin. Besok, aku harus tampil paling memukau saat bertemu dengan pujaan hatiku," perintah Aleonie dengan nada mutlak yang tidak menerima cacat sedikit pun.

Jeremy mengangguk patuh. "Semua sudah diatur, Ale. Kau hanya perlu fokus memberikan performa terbaikmu besok di depan kamera paparazi saat tiba di gerbang sekolah."

Setelah Jeremy pamit keluar dari kamarnya, Aleonie membersihkan wajahnya, lalu merebahkan tubuh rampingnya di atas ranjang king-size berselimut sutra merah muda.

Malam itu, obsesi yang telah mengakar di dalam benaknya membuat perempuan bernama Ale itu terus bergumam menyebut nama Aiden sepanjang malam.

"Aiden... Aiden... Kau milikku..." gumamnya berulang kali laksana mantra suci di dalam kegelapan kamar, hingga akhirnya matanya terpejam dan dirinya tertidur lelap.

Ia terbuai dalam mimpi indah, menantikan bagaimana pria dingin itu akan berada di sisinya esok pagi.

... * * *...

Fajar menyingsing di langit Chicago, membawa serta takdir yang akan bergerak ke dua arah yang berbeda.

Jika di pengadilan negeri kota Martin Luther Stone sedang bersiap mengeksekusi Willem Daendels, maka di SMA elite Chicago High Academy, Aleonie Bethman sudah menyiapkan rencana matang yang jauh lebih licik untuk menjerat sang pewaris Luther-Stone.

Pukul tujuh pagi, sebuah mobil van mewah dengan kaca gelap berhenti tepat di depan lobi khusus selebriti di sekolah tersebut.

Aleonie melangkah turun dengan keanggunan seorang bintang papan atas yang sedang naik daun.

Seragam sekolahnya tampak begitu pas di tubuhnya yang molek, rambut pirangnya digelombang dengan sangat indah, dan aroma parfum black vanilla yang manis sekaligus sensual langsung menguar kuat, merebut perhatian setiap siswa yang berpapasan dengannya di koridor.

Rencana matang Aleonie hari ini bukan hanya sekadar duduk bersebelahan dengan Aiden saat ujian berlangsung.

Lebih dari itu, dia sudah menyiapkan sebuah skenario jebakan psikologis yang rumit.

Aleonie tahu betul bahwa Aiden baru saja diterpa skandal foto apotek beberapa waktu lalu, dan seluruh media sekolah saat ini sedang mengawasi setiap gerak-gerik pria itu.

Rencana Aleonie sangat sederhana namun mematikan: Selama ujian berlangsung, ia akan sengaja menjatuhkan alat tulisnya ke arah meja Aiden, atau berpura-pura meminta bantuan kecil dengan gestur tubuh yang teramat dekat.

Ia juga sudah menyuap seorang fotografer dari majalah dinding sekolah untuk mengambil foto mereka dari celah kaca jendela ruangan dengan sudut pengambilan gambar yang sengaja dibuat ambigu.

Jika foto itu berhasil diambil—menampilkan dirinya dan Aiden yang tampak saling berbisik intim atau saling bertukar pandang di tengah ujian—maka Aleonie akan langsung mengirimkan foto itu ke agensi media nasional untuk memperkuat rumor bahwa akulah 'kekasih misterius' yang selama ini dicari publik.

Dengan begitu, Aiden tidak akan memiliki pilihan lain selain mengakui hubungan mereka demi menjaga nama baik ujian akhir akademisnya.

...ooOoo...

Dengan langkah kaki yang penuh percaya diri dan senyuman misterius yang tersungging di bibirnya, Aleonie melangkah mantap menuju ruang ujian nomor 303.

Di dalam kepalanya, ia sudah bisa membayangkan bagaimana Aiden akan terkejut melihat posisinya, dan bagaimana wanita miskin berbaju polos di dalam foto minggu lalu akan menangis meratapi kekalahannya begitu melihat berita kedekatan mereka di sekolah hari ini.

"Mari kita lihat, Aiden Stone..." batin Aleonie sambil mendorong pintu ruang ujian dengan kilat mata yang penuh racun ambisi.

"Apakah kau masih bisa mengabaikanku saat tubuhku berada tepat di sebelah jangkauan tanganmu selama tiga jam ke depan?"

...oOo...

Rencana yang disusun dengan begitu rapi oleh Aleonie Bethman ternyata membuahkan hasil yang jauh melampaui ekspektasinya sendiri.

Selama tiga jam penuh di dalam ruang ujian nomor 303, kamera lensa jarak jauh milik fotografer sewaan yang bersembunyi di balik rimbunnya pohon mapel di luar jendela telah bekerja tanpa henti.

Ribuan jepretan diambil dengan memanfaatkan manipulasi sudut pandang dan bias pantulan kaca ruangan yang luar biasa presisi.

Di beberapa hasil foto, wajah Aiden Luther-Stone tampak begitu jelas sedang menoleh ke arah kanan—posisi tepat di mana Aleonie duduk dengan seragam ketatnya.

Pandangan mata elang Aiden terlihat intens dan bibirnya sedikit terbuka, memancarkan ekspresi yang jika dilihat sekilas oleh mata awam, tampak seperti seorang pria yang sedang melemparkan tatapan penuh duka bumbu romansa atau candaan intim kepada sang aktris muda.

Padahal, kenyataan di dalam ruang ujian tersebut berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat.

Aiden sama sekali tidak sedang menatap Aleonie, apalagi memedulikan aroma black vanilla yang sejak tadi sengaja dihembuskan wanita itu ke arahnya.

Tatapan dan senyuman tipis Aiden itu ditujukan lurus melintasi meja Aleonie, tepat ke arah baris belakang tempat dua sahabat kentalnya, Kent dan Cole, duduk berdekatan.

Di tengah-tengah keheningan ujian yang membosankan itu, Kent sempat melempar sebuah gulungan kertas kecil berisi coretan candaan nakal di sela-sela pengawasan guru yang lengah.

Coretan itu berbunyi: "Bagaimana rasa kemeja kebesaranmu semalam, Stone? Taruhan denganku, sebagai hadiah kelulusan nanti, mungkin saja Anne kekasihmu yang seksi itu akan memberikan pijatan eksklusif di atas ranjang king-size milikmu."

Tulisan mesum dari Kent itulah yang membuat Aiden tak bisa menahan kedutan di sudut bibirnya dan menoleh sembari menggelengkan kepala geli.

Namun, dunia publik tidak mau tahu tentang kebenaran di balik meja ujian tersebut.

Hanya dalam hitungan jam setelah lembar jawaban dikumpulkan, foto-foto dengan sudut ambigu itu telah tersebar masif laksana virus di berbagai platform media sosial dan situs berita hiburan Chicago.

Kesalahpahaman massal langsung meledak hari itu juga. "Terkuak! Aktris Aleonie Bethman Duduk Intim dengan Pewaris Tunggal Luther-Stone Selama Ujian,"

Hingga rumor gila yang menyebutkan bahwa Ale memang benar-benar kekasih misterius yang selama ini disembunyikan oleh Aiden.

... * * * ...

Pukul sebelas siang, atmosfer di kafetaria Chicago High Academy terasa begitu bising.

Aiden duduk di meja bundar sudut ruangan bersama Kent dan Cole, mengabaikan tatapan memuja sekaligus berbisik-bisik dari puluhan siswa di sekitar mereka.

Aiden menatap layar iPad-nya dengan rahang yang mengeras, membaca rentetan spekulasi gila yang dirilis oleh agensi media milik Aleonie.

Namanya dan nama wanita binal itu disandingkan dalam satu kolase foto romantis yang memuakkan perutnya.

"Gila! Ini benar-benar gila, Stone!" seru Kent sambil menyeruput es kopinya, matanya bergantian menatap layar ponsel dan wajah dingin Aiden.

"Media-media ini sepertinya sudah kehilangan fungsi otak mereka. Kita bahkan tidak punya waktu sedetik pun untuk melirik Aleonie di ruangan tadi. Lagipula, seleramu 'kan sangat tinggi. Wanita yang lebih berumur dan matang di penthouse-mu jauh lebih menggoda daripada bocah SMA yang merombak roknya kekecilan itu!"

Cole ikut terkekeh rendah, bersandar pada kursi sambil melipat kedua tangannya.

"Benar. Lagipula, jika Anne melihat berita ini, kuharap kepalamu tidak dipukul dengan spatula dapur lagi, Aiden. Berondong mesum sepertimu bisa kehilangan jatah malam ini."

Aiden tidak merespons candaan kedua sahabatnya.

Ia baru saja hendak menekan nomor manajer humas keluarga Stone untuk menuntut agensi Aleonie dan membersihkan namanya dalam waktu lima menit, ketika sebuah notifikasi pesan singkat masuk ke ponsel pribadinya.

Pesan itu datang dari sang ayah, Martin Luther-Stone.

Jangan bantah rumor dengan artis itu untuk hari ini, Aiden. Biarkan publik dan media sibuk mengalihkan fokus mereka ke sekolahmu.

Kita membutuhkan pengalihan isu total agar nama Suzanne tidak terseret atau diendus oleh paparazi saat menghadiri sidang perceraiannya jam sebelas nanti. Amankan wanitamu, biar Daddy yang mengurus sisanya.

Membaca perintah mutlak dari ayahnya, Aiden mengembuskan napas berat lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana seragam.

Kilat matanya berubah tajam dan fokus. Benar, hari ini fokus utamanya bukanlah mengurusi ambisi murahan Aleonie Bethman, melainkan kebebasan mutlak milik Suzanne Klatten.

Aiden melirik jam tangan Rolex di pergelangan tangan kirinya. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat empat puluh lima menit.

"Aku harus pergi sekarang," ucap Aiden sambil berdiri dari kursinya, menyambar kunci mobil sport-nya di atas meja.

"Jam Sebelas nanti aku harus menjemput Anne di apartemen dan mendampinginya langsung menuju gedung persidangan. Aku tidak ingin dia menghadapi bajingan Daendels itu sendirian tanpa keberadaanku di sampingnya."

Kent dan Cole mengangguk kompak, memberikan lambaian tangan tanda dukungan penuh untuk misi penyelamatan sang calon nyonya Stone muda yang sesungguhnya.

Aiden melangkah lebar meninggalkan kafetaria, membiarkan rumor palsu tentang dirinya dan Aleonie menjadi tameng pelindung sementara bagi pergerakan hukum yang sedang bersiap meruntuhkan takdir keluarga Daendels di pengadilan.

1
nayla tsaqif
"duaarrr!!! Nya knp pke tanda baca sih thor,, berasa di kagetin sama bang eiden
😌
Rosdianah: huhuhu Maafkan typo author 🫶🙏🏻
total 1 replies
Ainun Mahya
lanjutkan karyamu kakak author💪💪💪
Rosdianah: Ma'aciww kak reader 🫶🥰
total 1 replies
Shankara Senja
Kadang suka kasihan sama anak yg menikah karena perjodohan atau hutang budi..dan lebih kasihan lg bertahan dng menyakiti hatinya demi ortu yg kek gini ini ..
Rosdianah: huhuhu iya banget kak🥲
total 1 replies
Mia Camelia
yah nora jadi jahat gitu ya, kasian anne terpojok terus🤣🤣🤣
Rosdianah: wkwkwk😅🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ulat bulu licik udah mulai keluar nih, aduh semoga aiden gk kena jebakan lgi😔🤔
Rosdianah: huhuhu🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo ngaku aja sih aiden klo cewe itu anne 🤣🤣🤣
Rosdianah: Dicoret dari KK kaaa🤣 bini orang soalnya 🤣🤣🤣
total 1 replies
Debu Nakal
thor... tlng kasih tahu suzzy, suruh nongol tuh anak. ni ku dh nungguin ampe berjamur tp dianya ka gak nongol2 😅🤣
Rosdianah: huhuhu seminggu ini author sibuk Di dunia nyata🙏🏻
total 1 replies
nayla tsaqif
Gk bpk gk anak,, sikapnya dewsa sebelum waktunya,,, 😌😌😌 good boy!
Rosdianah: kesayangan author dan kak reader 🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo thor bikin wiliiam cemburu🤔
Rosdianah: siap kak🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ih gemes deh aiden so sweet banget🥰😄
Rosdianah: hihi biar jadi kesayangan kak reader 😅
total 1 replies
Mia Camelia
waduh siapa lagi nih🤔
Rosdianah: Paparazi kak🤭😅
total 1 replies
Mia Camelia
ngebayangiin nih kalo mereka beneran udh jadian, pasti romantic banget🤔😂
Rosdianah: author juga suka ngebayangin kak🤭🤣
total 1 replies
Mia Camelia
😄😄😄
Rosdianah: ma'aciww sekali Komentar nya adalah semangat author 🤭😅🥰
total 1 replies
Mia Camelia
omg 🥰🥰🥰 aiden gentlemen bangat sih😄😄😄
sukaaak thor sama tokoh pria yg begini👍
Rosdianah: brondongnya kak Reader 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayo aiden lindungiin anne, 🥰😄
Rosdianah: Author Jabanin 🤭
total 1 replies
Mia Camelia
ayoooo berontak anne, kejar tuh berondong👍🤣
Mia Camelia
wah aiden udh mulai panas nih sisi obsesif nya, pingin liat klo brondong ngejar2🥰🥰🥰
Rosdianah: hahah author Jabanin kak🥰🤭
total 1 replies
Mia Camelia
wiliam kaya nya udh mulai kepoo sm suzanne🤔🤔
nayla tsaqif
Ceritanya brondong terus, thorr,?? , ada cerita sugar duda gk...?? 🤭
Rosdianah: Nanti Author buatkan kak reader 🤭🥰
total 1 replies
nayla tsaqif
Vexana istri bang landon,, 😌
Rosdianah: sorry typo ya Kak Reader 🙏🏻 syukur diingatin 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!