Menemukan batu bintang, tersambar petir lalu koma tiga hari. Setelah bangun semua berubah, rumah jerami reot perlahan menjadi mewah dan nyaman. Bubur sayuran liar hilang dari meja makan, berganti dengan nasi dan gandum wangi.
Setiap hari akan ada ikan, daging, telur, yang kesemuanya cuma dapat mereka makan setahun sekali.
Bagaimana bisa perubahan itu terjadi pada keluarga miskin tanpa bakat dan kemampuan..?
Apa sebenarnya yang dialami gadis itu saat koma tiga hari..?
Batu bintang, benda apa dan darimana asalnya itu...?
Ikuti perjalanannya dan dapatkan jawabannya di Bai Anshu Story.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Langit gelap perlahan berubah warna, dari abu-abu pucat lalu memutih. Bai Anshu menyudahi latihan beladiri bersama kedua adiknya, sebab ia berencana pergi kehutan guna menggali Sanqi dan memasang jebakan.
Dengan tehnik meringankan tubuh, Bai Anshu melesat cepat bak badai, menembus gelapnya rindang pepohonan.
Tak lupa untuk menyerap esensi alam agar lingkaran merdiannya bisa kembali melepaskan segelnya.
Dua puluh perangkap hewan ditebar.
Dua lubang yang empat hari lalu berhasil mendapatkan satu mangsa babi jantan dewasa, kembali Anshu beri darah dan daging segar juga air suci.
Selanjutnya, kelokasi lahan dimana Sanqi tumbuh subur.
"Kenapa hanya satu..?" tanya aneh Xingxing, kala melihat tuannya cuma memetik sebatang akar Sanqi.
"Tidak ada ruang tersisa dirumah. Selain itu terlalu banyak orang yang melihat, takutnya nanti malah menjadi masalah."
"Masalah apa...?"
Bai Anshu memutar bola matanya, kenapa Xingxing menjadi begitu bodoh dan cerewet pagi ini.
"Apa kata penduduk jika melihatku menggali Sanqi sebanyak ini tanpa memberitahu mereka..?"
Meski Anshu yakin warga Huanshan tak akan mungkin berpikir negatif kepadanya, tapi ia harus menjaga perasaan mereka.
Selama penduduk mempelajari perihal tumbuhan konsumsi, berburu bersamanya selama tiga hari. Tapi tak sekali pun menemukan ginseng, Sanqi, atau herbal mahal lainnya.
Cuma Gonaderma hitam, putih dan kipas, yang harganya tak lebih dari dua tael per kati.
"Lalu untuk apa kau menggalinya sekarang..?"
"Ramuan tonik dan pil obat kakak Lao Chenji sudah mau habis, sementara pisau bedah belum selesai dibuat. Jadi aku harus memberinya kembali besok."
Xingxing tenggelam, tak lagi bersuara.
Bai Anshu menyimpan umbi Sanqi dengan hati-hati kedalam keranjang, kemudian bergerak menuju kelokasi yang belum terjamah olehnya.
Banyak herbal didapat oleh Anshu disana. Itu cukup untuk membuat beberapa ramuan obat bagi berbagai penyakit dan luka.
Sembari menunggu waktu yang tepat mengecek perangkap, Bai Anshu memilih pulang terlebih dulu.
"Shu'er, kau dari mana..?" tanya nenek Bai.
Wanita berusia lebih dari setengah abad itu sedang menyiangi kubis dan sawi hijau.
Rupanya sudah sejak tiga puluh menit lalu, nenek Bai tiba dikediaman putra keduanya ini bersama bibi Mei dan Lushi, setelah menyelesaikan pekerjaan dirumah tua.
"Nenek, aku baru saja menggali tanaman obat dihutan." jawab Anshu, kemudian menyapa nyonya Mei, dan Bai Lushi.
Kelima bibi yang tengah bersibuk disumur juga Anshu tegur.
"Untuk apa kau mencari herbal lagi..?" tanya kembali nenek Bai, terselip kecemasan.
Dipagi buta sudah bergentayangan dipegunungan rindang seorang diri, bagaimana kalau diterkam binatang buas..?
"Membuat tonik dan pil obat untuk putra pemilik toko kain dikota, nenek." Bai Anshu lalu menjabarkan silsilah perkenalan dengan keluarga Luo.
"Ya Dewa, Shu-ya, jadi kau juga mengerti tentang pengobatan..?" tanya bibi Fei, tetangga yang diperbantukan untuk memasak.
Bai Anshu tersenyum ranum "hanya sedikit saja bibi..!"
"Ck, kau itu selalu saja merendah." balas bibi Fei.
"Ini berita bagus, kalau tabib Yong tidak ada dirumahnya, kita bisa meminta bantuan Shu-ya jika ada keluarga yang sakit." bibi lain menimpali.
"Iya benar...!"
"Dengan senang hati aku akan membantu, bibi..!"
Setelah beramah tamah sesaat, Anshu dan Lushi menemui Yaran, Linli, serta ketiga sepupu lelaki yang baru saja tiba.
Tak lupa, Anshu dan Lushi menyapa kakek nenek Chen, kedua paman dan bibi."
"Kalian bertiga belajar dulu sendiri ya..? aku masih ada urusan yang harus diselesaikan." pamit Anshu pada Bai Lushi, Chen Yaran, dan Chen Linli.
"Mau kemana memangnya..?" tanya Chen Yaran.
"Kehutan..!"
Bai Anshu menemui Hanzi, Junyi, Suji, Zhuan dan Yenji, kemudian mengajak mereka untuk menyambangi pegunungan guna memeriksa perangkap.
Para pekerja pabrik sabun juga telah tiba. Mereka semua langsung sigap mengambil peran masing-masing tanpa diperintah lagi.
"Shu-er, kalau nanti pembangunan rumahmu sudah selesai, buatkan lagi umpan ikan seperti tempo lalu ya..?" pinta Chen Yenji.
"Baik..!"
Para saudara sepupu itu melangkah bersemangat menyusuri jalan setapak yang lembab tergerus sisa embun pagi.
Kepakan sayap terdengar sayup dikejauhan, bersama lengkingan kokok frustasi.
Keenam orang itu berlari kecil dengan tawa mengembang berbunga-bunga.
"Woo, besar sekali burung pegarnya..!" seru riang Chen Yenji.
Bai Suji sigap menangkap badan ayam hutan yang terus meronta.
Satu per satu jebakan didatangi.
Dari kelinci, burung pegar, luak dan tupai, semua pasrah menerima nasib kesialan karena harus masuk kekeranjang para bocah bersaudara itu.
Mendaki lebih tinggi kepegunungan, sebelum akhirnya sampai dilubang jebakan.
"Yei, dapat...!" seru Hanzi menatap babi yang mati tertusuk bambu runcing.
Tiga sepupu Chen, mengecek kelokasi lain yang bejarak lima belas meter.
"Hei, disini juga mendapat babi..!" teriak Junyi.
Mereka gegas mengangkat badan babi dari dalam lubang.
Chen Zhuan dan Suji menebang dahan, mencari akar merambat guna mengikat kaki babi.
Satu babi betina dewasa seberat kisaran tiga ratus pon, dan satu babi jantan muda sekitar dua ratus pon. Menjadi amunisi kegembiraan keenam bersaudara itu.
"Kalau seperti ini, kita tidak perlu membeli daging sampai tahun baru nanti." kelakar Chen Zhuan, yang gegas menggundang gelak tawa dari adik dan para sepupunya.
Secara bergantian, keenam orang itu memanggul babi menuruni lereng bukit.
"Ya ampun, kalian mendapat dua babi besar..?" pekik terperangah buruh bangunan yang mengerjakan pagar.
"Kami hanya sedang beruntung saja paman..!" jawab Jinyu.
"Itu, dikeranjang juga penuh kelinci, bagaimana caranya kalian berburu..? tehnik apa yang digunakan..?" tanya kuli lainnya.
"Hanya memasang perangkap dengan umpan serangga paman..!" jawab Bai Anshu.
"Shu-ya, paman memasang jebakan seperti yang kau ajari, tapi tidak mendapatkan mangsa, bahkan ular saja tak mau mendekat." adu paman Tan cemberut.
Anshu terkekeh "nanti sebelum tahun baru, kita berburu bersama dengan penduduk lain ya paman..?"
Wajah para pria warga Huanshan berbinar "iya, itu bagus, aku setuju..!"
"Benar, aku juga...!"
Keenam bersaudara kembali menggerakkan kaki, dengan diiringi tatapan terkesima dan rakus dari para kuli bangunan.
"Ayah...!" seru keenam bocah, memanggil orangtua mereka masing-masing.
Yang dipanggil kontan saja mendelik, melihat para hewan tak bernyawa korban pembantaian anak-anak mereka.
Kelompok buruh dari desa Qingshan terjingkat, ada yang nyaris terjengkang, hingga tersedak liur sendiri.
Benarkah apa yang mereka lihat ini..?
Bocah-bocah tanpa senjata mumpuni bisa mendapatkan buruan melimpah.
Luar biasa...!
Aneh tapi nyata.
"Ayah, aku serahkan urusan membersihkan hasil kerja kerasku ini padamu." canda Anshu, menepuk dadanya pongah, sebelum melenggang pergi untuk mandi.
Bai Dashan tergelak, menggelengkan kepala gemas melihat tingkah konyol putrinya.
Hari ini menu makanan akan didominasi dengan burung pegar, gabungan hasil tangkapan kemarin lalu dan hari ini.
Bai Dashan, Sanlang, kakek Bai dan Chen, Hanzi, kelima sepupu lelaki, serta Chen Yongzi, mengangkut semua hewan buruan kesungai untuk dibersihkan.
Setelahnya diasapi.
Cuma bagian kepala saja yang langsung dimasak babi rebus rempah untuk menu makan malam keluarga.
Stok daging aman. Para pekerja berbinar karena akan disuguhi hidangan lezat setiap hari.
Makin bersemangat saja...!