NovelToon NovelToon
Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Mon Mari Est Un Mafia (Suamiku Seorang Mafia)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Mafia / Harem
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Alya adalah definisi dari "Cantik tapi Kelakuan Minus". Gadis asal Jakarta yang sedang mencoba peruntungan beasiswa di Paris ini memiliki bakat luar biasa dalam mencari masalah. Suatu sore, karena lapar yang amat sangat dan penglihatan yang kabur akibat lapar, Alya salah memasuki sebuah gedung tua yang ia pikir adalah restoran "All You Can Eat". Ternyata, itu adalah lokasi eksekusi musuh oleh The Four Kings of Paris—si kembar empat pewaris takhta mafia terkutuk: Lucien (Si Dingin yang Otoriter), Marc (Si Jenius yang Licik), Julien (Si Sniper yang Pendiam), dan Etienne (Si Bungsu yang Psikopat tapi Manis).
​Alih-alih gemetar ketakutan, Alya malah protes karena "menu steak" di sana terlalu banyak darahnya (padahal itu darah beneran). Terpikat oleh keberanian yang mendekati kegilaan dan wajah cantiknya, sang pemimpin, Lucien, memutuskan bahwa Alya adalah "tumbal" yang tepat untuk mematahkan kutukan keluarga mereka yang harus menikah dengan wanita dari Timur.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STRATEGI PERANG MENGGUNAKAN ODOL

​Di dunia spionase internasional dan taktik militer kelas atas, klan De Calvi dikenal karena presisi mereka yang menakutkan. Marc memiliki algoritma peretasan kuantum yang bisa melumpuhkan satelit musuh dalam hitungan detik. Julien memiliki koleksi pisau taktis berbahan titanium dan senapan runduk dengan akurasi sub-MOA. Lucien memiliki pengaruh politik yang mampu menggerakkan armada kapal dagang di Selat Malaka, sementara Etienne menguasai seni manipulasi psikologis jarak dekat yang mampu membuat musuh menyerah sebelum peluru pertama ditembakkan.

​Namun, pada hari Selasa yang terik di ruko Palmerah, seluruh doktrin militer Eropa barat itu runtuh dan digantikan oleh satu benda domestik berharga murah yang biasa ditemukan di rak kamar mandi: sebuah tube pasta gigi, alias odol.

​Semua ini bermula ketika pasokan logistik harian ruko Palmerah terlambat datang akibat banjir rob di kawasan pesisir Jakarta. Di saat yang sama, sisa-sisa aliansi faksi Valois yang masih dendam—setelah jalur distribusi mereka dipotong lima puluh persen di Tanjung Priok pada bab sebelumnya—mencoba melakukan manuver nekat. Mereka mengirimkan unit infiltrasi khusus yang terdiri dari delapan tentara bayaran elit asal Eropa Timur untuk menyergap ruko Palmerah dari jalur pipa utilitas bawah tanah dan atap ruko tetangga.

​Alya Putri, yang sedang berada di kamar mandi lantai dua untuk menyikat gigi sebelum memulai aktivitas memasaknya, mendadak mendengar suara ketukan ritmis yang mencurigakan dari arah ventilasi udara plafon. Sebagai istri dari empat mafia paling berbahaya di dunia, indra kewaspadaan Alya sudah terlatih secara otomatis.

​Dia menurunkan sikat giginya, namun tangan kanannya tetap menggenggam erat sebuah tube pasta gigi berukuran besar rasa sirih dan siwak yang baru dia beli dari warung madura sebelah ruko.

​KRETEK... BRAK!

​Tutup ventilasi plafon kamar mandi jebol. Seorang pria kekar mengenakan pakaian taktis hitam lengkap dengan topeng balaklava melompat turun dengan sangat lincah, memegang sebuah pistol berperedam suara. Namun, malang bagi sang penyusup, posisi mendaratnya tepat berada di depan bak mandi plastik, dan orang pertama yang dia temui adalah seorang wanita Indonesia mengenakan daster batik motif megamendung yang sedang memegang odol.

​"Eh, copot-copot! Setan lu ya?!" teriak Alya refleks karena terkejut.

​Sebelum tentara bayaran itu sempat mengarahkan moncong senjatanya, insting defensif daster Alya langsung aktif dalam mode maksimum. Dengan kekuatan penuh, Alya memeras tube odol di tangannya dan memukulkannya tepat ke arah wajah sang penyerang.

​PRET!

​Cairan pasta gigi kental berwarna hijau segar dengan kandungan mentol super tinggi itu melesat keluar dari ujung tube, mendarat dengan sangat akurat tepat di kedua lubang mata topeng balaklava sang penyerang yang terbuka.

​" ARGHHH! MY EYES! PUTAIN DE MERDE! " jerit sang tentara bayaran dalam bahasa Prancis bercampur Rusia.

​Efek mentol dingin yang membakar jaringan kornea matanya secara instan membuat pria kekar itu mengalami kebutaan sementara yang sangat menyiksa. Dia melepaskan tembakan buta ke arah langit-langit, membuat pelurunya hancur menghantam keramik. Alya tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia mengambil gayung plastik penuh air dari bak, lalu menghantamkannya ke kepala pria itu hingga pecah, disusul dengan tendangan maut menggunakan sandal jepit swalau-nya yang membuat sang penyusup terpeleset lantai kamar mandi yang licin dan jatuh pingsan dengan kepala membentur kloset.

​Di ruang kendali siber lantai bawah, alarm perimeter dalam berbunyi dengan nada merah yang melengking. Marc langsung menegakkan punggungnya, jemarinya bergerak di atas papan tik. "Infiltrasi terdeteksi di koordinat kamar mandi lantai dua. Target berjumlah satu personel... status: tidak bergerak. Detak jantung target menurun drastis karena trauma tumpul di area kepala."

​Lucien yang sedang memeriksa laporan logistik langsung berdiri dengan wajah tegang. "Alya ada di sana. Julien, Etienne, bergerak sekarang!"

​Julien memegang senapan serbu ringkasnya, sementara Etienne mencabut dua pisau belati dari balik jasnya. Mereka berdua melesat menaiki tangga ruko dengan kecepatan yang menyerupai badai. Namun, begitu mereka sampai di depan pintu kamar mandi yang terbuka, mereka tertegun melihat pemandangan di dalam.

​Alya sedang berdiri sambil berkacak pinggang, napasnya sedikit terengah-engah, memandangi seorang tentara bayaran elit seberat seratus kilogram yang tergeletak pingsan di lantai dengan wajah penuh belepotan pasta gigi hijau beraroma sirih segar. Di sampingnya, sebuah gayung plastik telah hancur menjadi tiga bagian.

​"Alya... kau tidak apa-apa?" tanya Etienne, matanya berkedip tidak percaya menatap sisa-sisa pertempuran domestik tersebut.

​"Saya nggak apa-apa, Bang Etienne! Tapi ini kamar mandi kita jadi bau odol semua!" omel Alya, mengacungkan tube odolnya yang sudah kempes setengah. "Tadi dia mau nembak saya, ya udah saya semprot aja matanya pake odol rasa sirih ini. Rasain lu, emang enak sensasi dingin membakar!"

​Julien melangkah masuk, berlutut di samping tubuh penyerang yang pingsan, lalu mencium aroma yang menempel di wajah pria itu. Dia menoleh pada Lucien yang baru saja tiba di depan pintu. "Analisis taktis: penggunaan zat kimia topikal dengan tingkat viskositas tinggi berhasil mematikan fungsi visual target tanpa memerlukan amunisi kinetik. Strategi yang sangat efisien, Alya."

​"Itu namanya odol, Bang Julien! Bukan zat kimia topikal!" ralat Alya gemas.

​Marc memotong melalui alat komunikasi earpiece mereka. "Kakak-kakak sekalian, perimeter luar ruko masih belum aman. Ada tujuh personel lagi yang bergerak dari arah atap ruko sebelah kiri. Mereka menggunakan sistem komunikasi terenkripsi militer dan membawa granat asap."

​Lucien menatap tube odol di tangan Alya, lalu sebuah senyuman tipis yang sangat langka dan berbahaya terukir di wajah tampannya. Sang Raja mafia Paris ini baru saja mendapatkan sebuah ide taktis yang sangat tidak ortodoks namun memiliki tingkat keberhasilan tinggi berkat inspirasi dari istrinya.

​"Marc, matikan seluruh sistem pencahayaan di lantai dua dan koridor atas sekarang juga. Aktifkan mode kegelapan total ( blackout )," perintah Lucien dengan nada berwibawa. "Etienne, ambil sisa persediaan pasta gigi dari gudang logistik bawah. Kita akan menggunakan strategi perang baru malam ini."

​"Strategi apa, Kakak Sulung?" tanya Etienne dengan mata berbinar penuh minat.

​"Strategi Odol Sirih De Calvi," jawab Lucien datar.

​Satu menit kemudian, lantai dua ruko Palmerah tenggelam dalam kegelapan yang pekat. Hanya ada binar lampu indikator merah dari perangkat siber Marc yang berkedip di sudut ruangan. Tujuh tentara bayaran sisa faksi Valois berhasil membongkar pintu akses atap dan melangkah masuk dengan sangat hati-hati menggunakan kacamata pengintai malam ( night vision goggles ).

​Mereka bergerak dalam formasi taktis baji, saling melindungi punggung masing-masing. Namun, sistem kacamata night vision bekerja berdasarkan amplifikasi cahaya dan deteksi kontras lingkungan. Mereka tidak menyadari bahwa di atas lantai kayu ek koridor ruko yang gelap, Etienne dan Julien telah mengoleskan lapisan pasta gigi putih dan hijau secara selang-seling dengan pola melingkar di titik-titik pijakan strategis.

​SRET! BRAK!

​Penyerang paling depan tiba-tiba kehilangan keseimbangan saat sepatunya menginjak area koridor yang telah dilumuri odol. Karakteristik pasta gigi yang licin namun lengket membuat traksi sol sepatu militer mereka kehilangan daya cengkeram seratus persen. Pria itu jatuh telentang dengan hantaman keras, membuat senjatanya terlepas ke kegelapan.

​" Ambush! Ada jebakan minyak di lantai!" bisik wakil komandan penyerang melalui radio komunikasinya.

​"Bukan minyak," suara dingin Julien mendadak menggema dari balik kegelapan di samping mereka. "Itu adalah formula pembersih karang gigi dengan kesegaran tahan lama."

​DOR! DOR!

​Dua tembakan kilat dari pistol Julien merusak perangkat kacamata night vision milik dua penyerang di tengah, membuat mereka seketika buta di dalam kegelapan total.

​Di sudut lain, Etienne menggunakan sisa odol di tangannya untuk mengolesi bilah pisau belatinya. Saat dia melompat menyerang dari balik pilar, dia tidak menggunakan bagian tajam pisau untuk membunuh, melainkan menggunakan sisi datar bilah yang penuh odol untuk digesekkan ke arah area pernapasan dan hidung para penyerang. Aroma mentol dan siwak yang sangat pekat dalam konsentrasi murni langsung menusuk paru-paru mereka, memicu refleks batuk dan bersin yang luar biasa hingga mereka tidak bisa membidikkan senjata dengan benar.

​"Uhuk! Uhuk! Senjata kimia apa ini?! Baunya seperti herbal tropis!" teriak salah satu penyerang sambil terbatuk-batuk histeris.

​Alya yang memantau dari balik pintu dapur mini bersama Marc tidak bisa menahan tawa gelinya. Dia berbicara melalui mikrofon komando. "Bang Etienne! Jangan lupa bagian belakang lehernya dikasih odol juga, biar mereka ngerasa meriang dan masuk angin!"

​"Dimengerti, permaisuriku!" sahut Etienne di tengah pertempuran. Dengan gerakan akrobatik yang elegan, dia melompat di atas punggung seorang penyerang, menempelkan sisa pasta gigi di telapak tangannya tepat ke tengkuk pria itu, lalu mendorongnya hingga menabrak dinding kayu.

​Pertempuran itu berlangsung tidak lebih dari tiga menit. Lantai dua ruko Palmerah yang biasanya menjadi saksi baku tembak berdarah, kini berubah menjadi arena komedi taktis di mana para tentara bayaran elit Eropa Timur menangis, bersin, dan terpeleset berjamaah di atas lantai yang penuh dengan aroma mint dan sirih.

​Ketika Lucien menyalakan kembali lampu utama lantai dua, pemandangan yang tersaji benar-benar mengocok perut. Tujuh penyerang elit itu kini telah duduk meringkuk di atas lantai dengan tangan terikat kabel ties taktis milik Julien. Wajah mereka memerah, mata mereka berair karena efek mentol, dan pakaian hitam mereka dipenuhi noda putih hijau yang estetik.

​Lucien berdiri di depan mereka, memegang sebuah tube odol baru yang masih utuh di tangannya dengan gaya seperti seorang jenderal yang sedang memegang tongkat komando militer.

​"Katakan pada sisa faksi Valois di Eropa," ucap Lucien, suaranya yang berat bergema dengan aura superioritas yang mutlak. "Jika mereka mengirimkan pasukan lagi ke Jakarta, kami tidak akan menggunakan peluru atau granat untuk menghancurkan mereka. Kami hanya perlu menggunakan satu produk kebersihan mulut buatan lokal untuk membuat seluruh pasukan kalian berlutut."

​Branko—yang ternyata memantau jalannya infiltrasi dari jarak jauh melalui sistem komunikasi yang telah diretas oleh Marc—langsung memotong jalur radio dengan suara gemetar memohon ampun. "Tuan De Calvi! Kami menyerah! Kami mengaku kalah total! Tolong jangan kirimkan tim pembersih Anda ke markas kami, kami akan mematuhi seluruh kontrak pelabuhan Tanjung Priok tanpa syarat!"

​Marc menutup tabletnya dengan bunyi klik yang memuaskan. "Operasi pembersihan perimeter selesai. Efisiensi biaya operasional malam ini: sembilan puluh sembilan persen lebih hemat dibanding penggunaan amunisi standar. Pengeluaran hanya berkisar pada dua tube pasta gigi seharga empat puluh ribu rupiah."

​Alya melangkah keluar dari dapur dengan membawa sapu dan ember berisi air pel, wajahnya cemberut namun matanya berbinar jenaka. "Urusan perang emang udah selesai, tapi sekarang giliran abang-abang berempat yang harus ngepel ini lantai koridor sampai bersih! Nggak mau tahu saya, kalau sampai besok pagi lantai ini masih lengket dan bau odol, jatah makan malam bakso uratnya saya ganti pake bubur polos tanpa kecap!"

​Mendengar ancaman darurat domestik dari Alya, keempat kembar De Calvi—yang ditakuti oleh seluruh kartel dunia bawah tanah internasional—langsung meletakkan senjata mereka secara serentak.

​Lucien mengambil alih tongkat pel dari tangan Alya dengan senyuman patuh, Julien mulai memunguti botol-botol odol yang kosong, Marc kembali ke laptopnya untuk memesan lantai kayu pengganti, sementara Etienne dengan manja merangkul bahu Alya. "Alya, manisku... bagaimana kalau aku yang bertugas mengeringkan lantainya menggunakan pengering rambut bermerek dari Paris? Aku berjanji lantainya akan berkilau sebersih gigi para model iklan."

​Alya tertawa renyah, jitakan pelan mendarat di lengan Etienne. "Nggak usah banyak gaya, Bang! Buruan bantuin Bang Lucien ngepel, tuh liat si Bang Lucien udah mulai salah arah jalannya kayak orang nyapu jalanan pasar!"

​Dan malam itu di ruko Palmerah ditutup dengan pemandangan paling absurd dalam sejarah dinasti mafia Eropa: empat pria jangkung berwajah tampan dengan reputasi mematikan, sedang sibuk bergotong-royong mengepel lantai koridor ruko di bawah pengawasan seorang gadis Jakarta yang duduk santai di atas kursi putar sambil menikmati segelas es teh manis. Strategi perang menggunakan odol terbukti sukses besar, tidak hanya memenangkan pertempuran melawan musuh luar, tetapi juga mempererat kehangatan dan kepatuhan mutlak klan De Calvi kepada permaisuri daster mereka yang tiada tanding.

1
Aiyliqa Ciie ImuEyt
👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
Aiyliqa Ciie ImuEyt
🤣🤣🤣🤣ngakak parah...
falea sezi
lnjut🤣
falea sezi
🤣🤣 poliandri gpp lahh cogan semua yee kan
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!