NovelToon NovelToon
PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

PECUNIA ABSOLUTE: The True Heiress Buys Her Destiny

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Amanda Shakira

Di kehidupan pertamanya, Valerie Vespera mati sebagai pecundang. Sebagai putri kandung konglomerat Elrod yang tertukar sejak bayi, dia malah dibuang ke gudang pengap demi menjaga perasaan si anak angkat palsu yang manipulatif. Tiga tahun dia habiskan mengemis kasih sayang, hingga akhirnya mati dikhianati.
Kini, takdir memutar kembali jarum jam. Valerie terbangun di hari penjemputannya di usia 18 tahun. Namun, Valerie yang naif telah mati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amanda Shakira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: PENJEMPUTAN DI ATAS KERETA BESI

Bab 1: Penjemputan Di Atas Kereta Besi

Dingin. Rasa dingin yang pekat dan menggigit adalah sensasi terakhir yang terekam oleh indra peraba Valerie Vespera sebelum kesadarannya direnggut paksa oleh kegelapan abadi.

Dia ingat betul bagaimana detik-detik terakhir di kehidupan pertamanya berjalan seperti sebuah film terkutuk yang diputar dengan kecepatan lambat. Tubuhnya terhempas hebat di dalam kabin mobil yang ringsek, sebelum akhirnya dia merangkak keluar dengan sisa tenaga yang ada, menyeret kakinya di atas aspal jalanan yang basah dan kasar. Malam itu hujan badai mengguyur ibu kota dengan brutal. Darah segar mengalir dari pelipisnya, menyatu dengan air hujan, menciptakan genangan merah yang mengerikan di bawah tubuhnya yang gemetar. Rem mobilnya telah disabotase.

Namun, yang jauh lebih mematikan daripada hantaman besi mobil malam itu adalah kenyataan tentang siapa yang berdiri di hadapannya saat dia sekarat.

Di bawah temaram lampu jalanan yang remang-remang, dua orang melangkah mendekat di bawah lindungan sebuah payung hitam besar. Adrian Maximiliano dan Alethea Belmont.

Adrian, pria yang berstatus sebagai tunangannya—pria yang selalu Valerie prioritaskan di atas segalanya—menatap tubuh bersimbah darah Valerie dengan pandangan yang teramat dingin. Tidak ada kepanikan, tidak ada rasa bersalah, hanya ada kilat kepuasan dan rasa muak yang mendalam di sepasang matanya. Sementara di sampingnya, Alethea—si gadis palsu yang merebut posisi Valerie sebagai putri kesayangan di keluarga Elrod—menangis histeris dengan tangan menutupi mulut.

Namun, Valerie tidak buta. Di balik air mata buaya dan akting rapuhnya yang menjijikkan itu, Valerie melihat seulas senyuman kemenangan yang luar biasa licik terukir di bibir Alethea.

"Maafkan kami, Valerie. Tapi andai saja kamu tidak kembali ke keluarga Elrod dan tidak mencoba merebut apa yang sudah menjadi milik Alethea, kamu tidak akan berakhir mengenaskan seperti ini," bisik Adrian malam itu. Suaranya terdengar begitu tenang di antara gemuruh petir. Pria itu kemudian menggandeng pinggang Alethea, berbalik pergi tanpa menoleh lagi, membiarkan Valerie mati perlahan dalam kesendirian yang menyakitkan.

Valerie mati sebagai seorang pecundang sejati. Dia mati setelah menghabiskan tiga tahun kehidupan pertamanya dengan sia-sia—mengemis kasih sayang dari orang tua kandungnya yang sedingin es, bertingkah kekanak-kanakan karena cemburu pada Alethea yang selalu dipuja bak malaikat, dan akhirnya dijebak hingga diusir oleh keluarganya sendiri atas fitnah keji yang rancang dengan rapi oleh Alethea.

Kasih sayang keluarga... cinta seorang tunangan... semuanya adalah racun tak kasat mata yang membunuhku, batin Valerie di ambang kegelapan terakhirnya. Jika... jika aku diberikan kesempatan kedua oleh takdir... aku bersumpah tidak akan sudi mengemis hal menjijikkan seperti itu lagi. Aku hanya akan percaya pada satu hal di dunia ini. Kekuatan uang yang mutlak.

Uhuk! Uhuk!

Valerie tersentak hebat. Paru-parunya mendadak mengembang secara paksa, menghirup oksigen dengan begitu rakus seolah dia baru saja ditarik keluar dari dalam dasar samudra yang hampa udara. Jantungnya berdegup kencang bak genderang perang yang bertalu-talu di dalam rongga dadanya.

Napasnya memburu, pendek-pendek dan tidak teratur. Kedua tangannya yang gemetar hebat langsung meraba area dadanya, lehernya, lalu pelipisnya. Dia mencari luka robek bekas pecahan kaca, sisa darah yang mengering, atau rasa sakit yang mematahkan tulang-tulangnya.

Tidak ada. Sama sekali tidak ada luka.

Kulitnya terasa utuh, halus, namun agak kasar di bagian telapak tangan—khas tangan seorang pekerja paruh waktu. Valerie menurunkan pandangannya. Tubuhnya dibalut oleh sebuah sweter rajut berwarna biru pudar yang ukurannya agak terlalu besar, dipadukan dengan celana jins longgar yang warnanya sudah mulai memutih karena terlalu sering dicuci. Baju ini... baju usang ini adalah miliknya saat dia masih tinggal di panti asuhan pinggiran kota.

Valerie mengerutkan kening. Pandangannya yang awalnya kabur dan berputar perlahan mulai menemukan titik fokus. Dia sama sekali tidak sedang berbaring di atas aspal jalanan yang basah di bawah guyuran hujan badai.

Dia sedang duduk di atas jok kulit berwarna hitam yang sangat empuk dan beraroma premium. Tubuhnya bergerak mengikuti guncangan halus dari sebuah mobil mewah bermerek Rolls-Royce yang sedang melaju dengan kecepatan stabil, membelah jalanan kota metropolitan yang padat di sore hari yang cerah. Aroma parfum mobil yang mahal, maskulin, dan menenangkan menyeruak masuk ke indra penciumannya.

Di kursi kemudi depan, pembatas kaca transparan memisahkan kabin belakang dengan seorang pria paruh baya berjas hitam rapi yang sedang menyetir. Pria itu sesekali melirik ke arah kaca spion tengah, menatap Valerie dengan pandangan yang sulit diartikan—sebuah perpaduan antara formalitas profesional dan sedikit rasa risih yang terselubung.

Itu adalah Supir Thomas. Kepala pelayan sekaligus supir kepercayaan dari kediaman utama keluarga Elrod.

Valerie menolehkan kepalanya ke samping kiri. Di atas jok kulit mewah itu, sebuah tas ransel berbahan kain kanvas usang yang jahitannya sudah mulai lepas di beberapa sudut tergeletak dengan menyedihkan. Valerie dengan gerakan refleks yang cepat langsung meraba saku sweter rajutnya. Jemarinya menyentuh sebuah benda persegi panjang yang keras.

Dia mengeluarkan sebuah ponsel pintar model lama yang layarnya sudah retak seribu di bagian sudut kanan atas. Valerie menekan tombol daya dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Layar ponsel itu menyala, menampilkan sebuah tanggal dan tahun yang membuat seluruh aliran darah di tubuh Valerie mendadak berhenti mengalir.

14 Juni.

Tepat lima tahun sebelum hari kematiannya.

Darah Valerie yang sempat membeku seketika mendidih oleh gelombang emosi yang bergejolak, namun sedetik kemudian, akal sehatnya menarik paksa emosi itu jatuh, membekukannya menjadi sebuah rasa dingin yang teramat menenangkan. Sepasang matanya yang awalnya melebar karena syok kini menyipit, memancarkan aura yang tajam.

Ini adalah hari itu. Hari di mana dinasti konglomerat Elrod menjemputnya dari panti asuhan kumuh di pinggiran kota, setelah sebuah tes DNA resmi membuktikan bahwa Valerie adalah anak kandung mereka yang sah—yang tertukar dua puluh tahun lalu karena kelalaian fatal pihak rumah sakit saat proses persalinan.

Di kehidupan lalunya, hari ini adalah awal dari neraka dunia yang dia ciptakan sendiri. Di dalam kabin mobil yang sama ini, Valerie muda menangis haru sampai matanya sembap. Dia memeluk tas ransel usangnya dengan hati yang dipenuhi rasa syukur yang luar biasa, merasa bahwa Tuhan sangat baik karena akhirnya memberikan dia orang tua yang kaya raya. Dia datang ke rumah Elrod dengan hati yang penuh dengan harapan kosong, merencanakan bagaimana dia akan menjadi anak yang penurut, manis, dan berbakti agar bisa mendapatkan pelukan hangat dari ibu kandungnya.

Semua harapan bodoh itu hancur berkeping-keping dalam hitungan jam setelah dia menginjakkan kaki di rumah mewah tersebut. Di sana, posisi anak emas, putri kesayangan, dan permata keluarga sudah diisi secara permanen oleh Alethea Belmont.

Sebuah senyuman dingin, tipis, dan teramat tajam terukir di bibir Valerie. Dia menatap pantulan dirinya di kaca mobil yang dilapisi kaca film gelap. Wajahnya di usia dua puluh tahun ini masih terlihat sangat polos, dengan pipi yang agak tirus karena kurang gizi, namun sepasang matanya kini tidak lagi memancarkan binar kenaifan. Matanya hitam, pekat, sepasang mata milik seorang wanita yang telah mencicipi pahitnya kematian akibat pengkhianatan.

"Nona Valerie," suara Supir Thomas terdengar melalui pengeras suara kecil di kabin belakang, memecah keheningan yang mencekam. "Kita akan tiba di kediaman utama keluarga Elrod dalam waktu lima belas menit lagi. Tuan Besar dan Nyonya sudah menunggu di ruang utama bersama dengan Nona Alethea. Saya harap..." Thomas sengaja menggantung kalimatnya, berdeham pelan sebelum melanjutkan dengan nada yang agak mendikte. "...Saya harap Anda bisa menjaga sikap Anda nanti. Tolong jangan membuat keributan atau bertingkah aneh yang bisa memicu stres Nyonya Victoria. Kondisi jantung Nyonya sedang kurang baik belakangan ini."

Kalimat yang persis sama. Kata demi kata yang diucapkan Thomas sama sekali tidak berubah dari kehidupan pertamanya. Pria tua ini memperingatkan Valerie seolah-olah Valerie adalah seekor monster liar dari hutan kelaparan yang siap merusak kedamaian dan keharmonisan keluarga Elrod yang suci. Di kehidupan lalu, Valerie akan merasa sangat tersinggung, sedih, dan langsung menciut ketakutan mendengar peringatan kasar itu.

Namun sekarang? Valerie bahkan tidak sudi mengalihkan pandangannya dari jendela mobil. Dia menyandarkan punggungnya dengan santai ke jok kulit mewah tersebut, menyilangkan kakinya dengan gerakan yang teramat anggun—sebuah gestur berkelas yang membuat Supir Thomas diam-diam mengerutkan kening karena terkejut saat melihatnya dari kaca spion.

"Fokus saja pada kemudimu, Thomas," jawab Valerie dengan nada suara yang sangat datar, rendah, namun memiliki bobot intimidasi yang kuat. "Tugasmu di sini hanya menyetir dan memastikan mobil ini sampai dengan selamat. Bukan mendikte atau menceramahiku soal bagaimana cara aku bersikap di depan orang asing."

Thomas tersentak hebat di kursi kemudi depan. Dia tidak menyangka bahwa gadis panti asuhan yang awalnya kelihatan sangat gugup, gemetar, dan ketakutan saat pertama kali melangkah masuk ke dalam mobil ini bisa mengeluarkan kalimat setajam itu dengan aura sedingin es. Thomas merasakan tenggorokannya mendadak kering. Dia langsung menutup mulutnya rapat-rapat, tidak berani mengeluarkan suara lagi sepanjang sisa perjalanan.

Valerie menarik tas ransel usangnya ke atas pangkuan. Dia membuka ritsleting tas yang sudah agak macet itu, lalu mengeluarkan sebuah buku catatan kecil bergaris yang sampulnya sudah agak lecek, bersama dengan sebatang pulpen murahan tinta hitam seharga dua ribu rupiah.

Otaknya yang sudah menjalani asam garam dunia korporat dan pergerakan bursa efek di kehidupan lalu kini mulai bekerja dengan kecepatan penuh. Memorinya tentang masa depan berputar bak rol film yang siap dieksploitasi. Valerie tidak akan membuang waktu atau energi mentalnya sedetik pun di kehidupan ini untuk memikirkan bagaimana cara merebut perhatian "Papa" atau "Mama" kandungnya. Persetan dengan kasih sayang keluarga yang fiktif itu.

Keluarga Elrod adalah salah satu dari tiga dinasti bisnis terbesar di negara ini, pikir Valerie, jemarinya mulai bergerak lincah menuliskan beberapa poin penting di atas kertas putih menggunakan pulpennya. Mereka memiliki modal likuiditas tanpa batas, jaringan koneksi politik yang menggurita, dan yang paling penting, mereka memiliki nama belakang yang legal di mata hukum negara. Jika aku kembali ke rumah itu hanya untuk menangis, merengek, dan merasa cemburu pada setiap perhatian yang didapatkan Alethea... maka aku adalah makhluk terbodoh yang pernah terlahir kembali di muka bumi.

Valerie mencatat beberapa target penting dan strategi mutlaknya untuk Volume Pertama kehidupannya yang baru:

Poin pertama, Isolasi Finansial Total. Valerie tahu betul watak Gilbert Elrod yang pelit dan otoriter. Di kehidupan lalu, sang ayah akan menggunakan uang sebagai alat untuk menjinakkan Valerie, memotong uang jajannya setiap kali Valerie dianggap "menyakiti hati" Alethea. Di kehidupan ini, Valerie memutuskan untuk tidak akan pernah menyentuh satu sen pun uang dari keluarga Elrod. Tidak ada kartu kredit, tidak ada tunjangan, tidak ada pakaian mewah pemberian mereka. Dengan menjaga mutasi rekeningnya dari keluarga Elrod tetap berada di angka nol rupiah, keluarga toksik itu tidak akan pernah memiliki hak moral atau hukum untuk mengklaim kesuksesannya di masa depan. Mereka tidak akan bisa berkata bahwa Valerie sukses karena memanfaatkan kekayaan Elrod.

Poin kedua, Merintis dari Kamar Pojok. Valerie mengingat bahwa di dompet lusuhnya saat ini, dia hanya memiliki uang tunai sebesar tiga ratus ribu rupiah—sisa upah dari hasil kerja paruh waktunya sebagai buruh pembungkus barang di toko kelontong desa panti asuhannya dulu. Angka yang sangat menyedihkan bagi seorang putri konglomerat. Namun bagi Valerie yang memiliki memori masa depan, uang tiga ratus ribu rupiah itu sudah lebih dari cukup sebagai peluru awal. Dia akan menggunakan ponsel retaknya untuk membuka akun sekuritas mikro secara online dan melakukan trading saham-saham receh (penny stocks) yang dia tahu akan mengalami lonjakan nilai ribuan persen akibat aksi akuisisi rahasia yang akan terjadi dalam waktu empat puluh delapan jam ke depan.

Poin ketiga, Membangun Kekaisaran Bayangan (Pecunia Corp). Setiap keuntungan yang dia dapatkan dari kamar pojoknya nanti akan langsung diputar ke instrumen pasar berjangka internasional dan aset digital secara anonim, menggunakan jalur hukum luar negeri yang terbebas dari radar pelacakan bisnis Elrod Corp. Begitu dia menyelesaikan misi awalnya di sini, dia akan langsung mengepalkan tangannya dan tancap gas meninggalkan rumah neraka itu dengan kekayaan mandiri yang nilainya sanggup mengguncang bursa saham utama.

Mobil Rolls-Royce hitam itu perlahan-lahan mulai melambat. Kendaraan mewah itu berbelok ke arah kiri, melewati sebuah gerbang besi raksasa setinggi empat meter yang dijaga ketat oleh beberapa petugas keamanan berjas rapi. Mobil itu menyusuri jalanan beraspal mulus yang membelah halaman rumput hijau yang sangat luas, dirawat dengan sangat presisi hingga menyerupai lapangan golf pribadi, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan lobi sebuah rumah megah berarsitektur modern klasik yang berdiri kokoh layaknya istana pribadi di tengah ibu kota.

Thomas bergegas turun dari kursi kemudi, berjalan memutari mobil, dan membukakan pintu kabin belakang untuk Valerie dengan gerakan formal. "Kita sudah sampai di kediaman utama, Nona Valerie."

Valerie mengambil ransel usangnya, menyampirkannya di satu bahu dengan gerakan santai, lalu melangkah keluar dari dalam mobil. Angin sore yang sejuk menerpa helaian rambut hitamnya yang bergelombang. Dia berdiri tegak, mendongakkan kepalanya untuk menatap fasad bangunan mewah yang menjulang tinggi di hadapannya. Tatapan matanya tidak memancarkan rasa kagum atau minder sedikit pun; dia menatap rumah itu dengan pandangan dingin dan menilai, persis seperti seorang investor kelas kakap yang sedang menginspeksi properti sekunder yang siap dia beli atau dia hancurkan kapan saja.

Di balik pintu kaca besar yang otomatis terbuka di area lobi, Valerie bisa melihat siluet beberapa orang yang sudah berdiri menantinya di dalam ruang utama yang megah. Orang-orang yang di kehidupan lalu telah menghancurkan hidupnya sampai ke dasar terdalam.

Valerie memperbaiki posisi kerah sweter murahnya yang agak longgar, menarik napas dalam-dalam untuk mengisi paru-parunya dengan udara baru, lalu mengulas sebuah senyuman tipis yang teramat dingin—sebuah senyuman yang sarat akan ambisi mengerikan yang tersembunyi di balik wajah polosnya. Dia mulai melangkah masuk dengan ketukan sepatu kainnya yang berbunyi tegas di atas lantai teras.

Permainan dimulai, kalian semua, batin Valerie saat bayangannya mulai memasuki ruang utama rumah Elrod. Aku datang ke tempat ini bukan untuk menjadi putri penurut kalian, bukan untuk mengemis pelukan hangat kalian, tapi aku datang untuk merintis jalan dan membeli takdirku sendiri dengan kekayaan mutlak.

Bersambung....

.

.

.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
Moreno
draf dref draf dref 😑
Moreno
gimana caranya uang tunai tiba2 masuk menjadi saldo digital
masijacoke021205: Sudah diperbaiki ya, Kak! Terima kasih banyak bantuannya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!