kematian membuat dia hancur, namun kematian orang yang disayang juga yang membuat dirinya bangkit.
Berjuang dan bertarung menjadi jalan hidupnya yang baru, jalan hidup menuju keabadian. Anak polos yang menjadi harapan bagi semua manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MartimbulSiregar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Wajah mengembang terlihat di wajah lelaki berwajah mayat itu saat mendengar jika Jaka Srenggi memang murid dari Petapa muka tua.
"Aku Badawa, apa bargola tak pernah bercerita tentang aku??" tanya lelaki itu yang menyebutkan namanya Badawa.
"Badawa? Guru tak pernah menceritakan tentang kakek. Apa hubungan kakek dengan guru??" tanya Jaka Srenggi ingin tahu.
"Hahahah, kau bertanya tapi kau belum memperkenalkan diri mu. Siapa kau anak muda??" tanya Badawa.
"eh, maafkan kebodohanku kek, namaku Jaka Srenggi!' kata anak muda itu menjawab pertanyaan dari Badawa.
"Nama yang bagus, hubunganku dengan guru mu, kami bersaudara, Dia itu adik ku. Hanya saja kami tak pernah akur, Bargola selalu mencari cara untuk mengalahkan ku," jawab Badawa.
"Mencari cara untuk mengalahkan kakek? Berapa kali kalian bertarung??"
"Kalau berapa kali aku tak tahu, tapi kalau di hitung lebih dari ratusan kali bargola menantang ku."
"Apa guru pernah menang??" tanya Jaka semakin ingin tahu.
"Dari ratusan kali pertandingan itu, sekali pun bargola tak pernah berhasil mendesak ku, apalagi untuk mengalahkan aku, aku sudah tahu semua kelemahan dari jurus tangan api nya. Makanya saat kau bertarung tadi, aku sudah yakin jika kau murid dari saudara ku itu. Aku selalu mencarinya, sudah lebih dua tahun aku tak mendengar kabar dimana saudaraku itu, ternyata dia sudah memiliki murid yang jenius seperti mu," puji Badawa.
"Guru sudah meninggal" kata Jaka Srenggi pelan dan lirih.
Raut sedih kembali terpancar dari wajah Jaka Srenggi.
"Apa? Kau pasti berbohong.!" kata Badawa kaget bercampur tak percaya.
"Guru sudah meninggal dua tahun yang lalu, guru tewas di tangan orang suruhan yang bernama topeng hitam."
"Topeng hitam?? Keparat! Aku tak akan diam!' maki Badawa.
"Bagaimana saudara ku itu bisa kalah??" tanya Badawa ingin tahu.
"aku juga tak tahu kenapa guru bisa kalah, saat orang suruhan topeng hitam menyerang nya, guru hanya diam tak melawan, guru kalah dan tewas dengan kepala terpenggal. Dan mereka membawa kepala guru untuk bukti pada topeng hitam" ucap Jaka.
"Aku akan membalas kematian guru, tak akan ada siapa pun yang akan bisa menghalangi ku," kata Jaka Srenggi melanjutkan ucapan nya.
Badawa diam dan masih tak percaya akan kematian saudaranya itu.
Cukup lama kedua nya diam dengan pemikiran masing masing.
"Apa permasalah bargola dengan topeng hitam??" tanya Badawa pada diri sendiri.
"Aku tak tahu kek, hanya saja saat pertarungan itu salah satu dari mereka menyinggung sebuah kitab, tapi aku tak tahu kitab apa?"
"Kitab? Jadi kabar itu benar? Bargola mencuri kitab dari topeng hitam," badawa kembali bicara sendiri.
Badawa menatap Jaka Srenggi.
"Apa kau hanya menguasai jurus dari Bargola??" tanya Badawa ingin tahu.
"Tidak kek, guru memberikan aku sebuah kitab. Ini kitab nya kek," jawab Jaka Srenggi dan memperlihatkan kitab pedang seribu pada Badawa.
"Sialan kau bargola, kau mengorbankan diri mu demi anak muda ini."
"Apa kau tahu ini kitab curian??"
"Apa? Aku tak mengerti maksud kakek??" tanya Jaka Srenggi.
Badawa memegang kitab yang di perlihatkan oleh Jaka Srenggi.
"Apa kau tahu, karena kitab inilah guru mu tewas,
dan kitab ini milik topeng hitam," kata Badawa mengatakan yang sebenarnya.
"Apa? Bagaimana mungkin? Guru mencuri ini untuk ku! Guru!'
Air mata kesedihan dan rasa haru bercampur menjadi satu pada diri Jaka Srenggi.
"Kau tak bisa lagi bertahan di kota ini Jaka, aku yakin topeng hitam sudah memerintahkan anak buah nya untuk mencari mu. Apa kau mau ikut dengan ku ke wilayah selatan??" tanya Badawa.
"Wilayah selatan? Tapi aku masih memiliki urusan di sini kek," tolak Jaka Srenggi
"Aku tak akan memaksa mu untuk ikut dengan ku,
tapi untuk saat ini, sebaiknya kau menghindar saja dari masalah. Jika anak buah topeng hitam mengetahui keberadaan mu, maka keadaan mu akan selalu terancam. Dan urusan yang kau maksud itu tak akan dapat kau lakukan dengan baik. Pikirkan sendiri Jaka!' kata Badawa.
Jaka Srenggi berpikir dan membenarkan apa yang di katakan oleh Badawa
"Wilayah selatan ya??" gumam Jaka.
"Ya, wilayah selatan. Tepatnya kota teratai. Bagaimana, apa kau tak tertarik? Atau kau lebih tertarik untuk menyempurnakan jurus tangan api milik guru mu??"
"Menyempurnakan jurus tangan api? Jurus itu sudah sempurna kek."
"Hahahah, asal kau tahu, aku dan bargola di turunkan jurus itu secara terbagi, jurus jari api masih ada tiga jurus yang belum kau pelajari, jurus tapak api masih ada tiga yang belum kau pelajari, aku akan memberikannya padamu untuk menyempurnakan jurus tangan api mu. Bagaimana??" tanya Badawa yang semakin menggoda ketertarikan Jaka Srenggi.
Jaka Srenggi sungguh tertarik, dan tak ada lagi alasannya untuk menolak ajakan dari badawa.
"Baiklah, demi membalaskan dendam guru, aku akan ikut dengan mu kek. Tapi jangan sampai kakek mempermainkan aku," ancam Jaka Srenggi.
"Hahahah, kau jangan mengancam ku anak muda. Dengan satu jari aku bisa melepaskan nyawa mu dari ragamu!'
Badawa mengeluarkan tekanan yang di milikinya, napas Jaka menjadi sesak karena tekanan itu.
"Tekanan apa ini? Aura yang sangat dahsyat," gumam Jaka Srenggi tak percaya dengan apa yang baru saja dia rasakan.
"Kau masih harus berlatih mengendalikan tenaga dalam mu Jaka, kau memang memiliki tenaga dalam yang tinggi, tapi sayang pengendalian tenaga dalam mu masih sangat kurang. Kau terlalu banyak membuang tenaga dalam di sebuah pertarungan."
"Mengendalikan tenaga dalam? Aku memang merasa tenaga ku sangat mudah habis. Tolong ajari aku!' kata Jaka Srenggi dan berlutut kepada badawa
"Tanpa kau minta aku sudah berencana untuk melatih mu! Kau yang akan meneruskan dan penerus dari jurus tangan api. Bawa jurus itu ke puncak dunia persilatan," kata Badawa.
"Iya guru, aku akan belajar! Aku akan membawa jurus ini di puncak dunia persilatan," ucap Jaka Srenggi bersemangat.
"Aku suka semangatmu Jaka! Kau juga memiliki potensi yang bagus, sungguh tak ku sangka jika bargola akan memiliki murid jenius seperti diri mu."
"Terima kasih guru"
"Oh iya, sejauh mana kau mempelajari kitab itui??" tanya Badawa dan telunjuknya menunjuk pada kitab seribu pedang.
"Aku mempelajari sampai jurus ke lima belas guru! Tapi dua jurus lagi aku tak bisa. Aku juga tak tahu bagaimana tak bisa?'
"Lima belas jurus tingkat tinggi dalam dua tahun?
Se jenius apa bocah ini??" kata Badawa dalam hatinya setengah percaya.
"Kenapa kau tak bisa? Apa yang menghalangi langkah mu menuju jurus berikut nya??" tanya Badawa ingin tahu.
"Ada sesuatu tertulis guru, namanya Vida! Apa guru tahu apa itu Vida, dan bagaimana untuk memilikinya??" tanya Jaka Srenggi.
"Hahahah, Vida ya? Kau akan mempelajarinya dari ku," ucap Badawa